Aku, Buku, dan Oleh-oleh dari Talk Show Fiksi dan Lokalitas KBJ #4

in Hibernasi by

“Dunia buku adalah dunia penyembuh luka kesunyian.” Demikian kata Muhidin M. Dahlan dalam bukunya, Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta.

Setidak-tidaknya, barangkali hal demikianlah yang dapat dikatakan cukup mewakili kondisi saya paruh kedua tahun 2014. Maklum, bak bola karet, perjalanan saya memantul sembarang setelah kegagalan beruntun: gagal SNMPTN, gagal SBMPTN, gagal Seleksi Mandiri, yang artinya gagal berkuliah di perguruan tinggi negeri (PTN), ditambah lagi gagal dalam urusan cinta. Yang terakhir, tak penting-penting amat.

Sampailah waktunya, nasib mempertemukan saya dengan tanah Yogyakarta: Kota Pendidikan, kota yang konon, “Setiap sudutnya kian romantis”, pula “kota terbaik untuk melupakan kenangan bersama mantan.” Nah, masuk, Pak Eko!

Berkuliahlah saya kemudian di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UGM (Universitas Gambar Matahari). Lamat-lamat, di pertengahan masa kuliah, oleh salah seorang dosen cum sastrawan-penyair (beliau adalah guru saya, Abdul Wachid B.S.), saya digiring untuk mulai mencintai buku-buku, mencintai dunia sastra, mencintai dunia tulis-menulis, sampai akhirnya tergabung di salah satu kelompok belajar sastra yang berbasis di Kotagede: Jejak Imaji. Tanpa saya sadari, ternyata kecintaan terhadap buku, plus kedekatan dengan orang-orang yang berkarib dengan “jendela dunia” tersebutlah, yang kemudian mengobati luka terbabang lantaran kegagalan di hari-hari lalu.

Di Jejak Imaji-lah kemudian proses–meminjam istilahya Mbah Abdul Hadi WM–kembali ke akar, kembali ke sumber dimulai. Saya “dipaksa” mempelajari diri, mempelajari tanah kelahiran (Lombok), bahkan mempelajari mantan. Tentu, itu semua untuk bahan penulisan karya. Saat itu, bagi saya yang baru mengenal proses berkomunitas (diskusi), metode mereka rasanya memang sedikit “radikal”, sampai kadang-kadang pisuhan telah sedemikian menggunung di dada ini.

***

Terhitung sejak tahun 2016, saya berkenalan dengan event Kampung Buku Jogja (KBJ) yang–dengar-dengar, atau sepengetahuan saya waktu itu–digagas oleh Mas Arif Abdulrakhim dan Mas Adhe (penulis buku keren berjudul Declare!). Rutinnya, KBJ diselenggarakan di kawasan Lembah UGM. Selaku mahasiswa sastra, yang juga bergerak di komunitas, tentu ada rasa berdosa yang menjalar-mengakar di sukma, andai sama sekali tak melirik atau berkunjung sesekali kala.

Buku tidak terpisahkan dengan sastra, sebab aktivitas sastra meniscayakan “peneluran” kreativitas lewat membaca, dan membaca teks–sebagai selain konteks–yang paling lazim sekaligus “nggantengi”, hari ini ialah lewat buku. Dan jujur saja, saya pun–andai tidak dapat disebut kepengin banget–berminat menjadi bagian dari orang-orang ganteng tersebut.

Di tahun 2018, untuk ketiga kalinya, Tuhan rupanya masih memperkenankan saya bersua dengan KBJ di edisinya yang ke-4. Kebetulan, saya masih menetap di Yogyakarta kendati telah merampungkan studi S-1. Di KBJ kali ini, paling tidak ada tiga hal yang kian menarik minat dan perhatian saya: pertama, penulis-penulis asal Madura, alias para Tamu Literasi Kehormatan; kedua, Talk Show Fiksi dan Lokalitas-nya (Rabu, 12 September 2018); dan ketiga, kepindahan lokasi dari Kawasan Lembah ke gedung PKKH UGM. Apa alasannya?

