Al ‘Ilm & Adh Dhan

in Esai by
choices
ethos3.com

Dalam disiplin ilmu Ushul Fiqh, di awal-awal, biasanya dibahas tentang istilah al ‘ilm dan adh dhannu. Al ‘ilm umumnya didefinisikan sebagai: mengetahui sesuatu sesuai dengan fakta atau kenyataannya. Sedangkan definisi dari adh dhan adalah: dimungkinkan terjadinya dua hal atau variabel, akan tetapi salah satunya lebih mungkin serta lebih berpeluang untuk terjadi atau “keluar sebagai pemenang”. Al ‘ilm, jika dipersentase, jumlahnya genap 100%. Sedangkan adh dhan, persentasenya ada di rentang 51%-99%. Jika kadar persentasenya 50% pas, istilahnya adalah asy syak (keragu-raguan) dan jika persentasenya hanya di bawah 50%, maka namanya adalah al jahl (ketidaktahuan). Al ‘ilm bersifat pasti dan final (qath’iy). Sedangkan adh dhan belum bisa dipastikan atau dikonfirmasikan kebenarannya karena masih bersifat dhanniy atau sebatas dugaan kuat.

Contoh gampang dari al ‘ilm seperti: mengetahui bahwa api itu panas, es itu dingin, Tugu Monas ada di Jakarta, Tugu Pahlawan ada di Surabaya, shalat lima waktu itu wajib, dan seterusnya. Hal-hal dalam contoh tersebut, kesemuanya adalah termasuk al ‘ilm karena bersifat pasti dan final [baca: bisa dikonfirmasikan kebenaran serta hasil akhirnya serta tak terjadi khilaf atau perbedaan pendapat].

Sedangkan contoh dari adh dhan seperti, ketika misalnya saja ada pertandingan bola secara live antara Barcelona VS PS TNI. Di atas kertas, siapa pun orangnya, karena beberapa faktor dan pertimbangan kelas, dia tentu akan lebih “memegang” Barca sebagai pemenang dan keluar sebagai juara, bahkan dengan (prediksi) skor yang telak. Akan tetapi, sekuat apa pun analisa serta pertimbangan yang diajukan orang-orang yang memprediksi bahwa Barca akan menang, tetap saja itu namanya adalah adh dhan, dan bukan al ‘ilm yang 100% pasti benar serta faktual. Sebab, bisa saja nantinya terjadi mukjizat/keajaiban di lapangan [baca: bola itu bundar]. Sehingga, bukanlah satu hal yang mustahil bila ternyata yang keluar sebagai pemenang dalam pertandingan tersebut pada akhirnya adalah PS TNI, meskipun peluang tersebut sangat kecil sekali.

Hal semacam itu termasuk kategori adh dhan karena, sekuat apa pun argumen serta analisa yang diajukan untuk menahbiskan Barca sebagai pemenang, tetap saja itu masih berupa prediksi yang belum pasti dan belum bisa dikonfirmasikan kebenarannya. Baru kalau misalnya pertandingan beda kelas tersebut sudah usai, dan kemudian Barca benar-benar menang, itu yang namanya al ‘ilm.

Nah, sampai di sini, saya ingin bilang bahwa sebagian besar hukum yang “ditelurkan” dan dihasilkan oleh produk (hukum) fiqh diperoleh lewat jalur yang juga bernama adh dhan, bukan al ‘ilm. Artinya, hukum-hukum yang dihasilkan oleh fiqh tersebut adalah hasil ijtihad yang sifatnya (bisa dibilang) masih subjektif sesuai dengan dalil-dalil, teori-teori, serta analisis yang dipunyai oleh masing-masing mujtahid.

Dari sini pula, muncul komentar yang terkenal serta dinisbatkan kepada salah satu imam madzhab; asy Syafi’i Ra. Beliau mengatakan: “Pendapatku benar, namun masih ada kemungkinan atau peluang untuk salah. Pendapat orang lain [baca: mujtahid lain] salah (menurutku), namun (tetap saja) masih ada kemungkinan atau peluang untuk benar.” Dalam pernyataan ini, asy Syafi’i Ra. menyiratkan sikap optimisme serta percaya diri bahwa pendapat-pendapat yang beliau pilih adalah sebuah kebenaran. Sebab, dalil-dalil serta argumen yang beliau “pegang” dan “kantongi” sudah lebih dari cukup untuk dipakai sebagai landasan dalam memilih pendapat tersebut. Meskipun begitu, karena pendapat-pendapat tersebut diperoleh dari jalur yang bernama adh dhan, ya maka kemudian beliau segera menggarisbawahi serta menyatakan bahwa meski peluangnya kecil dan sedikit, masih saja akan ada peluang dan kemungkinan bahwa pendapat yang beliau pilih tersebut adalah suatu hal yang salah. Di sisi lain, beliau juga menyatakan bahwa pendapat orang lain, meski di mata beliau adalah pendapat yang salah, namun karena sama-sama dihasilkan dari adh dhan, beliau juga tak menafikan serta menutup rapat-rapat terhadap kemungkinan bahwa pendapat tersebut bisa jadi adalah benar.

