Akal Pertama

in Tajalli by
staticflickr.com

Yang pertama kali meluncur dari lumbung “ketiadaan” yang bersemayam di dalam kemahaan Allah Ta’ala adalah substansi kemuhammadan atau yang pada lembaran kamus kaum sufi dikenal dengan sebutan al-haqiqah al-muhammadiyyah. Itulah yang mengawali wujud semesta. Salah satu istilah lain dari sebutan yang sakral tersebut adalah “Akal Pertama”.

Akal Pertama inilah yang merupakan samudra dari seluruh kecerdasan makhluk. Benih-benih tumbuh dari kekelaman tanah dengan sepaket kecerdasan untuk menjadi pohon yang semakin hari semakin tinggi dan besar menuju kesempurnaan. Dari manakah asal-usul kecerdasan pepohonan tersebut kalau tidak memancar dari Akal Pertama?

Matahari bekerja sama secara solid dengan samudra raya. Dengan kecerdasan masing-masing. Melahirkan uap yang membubung. Menggumpal dan menjadi pekat di angkasa. Menaungi bumi untuk sementara. Lalu mengguyurnya dengan air yang penuh berkah. Agar dari dalam bumi itu benih-benih menggeliat dan pepohonan bermandikan keberkahan. Dari manakah asal-usul kecerdasan proses-proses tersebut kalau tidak memancar dari Akal Pertama?

Sudah lama sekali, sudah berabad-abad, jauh sebelum spesies makhluk yang bernama manusia menapakkan kaki di planet yang kita huni ini, bumi sudah berputar mengelilingi matahari dengan kecerdasan cinta demi menjadi pelayan yang setia bagi berlangsungnya melodi kehidupan yang penuh dengan harmoni dan keselarasan. Dari manakah asal-usul kecerdasan bumi tersebut kalau tidak memancar dari Akal Pertama?

Salah satu efek dari berputarnya bumi itu adalah senantiasa berlangsungnya pergantian siang dan malam. Sudah triliunan senja berubah menjadi malam. Sudah triliunan subuh digantikan oleh siang. Di siang hari, manusia dengan penuh semangat beraktivitas. Berbagai macam profesi tergelar. Menyongsong rezeki dengan sekian banyak pekerjaan. Mereka juga merancang aneka ragam rencana jauh ke masa depan. Ke generasi anak-cucu yang tersimpan dan dikandung erat-erat oleh waktu. Dari manakah asal-usul kecerdasan proses-proses tersebut kalau tidak memancar dari Akal Pertama?

Di luar berbagai macam kecerdasan yang bersifat mekanis dan natural tersebut, ada dua poin kecerdasan yang lebih bernilai dan lebih bermartabat yang memang sangat ditekankan oleh panutan agung seluruh umat manusia, Nabi Muhammad Saw. Pertama, kecerdasan moral yang akan mengantarkan siapa pun yang dianugerahinya pada kedudukan terpuji dan penuh dengan kearifan. Dengan mengenakan dan menggunakan kecerdasan moral itu, siapa saja akan menjadi paham dan bijak dalam bertindak, mengambil keputusan dan memosisikan diri di tengah berlangsungnya kebersamaan dengan orang lain. Dalam konteks dunia teater hal itu dikenal dengan istilah sadar posisi.

Bahkan Nabi Muhammad Saw. diutus kepada seluruh alam raya semata untuk menyempurnakan akhlak sebagaimana yang pernah disabdakannya sendiri. Kedamaian hidup secara mondial bisa dibangun dan tegak dengan fondasi moralitas yang terpuji. Sebaliknya, kebusukan dan kehancuran sosial pastilah merupakan akibat dari akhlak yang bobrok dan nista. Yaitu, ketika kebanyakan anggota masyarakat terjangkit dan digerogoti oleh berbagai macam penyakit hati seperti dengus kebencian, hoax, kobaran sikap rakus, pemahaman agama yang dangkal dan tidak memadai tapi sekaligus merasa paling benar, iri hati dan dengki yang akut, dan lain sebagainya.

Moralitas yang terpuji itu tidak lain merupakan output dari poin yang kedua, yakni kecerdasan spiritual. Inilah kecerdasan yang akan mengantarkan siapa saja yang merasakan dan menjalaninya pada adanya suatu kesanggupan untuk menyaksikan beraneka ragam dimensi Ilahi yang terpampang pada segala sesuatu. Sedemikian indah dan memukau sehingga orang-orang yang makrifat menjadi begitu terpana dan terpesona terhadap hadiratNya melebihi ketertarikan mereka kepada siapa atau apa pun yang lain. Dari manakah asal-usul kecerdasan spiritual itu kalau tidak memancar dari Akal Pertama? Nabi Muhammad Saw. sendiri menyandang predikat sebagai a’qal an-nas, paling cerdas dari seluruh manusia.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.