Akhir Tragis Harun Yahya (2)

in Esai by

TV A9

TV A9 adalah stasiun televisi yang dikelola oleh tim dan jamaah Adnan yang diresmikan pada tahun 2011. Kanal ini lebih banyak berisi program ke-Adnan Oktar-an, segala tetek bengek tentangnya disiarkan lewat A9. Menu yang paling menarik ditonton adalah program sohbet, semacam pengajian di mana Adnan bertindak menjadi hoca dan jamaahnya secara rapi—dengan citraan tempat dan penampilan yang luks—duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan sang hoca. Sekali-dua kali ada pertanyaan, juga tari-tarian yang biasanya diperagakan oleh wanita-wanita seksi yang dikenal dengan sebutan kedicik (kitten), semacam wanita-wanita khusus dengan model rambut, bibir, payudara, dan bokong yang sudah distandarkan. Jika kita jeli menonton aksi dan gaya kedicik, baik ketika sohbet ataupun di program-program lain, keselarasan bentuk dan gaya tubuh mereka akan segera terasa. Unggahan-unggahan media sosial para kedicik seperti dikelola oleh admin dengan mempromosikan segala sesuatu tentang Adnan, misalnya saripati-saripati acara sohbet.

Sebelum A9 tayang, masyarakat Turki tidak akrab dengan sosok dan fisik Adnan Oktar. Yang terekam dalam memori rakyat secara umum Andan adalah hoca, aktivis islamis yang banyak bekerja sama dengan agen-agen islamis dalam internal negara Turki. Sehingga masuk akal jika rakyat Turki terhenyak dan marah ketika menyaksikan program sohbet di kanal A9 mempertontonkan suatu panorama di luar imajinasi bersama tentang sebuah sohbet yang biasa dipimpin seorang hoca. Pengertian hoca tak selamanya berarti guru agama atau sejenis kiai, tetapi panggilan ini tetap disematkan sebagai kehormatan dalam tradisi masyarakat Turki. Untuk panggilan yang berasosiasi dengan tokoh yang lebih mulia dan tinggi memakai istilah hocaefendi.

Masyarakat Turki sangat simpel memaknai agama dan segala asosiasi terhadapnya. Seorang guru agama (atau imam yang menggunakan/memanfaatkan agama untuk mengajak dan berdakwah) akan sangat aib ketika melakukan hal-hal tercela, baik menurut etika agama maupun etika sosial. Pemahaman terhadap ketaatan/kesalehan (pious) dalam beragama masyarakat Turki secara umum sangat strict dan rigid. Sekian banyak muda-mudi Turki tidak rajin shalat atau berpuasa Ramadan karena mereka menyadari masih sering melakukan dosa (maksiat). Dalam situasi begitu, mereka memilih tidak beribadah. Satu sisi, ketaatan beribadah seperti sebuah pertaubatan bagi mereka. Sehingga sangat naif bagi orang yang satu sisi ibadahnya rajin tetapi di sisi lain maksiat dan kejahatannya terus jalan. Bagi orang Turki, manusia jenis terakhir ini disebut sapık (sesat dan culas). Adnan Oktar, sosok yang selalu menampilkan simbol agama dalam setiap ucapannya, adalah sapık sejati yang ditolak secara lantang oleh masyarakat Turki secara umum.

Hadirnya TV A9 seperti sebuah blunder bagi Adnan karena setelah itu musuhnya adalah rakyat luas, termasuk masyarakat awam sekalipun. Mereka yang sebelumnya hanya membaca karya, komentar, dan ulasan-ulasanya, apalagi dengan sebutan hoca, sangat terperangah ketika melihat ulah Adnan yang membawa nama agama tetapi dalam praktiknya mempermalukan agama. Setiap kali muncul di layar TV, ada sekitar 10 atau lebih perempuan-perempuan seksi yang mendampingi Adnan dengan sekali-duakali berdansa di hadapan jamaah. Cara-cara seperti itu mendapatkan cercaan sebagai tindakan pembusukan terhadap agama Islam. Masyarakat Turki tidak bisa menerima sohbet seorang hoca dengan bokong-bokong seksi dan payudara setengah terbuka di tengah-tengah mereka. Penampakan seperti itu sontak menampar masyarakat Turki secara umum, baik kelompok konservatif ataupun dari Islam modernis.