Singkat kata, hikmah atau pelajaran yang bisa kita petik dari permasalahan (al ‘ilm dan adh dhan) ini adalah kita diajarkan untuk bersikap toleran, tidak mengklaim atau merasa paling benar sendiri apalagi menghakimi mereka yang berbeda pandangan dengan kita, serta agar kita bisa hidup damai berdampingan dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita. Sebab, masing-masing kubu yang berbeda pendapat tersebut sebenarnya sama-sama melandasi dan mendasari pendapat mereka dengan dalil atau petunjuk yang sifatnya “sebatas” adh dhan, dan tidak sampai pada al ‘ilm [baca: belum qath’iy atau pasti benar].

Nah, berdasarkan berita yang telah banyak beredar, menurut LAPAN, awal puasa Ramadhan pada tahun ini (1437 H) berpotensi berbeda. Ada yang mulai puasa duluan pada hari Senin, 6 Juni 2016, dan kemungkinan akan ada yang baru berpuasa pada hari Selasa, esoknya, 7 Juni 2016. Bagi yang memilih untuk mulai berpuasa pada hari Senin, tentu mereka punya dalil, teori, serta argumen yang mengantarkan mereka untuk menetapkan bahwa awal Ramadhan 1437 H memang jatuh pada hari Senin. Bagi yang mulai berpuasa pada hari Selasa pun tentu juga seperti itu; dalil-dalil yang mereka gunakan dan “kantongi” tentunya telah menunjukkan serta “menga(n)ta(r)kan” bahwa 1 Ramadhan 1437 (versi mereka) memang jatuh pada hari Selasa.

Dalam permasalahan seperti itu, meskipun kedua kubu terlihat berbeda, sebenarnya keduanya memiliki kesamaan. Yaitu sama-sama memperoleh hasil keputusan yang diambil tersebut lewat jalur adh dhan yang tarafnya “cuma sebatas” dugaan kuat (menurut masing-masing kubu) dan tidak sampai pada taraf al ‘ilm yang pasti benar 100%. Karena sama-sama diperoleh dari hasil adh dhan, ya maka tak perlu ada klaim kebenaran dari masing-masing pihak yang berbeda pendapat tersebut, apalagi sampai menghujat kubu lain yang berseberangan.

Meskipun begitu, adalah mustahil ketika seseorang (misalnya) dalam satu waktu dan satu kesempatan, ia bisa bergerak sekaligus diam. Sebab, “bergerak” serta “diam” ini adalah dua hal yang saling bertolak belakang. Jika dilakukan salah satu, tentu satunya lagi akan “lepas”. Tidak mungkin keduanya dilakukan sekaligus secara bersamaan dalam satu waktu. Jika tak sedang bergerak, berarti seseorang sedang diam. Dan jika tak sedang diam, berarti ia sedang bergerak.

Awal Ramadhan adalah satu hal. Ketika dalam satu lokasi tertentu ia dikatakan jatuh pada dua hari yang berbeda, tentu ini—sorry to say—agak janggal! Artinya, pada hakikatnya, secara faktual, pasti yang benar itu hanya salah satunya saja dan dengan demikian yang lain secara otomatis menjadi salah. Bagi yang mulai berpuasa pada hari Senin, mereka bisa benar dan juga bisa salah! Demikian pula dengan yang memutuskan bahwa 1 Ramadhan 1437 H jatuh pada hari Selasa, pilihan mereka tersebut juga bisa benar ataupun salah. Jika kebenaran sudah “dipegang” oleh salah satu—entah yang memutuskan awal Ramadhan 1437 H jatuh pada hari Senin atau Selasa—, maka secara otomatis yang satunya lagi bisa dipastikan telah salah. Tidak mungkin dan tak logis sama sekali jika keduanya dikatakan sama-sama benar dalam arti yang sesungguhnya. Pasti salah satu dari dua pendapat ini ada yang benar dan satunya lagi salah.

Namun masalahnya, yang punya otoritas untuk menentukan secara adil, mana yang benar dan salah dari kedua pendapat terkait dengan penetapan awal Ramadhan ini hanyalah Dia yang Maha Haq. Kapan waktu keputusannya serta waktu untuk “mengonfirmasikannya”? Ya nanti di akhirat setelah kiamat.

Maka, sambil lalu menunggu “live show” perbedaan pendapat semacam ini tamat untuk mengetahui hasil akhirnya serta “mengonfirmasi” mana pendapat yang lebih benar (di akhirat nanti), kita harus tetap menjaga solidaritas serta kerukunan. Dan jangan khawatir jika “prediksi” atau pendapat yang kita pilih atau ikuti ini ternyata nantinya salah total. Sebab, seperti yang telah dijanjikan, dalam ranah ijtihad, pendapat yang benar akan memperoleh dua “reward” dan yang salah pun tetap akan memperoleh satu “reward”, bukan? Allah knows best!

Ahmad Kholid Izzul Abror

Ahmad Kholid Izzul Abror

Santri kanan, karena suka makan dengan tangan kanan. Santri kiri, karena suka cebok dengan tangan kiri.
Ahmad Kholid Izzul Abror

Latest posts by Ahmad Kholid Izzul Abror (see all)

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co