Anak Panggung

in Cerita Pendek by

Imin lebih senang melihat Ocha ketika menyanyikan lagu-lagu pop Indonesia ketimbang melihat gadis itu bergoyang. Suara Ocha bagus, bening, tinggi melengking, tetapi pertunjukan orgen tunggal lebih membutuhkan liukan pinggul dan aksi panggung.

Lagu-lagu Indonesia terbaru dan suara bagus dibutuhkan di awal pertunjukan, ketika pengunjung baru berkumpul, rumah yang punya hajat sedang ramai, para undangan sedang makan. Semakin malam, sebagian penonton pulang, para pemuda mulai merapat ke bibir panggung, minuman mulai beredar. Itulah saat bagi para biduan untuk melenggok-lenggok di atas pentas.

Imin sering tak tega melihat para penyanyi yang berganti peran jadi penari. Bergoyang tengah malam melayani para pemuda yang bergiliran naik panggung. Seperti malam ini, Ocha yang agak sedikit pilek sibuk berdandan di kursi yang disediakan di belakang panggung. Tak ada ruang ganti sama sekali. Para penyanyi sudah menyiapkan diri dari rumah sejak sore. Ketika naik panggung mereka tinggal memperbaiki dandanan saja.

Imin sudah memberi tahu Ocha agar tak usah pentas malam ini, tapi gadis itu bersikeras bahwa dia tidak apa-apa. Keras kepala memang, dan Imin tak ingin bertengkar sekarang. Dua minggu ini mereka pentas nyaris tiada henti. Mulai dari Batang Kapas hingga Balai Selasa, dan Ocha tak seperti empat artis lainnya yang bergiliran naik panggung.

Ocha sudah ikut Duta Perdana, orgen tunggal milik Bang Leman dua tahun belakangan. Ia cepat dikenal karena berbagai alasan. Cantik, pintar menggoda penonton, suaranya bagus, dan yang penting pintar bergoyang. Dalam kurun waktu itu ia bisa menggantikan posisi Citra Aditya yang menjadi ikon Duta Perdana sejak berdiri lima tahun lalu.

Jika saja boleh mengingatkan, Imin mau nasib buruk Citra jangan sampai menimpa Ocha.

***

Aku mohon sayangilah

Diriku di dalam hidupmu

Dan kamu jangan kasar-kasar lagi

Dengarlah pujaaan hati

 

Dari belakang panggung Imin ingin menangis mendengar suara merdu Ocha ketika menyanyikan lagu Kangen Band yang berjudul “Kita Jangan Bertengkar Lagi” itu. Ocha cepat menghafal lagu-lagu baru dan tahu mana lagu yang sedang akrab dengan penontonnya. Imin menyukai lagu itu, seperti sebuah permintaan yang ingin dia katakan pada sang penyanyi.

“Tak perlu menemani orang-orang itu minum,” sembur Imin suatu pagi, ketika mereka baru selesai melakukan pertunjukan. Sudah sering Imin menasehati, memberikan masukan ini-itu, tapi Ocha tetap saja gadis yang keras kepala.

“Tapi ini bagian dari strategi agar orgen kita tetap laku, Bang.”

“Bahkan kalau mereka ingin mengajakmu tidur?”

Ocha marah. Menangis sejak dari tempat pertunjukan hingga sampai di rumah dan membuat Imin mesti kena semprot Bang Leman.

Ocha benar. Tapi jika melayani pengonton hingga di luar pertunjukan bagaimana Imin bisa memaafkan? Ia sering pergi dengan salah satu pemuda yang dia kenal di panggung ketika tidak ada jadwal pentas. Yang membuat Imin sering marah adalah, Ocha ngotot minta pulang diantar seseorang. Ini tidak hanya sekali. Imin merasa tak punya teman dalam hal ini. Bang Leman dan istrinya seakan tak peduli akan hal itu. Baginya ada job, mesin diesel tidak rusak, orgen aman, itu sudah cukup. Tapi bagi Imin, menjaga para biduan adalah juga tanggung jawabnya.

“Ocha tuh bukan pacar Bang Imin, jadi ndak usah ngatur-ngatur….” Kata-kata itu terus diingat Imin sampai sekarang. Selama ini Ocha tak pernah melawannya dengan kata-kata pedas. Tapi kemarin malam, ketika mereka pentas di Taratak terjadi perkelahian antarpemuda. Orgen dibubarkan, Ocha menangis minta pulang. Entah bagaimana, seorang pemuda sudah bersiap di belakang panggung dengan kendaraannya. Ocha pergi dengannya. Dia bahkan baru sampai di rumah ketika siang.