Hal lain yang sangat menuai kecaman adalah ketika Adnan mengasosiasikan dirinya sebagai Imam Mahdi. Ia seperti mengutarakan hal-hal masal (fiktif dan imajiner) tentang Imam Mahdi yang menurutnya muncul dari Istanbul. Di samping itu, Adnan berkali-kali mengklaim dirinya sebagai sayyid, keturunan Rasulullah. Banyak orang terkejut melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya, seperti menampakkan sosok yang lain (ataukah sosok asli?) secara gamblang ke depan publik. Bahkan mantan Menteri Dalam Negeri Turki Saadettin Tantan menganggap Adnan berbahaya seperti Abdullah Öcalan, pendiri kelompok separatis PKK.

Artikel Emre Çetin berjudul Religious Broadcasting and the ‘Fantastic’ Tele-Universe of Adnan Oktar’s A9 TV menarik untuk dirujuk sekali lagi. Artikel ini coba mengungkap sisi selebritas dan fantasi TV A9 yang telah dikelola oleh tim Adnan Oktar dengan memasukkan unsur-unsur agama. Cara-cara yang ditunjukkan Adnan Oktar dan jamaahnya menjustifikasi adanya aspek-aspek cult (kelompok pemujaan). Ciri-ciri karakter cult yang dipinjam Çetin dari Demetrah adalah (1) submission to charismatic leadership, (2) communal and/or familiaristic detachment, (3) fusion of private selves with collective identities, (4) control through socialised ideology and morality, dan (5) affirmation through shared ultimate experiences. Ciri-ciri demikian mengantarkan Çetin pada kesimpulan bahwa Adnan Oktar dan para jamaahnya adalah cult. Istilah cult yang bersanding dengan televangelist sebenarnya sudah menjadi identitas populer bagi Adnan Oktar (Çetin, 2016: 118). Sebutan dirinya sebagai Islamic celebrity (Riexinger, 2008: 103) semakin mempertegas aspek-aspek fantasi dan selebriti di balik “jamaah pemujaan” di mana sosok Adnan menjadi satu-satunya sumber pengetahuan.

TV A9 adalah tipikal, sepenuhnya identik dengan Adnan Oktar dengan platform baru sebagai hasil konstruksi dirinya: kombinasi antara selebritas, kedicik, gaya hidup, kemewahan, dan agama. Posisi kedicik ibarat serangkaian dekorasi untuk mempercantik studio, sementara peserta yang lain menjadi pendengar setia tanpa ada interaksi berarti, alih-alih berdiskusi. Situasi sepertı itu membedakan dengan beberapa jamaah di Turki seperti Nurcu (jamaah Said Nursi) di mana ruang berdiskusi dan mencurahkan pendapat masih bisa ditoleransi. Kanal TV A9 membedakan dengan program-program TV lain yang juga menyiarkan pesan dan nuansa religius seperti kanal TRT Diyanet yang dikelola oleh pemerintah, sebagai official understanding tentang Islam yang otoritas di Turki, yaitu Islam suni bermazhab Hanafi; TGRT (sudah tidak operasi karena alasan finansial), Kanal 7 dan Samanyolu TV (dua-duanya ditutup  karena berafiliasi dengan Fetullah Gülen); atau kanal khusus yang lebih serius seperti Mehtap TV, Dost TV, Hilal TV, dan Semerkand TV di mana mereka hadir sebagai corong dari masing-masing latar belakang organisasi Islam berbeda (Çetin, 2016: 117-118).