Pertama, soal penulis-penulis Madura, para Tamu Literasi Kehormatan, tidak lengkap rasanya andai melulu menikmati karya-karya mereka lewat buku. Sesekali saya ingin menatap wajah (terutama yang muda, lebih diutamakan lagi wanita), atau mendengarkan pembacaan karya secara langsung agar tak melulu selama ini, yang tergambar dalam benak saya soal penulis Madura cumalah wajah-wajah macam Farisi Al (si tukang di Penerbit Cantrik), Moh. Ali Tsabit (konon, Kepala Suku Komunitas Kutub), Sengat Ibrahim (manusia yang Bertuhan pada Bahasa), Ahmad Sudiyono (penyair aliran Bi’ibih), atau Nurrohman Alif (si pemberi wasiat buat emak). Seperti apakah mereka yang lain? Saya ngidam melihat wajah-wajah lain dari sastrawan-sastrawan yang–seperti kata Raedu Basha dalam esainya–lahir dan dibesarkan dari “ladang subur” bernama Madura, yang di sepanjang lekuk tubuhnya tidak pernah sepi dari agenda sastra, entah itu pada Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Haflatul Imtihan, Haul, maupun lain sebagainya. Namun, sungguh seribu sayang, Tuhan rupanya berkehendak lain: sehari tersebut, saya mesti terbujur menahan demam.

Kedua, dan ini yang mungkin rada panjang: soal Talk Show Fiksi dan Lokalitas di KBJ #4. Saya berinisiatif membawa sebanyak mungkin oleh-oleh sepulang darinya. Ini sebenarnya dalam rangka menambah sudut pandang tatkala mempelajari diri, mempelajari gejala-gejala di tanah kelahiran, bahkan kalau bisa ya mempelajari perasaan mantan juga, yang kemudian nantinya dapat diolah menjadi karya.

Dimoderatori oleh Latief S. Nugraha, talk show ini serasa makin menguarkan aura lokalitas, sebab sang moderator sendiri–sebagaimana penuturan Iman Budhi Santosa dalam Kalakanji–ialah sastrawan asli Yogyakarta yang dalam karya-karyanya kental mengangkat etnografi setempat, khususnya Samigaluh. Sebagai pembicara pertama, Yoseph Yapi Taum dari kalangan akademisi sastra, memaparkan kepada para audiensi perihal pandangannya mengenai eksistensi sastra lisan serentang Orde Baru memerintah, kemudian ke Polemik Sastra Kontekstual yang dipantik oleh Ariel Heryanto dan Arief Budiman pada dekade 80-an, sampai kemudian masuk ke pembahasan soal karya sastra bercirikan etnografis atau lokalitas. Ia menyebutkan beberapa nama sastrawan, semisal Ahmad Tohari, Gerson Poyk, Linus Suryadi AG, Oka Rusmini, Ajip Rosidi, D. Zawawi Imron, Gus tf Sakai, dan lainnya sebagai nama-nama yang berhasil mengangkat lokalitas masing-masing dalam kepengarangannya. Disorotinya juga perihal lokalitas tanah Papua yang justru banyak dieksplorasi oleh nama-nama luar semacam Dorothea Rosa Herliany, Anindita S. Thayf, ataupun Fince Bataona. Yang ia sayangkan, justru penelitian-penelitian yang dilakukan oleh dunia kampus terhadap karya sastra yang mengangkat etnografis hanya mandek di lemari-lemari arsip atau perpustakaan, lalu berdebu lantaran tak tersentuh sama sekali. Di akhir pembicaraan, ia tegaskan bahwa lokalitas dalam kesastraan Indonesia bukanlah isu baru, melainkan ia hanya muncul kembali setelah periode ketenggelamannya selama beberapa waktu. Benar juga.

Sesi kedua ialah porsi berbicara untuk Cak Mahfud Ikhwan, bapak dari Dawuk, novel yang tahun lalu berhasil menyabet anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa. Ia membuka bagiannya dengan nostalgia pada sandiwara radio, yang memperkenalkannya pada suara derap kuda, denting pedang, kecipak orang makan, dan bahasa baru di usianya yang baru menginjak lima atau enam tahun. Satu kata: romantis. Hal-hal demikianlah yang membersamai dan memengaruhinya kian dalam, hingga dijadikan sebagai kerangka berpikir sekaligus “cara melihat dunia” bagi tokoh ciptaannya, tatkala melahirkan novel pertama di tahun 2009, Ulid. Di samping memang, ia menyaksikan secara langsung proses migrasi yang terjadi pada kampungnya di Lamongan. Demikianlah lokalitas yang Cak Mahfud emban sampai hari ini. Dalam karya, ia menghadirkan manusia-manusia beserta kehidupan sosialnya di hari lampau, dakunya. Yang menarik, ia juga secara terang mengakui karya-karya yang lahir berikutnya, tidak kurang diilhami bacaan-bacaan porno macam karangan Fredy S. Novel silat Bastian Tito pun dapat dikatakan menginspirasi perwatakan tokoh Mat Dawuk dalam Dawuk-nya. Selain itu, pengetahuan-pengetahuan sejarahnya tentang daerah Tuban dan sekitarnya, posisi diri yang berada di antara kultur NU dan Muhammadiyah, tak luput diolah oleh Cak Mahfud menjadi karya-karya yang kian diperhitungkan hari ini. Keren, memang.

