3 Gebrakan Kaum Marginal Amerika yang Mengubah Dunia

in Hibernasi by

sumber gambar tavaana dot org

“…Our journey is not complete until our gay brothers and sisters are treated like anyone else under the law for if we are truly created equal, then surely the love we commit to one another must be equal as well.”

-Barack Obama-

Tidak banyak janji-janji seorang kepala negara mana pun yang benar-benar dapat terpenuhi selama masa jabatannya berlaku. Keinginan Barack untuk memperjuangkan persamaan hukum bagi warga negara Amerika nonheteroseksual adalah satu kerja keras dan panjang. Itu terwujudkan enam tahun setelah pidato inagurasinya disiarkan ke seluruh dunia. Barack datang dari kubu Demokrat di mana kalangan LGBT menaruh harapan besar akan pengakuan yang sama dengan warga negara lain. Pengakuan lebih dari sekadar perizinan untuk melakukan pernikahan sesama jenis. Tetapi juga dalam aspek-aspek kehidupan lainnya, termasuk kepemilikan properti dan pengasuhan anak.

Dana jutaan dolar Amerika, menurut Clare O’connor untuk Forbes.com, telah digelontorkan dari sejumlah orang kaya Amerika berlatar LGBT demi membantu kampanye Obama menduduki kursi panas kepresidenan. Sebagai balasannya, legalisasi same sex marriage mendapat jaminan akan dilampuhijaukan. Tidak meleset perkataan Benjamin Franklin, “Money never made a man happy yet, nor will it. The more a man has, the more he wants. Instead of filling a vacuum, it makes one.”

Kalangan marginal selalu menjadi pihak yang disudutkan oleh mayoritas kulit putih Amerika yang patriarkis dan fundamentalis. Negara Paman Sam butuh waktu panjang hingga kaum kulit hitam lepas dari perbudakan. Tujuan tersebut kemudian bisa tercapai lewat pergerakan terorganisir dalam dunia politik. Demikian pula strategi yang dipakai kaum perempuan yang di masanya masih menjadi warga kelas dua.

Dunia bisa menjadi carut-marut dalam sudut pandang standar masyarakat. Bagaimana mungkin kaum kulit hitam yang dulunya hanya budak dan pekerja kasar, sekarang salah satunya menjadi pemimpin negara adikuasa? Bagaimana mungkin perempuan yang seharusnya hanya berfungsi sebagai ibu rumah tangga, bisa duduk di samping para pejabat terhormat? Di mana letak benarnya, kaum penggemar sodomi boleh mendapatkan lampu hijau untuk diperlakukan sama dengan kalangan heteroseksual? Sejumlah pandangan sinis inilah yang lalu dilawan dengan kegigihan dan tujuan yang telah dipetakan dalam dimensinya masing-masing.

Gebrakan Para Budak yang Ingin Merdeka

Salah satu potret perbudakan di Amerika pernah diangkat ke layar lebar dengan judul “12 Years of Slave”. Orang-orang berkulit hitam disasar menjadi korban penjualan manusia di benua temuan Columbus. Mereka ini dianggap memiliki ketahanan fisik melebihi kaum lainnya. Di tahun 1500-an, gelombang pengiriman bangsa kulit hitam mulai berjalan. Pembentukan koloni-koloni Inggris membutuhkan para budak untuk mengerjakan ladang-ladang. Saking menggiurkannya bisnis perbudakan, Solomon Northup, tokoh dalam film “12 Years of Slave”, dijebak dengan modus tawaran pekerjaan yang menarik. Selama 12 tahun, dia kehilangan kebebasan. Dia menjadi saksi budak perempuan menjadi tempat pelampiasan seksual si majikan dan bagaimana pekerjaan-pekerjaan yang menguras energi dibayar dengan tidak manusiawi.

Setelah Amerika Serikat melewati masa krisis akibat Perang Saudara, perbudakan perlahan dihapuskan dari negara-negara bagian mulai tahun 1860-an. Maryland merupakan negara terakhir yang menyetujui Proklamasi Emansipasi atau Amandemen Ketiga Belas. Namun, hasil investigasi Douglas A. Blackmon yang dibukukan dengan judul Slavery by Another Name memperlihatkan bahwa praktik-praktik senada masih terjadi, bahkan merembet ke kaum kulit putih itu sendiri. (Sumber: Wikipedia).