Sejak kemunculan TV A9, pola dan karakter talk-show agama melalui gaya ceramah ataupun sohbet menjadi berbeda. Gaya Adnan Oktar bisa dibilang tidak berceramah dengan bahasan berat dan konstan. Program sohbet-nya diselingi dengan tari, mengobrol, dan memberikan waktu sepatah-duapatah kata untuk tamu-tamu baru dan asing, atau sekali dua kali (meski sangat jarang) ada dialog pendek dengan jamaahnya. Selebihnya, citraan luks, modern, dan bahkan unsur-unsur penampilan wanita seksi mencerminkan sebuah show “Islam” yang hibrida. Munculnya branding dengan gaya luks, extravagansa, selebriti, dan hybrid bisa disebabkan karena kanal A9 milik pribadi dan dikontrol langsung oleh Adnan. Sehingga Adnan Oktar bisa melakukan apa saja terhadap perusahaan yang dipimpinnya: menjadi role model dan sekaligus “raja” yang harus dilayani semua keinginan dan kebutuhannya. Sohbet Adnan Hoca berbeda dengan sohbet dari hocalar lain seperti Nihat Hatipoğlu, Mustafa Karataş, Fatih Çıtak, atau dalam konteks internasional berbeda dengan program televisi asuhan Amr Khaled, Zakir Naik, dan Mamah Dedeh.

Pemahaman dan “ajaran Islam” yang disampaikan Adnan juga berbeda. Ia mengampanyekan dan mengontruksi moralitas Türk-İslam Birliği, sebuah pandangan ideologis komunitarian dengan basis kebangsaan yaitu Turki. Moral Islam ideal yang diinginkan Adnan adalah Islam yang berafiliasi atau, simpelnya, dalam kerangka standar moral Turki-Islam (Çetin, 2016: 123), atau bahkan “dikuasai/dimpimpin” oleh suku Turki. Adnan Oktar punya alasan khusus dengan selalu menyebut Türk-İslam Birliği yang “dikuasai/dimpimpin” oleh Turki karena ia berkali-kali mengasosiasikan dirinya sebagai Imam Mahdi. Pengakuan Adnan Oktar samar-samar sebagai Imam Mahdi sudah menjadi rahasia umum di Turki.

Kontroversi

Semua kontrovesi tentang Adnan Oktar sudah banyak terbeber ke media. Ceylan Özgül, orang dalam dan mantan kedicik-nya setelah lebih dari 10 tahun, sudah berbicara banyak di media dan televisi Turki, termasuk juga persaksian orang tua yang anak gadisnya berhasil bebas dari cengkeraman jamaah Adnan. Kontroversi lain yang cukup sering dilakukan Adnan dan jamaahnya adalah melaporkan orang lain yang melakukan protes dan komplain (şikayet) yang mengarah kepada penghinaan kepada kelompoknya.

Selain itu, tuduhan bahwa dirinya mengembangkan organisasi berbahaya bagi Turki, “memenjarakan” wanita-wanita piaraannya dengan melarang tidak keluar (kabur), kekerasan seksual pada wanita dan anak-anak, kepemilikan senjata api, dan sebagainya adalah ranah hukum dan kita serahkan kepada investigasi pihak kepolisian dan nanti akan terbuka ketika di pengadilan. Jika dalam konteks ini masih ada karaguan adanya potensi rekayasa polisi sebagai satu-satunya lembaga yang menangani kasusnya, saya ingin menunjukkan beberapa kontroversi yang, bagi saya sebagai pembaca buku, sangat esensial dan membuka satu tabir cara kerja Adnan Oktar itu sendiri.

  1. Grandmaster of Freemasonry

Bagi banyak orang, langkah Adnan Oktar yang mengaku menjadi anggota Freemasonry sekitar tahun 2013 dan bahkan mengklaim dirinya terpilih menjadi Grandmaster of Freemasonry ke-33 mungkin sangat mengejutkan. Tapi bagi saya, semua itu adalah bagian dari irisian kehidupan Oktar’s world yang dihadirkan ke tengah kehidupan kita. Seberapa pun kadar keterkejutan kita atas langkah tersebut, Adnan tetaplah sosok yang harus diwaspadai, maksud saya, harus dikritik dengan kesadaran dan intelektualitas, seperti juga tokoh-tokoh lain yang jejak kehidupan sosialnya tidak terlacak sebagaimana orang biasa. Seberapa pun hebat dan kuat sosok Erdoğan, ia tetap menjadi pribadi yang bisa dijumpai, disapa, didebat, dan dikritik. Apalagi seorang Adnan yang memang sudah jauh secara kehidupan sosial, politik, dan kebudayaan kita. Cara “pandang kesadaran kritik” begini, saya kira, harus tetap dipasang secara mendasar untuk melihat seorang tokoh (ulama, ilmuwan dan sebagainya)—bukan mencurigai (suudzon) tetapi untuk menempatkan kewarasan dan kesadaran kita sebagai mahluk yang dianugerahi akal dan pikiran oleh Allah.

