7042 Hari Kesedihan

in Cerita Pendek by
JacekYerka1
Sumber Gambar: deviantart.net

Ketika kau membaca cerita ini, kesedihanku telah berusia 7042 hari. Telah lewat kejadian-kejadian paling pedih dan memilukan, telah kering segala luka dan air mata, telah tuntas segala jenis perpisahan yang paling mungkin di dunia, sehingga hatiku pun menjadi kebal. Maka kutulis sebuah cerita yang tidak akan mengurangi kesedihanku, dalam ruangan yang membatasiku dari keramaian orang-orang yang sibuk berbahagia.

            Kuawali cerita ini dengan sebuah pengakuan, bahwa kesedihan telah membuatku menjadi seorang pesimis yang baik. Setiap kali ada sesuatu yang layak diperjuangkan, maka akulah yang pertama kali putus asa. Telah kukecewakan banyak orang, telah kupupuskan harapan orang lain terhadapku. Selama 7042 hari, setiap yang kuimpikan tidak pernah tersampaikan, sehingga tidak ada lagi keyakinan. Setiap yang kuinginkan berujung rasa sakit, maka aku pun menjadi seorang pesimis, terbebaskan dari segala angan-angan panjang. Aku telah memadat sebagai kesedihan yang paling sempurna. Seperti Arsene Wenger, aku adalah spesialis kegagalan. Tidaklah seseorang mengalami kegagalan dalam hidupnya melainkan aku pun pernah mengalaminya. Setiap kali orang-orang melihatku, mereka berterima kasih kepada Tuhan karena tidak menjadi diriku.

          Setiap malam, ketika sepasang jarum jam berpelukan, kutulis catatan panjang berupa ensiklopedia kecemasan, terkadang catatan itu berisi tentang apa yang seharusnya kulakukan sebagai manusia, juga tentang apa yang seharusnya kusesalkan karena telah gagal menjadi manusia. Terkadang pula kuhabiskan waktu dengan menulis puisi-puisi yang tidak kupahami. Kutulis puisi tentang wanita dalam mitos Yunani agar terkesan seperti sebuah dekonstruksi, kutulis soneta tentang sepasang kekasih yang duduk menonton kereta api di tepi Jalan Tuparev, kutulis sajak taman bunga lavendel dan gaya ekspresionisme lukisan Edvard Munch. Kutulis puisi cinta seolah aku sedang berbunga-bunga, kutulis sajak-sajak yang justru membuatku makin pesimistis dan tidak bahagia.

            Kutulis puisi pada tengah malam dan esok harinya kubiarkan lembarannya tercecer di sepanjang trotoar, di tempat parkir mal, di warung kopi, di taman dan alun-alun, kadang di hari tertentu kutemukan puisiku tercetak di selembar koran atas nama orang lain. Aku biarkan orang lain menemukan puisiku yang berserak dan mengakui sebagai miliknya. Untuk apa? Apakah karena uang? Sudah 7042 hari aku tidak memiliki uang, dan tidak membutuhkan uang. Kehidupanku adalah yang paling murni. Aku hidup maka aku punya alasan untuk tidak melakukan apa-apa. Uang tidak berhak mengatur hidupku, tidak pula gaji bulanan, AC kantor, mesin ATM. Aku tidak percaya pada mitos kelaparan selama aku orang yang beriman. Ketika ribuan manusia sedang antre di bursa lowongan kerja, aku sedang menemani seekor kucing kecil menyeberang di jalan raya. ketika orang-orang baru mendapat gaji awal bulan, aku sibuk berlari-lari kecil di pinggir sungai mengikuti burung-burung ke arah senja.

            Namun bukan berarti aku tidak peduli. Aku adalah orang pesimis yang mendoakan orang lain agar beruntung nasibnya. Kupandangi gadis-gadis berjalan beriringan, membicarakan tentang kencan-kencan dan jadwal film. Kudoakan agar masa depan mereka begitu cerah: menjadi wanita karier, menikah dengan eksekutif muda, ikut arisan berlian. Kulihat juga pedagang asongan tengah duduk dipayungi matahari, menghitung lembaran uang kumal yang tak seberapa. Kudoakan kelak anaknya lulus kuliah dengan sukses sehingga ia bisa diliput media.

            7042 hari berlalu hingga aku tidak lagi paham apa itu kesuksesan dan kebahagiaan. Kudengar orang-orang membicarakan impian, kudengar orang-orang membicarakan reuni untuk bertukar tanya tentang gaji dan pekerjaan. Namun aku adalah seorang pesimis yang terbaik, tidak percaya pada cita-cita dan masa depan. Aku hanya ingin hidup di masa sekarang, melihat burung-burung pulang, memandangi lampu jalan, meminum air hujan. Aku suka duduk menjelang malam, ditemani asap pedagang kacang goreng, melihat anak-anak yang masih saja mengamen di lampu merah. Aku berbaur dengan segala suara, gelak tawa para remaja bersama pasangannya, hingga kelakar anak-anak geng motor yang haus akan perkelahian dengan sesamanya.