Latief sendiri berkomentar: dalam karya-karyanya, ia (Mahfud Ikhwan) tidak hanya menampilkan eksotisme atau kenangan-kenangan indah soal hari lalu, melainkan menawarkan optimisme juga untuk hari ini. Saya merasa, tuntutan kepekaan dan optimisme itulah yang menjadi oleh-oleh berharga setelah menghadiri Talk Show Fiksi dan Lokalitas KBJ #4 ini.

Nah, alasan terakhir, ialah rasa penasaran soal perbedaan suasana KBJ #4 dengan KBJ-KBJ sebelumya lantaran perpindahan lokasi ke PKKH UGM. Yang saya temukan, berdasarkan segi artistik atau penataan tempat (fisik), di mata memang kurang ngena, deh. Saya bertanya-tanya dalam hati, “Kok ya jenenge ‘kampung’, tapi nyala lampu di segala penjuru, keramik mengkilat mewah sepanjang kaki melangkah, dan tak tampak pepohonan rindang dinaungi langit?” Tetapi, ya sudahlah, tak perlu dilanjut memasukkannya ke dalam hati, sebab yang tetap dan tidak hilang dari KBJ bagi saya ialah keberadaannya sebagai–sebagaimana kalimat romantis dari Mas Adhe dan Mas Arif Abdulrakhim dalam buku Kampung Buku Jogja: Hari Raya Pencinta Buku (2015–2017), saya kutipkan agak panjang–“kegiatan perbukuan yang melampaui kesan ‘transaksi buku’ seperti yang terasa dalam pameran-pameran buku yang sudah ada. … bukan hanya ruang dan tempat pertemuan buku dan pembelinya. … bukan sekadar ajang menjual dan membeli buku lalu selesai begitu saja. Dalam kegiatan ini, para penyuka buku akan bertemu dengan teman-temannya yang sama-sama menyukai buku. Ini adalah ruang dan waktu ‘bertemunya buku dan dirimu’. …. Acara ini juga bertujuan menjadi tempat kembali bagi insan perbukuan dari jenuhnya perantauan. Mereka rindu menemukan identitas dirinya kembali. Di ajang inilah insan perbukuan yang berada di ranah mayor, minor (indie), reguler, alternatif, online, komunitas, dan lain-lain akan bersama-sama berkumpul melepas kerinduan.” Demikianlah.

***

Sambil lalu menulis catatan tak penting dan tanpa juntrungan ini, mungkin malaikat, mungkin juga setan yang terkutuk, serasa bersuara sayup-sayup di telinga saya, begini kurang-lebih: “Tahun depan, nek kawan-kawanmu di kampung banyak frustrasi lantaran gagal tes masuk PTN, mbok daripada nikah dini lalu cerai bulan berikutnya, mending ya ajak ke Jogja. Bukan cuma banyak perguruan tinggi yang nampung “ampas” calon mahasiswa, tapi banyak buku-buku kesepian yang mencari pembacanya, ada KBJ yang bakal mengubah perspektifnya soal transaksi buku yang tak melulu begitu alias mainstream, dan yang lebih penting, siapa tahu ada Talk Show Fiksi dan Lokalitas lagi, yang ndilalah, pengarang yang  diundang itu menceritakan proses kreatifnya menulis karya di lingkungan yang masyarakatnya rutin nikah-cerai.” Nah, kan bisa mateng deh, lu!

IR Rabbani

IR Rabbani

Aktif menulis di kelompok belajar sastra Jejak Imaji, juga sebagai ketua Forum Apresiasi Sastra (FAS) UAD dan “mahasantri” Ngaji Filsafat di Masjid Jendral Sudirman (MJS) Yogyakarta.
IR Rabbani