Gebrakan Kaum Kelas Dua

Belum tuntas betul urusan dengan diskriminasi berdasar perbedaan warna kulit, kaum perempuan di Amerika Serikat memulai pergerakan feminisme menjelang akhir abad ke-18. Ini merupakan tanggapan atas sikap-sikap patriarkis yang menahan jalur akses mereka di bidang hukum. Keterbatasan kaum perempuan secara alamiah membentuk sebuah hierarki nyata, menempatkan perempuan menjadi kaum kelas kedua.

Dalam perkembangannya, buku The Feminine Mystique karya Betty Friedan, menjadi landasan kuat disepakatinya Equal Pay Right. Tujuannya agar kaum perempuan dibayar sama dengan kaum laki-laki untuk bidang pekerjaan yang sama. Berikutnya, hal pilih kaum perempuan juga menjadi setara yang diatur dalam Equal Right Act. (Wikipedia).

Gerakan feminisme dari Amerika kemudian diadopsi oleh kaum perempuan di negara-negara lain. Artinya, budaya patriarki menjadi sasaran utama yang harus dihancurkan sebagai langkah pertama untuk menegakkan ambisi persamaan hak laki-laki dan perempuan. Kaum patriarkis, di pihak yang berseberangan, kalang-kabut dan sibuk mencari cara untuk menghentikan gelombang ini demi mempertahankan superioritasnya dari berbagai ancaman kelengseran. Caranya, gunakan ayat-ayat dalam kitab suci seolah Tuhan melarang perempuan mendapatkan perlakuan yang sama di masyarakat.

Dalam satu bendera besar feminisme, terjadi perspektif yang berbeda-beda sebagaimana halnya sebuah pandangan politik suatu negara. Feminisme liberal menentang adanya diskriminasi seksual dalam lingkup personal maupun sosial. Hasilnya bisa dilihat bagaimana kultur-kultur lama terdobrak juga dengan sosok-sosok perempuan dengan kemampuan yang sama dengan laki-laki, dalam hal berpikir dan dunia kerja.

Sementara itu, feminisme radikal jauh lebih total dalam memperjuangkan sebuah persamaan. Di sinilah kaum perempuan memandang pemisahan berdasar jenis kelamin adalah solusi untuk sebuah kesetaraan gender. Penganut lesbianisme masuk dalam kategori ini. Sehingga, kalangan radikal dituding bertanggung jawab atas propaganda-propaganda yang melenceng dari tujuan awal gerakan feminisme ala pemikiran Friedan tadi.

Di luar dua prinsip tadi, tidak menutup mata kalangan feminis pun ada pula yang mengadopsi ajaran Marxisme, pandangan sosialisme, hingga anarkisme. Sepakat atau tidaknya terhadap pemikiran feminisme, tergantung dari mana sudut pandangan yang dipakai. Laki-laki secara personal bisa saja lebih menyepakati alur pikiran Friedan ketimbang seorang perempuan yang merasa lebih suka untuk didominasi kaum laki-laki. Kembali ke kultur dasar yang begitu kokoh dipegang masing-masing individu. Feminisme juga dianggap terlalu kebarat-baratan. Tidak sesuai dengan kultur ketimuran yang kita anut.

Gebrakan Manis ala #lovewins

LGBT movement muncul di Amerika sekitaran tahun 1967-an semenjak heteroseksualitas tidak lagi menjadi satu-satunya orientasi seksual di Inggris dan berbagai negara bekas jajahannya, termasuk Amerika Serikat. Kajian-kajian gender mulai mengupas kembali apa yang sebenarnya menjadi alasan seseorang memiliki preferensi seksual di luar yang umum berlaku. Pada awalnya, kajian-kajian ini memisahkan antara studi gay dan lesbian. Seperti yang tertulis sebelumnya, lesbianisme adalah bagian gerakan feminisme radikal.

Dahulu, manusia terindentifikasi sebatas jenis kelaminnya, laki-laki atau perempuan. Belum ada kajian mendalam untuk masuk lebih jauh ke ranah orientasi seksual, identitas seksual, ekspresi seksual, dan ekspresi gender. Di sinilah kiranya awal dari homoseksualitas itu bersumber.