            Hari-hari terus berlalu dan aku seperti tidak melakukan apa pun, sementara kalender terus memetik helai demi helai daun usiaku. Lewat sudah 7042 hari yang tidak berkontribusi apa-apa. Jika aku berusia seratus tahun, maka akan kulewati seratus tahun kesunyian, aku akan menjadi Gabriel Garcia Marquez tapi tidak bisa menulis novel. Aku akan menjelma Kawabata dan bahkan disakiti oleh perempuan yang tidak pernah ada. Aku akan mendorong jatuh Mulbuldosa yang berdiri di tebing sambil berkata, “Buruk gagak yang sedih, musim gugur adalah musim gugur.”

            Lamunan demi lamunan ibarat nyala lilin dalam ingatanku. Kepalaku menolak berpikir tentang bagaimana mengentaskan kenyataan, seolah telah putus asa seluruh saraf-sarafnya. Kutinggalkan segala ilmu pengetahuan, kubiarkan buku-buku yang mengajarkanku tentang angka-angka dan sejarah. Tak ada lagi universitas, tak ada lagi bangku kuliah bertuliskan rumus-rumus yang tak memberikan kedamaian. Sekarang aku bebas, meski tentu bukan pengangguran. Aku berpikir maka aku bukan pengangguran. Ketika kulihat orang-orang larut dalam siklus kehidupan: lahir, belajar, bekerja, menikah, memiliki keturunan, lalu dikubur. Aku berada dalam siklus yang diam. Umurku jelas bertambah tapi aku percaya ucapan seorang penyair bahwa umur cuma perasaan.

            Dalam urusan cinta, aku adalah pesimis yang terbaik, maestro anatomi patah hati. Pernah kucintai seorang gadis yang tubuhnya terbuat dari reruntuhan musim dingin, ia berkata akan datang menemuiku di pusat kota ketika malam berganti cuaca, tapi ia tidak juga datang dan aku mulai pesimis tentang perasaan, bahwa cinta adalah urusan sepele yang menolak diselesaikan.

            Semenjak itu, aku memutuskan untuk tidak mencintai perempuan mana pun, sebab aku merasa seluruh perempuan di dunia ini telah sepakat untuk tidak mencintaiku. Aku mulai terbiasa untuk tidak membutuhkan cinta dari mereka, baik yang dihias dengan ornamen kata-kata, maupun yang langsung membayar untuk menyewa hotel bintang tiga. Sekarang aku bebas mencintai apa saja, lampu lalu lintas, marka jalan, warung remang, bus yang sedang parkir, kios buku bekas. Aku mencintai gedung bioskop tua, aku mencintai gerobak sampah, aku mencintai gemerisik dahan pepohonan sepanjang jalan pascahujan.

            Aku adalah sang pesimis, jika kau bertemu denganku, jangan nasihati aku dengan apa pun, jangan beri aku petuah dari motivator bijak. Jangan tanyakan tentang masa depan atau apa yang gagal kulakukan. Cukuplah kau duduk denganku mengamati jatuhnya senja pada lampu-lampu kota. Kalau kau sudah bosan atau ingin pulang, maka biarkan aku berjalan di sisa malam separuh bulan. Biarkan aku bahagia dengan cara menjadi orang yang paling sedih di dunia.

***

        Hanya saja, jika kesedihan bisa berpasangan, sebagaimana segala hal di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan, maka kubayangkan di suatu tempat yang jauh, masih ada seorang perempuan yang juga sangat pesimistis, yang ditikam kesepian dan tidak percaya pada dunia, yang telah menghabiskan 7042 hari menunggu seseorang agar bisa berbagi kesedihan di sisinya.

            Jika setelah membaca cerita ini kau lalu bertemu perempuan itu, jangan katakan apa pun kepadanya.

Sungging Raga
Follow Me

Sungging Raga

pernah kuliah di jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada. Buku kumpulan cerpennya Sarelgaz (Indie Book Corner, 2014).
Sungging Raga
Follow Me

Latest posts by Sungging Raga (see all)

  • Antsomenia

    Cerpenisnya bikin pembaca mulai merasakan kesedihan turun perlahan-lahan seperti salju, mulai dari awal kalimat hingga penghujung kata yang disegel kesedihan pula.

    TOP.