Adakah Taman di Dalam Hidupmu?

in Esai by
pinterest

Yang membedakan sebuah rumah dengan gua adalah adanya tamu. Di rumah, kita bisa bikin kopi, di gua juga, tapi kopi yang dibikin di gua hanya diminum sendiri, bukan untuk tamu. Jadi, kalau rumah tidak pernah kedatangan tamu (petugas PLN, sales, dan mindring diperkecualikan dari jenis tamu), maka tempat itu hakikatnya sebuah gua yang kebetulan ada genting dan kamar mandinya.

Dan soal urusan tamu-menamu, tampaknya tidak ada yang lebih bebas daripada “orang kita”, terutama yang tinggal di desa. Ada kalanya tamu datang pagi sekali, hanya beberapa menit setelah matahari terbit. Saya kadang menerima tamu malam-malam, kadang tidak jelas apa maunya, hanya menunggu saya mengeluarkan kopi lalu minum dan dia “bicara” sendiri dengan gadgetnya. Ada pula yang datang ketika saya sudah tidur, biasanya cuma kasih kabar mau numpang nyolati jenazah.

Di bulan Syawal, di pesantren, tamu datang seperti gerombolan demonstran, terutama pada hari Ahad dan Rabu. Ada kalanya, jubir tamu sudah ikut madzhab kekinian, kasih kabar dulu sebelum bertandang, baik secara langsung atau lewat “pesan”. Ada pula yang bergaya klasik, dan ini yang banyak: datang mendadak, bawa ratusan orang untuk mengantar hanya satu atau dua orang santri baru, dan mereka semua sudah sepantasnya disuguhi hidangan berat, nasi dan lauknya, sesuai S.O.P yang berlaku. Ya, semua itu tanpa perjanjian, serba dadakan.

Tempo hari, ada seorang bule yang mengeluh di Facebook karena janjian yang tidak ditepati, tidak tepat waktu. Bagi kita—bagi saya lebih tepatnya—itu nyaris hal yang biasa. Yang ini menarik karena si Bule itu orang Jerman dan yang dikeluhkan juga teman sekampung. Bedanya, si Bule sudah lama di Jawa dan teman kampung baru saja tinggal di Indonesia.

Apanya yang dikeluhkan?

Dia mengeluh karena yang tidak tepat waktu justru teman sekampungnya itu, padahal orang Jerman itu kalau janjian mirip jadwal kereta api, nyaris saklek bahkan hingga satuan menitnya. Makanya, dia (si Bule yang saya ceritakan tadi) jadi heran, padahal dia sudah mulai agak toleran untuk urusan molor-moloran sedangkan temannya mestinya masih membawa etiket Jermannya, tapi ternyata tidak. Ternyata, bukan cuma menguap dan gatal-gatal saja yang menular, molor pun juga.

Cerita kebalikannya menimpa Pak Farid, dosen UGM yang pernah agak lama tinggal di Jerman. Ia mengaku pernah sekali waktu janjian dengan warga setempat. Agar dipuji disiplin, dia datang kira-kira 10 menit lebih awal. Anggap saja janjiannya pukul 8 dan dia datang pukul 07.45. Tahu, apa yang terjadi? Dia lihat melalui kaca yang gordennya terkuak, si calon tuan rumah ada di dalam kamar dan nyata-nyata melihat kalau dia sudah datang dan ada di halaman, tapi santai saja si tuan rumah itu di dalam, tidak keluar, dan baru membuka pintu setelah jam menunjuk pukul 8 percis.

Di Indonesia, di desa saya tepatnya, bertamu itu tidak perlu janji-janjian segala. Ada orangnya syukur, tidak ada, ya balik lagi. Semua itu berlangsung sejak dulu bahkan hingga saat ini. Belakangan, setelah adanya ponsel, orang bertamu itu, jangankan tanpa janjian, bahkan setelah sampai di depan pintu saja masih pakai pemberitahuan posisi lewat SMS, bukannya panggil salam atau ketok pintu. Belakangan, ada pula cara yang baru: nge-post di kronologi Facebook sebagai ganti salam dan pemberitahuan bahwa “saya sudah ada di luar!”. Makin aneh saja dunia ini.

***

Ada pepatah begini: “seorang tamu selalu membawa kebahagiaan, kalau tidak datangnya, ya, perginya”. Meskipun saya berkeyakinan bahwa setiap tamu membawa berkah, pepatah itu setidaknya membuat saya merenungkan posisi diri saat akan berkunjung ke rumah orang. Di posisi manakah aku berada? Begitulah yang terbetik dalam pikiran.

Nah, kebetulan, saya kenal seseorang bernama Tamam, tokoh yang cocok memainkan peran dalam esai ini.

Tamam menjadi tamu tetapnya Kiai Warits. Dia datang tanpa kepentingan apa-apa. Orang umum menyebut cara itu sebagai silaturahmi. Tamam sendiri menyebutnya “nyabis” (sowan). Namun, sowan itu kan biasanya sesekali saja, lalu apa namanya jika datangnya bertubi-tubi dan nyaris tiap hari?

Konon, Kiai Warits tidak pernah risih, apalagi reseh, terhadap Tamam. Beliau enjoy dan tetap memperlakukannya sebagai tamu. Butuh mental hebat untuk bisa seperti ini. Jadi, sebetulnya, di situlah pokok masalahnya, bahwa tamu itu mestinya membawa bahagia atau harus dibikin bahagia.