Dalam pengakuannya, Adnan masuk menjadi Freemason karena diundang/ditawari oleh salah satu pembesarnya. Adnan diminta untuk mengubah keyakinan dari Islam ke Kristen, tetapi ia menolak kalau harus pindah agama. Lalu ada komentar dari Adnan bahwa Freemasonry mengutamakan kebersamaan/persatuan, bukan mempermasalahkan keimanan. Sehingga meskipun muslim ia tetap bisa diterima anggota, bahkan menjadi grandmaster. Menariknya, keikutsertaan Adnan dalam Freemasonry adalah untuk memanfaatkan kesempatan untuk menyebarkan dakwah Islam ke loji-loji Freemasonry. Mungkin dengan cara begitu, Adnan dengan mudah akan bisa “menyembuhkan” gembong Freemasonry yang menurutnya diisi oleh orang-orang (lobi) Yahudi. Ataukah semua itu hanya bagian dari “kesakitan” seorang Adnan?

Lalu apa kabar nasib buku pertama yang ditulisnya tentang Freemasonry dan Judaisme? Apa tujuan Adnan menelanjangi seluk beluk Freemasonry yang konon telah mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat Turki? Yang jelas, Adnan telah mengingkari apa yang sangat dipercayainya, sesuatu yang dijadikan musuh sejak awal memulai gerakannya. Dengan Yahudi pun Adnan semakin akrab. Ia juga menyebut bahwa Freemasonry berada di bawah perintah Islam dan menyangkal kaitannya dengan Zionisme.

Bahwa Freemasonry di Turki sangat aktif, tentu saja bisa diterima. Tapi semua orang tidak bisa menyaksikan dan mengerti aktivitas mereka, selain Adnan Oktar tentunya. Adnan sudah sejak tahun 80-an menelaah dan menulis sepak terjang organisasi yang satu ini, dari struktur, simbol, rekrutmen, sistem operasi, dan sebagainya. Apalagi sekarang, yang sejak 2013 sudah mengumumkan dirinya menjadi anggota Freemasonry (?), sudah pasti canggih pengetahuan tentang rahasia-rahasia terdalam hal ihwal Zionsime dan Freemasonry. Apalagi dirinya sudah mendapatkan gelar kehormatan sebagai grandmaster (büyük üstat).

Saya tidak mempunyai pengetahuan dan pengalaman selain hanya berpapasan dengan salah satu kantornya di Turki. Suatu waktu liburan musim panas tahun 2014, saya liburan ke Istanbul dan sengaja ingin menikmati kota tua itu sampai tuntas (meski itu tidak akan mungkin). Saya pergi ke distrik Beyoğlu di dekat Taksim. Turun dari area Taksim, saya melewati undakan landai dan curam bukit-bukit kecil yang sudah disulap menjadi hunian yang sejak abad 19 sudah eksis dan mentereng. Di salah satu lorong yang saya lewati, ada sebuah gedung apartemen di lantai satu dengan plakat di dindingnya tertulis: Freemasonry. Saya terkesima karena itu baru pertama saya melihat kantor Freemasonry secara langsung. Pintunya tertutup. Saya melihatnya dari jarak sekitar tujuh meter. Berhenti sejenak melihat suasana. Saya terpikir untuk masuk dan pura-pura tidak mengerti apa pun, padahal di pintu sudah jelas tertulis “yang tidak berkepentingan dilarang masuk”. Sayangnya, saya tidak masuk ke rumah itu, meski sekadar bersitatap dengan orang di dalamnya atau sekadar mencium “aroma Freemasonry” sebelum kemudian diminta keluar lagi. “Ketidakberanian” saya masuk ke kantor di jalan Nur-u Ziya Sokak No. 9, Beyoglu itu adalah salah satu penyesalan kecil saya studi di Turki.