Dalam makalah berjudul “Tantangan Seksual dalam Keberagaman Seksualitas dan Gender”, Maesur Zaky MA menyebutkan, bisa saja seorang berjenis kelamin laki-laki tetapi gendernya feminin, mengekspresikan dirinya secara feminin, demikian pula ekspresi gendernya mengikuti feminin. Bahwa gender adalah sebuah aspek yang cair, bisa mengalami pergeseran yang dipengaruhi oleh faktor internal individu maupun lingkungan sosial. Bisa saja suatu kali kita bertemu teman lama yang penampilannya jauh berbeda dari yang kita kenal dulu. Dia telah menjadi sosok perempuan yang sangat maskulin, berpakaiannya pun sangat laki-laki, kekasihnya pun bukan lagi laki-laki. Atau laki-laki yang malah menjadi begitu gemulai dan ketertarikannya pun kepada laki-laki.

Masuk dalam kajian-kajian seksualitas dan gender di satu sisi akan membuka cakrawala baru betapa gender adalah sesuatu yang tidak menjadi hitam putih. Variannya banyak. Manusia di luar sana ada yang tidak 100% maskulin, tidak 100% feminin. Maka muncullah istilah tambahan androgini, genderqueer, genderfluid.

Di sisi yang lain, ada sebuah konsekuensi untuk ikut memahami apa yang sebenarnya diperdebatkan kaum homophobia di luar sana hingga terdoronglah kemauan untuk mengulik kembali sejarah para nabi dalam kitab suci. Di antaranya: Apa sebenarnya dosa besar penduduk Sodom dan Gomora? Homoseksualitas, seks anal, pemerkosaan laki-laki, biseksualisme, atau tindakan kriminal yaitu perampokan dan pembunuhan? Mengapa Tuhan begitu murka sampai membakar habis kota itu?

Dari sekian banyak pembahasan tentang LGBT dengan tinjauan agama, saya menemukan 1 tulisan menarik yang terposting di facebook berjudul “Homoseksualitas dan Fikih”[1], Azis Anwar Fachruddin menguraikan panjang lebar hasil kajiannya terhadap teks-teks fikih klasik terkait homoseksual. Saya kutip beberapa bagian yang sedikit menjawab perkara panjang ini.

“Membedakan homoseksualitas dari anal sex itu penting, karena keduanya memang tidak identik. Status ontologis dari yang pertama adalah orientasi seksual; sedang yang kedua adalah tindakan seksual. Ini sama dengan heteroseksualitas dan zina; yang pertama adalah orientasi seksual, sedangkan yang kedua—bila ia dimaksudkan dalam pengertian fikih yang ada hukuman hadd-nya—adalah tindakan memasukkan penis (lebih persisnya: sampai hilang hasyafah atau “helm”-nya) ke vagina perempuan di luar ikatan pernikahan atau perbudakan. Di samping itu, anal sex bisa dilakukan bukan hanya oleh homo tapi juga hetero; jadi homo tidak niscaya identik dengan anal sex. Lebih jauh, tindakan adalah sebuah pilihan, sementara orientasi seksual… well, soal ini aku tak tahu persis apakah ia muncul begitu saja seperti perasaan jatuh-bangun cinta atau merupakan pilihan.

Yang jelas, pada dasarnya yang menjadi wilayah hukum fikih adalah tindakan. Dalam pelajaran mula ushulul-fiqh biasanya diterangkan bahwa domain fikih (maudhu’ al-fiqh) adalah “af’al al-mukallafin” atau tindakan orang-orang mukallaf (orang yang baligh dan berakal). Lebih persis lagi, tindakan yang dilakukan itu adalah yang berdasarkan kesadaran, pilihan (ikhtiyari), dan tidak terpaksa (ghayru mukrah). Ini sebenarnya sama belaka dengan dasar filsafat etika: perbuatan yang bisa dimintai pertanggungjawaban dan bisa dihakimi ethical/unethical adalah perbuatan yang dilakukan secara sadar dan merupakan pilihan atau tidak terpaksa.

