30 Detik ke Amerika, Review Album Thirty Seconds to Mars

in Hibernasi by

Amerika adalah surga penuh inspirasi. Dari jalanan, orang, budaya, menyajikan kisah-kisah yang tertulis sebagai cerminan kondisi dunia saat ini. Ini bukan berarti penulis setuju jika ada alien menyerang bumi dan orang-orang dari Amerika menjadi duta bumi untuk mendamaikan masalah. Hanya saja beberapa artis yang diidolakan penulis, saat ini sedang meresahkan keadaan negara yang sekarang dipimpin oleh Paman Donald. Kondisi ini sama seperti—yang penulis tahu—saat Amerika dipimpin oleh George W. Bush Jr.

Aksi penolakan terhadap kebijakan-kebijakan presiden begitu masif disuarakan oleh karya-karya indah yang membuat rakyat Amerika saling berjaga untuk mengingatkan walau ancaman terus saja datang. Di bidang musik, album indah untuk menggambarkan kondisi saat itu tertuang di album American Idiot milik Green Day.

Album baru Thirty Seconds to Mars juga menyuarakan hal bernada sama. America dirilis 6 April 2018, berisi trek-trek keresahan dan kegelisahan akan kondisi Amerika saat ini meski tidak seagresif milik Green Day atau band-band bawah tanah yang jika penulis sebut nama artisnya bisa melebihi batas halaman kolom Hibernasi.

Pun bisa dibilang, 30STM mengubah genre mereka sejak album Love, Lust, Faith, Dreams (2013). Tak ada lagi dandanan emo dengan rambut poni lempar, meneriakkan nada tinggi tentang sakit hati, distorsi gitar berat, gebukan drum energik. Kini 30STM yang hanya beranggotakan Jared Leto, Shannon Leto, dan Tomo Milicevic setelah ditinggal basisnya Matt Wachter yang gabung sebentar menjadi personel Angels And Airwaves, mengukuhkan diri menjadi band rock alternatif yang mulai berkolaborasi dan bereksperimen di dalam LP mereka. Bahkan penulis sempat agak khawatir ketika tahu mereka kolaborasi dengan A$AP Rocky—artis hip hop kekinian yang dicaci di kalangan puritan hip hop karena genre yang dia suarakan melenceng jauh dan sempat berkolaborasi dengan Maroon 5.

Apakah ini strategi 30STM untuk melebarkan sayapnya karena sempat tenggelam dikarenakan Jared Leto gagal memuaskan penggemarnya di *uhuk* Suicide Squad *uhuk* yang dicaci namun tetap mendapatkan Oscars? Atau 30STM hanya ingin mencoba genre baru—aliran trap hip hop yang lagi booming di kalangan milenial lantas melupakan era celak mata masih jadi aksesori wajib untuk pergi ke konser daripada helm SNI?

Pergantian genre yang drastis semacam ini juga sering didengar di album-album baru para penggawa band emo yang sempat populer di medio 2005. Beberapa band bahkan memutuskan untuk meninggalkan format analog dan beralih menjadi EDM. Salah satu yang mengecewakan adalah saat mendengarkan album Mania dari Fall Out Boy terutama pada trek Young And Menace. Seakan gitar-gitar yang mereka pegang hanya menjadi gimmick belaka. Jadi pesan yang disampaikan oleh para senior ini adalah lupakan analog dan beralihlah ke digital demi memutus mata rantai para produsen gitar yang gemar menebang pohon demi menghasilkan suara gitar yang buruk di album yang buruk.

Trek pembuka, Walk on Water, hampir membuat penulis bingung. Kalau tidak salah, itu juga merupakan judul lagu kolaborasi Eminem dan Beyonce, sekaligus pembuka di Revival—album Eminem yang mendapat kritikan buruk. Jika dibandingkan, mana yang lebih enak? Sayangnya, semuanya menunjukkan penurunan dalam segi musikalitas. Terlebih di sisi 30STM, beberapa bagian lagu mirip Radioactive milik Imagine Dragons. Mirip bukan berarti plagiat. Tidak seperti penulis yang plagiat puluhan cerpen. Thirty Seconds To Mars tidak begitu.