Jika ada yang bertanya apakah saya memercayai keanggotaan Adnan Oktar di Freemasonry? Saya 100% tidak percaya seperti saya tidak percaya bahwa buku-buku atas nama Harun Yahya itu ditulis sendiri oleh Adnan Oktar. Beginilah sikap dan cara terbaik saya untuk menempatkan pikiran saya secara proporsional.

2. Soykırım Yalanı

Saya ingin menambahkan satu kontroversi penting, yaitu terbitnya buku Soykırım Yalanı (The Holocaust Hoax/Kebohongan Holocaust) pada tahun 1996. Buku ini sebenarnya kelanjutan perjuangan dan menggambarkan sikap konsiten Adnan sebagai anti-Yahudi, dari karya-karya sebelumnya. Dalam buku ini Adnan mengatakan bahwa kematian orang-orang jutaan Yahudi yang disebut Holocaust itu sebenarnya karena wabah typhus dan tragedi kelaparan menjelang selama perang, bukan karena faktor genosida yang dilakukan Nazi seperti yang dipercaya oleh banyak sejawaran. Pesan Adnan dalam buku ini sebenarnya jelas sekali untuk menegaskan bahwa Holocaust adalah konspirasi Yahudi terhadap dunia agar mereka mendapatkan simpati.

Dalam konteks ini saya tidak ada masalah (bukan mengamini praktik genosida dan pembunuhan terhadap manusia), karena pendirian dan spirit juang pergerakan Adnan, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, sudah jelas sebagai anti-Yahudi dan Freemasonry. Artinya, apa yang dilakukan Adnan dengan buku ini sudah tepat sebagai bentuk mempertegas arah perjuangannya atau mungkin untuk “memperkeruh dan mencari kontroversi” atas nama dirinya. Karena buku sebelumnya berjudul Yahudilik ve Masonluk memang sudah sangat jeli menelanjangi Freemasonry dan konspirasi Yahudi, meskipun sumber referensi dan rujukannya bisa dipertanyakan dan menuai kontroversial.

Tetapi anehnya, ketika sekitar satu tahun buku itu menyebar termasuk di internet, Adnan Oktar malah menolaknya dengan mengatakan bahwa buku itu bukan dia yang menulisnya, melainkan sahabat karibnya bernama Nuri Özbudak. Penolakan Adnan ini muncul setelah kontroversi dan tuduhan kepada dirinya bagitu keras baik dari internal Turki maupun dari dunia internasional. Dari kejadian ini, reputasi Adnan sebagai penulis yang berintegrirtas semakin santer dipertanyakan. Meski sebagian ada yang menerima cara Adnan karena ada semangat “membela Islam”, orang-orang Turki semakin mantap untuk mengatakan bahwa karya-karya Adnan adalah pabrikan.

Bagi saya, Adnan dan timnya sepertinya kurang hati-hati menelaah Holocaust yang secara umum telah diterima sebagai kejahatan kelam masa lalu Jerman. Karena berhadapan dengan fakta sejarah yang tidak mempunyai landasan dan pelarian “kepada kitab suci” (agama Abrahamik) untuk mencari legitimasi pembenaran seperti dalam konteks “kreasionisme melawan teori evolusi”, Adnan akhirnya benar-benar bersikukuh bahwa dirinya tidak pernah menulisnya. Sayangnya, buku ini sudah menyebar dengan penulis atas nama “Harun Yahya” dan juga dibahas dalam beragam karya ilmiah yang terbit di jurnal, dibahas juga di media-media lokal seperti Siyah-Beyaz (Black and White), atau bahkan Guardian, Der Spiegel, dan sebagainya. Untuk meredam situasi yang liar di atas, Adnan Oktar kemudian menerbitkan buku Soykırım Vahseti (The Violence of the Holocaust) untuk “menghapus” kontroversi yang sangat menyudutkan dirinya.