Sejauh yang kutahu, fikih tidak (atau belum?) mengatur orientasi seksual. Yang diatur adalah manifestasi tindakan dari orientasi seksual itu. Kalaupun ada hal batin yang diurus fikih (misalnya, “niat”), itu untuk menentukan apakah suatu perbuatan adalah ritual atau bukan; bernilai ibadah atau tidak—selain bahwa niat juga merupakan tindakan-batin yang bersifat pilihan. Ditambah lagi bila kamu menyebut homoseksualitas sebagai penyakit, ini semakin jauh dari domain fikih. Per definisi, penyakit tidak bisa dihukumi halal-haram. Kamu tak bisa mengatakan, misalnya, pusing, lumpuh, epilepsi, autis, atau gila adalah haram. Apa hukumnya penyakit? Ya disembuhkan—ini tentu kalau ada obatnya dan bisa disembuhkan. Menyatakan penyakit itu haram adalah sama dengan keluar dari domain fikih, kalau bukan malah berarti mengagresi wilayah yang menjadi otoritas disiplin ilmu lain.”

Tulisan kedua saya pilih dari sudut pandang Alkitab, berjudul “Sodom, Sodomi dan Homoseksualitas”[2]. Dipublish di Kompasiana oleh Topan Ripan. Konten tentang Sodom dan Gomorah juga ditulis oleh Ayu Utami untuk qureta.com dan sejumlah literatur Kristiani lainnya. Saya kutip pada bagian kesimpulan, yaitu “Dosa Sodom dan Gomora”:

  1. Penyembahan berhala (dari Yudas 1:7).

Yudas 1:7 sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang.

Di zaman penulisan Kitab Yudas, kata ekporneuo berarti memberikan diri ke prostitusi spiritual atau penyembahan berhala (ingat penggambaran prostitusi spiritual/religius yang diberikan oleh kitab Yehezkiel).

Prostitusi spiritual adalah kota-kota itu melakukan penyembahan berhala.

Dari studi arkelogi dan dari Alkitab kita dapatkan bahwa bentuk penyembahan berhala yang dilakukan di masa Perjanjian Lama adalah yang ekstrem yakni yang melibatkan penyiksaan diri sendiri, tindakan-tindakan amoral (misalnya seks bebas) bahkan sampai ke pembunuhan bayi-bayi (akibat hubungan seks bebas itu).

“Mengejar kepuasan yang tak wajar” adalah dari “Going after strange flesh”.

“Going after strange flesh” tidak tepat diartikan “mengejar kepuasan yang tak wajar” sebagaimana terjemahan LAI sehingga kemudian diartikan sebagai hubungan homoseksual.

Dari studi kata Yunani “hetera” (strange) didapatkan pemaknaan bahwa kalimat itu seharusnya diartikan sebagai mencari/mengajak orang-orang lain, dari luar kota sodom (strange) untuk ikut di penyembahan berhala (sex cult) itu. Going after strange flesh artinya mengajak orang-orang lain (selain orang Sodom) untuk ikut dalam penyembahan berhala alias nyari pengikut.

  1. Ketidakpedulian pada sesama manusia (dari Yeh 16: 49).

Yeh 16:49 Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah, dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin.

Marginal adalah perkara perspektif belaka. Dia bergerak dinamis seiring perkembangan waktu. Perjuangan bagi kaum marginal sepatutnya tidak berhenti di satu titik hanya karena represi-represi yang membabi buta atau spanduk-spanduk bernada “anti” di perempatan-perempatan jalan. Tindakan-tindakan marginalisasi justru dapat dijadikan sebagai batu loncatan pemberontakan untuk sampai ke tahap yang lebih tinggi. Di belahan dunia yang lain masih terjadi tindakan-tindakan diskriminasi yang membuat kita terenyuh. Di Amerika, Eropa, dan Australia ada gelombang kebencian besar terhadap Islam (islamophobia). Di Indonesia muncul keluhan baru atas terdiskriminasinya perempuan bercadar setelah LGBT masuk dalam episode ILC TV One. Di Arab Saudi terkenal dengan sikap diskriminatif terhadap orang-orang Bangladesh, India, dan Pakistan.

Kesimpulannya, berjuanglah. Kita semua adalah manusia. Lawannya pun sama-sama manusia. Di akhirat kelak, sudah tidak ada lagi konflik-konflik duniawi seperti ini.

Jogja, 22 Februari 2016

[1] Facebook.com/notes/azis-anwar-fachrudin/homoseksualitas-dan-fikih/959310420823489

[2] kompasiana.com-homoseksualitas_550192c58133119c19fa84e6