Di trek kedua, Dangerous Night dan trek ketiga, Rescue Me, menggunakan formula serupa. Barulah di trek One Track Mind yang berkolaborasi dengan A$AP Rocky, eksperimen 30STM diuji coba. Drum digital, menggunakan triplet pada hit hat sangatlah membuat para fans emo—yang mengagungkan rambut merah Jared Leto di video klip From Yesterday lalu mengutuk Armand Maulana karena meniru-niru gaya rambut tersebut—marah.

Penulis sendiri agak tak tahan mendengarkan trek ini. Bukan karena perubahan genre dan penggunaan alat, tapi agak menyedihkan jika harus mendengarkan suara Jared Leto yang empuk harus dilapisi dengan autotune ditambah suara kolaboratornya seperti orang yang menyanyi sambil ngemut lima buah anggur di mulut. Masa bodoh jika penyanyi semacam ini pernah meraih Billboard, yang jelas ini dan trek berikutnya di mana 30STM berkolaborasi dengan Halsey—mungkin jika pernah mendengar dia di lagu Closer dari The Chainsmokers, masih menggunakan benang merah. Tidak ada distorsi gitar, hanya terdiri dari bunyi-bunyian synthesizer dibalut ketukan monoton mesin drum. Meski mereka termasuk multitalenta dalam bermain alat musik, kehilangan akar terlalu parah semacam ini hanya memaksa para pendengar lawas untuk segera dewasa dan bergerak dari keterpurukan dan celak hitam di mata mereka.

Trek-trek berikutnya sungguh membingungkan penulis harus mengapresiasi, apalagi album ini. Hail to the Victor sudah menjadi EDM yang mengganggu kuping jika beberapa orang tak terbiasa mendengarkan genre semacam ini. 30STM masih menggunakan gitar akustik di Remedy yang dinyanyikan oleh Shannon Leto. Live Like a Dream harusnya bisa menjadi kuat, cuma mereka menggunakan formula yang sama di lagu Kings And Queens sehingga menjadi tak bertenaga. Trek terakhir album ini hanya berakhir biasa walau di seperempat bagian akhir, harmonisasi yang manis dari orkestra terdengar megah.

Album yang buruk bagi orang-orang yang menginginkan Thirty Seconds to Mars untuk mengulang kehebatan album self-titled mereka, seepik A Beautiful Lie atau seindah This is War—untuk pembuatan album ini, penulis menyarankan untuk juga menonton dokumenter mereka Artifact. Tidak ada suara gitar dan drum yang dimainkan secara manusiawi. Tapi suara Jared Leto masih tetap semegah biasanya untuk menceritakan kisah-kisah Amerika di tengah pemerintahan Paman Donald. Yang menarik dari album ini adalah kovernya. Rasanya fans juga bisa mendesain kover itu menggunakan Word Generator. America memang didistribusikan secara independen.

Lupakan lagu seindah Kings And Queens, The Kill, Buddha for Mary jika belum terbiasa dengan musik alternatif yang dibalut dengan suasana hip-hop. Album ini akan tenggelam di tengah album lain yang masih akan terus keluar sepanjang 2018. Penulis sendiri berharap Panic! At The Disco yang mengeluarkan album di bulan Juni tahun tidak semonoton America. Untuk melupakan kekecewaan selama lima jam mendengarkan album ini sekaligus menulis artikel ini, penulis memilih untuk segera mencucinya dengan album baru Underoath, Erase Me, Blessthefall. Hard Feelings atau album comeback Dashboard Confessional, Crooked Shadow diselingi Rewrite the Stars dari OST The Greatest Showman.

Jacob Julian

Jacob Julian

Penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.
Jacob Julian