Alasan Penting Mengapa Anita Suka Memakai Baju Lusuh

in Cerita Pendek by

 ilustrasi cerpen

Anita suka memakai baju lusuh. Meski ayah angkatnya tak menyukai hal itu.

“Seperti orang nggak punya baju saja,” tegur Subhan, ayah angkat Anita. “Ayah kan sudah membelikanmu banyak baju layak pakai. Kenapa malah pakai baju bekas begitu?”

Lelaki itu tak tahu. Sama sekali tak tahu. Apalagi merasakan. Saat Anita memakai baju lusuh, ia tak akan canggung dan ringan saja melangkah menemui seorang perempuan yang saat itu tengah kritis dalam perawatan khusus sebuah puskesmas yang telah ditunjuk oleh pemerintah daerah setempat. AIDS telah merenggut sisa hidup perempuan itu.

Pertanyaan yang sering Anita jadikan oleh-oleh saat menjenguk perempuan itu adalah, “Sebenarnya siapa ayah kandungku, Bu?” Oleh-oleh itu tak pernah habis. Sebab, ingatan perempuan yang dipanggilnya ibu itu selalu susah mengingat dengan baik tentang masa lalunya yang baru beberapa bulan ia tinggalkan.

“Jangan menanyakan itu terus,” jawab ibunya. Tak mau mengerti bahwa jika umurnya berakhir, pertanyaan itu akan menjadi teror tersendiri bagi Anita. “Bukankah kau sekarang sudah punya ayah? Dan dia orang baik-baik yang selalu perhatian denganmu? Terimalah saja itu. Berbaktilah kepadanya. Lupakan Ibu. Semuanya akan baik-baik saja.” Dulu, tak pernah ibunya ini berbicara dengan nada selembut ini. Seolah Anita bukanlah bayi yang pernah dilahirkannya.

Tapi bagaimana bisa Anita melupakan lelaki itu, tentang siapa ayah kandungnya? Semua orang di kompleks perumahan itu sudah tahu siapa Anita. Ia hanya anak angkat yang menerima belas kasih dari pasangan suami istri mandul. Dari omong-omong yang pernah tak sengaja ia dengar, ia dijadikan pemancing anak. Sudah sepuluh tahun Subhan menikah. Namun belum juga dikaruniai keturunan.  Subhan kemudian menuruti omongan orang; mengambil anak angkat sebagai pemancing agar istrinya bisa hamil. Sesuatu yang tak bisa Anita pahami. Bagaimana anak kandung bisa dipancing dengan anak angkat? Tapi ia sangat menghargai kebaikan hati Subhan dan istrinya.

Segala kebutuhan Anita dicukupi dengan baik. Bahkan terkesan dimanjakan. Ia juga disuruh melanjutkan sekolahnya yang dulu terhenti hanya sampai kelas dua SD. Subhan dan istrinya tahu persis siapa Anita, sebab rumah kontrakan ibu kandung Anita hanya berjarak beberapa blok dari rumah mereka. Orang-orang di kompleks perumahan itu  sudah tahu siapa ibu kandung Anita dan bagaimana kemudian dia bisa terkena AIDS. Ada yang membenci dan menjauhi. Ada pula yang seperti Subhan dan istrinya. Anita bisa mengerti semua itu.

***

Di suatu malam sunyi, di dalam kamarnya, Anita bercakap-cakap dengan pakaian lusuh yang tadi siang ia pakai untuk menjenguk ibu kandungnya. Percakapan dengan mata. Rembulan menjadi saksi di bibir jendela.

“Maukah kau menceritakan kisahmu hingga menjadi lusuh begitu?” Mata Anita menatap iba baju lusuh yang tergantung di salah satu sisi tembok kamarnya.

Sama seperti yang lainnya, dulunya aku juga sepotong baju baru. Aku  terlempar ke sana-kemari mengikuti nasib, berganti-ganti dari satu tubuh ke tubuh yang lain. Ada yang menjualku karena terdesak kebutuhan, ada yang menghibahkanku karena sudah bosan, ada pula yang terpaksa berpisah denganku karena memang sudah waktunya kami berpisah. Hingga jadilah aku seperti ini.

Anita jadi teringat dengan ibu kandungnya. Mungkin dulu ibunya juga seperti itu.

“Bagaimana pendapatmu tentang orang-orang yang merendahkanmu? Ayah angkatku bahkan tak suka saat aku memakaimu.”