Secara prinsip, pasti ada kepentingan di dalam benak setiap orang yang datang sebagai tamu. Masyarakat awam tidak akan menyebutnya kepentingan jika kedatangan si tamu hanya untuk silaturahmi, meminum kopi, ngomong tanpa topik khusus, misalnya(mohon tidak terlalu diperpanjang soal definisi kepentingan ini, ambil contoh yang ini saja).Adapun kepentingan tamu-tamu tanpa kepentingan ini adalah datang sebagai tamu tanpa kepentingan, maksud saya tanpa kepentingan bisnis, politik, atau lobi-lobi lain. Kepentingannya adalah silaturahmi dan silaturahmi dipahami masyarakat dengan “berkunjung tanpa kepentingan”.

Gus Dur termasuk orang yang memperkenalkan tradisi semacam ini untuk khalayak luas saat beliau menjadi presiden. Lantas, banyak pengamat bilang kalau cara silaturahmi ala Gus Dur ini hanyalah buang-buang waktu. Orang-orang macam pengamat tadi pastilah tipe penghuni gua, atau paling tidak, rumahnya berpagar tinggi dan jarang dikunjungi.

Saya pun memiliki “Tamam”-nya sendiri (Barangkali, Anda juga punya pengalaman begitu). Mereka suka datang di malam hari, waktu yang mestinya untuk istirahat. Kadang pula ada yang nongol setelah lewat tengah malam. Sepintas, kedatangan tamu macam ini sangatlah mengganggu privasi, berhubung saya bukan dukun yang buka praktik malam. Anehnya, kepentingan mereka rata-rata tidak mendesak, artinya bisa dilakoni pagi atau siang harinya.

Tentu saja, jika saya sudah ingin istirahat, bilang saja apa adanya. Namun, bagi tamu yang datang dari jauh dan hanya punya kesempatan tengah malam untuk bertemu/bertamu, saya sebagai tuan rumah—menurut saya—yang harus mengalah. Sebab, didatangi tamu itu sebuah kehormatan bagi kita, bahkan andaipun tamu tersebut sepintas tampak “tidak menguntungkan” bagi kita.

Jadi, apa yang saya bicarakan dari awal itu adalah tata cara atau model bertamu, termasuk waktu yang pantas. Dan bagian ini sangat lunak aturannya, pantas-pantasan saja. Contoh: di desa dan kota, ada perbedaan penting soal jam bertamu. Di kota, jam bertamu banyak berlangsung bakda Maghrib. Hal ini mungkin karena sepanjang hari orang-orang berada di kantor dan tak bisa ke mana-mana. Di desa, masyarakat masih menganggap sakral waktu antara Maghrib ke Isyasebagai waktu istijabah, peak time untuk ibadah. Jadi, bertamu bakda Maghrib akan terasa agak aneh karena tuan rumah biasanya ada di langgar/surau. Ini artinya, suatu tempat menerapkan kebiasaannya sendiri, termasuk dalam hal/jam bertamu.

Belum lagi ada aturan lain di luar itu. Di Madura, misalnya, tamu laki-laki ditempatkan terpisah dengan perempuan, bahkan meskipun mereka itu sepasang suami istri. Kenapa bisa begitu? Sebab istri tamu bukan mahram bagi tuan rumah yang laki-laki. Di beberapa tempat, sepasang tamu suami istri yang diterima oleh tuan rumah sepasang suami istri pula dan duduk di satu tempat masih dianggap tabu.

Di negara-negara di luar sana, harus kencan lebih dulu kalau mau bertamu. Beda sekali dengan kebiasaan di desa, di pesantren apalagi. Di Madura, ada tradisi di beberapa tempat yang menganut madzhab “pantang pulang sebelum makan”. Siapkah Anda menganut madzhab ini, seperti Kiai Warits, jika tamunya mencapai puluhan hingga ratusan setiap harinya?

Leluhur meninggalkan ajaran bahwa tamu harus diterima dan diperlakukan sebagai tamu. Namun, untuk tamu tetap jenis Tamam di atas? Perlakukan ia sebagai tamu selagi kita, kalau tidak, ya, lobi bagaimana langkah yang enak.

Nah, setelah beberapa waktu berselang, saya kadang kangen kepada para Tamam. Mereka tidak datang tengah malam lagi karena telah sibuk digandoli anak dan istrinya sehingga tidak sempat menggandoli dan mengusik saya, seolah-olah rumah pun berangsur berubah menuju gua.

Terkadang, kita mendambakan masa-masa “diganggu” hanya sekadar untuk meneguhkan bahwa kita ini manusia. “Merasa diganggu” pun menjadi semacam sensasi yang menyenangkan karena sejatinya yang disebut mengganggu itu berhubungan dengan keseringan. Kalau jarang-jarang maka itu disebut rindu namanya; rindu Tamam.

Seberapa banyak Tamam dalam hidupmu, begitu pula kira-kira engkau dapat menakar kebahagiaanmu.

M. Faizi

M. Faizi

kiai penikmat kopi di Pesantren An-Nuqayah Sumenep, Madura.
M. Faizi

Latest posts by M. Faizi (see all)