Agama Kebencian

in Celoteh by
pinimg.com

Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta

Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya

(Emha Ainun Nadjib)

Inti (ajaran) agama adalah cinta. Beragama berarti merasakan atau bahkan menebarkan cinta dan kasih sayang kepada sesama. Setiap nabi yang diturunkan ke muka bumi membawa kitab cinta. Risalah-risalah yang mereka bawa berkabar tentang cinta. Dari benih-benih cinta yang ditebarkan ke segenap penjuru semesta, tergelarlah kehidupan yang damai dan penuh kesejukan.

Tapi, kenapa lagu-lagu kebencian masih semarak didendangkan? Bahkan atas nama Tuhan, kebencian tak bosan-bosan dikhotbahkan. “Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta/ Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya,” tulis Emha Ainun Nadjib dalam bait terakhir puisinya yang bertajuk “Tahajud Cintaku” (1988).

Keberagamaan yang didasari kebencian tentu lahir dari jiwa yang keruh. Perbedaan sama sekali tak dimaknai sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya. Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim diseret ke dalam praktik kehidupan yang pongah, yang menjadikan nafsu sebagai panglima.

Bukankah Rasulullah dalam salah satu hadis qudsi telah berkabar bahwa Jalan menuju Tuhan ialah sebanyak makhluk-Nya? Kenapa masih terdengar suara-suara kebencian yang mengutuk perbedaan atas nama Tuhan?

***

Iman semestinya membuat kita merasa aman. Keimanan yang tak mengantarkan kita kepada rasa aman adalah jenis keimanan yang rawan. Jika kita selalu merasa terusik dengan siapa pun yang tak seiman, bukankah ada yang tidak beres dengan keimanan kita?

Fenomena keberagamaan kita akhir-akhir ini menunjukkan kurangnya pemahaman kita akan nilai-nilai substansial yang menjadi ruh dari agama itu sendiri: cinta kasih, kesantunan, keadilan, pembelaan terhadap kaum yang tertindas dan terpinggirkan.

Saya tertarik dengan refleksi Syeikh Muhammad S. Adly, imam Masjid Al-Muslimin, Islamic Center kota Colombia dalam Termites: A Metaphor foe Everything That East Away at The Foundation of One’s Deen (2009). Tokoh asal Mesir ini menggunakan terminologi “rayap” untuk menggambarkan fenomena yang hingga kini masih dominan terjadi, sehingga menggerogoti sekaligus melemahkan struktur pondasi rumah bernama agama yang kita bangun.

“Kita bisa saja dengan gagah membuat sebuah rumah besar dan megah,” tulis Syeikh Muhammad S. Adly dengan tandas, “tetapi mungkin akan digerogoti rayap sehingga rumah tersebut roboh sia-sia. Mereka terus memakan fondasi dan pilarnya hingga kita tiba-tiba melihat bahwa rumah tersebut roboh. Peristiwa seperti ini juga bisa terjadi terhadap keislaman dan keimanan kita.”

Jika kita mau jujur, rayap-rayap yang merobohkan bangunan keberagamaan itu, dari hari ke hari justru kita pupuk. Kita rawat secara diam-diam. Sehingga tidak heran jika muncul perilaku-perilaku yang begitu rawan dan membahayakan bagi keberlangsungan hidup umat manusia.

Kita makin mudah menjumpai penghakiman terhadap keimanan orang lain. Pandangan penuh curiga dikedepankan. Seolah-olah Tuhan memberinya jalan untuk menghabisi siapa pun yang tak seiman. Agama menjadi panggung pagelaran keberagamaan yang brutal dan anti kemanusiaan. Siapa yang tak sepaham selalu dipandang sebagai ancaman.

Allah Maha Besar

Urat-urat leher kalian membesar

Meneriakkan Allahu Akbar

Dan dengan semangat jihad

Nafsu Kebencian kalian membakar

Apa saja yang dianggap munkar

Sepotong puisi berjudul Allahu Akbar yang ditulis KH. A. Mustofa Bisri tersebut merupakan kenyataan yang tengah kita alami. Apa yang ditulis kiai-penyair yang akrab disapa Gus Mus itu, yaitu nafsu kebencian, tengah melanda sebagian besar umat beragama di negeri kita. Agama kini ditampilkan dengan wajah yang seram. Takbir-takbir kebencian begitu mudahnya dikumandangkan. Perbedaan dijadikan pintu menebarkan kebencian. Penghormatan berubah menjadi penghakiman. Tuhan yang mereka hadirkan seolah tak mengenal rasa belas kasihan.

Jika demikian yang terjadi, bagaimana mungkin kedamaian bisa ditebarkan? Jika hati penuh kedengkian, bagaimana mungkin kasih sayang bisa diberikan?

***

Aspek terpenting dari agama adalah pemanusiaan manusia. Nabi Muhammad Saw. telah memberikan keteladanan bagaimana kita sanggup memanusiakan siapa pun saja dengan penuh cinta dan ketulusan. Bahkan kepada yang berbeda sekalipun, manusia teragung sepanjang sejarah itu menunjukkan sikap yang santun dan penuh kasih sayang.

Dari telaga jiwa Nabi yang bening, memantullah keindahan; dari hati beliau yang jernih, mengalirlah kesejukan. Itulah hakikat keberagamaan yang seharusnya kita pancarkan. Selama ini kita masih mudah terpukau oleh hal-ihwal yang bersifat permukaan. Betapa seringnya kita meributkan atribut-atribut atau tampilan lahiriah semata. Sehingga agama dengan ajaran-ajarannya seolah menjadi monster yang menakutkan, yang selalu berkabar tentang perang dan kebencian.

Bila kita gagal merefleksikan cara pandang yang arif tentang kehidupan yang berlandaskan pada ajaran cinta, maka bisa dipastikan akan muncul tabiat ekslusivisme yang sangat membahayakan. Pada titik inilah benih-benih ke-aku-an dengan leluasa menguasai cara pandang keberagamaan:  adanya klaim-klaim kebenaran, fatwa-fatwa kebencian, hingga penghakiman atas nama Tuhan menjadi tak terelakkan.

Bila cara pandang keberagamaan penuh dengan kabut-kabut kebencian, maka yang akan terejawantah dalam kehidupan tak lain adalah kekeruhan. Bila yang dominan menguasai pikiran dan hati nurani adalah kebencian, maka yang muncul adalah penghakiman dan kekerasan. Pada saat itulah agama dikubur justru oleh pemeluknya sendiri. Agama kehilangan peran substansialnya sebagai penerang jalan menuju kebahagiaan. Agama tak lebih hanya menjadi segugus doktrin yang menyeramkan.

Beragama, beribadah bahkan, fasih berkumandang keagungan Tuhan sekalipun, bila kebencian yang dikibar-kibarkan, bagaimana mungkin ada Tuhan di dalamnya? Agama tampil seolah tak ada Kasih Tuhan lagi di dalamnya. Agama tampil tanpa spiritualitasnya lagi. Agama, lantas, bahkan menjadi tidak lebih berharga lagi dibanding ketidakberagamaan itu sendiri.

Sayang sekali….

A. Yusrianto Elga

A. Yusrianto Elga

Tinggal di kedai-kedai kopi di Jogjakarta. Twitter @yusrielga
A. Yusrianto Elga

Latest posts by A. Yusrianto Elga (see all)