Apa yang bisa aku lakukan, hem? Aku hanyalah sepotong baju yang cuma bisa pasrah mengikut nasib. Kalaupun kemudian ada yang merendahkan karena melihat kondisiku yang sudah seperti ini, itu karena mereka tak pernah merasai apa yang pernah aku alami.

Tapi kau tentu mengerti, kan? Alasan orang-orang akan selalu berbeda-beda dalam memandang segala hal. Ayah angkatmu ingin melihat kau terlihat cantik. Baju lusuh bukanlah kawan akrab kecantikan. Meskipun aku tak sependapat dengan hal itu. Seolah kecantikan hanyalah sesuatu yang tampak oleh mata semata.

Anita mendadak rindu dengan ibu kandungnya. Mungkin ini sebabnya ia bisa memaafkan dan tak membenci masa lalu ibunya. Karena ia bisa merasai apa yang pernah dialami perempuan itu.

“Apa kau membenci mereka?” tanya Anita kemudian.

Membenci orang-orang yang tak mengerti hanya akan menambah beban hati. Apa gunanya? Apa itu lantas bisa mengubah keadaan?

 Anita jadi mengerti mengapa ibu kandungnya tak pernah menggubris omongan orang-orang.

Keesokan paginya Anita coba mencuci baju lusuh itu dengan segala macam detergen agar hilang lusuhnya. Bahkan dengan pemutih pakaian. Agar terlihat seperti baru lagi. Berulang-ulang. Sampai ibu angkatnya menegur.

“Kan masih ada baju-baju lain yang lebih layak pakai, Ta. Baju lusuh itu lebih baik kau berikan saja kepada orang lain yang butuh. Kalau tidak ada yang mau, buang sajalah.” Seperti orang tak berperasaan. Padahal niat Anita berulang-ulang mencuci baju lusuh itu adalah agar bisa mengubah pandangan orang. Hal ini membuat rasa iba Anita terhadap ibu kandungnya semakin bertambah-tambah.

Sayangnya, kabar buruk itu datang mendahului. Belum sempat Anita melaksanakan apa-apa niat baik yang hendak ia lakukan untuk ibu kandungnya, maut memupuskan semua. Anita mulai bisa melihat bahwa ibu kandungnya tak ubahnya seperti baju lusuh itu. Serat-serat kainnya sudah rantas akibat umur dan perlakuan nasib. Anita ingin merawat ibu kandungnya seperti halnya ia merawat baju lusuh yang kadang ia kenakan. Perempuan itu pergi sebelum sempat terlihat bersih di mata orang-orang.

***

Beberapa tahun setelah kematian ibu kandungnya, Anita masih tetap suka memakai baju lusuh. Perlakuannya terhadap baju lusuh tetap tak berubah. Setiap kali melihat orang tua angkatnya memberikan baju bekas kepada orang lain, Anita bahkan mewanti-wanti orang itu agar berbaik-baik memperlakukan baju tersebut. Anita bahkan tak segan memungut baju lusuh yang ia temukan di tempat sampah untuk kemudian ia cuci, dan lalu ia simpan dan rawat dengan baik.

“Menjaga penampilan itu baik, Ta. Penampilan juga akan memengaruhi penilaian orang terhadapmu. Terutama para teman lelakimu,” begitu nasihat ibu angkat Anita dengan rasa sayangnya. Perlakuan mereka terhadap Anita tetap tak berubah meski kini berhasil memiliki anak kandung sendiri.

Setiap kali Anita mengenakan baju yang sudah lusuh, ayah dan ibu angkatnyalah yang pertama kali menegur. Hanya saja Anita selalu bisa meyakinkan, bahwa ia merasa nyaman dengan apa yang dikenakannya. Justru dengan memakai pakaian lusuh, Anita jadi mengerti kejujuran orang-orang terhadapnya.

Misalnya saja si Hendra. Pemuda itu pernah menyatakan suka terhadap Anita. Namun setelah orang tua Hendra melihat penampilan Anita yang seperti itu….

“Apa orang tuamu tak pernah membelikanmu baju baru?”

“Kenapa kamu menanyakan itu?” Anita tak mengerti.

“Orang tuaku menegur penampilanmu di hadapanku,” jawab Hendra. Tiga hari sebelumnya dia memang memperkenalkan Anita kepada keluarga besarnya. Keluarga besarnya rata-rata pengusaha sukses.

“Bukankah yang menjalani hubungan ini adalah kita, bukan mereka? Lagi pula yang aku kenakan masih layak pakai.”