Sampai di sini saya dipaksa untuk percaya bahwa kinerja Harun Yahya bisa diibaratkan seperti sebuah pabrik dengan satu merek/label produk yang di dalamnya bisa dikerjakan oleh banyak tangan. Nama dirinya tetap tertera dalam buku-buku yang diterbitkannya, tidak peduli isu apa pun yang diangkat. Tetapi, tim yang sudah terbentuk dan orang-orang dekat di dalamnya, seperti juga diakui Adnan di depan Saçan, adalah penulis buku-buku agama yang diatasnamakan dirinya. Bahkan saya berpikir lebih dari itu, buku-buku di atas tahun 2000 adalah produksi pabrik yang dikerjakan tim secara masif.

Penutup

Sebenanrya masih banyak kontroversi lain yang menyelimuti sosok yang satu ini, termasuk misalnya tentang bagaimana relasinya dengan penguasa. Yang tak banyak diketahui dan sudah saya bahas di atas adalah tentang manipulasi donor tahun 1999. Kasus ini sangat mencoreng namanya di depan rakyat Turki. Selain itu, “permainan” di balik buku Soykırım Yalanı sudah membuka pintu siapa dan bagaimana Adnan Oktar. Bahkan kedekatannya dengan rabi Yahudi ortodoks yang sempat datang ke rumah Adnan juga semakin membuka tabir satu per satu di balik semua ini. Sehingga tuduhan orang Turki bahwa di belakang Adnan ada Yahudi yang menyokong dana dan sebagainya tidak bisa ditutupi. Apalagi, setelah tahun 2011 melalui program TV A9, Adnan semakin menampakkan sosoknya yang berbeda yang memberikan ruang bagi orang Turki untuk menolaknya. Kealiman dan kesalehan pada dirinya yang “mengakui hoca” atau dipanggi hoca sama sekali tidak bisa ditemuka di masa tuanya begini.

Adnan sangat berbeda dengan tokoh-tokoh Islam lainnya di Turki. Saya belum pernah mendengar ia membangun atau mempunyai lembaga wakaf yang menyantuni dan membantu anak-anak yatim, orang miskin, atau kemanusaan secara umum. Adnan, jika masih dipercaya sebagai ulama dan sejenisnya, sangat jauh dari dunia dan akhlak Turki-Islam di mana yayasan bantuan sosial begitu melekat dengan gerakan mereka. Adnan lebih suka membangun kerajaan untuk diri dan kelompoknnya, mengisolasi, hidup dalam kemewahan, sebuah cermin kusut—jika harus disebut—“tokoh agama”. Tapi saya perlu menegaskan dalam tulisan ini, sependek yang saya pelajari tentangnya, saya tidak mengakui Adnan Oktar sebagai tokoh agama. Ia hanya seorang aktivis Islam yang kapan saja bisa berubah, termasuk menjadi Adnan hari ini.

Akhirnya, pagi hari tanggal 11 Juli 2018, istana Adnan di Istanbul digerebek oleh pasukan polisi dan menangkap lebih dari 150 jamaahnya, termasuk para kedicik. Nasib Adnan Oktar, Harun Yahya yang terkenal dan membuat kagum banyak orang itu, akhirnya harus tragis dan sangat mungkin menjadi pesakitan. Melihat kondisi seperti itu, apa yang dikatakan sang ibu Mediha Hanım pada tahun 1988 bahwa “Adnan masih sakit” kembali terngiang di telinga saya. Laporan dari Rumah Sakit Angkatan Udara di Eskişehir tahun 1993 bahwa dirinya mengidap paranoid skizofrenia semakin memperjelas perubahan esktrem pada dirinya, sosok yang perlente di masa tuanya itu.