“Maksud keluargaku baik, Nit. Mereka ingin melihat penampilanmu berubah menjadi lebih baik.”

“Ya beginilah aku, Hen.”

Dan sejak pertengkaran kecil itu, Hendra perlahan menjauh dari gadis itu. Membuat rasa heran Anita semakin menjadi. Mengapa dulu dia mengatakan suka jika sudah melihat penampilannya yang seperti ini? Aneh.

“Apa kamu tidak tahu? Ibu kandungnya kan perempuan nakal yang mati karena AIDS. Jadi wajarlah kalau dia selalu merasa rendah diri dengan berpenampilan begitu,” ujar salah seorang ibu tetangga kompleks perumahan yang pernah tak sengaja Anita dengar.

“Model seperti itu paling pas ya dijadikan alas kaki saja. Cuma orang yang seleranya payah saja yang bisa jatuh cinta dengannya,” seloroh salah seorang teman kuliah Anita. Ke kampus pun Anita jarang memakai pakaian yang terlihat baru. Ia juga jarang memakai pakaian yang terlalu licin dan rapi jali. Ia lebih suka memakai baju bekas, bahkan yang ada bolongnya sekalipun.

Di kampus, Anita menjadi sosok yang diremehkan. Tak banyak teman. Hanya ada beberapa—dari keluarga kurang mampu—yang dengan senang hati berteman dengan Anita. Tapi mereka tetap tak paham alasan mengapa Anita memiliki kelakuan aneh seperti itu.

Jawaban Anita sering hanya begini, “Cobalah sesekali waktu kalian memerhatikan pakaian-pakaian lusuh yang kalian temukan. Pandangi dengan saksama. Pahami perasaannya. Aku yakin suatu saat nanti kalian akan mengerti.” Jawaban aneh yang kerap dianggap gila oleh beberapa teman sekampusnya.

Tak ada yang benar-benar mengerti. Dan memang tak ada yang tahu. Bahkan Pak Subhan dan istrinya pun tak pernah tahu. Sering, di saat malam-malam hening, Anita berbicara sendiri dengan baju-baju lusuh yang masih disimpan dan dirawatnya dengan baik.

Seperti malam itu. Ia tengah bercakap dengan sebuah baju lusuh yang telah bertahun-tahun ia simpan dan ia rawat. Percakapan dengan mata. Sebuah baju kecil yang pernah menjadi pakaian kesukaannya sewaktu masih umur delapan. Malam itu baju kecil itu kembali menggigil. Mimpi buruk yang selama bertahun-tahun rapat terkunci kembali bergentayangan.

Mimpi buruk itu serasa kembali nyata. Sosok-sosok lelaki entah yang kerap mendatangi ibu kandungnya. Ia bisa mendengar suara berisiknya meski mereka sembunyi ke dalam kamar. Suara-suara aneh yang kadang mengundang rasa penasaran namun kadang menegakkan bulu roma.

Suatu ketika ibu kandungnya pergi keluar dengan seorang lelaki entah. Namun seorang lelaki entah lainnya datang mencari. Karena tak mendapatkan apa yang dicari, lelaki terakhir ini marah besar. Tak ayal, ia pun mencari pelampiasan. Baju kecil itulah korbannya. Berkali-kali. Bertahun-tahun. Sampai ibu kandungnya terkena AIDS dan lelaki entah ini pun tak pernah kembali lagi ke rumah kontrakan itu.

Hanya Anita seorang yang mengerti betapa penderitaan baju kecil itu. Dan setiap kali baju kecil itu menggigil di tengah sunyinya malam, Anita akan lekas-lekas mendekapnya. Erat sekali. Seperti tengah mendekap dirinya sendiri.

Itulah alasan mengapa Anita suka merawat dan senang memakai baju lusuh. Ia hanya berusaha menghargai dirinya sendiri.

Kalinyamatan–Jepara, November 2013-2014.

 

 

Sumber gambar: sanjaperic.com

 

Adi Zamzam

Adi Zamzam

lahir di Jepara, Januari 1982. Karya-karyanya telah tersebar di berbagai media massa dan beberapa antologi bersama. Saat ini, bersama kawan-kawan sedang aktif mengawal berdirinya sekolah kepenulisan Akademi Menulis Jepara.
Adi Zamzam
  • kadarwati TA

    mencoba menghargai diri sendiri…

  • Mentari

    jadi keinget teman kampus, mungkin alasannya sama demikian dengan Anita.