Namun begitu, sebagai tokoh yang mempunyai pengaruh yang telah memproduksi pengikut dan sekaligus penolaknya, Adnan juga perlu ditempatkan secara adil. Apa yang dilakukannya tidak semuanya dilandaskan kepada kejujuran (atawa kebenaran?), tidak semuanya pula dibangun di atas kebohongan. Sehingga saya tidak terkejut ketika pada tangga 13 Juli 2018 ada sekelompok demonstran di depan İstanbul Emniyet Müdürlüğü Mali Suçlarla Mücadele Şubesi dengan menunjukkan dukungan kepada Adnan Oktar. Gizem Daşer, salah satu peserta demo dan mengaku sudah kenal dengan Adnan selama enam tahun, melontarkan kalimat berikut:

Bu zamana kadar ortaya atılan taciz iddiaları tamamen iftiradır. Bütün erkek ve kız kardeşlerimize kardeşi gibi bakar, kardeşi gibi herşeyden sakınır. Bunlar hep Ingiliz derin devletinin oyunu ve inşallah bu oyun bozulacak (Tuduhan tentang adanya pemerkosaan adalah fitnah belaka sampai hari ini. Semua lelaki dan perempuan memperlakukan satu sama lain seperti saudara. Semua ini permainan jaringan negara Inggris.”

Ingiliz derin devletinin oyunu” (permaianan jaringan negara Inggris alias parallel state Inggris) adalah bahasa yang sama yang dilontarkan Adnan Oktar pagi itu, saat tangannya diborgol dan tubuhnya digelandang oleh puluhan polisi. Parallel state dari Inggris siapa? Saya paham bahwa paralel devlet atau derin devlet memang sangat ganas bermanuver di Turki. Tapi bukankah Turki hari ini berada di bawah kendali utuh presiden Erdoğan yang sangat kuat, yang sudah pernah menggagalkan aksi derin devlet-nya Ergenekon, Balyoz, dan FETO? Siapa yang benar dan siapa pula yang salah dalam kasus ini? Yang pasti, antara kebenaran dan rekayasa sangat sumir di balik tokoh yang satu ini.

Saat ini, sosok Adnan Oktar seperti teori konspirasi itu sendiri, teori yang sejak awal kuliah diyakini, diperjuangkan dan dihidupinya.…

Turki-Indonesia, 2013-2018

 

 

 

Daftar Bacaan

Çakır, Ruşen. 1996. Ayet ve Slogan: Türkiye’de İslami Oluşumlar. İstanbul: Metin Yayınları

Hameed, Salman. 2014. ‘Making Sense of Islamic Creationism in Europe’, dalam Public Understanding of Science. Sage Publication, 6 November 2014. Hal: 1-12.

Çetin, Kumru Berfin Emre. 2016. ‘Religious Broadcasting and the ‘Fantastic’ Tele-Universe of Adnan Oktar’s A9 TV’, dalam Journal of Cultural Studies, Faculty of Communication, Hacettepe University. 2016, 3(1), halaman: 116-132.

Riexinger, Martin. 2008. ‘Propagating Islamic creationism on the Internet’, dalam Masaryk University Journal of Law and Technology, 2(2) 2008. Hal: 99–112.

http://standforpeace.org.uk/wp-content/uploads/2013/01/Adnan-Oktar-and-the-Islamist-Sex-Cult.pdf

http://www.tgrthaber.com.tr/politika/32990.html

https://tr.sputniknews.com/turkiye/201807131034276861-adnan-oktar-destek-eylemi/

https://www.bbc.com/turkce/haberler-turkiye-44778012

http://www.talkorigins.org/faqs/organizations/harunyahya.html

http://web.archive.org/web/20051027200329/http://www.jamiat.org.za/whatsnew/hyahya.html

https://harunyahya.com/en/Articles/15163/adnan-oktars-meeting-with-sanhedrin

http://www.cumhuriyet.com.tr/haber/turkiye/1023650/Adnan_Oktar_a_ilk_operasyonu_yapan_polis_sefi__Hakli_oldugumuz_19_yil_sonra_ortaya_cikti.html

Bernando J. Sujibto

Bernando J. Sujibto

Alumni pascasarjana Sosiologi Selcuk University, Turki. Selain mengajar juga tekun meneliti isu-isu sosial politik Turki dan menerjemahkan karya sastra Turki.
Bernando J. Sujibto

Latest posts by Bernando J. Sujibto (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.