Imin marah besar dan Ocha membalasnya dengan kata-kata itu. “Kalaupun Ocha tidur dengan orang, apa urusannya dengan Abang?” tambahnya. Dan inilah sebenarnya yang dicemaskan Imin.

Malamnya ketika pentas mereka tidak saling menyapa. Ocha seperti mendemonstrasikan di depan Imin bahwa betapa ia tak ingin diatur. Ia berjoget dan terus berjoget dengan aktraktif. Tapi ia tetap pulang dengan rombongan.

Aku mohon mengertilah

Kita jangan bertengkar lagi

Hadapi semua dengan dingin hati

Dengarlah pujaan hati

Di sela-sela nyanyian, Ocha menyapa para penonton dengan akrab, mengucapkan selamat berbahagia kepada kedua mempelai. Malam ini ia memakai tank top berwarna ungu yang tak mampu menutup perut bagian bawahnya. Ia memakai rok pendek kotak-kotak. Di mata Imin, Ocha sempurna sebagai seorang biduan.

Penonton mulai berjubel di depan panggung, terutama anak kecil dan ibu-ibu. Ketika musik menghentak, anak-anak kecil biasanya akan langsung berbaris di atas panggung sibuk bergoyang dan menjadi hiburan bagi para ibu dan orang kampung. Mereka bertepuk senang melihat anaknya yang berani tampil di atas panggung. Sesi itu merupakan jatah para undangan tuan rumah atau para penonton yang berpartisipasi akan mendapat ruangnya di atas panggung. Marsel, si MC, dengan cekatan memanggil nama-nama tertentu yang dibacakan dari selembar kertas yang dititipkan ke atas panggung. Beberapa nama tertentu akan memakai embel-embel “permintaan tuan rumah”, agar lebih cepat dapat kesempatan naik panggung. Jika tak hati-hati para pemuda juga bisa ngamuk. Acara itu berlangsung hingga menjelang jam sembilan sampai jam sepuluhan malam. Tuan rumah dan anggota orgen, dan ini salah satu tugas Imin, mengusir anak-anak dengan halus dan meminta para ibu mengambil anak mereka dan membiarkan panggung kosong. Jika tak hati-hati perang mulut akan terjadi. Dan ini pula masanya para penyanyi akan kembali tampil bersama-sama, membawakan satu dua lagu nonstop dan lebih banyak dibutuhkan goyangan.

Lampu mulai dimainkan dengan konstan mengikuti irama musik dan goyangan. Sinar laser menghambur ke arah penonton. Dan untuk keseluruhan ini lagi-lagi menjadi tanggung jawab Imin.

***

Bang Leman memercayakan orgen tunggal selama di lapangan kepada Imin. Ia sudah menjadi anak panggung sejak pertama kali ide membeli KN 800 itu muncul di kepala Bang Leman. Hanya Imin satu-satunya anak panggung yang terus bertahan. Dia paham mulai dari urusan diesel, penataan sound, lampu, urusan kabel, dan bertanggung jawab atas keseluruhan belakang panggung.

Ia mengenal seluruh panggung sebelum para artis dan alat-alat mulai dipasang. Ia datang paling dahulu dan pulang paling terakhir. Krunya berganti-ganti karena tak ada kepastian masa depan menjadi anak panggung. Sesekali ia bisa pulang lebih awal jika kebetulan kru lain adalah teman-teman lama, yang pernah menjadi anak panggung, sedang libur melaut atau yang tidak sedang ke ladang mengurus gambir.

Seperti panggung, sebegitu pula ia mengenal para artis yang silih berganti ikut dengan Duta Perdana. Ia mengakrabi semua anak panggung, dari tukang angkut speaker, pemain keyboard, sampai penyanyi.

Dulu mereka punya Citra Larasati, biduan cantik yang cepat naik daun. Biduan populer akan mengangkat nama orgen tunggal mereka. Sebagai pemain baru, Duta Perdana cepat dikenal oleh masyarakat. Tapi nasib Citra tak sebagus suaranya. Imin sudah begitu hati-hati menjaga kawan-kawannya, hanya saja godaan Bang Zen, pemuda yang di setiap pertunjukan Duta Perdana selalu naik panggung membawakan lagu-lagu duet Rhoma Irama.

Semua orang tahu belaka perangai playboy kampung itu. Tukang minum dan penggoda perempuan. Apa daya, Citra tergoda, hamil dan kariernya selesai sudah. Tak sampai di situ, buat kru Duta Perdana tak hanya itu yang menjadi kesedihan mereka, Citra meninggal saat melahirkan.

Kehilangan Citra membuat Duta Perdana sempat kalang-kabut. Beruntung Ocha bergabung dan mampu menyelamatkan orgen tunggal ini dari kebangkrutan. Meski demikian, kemarahan Imin pada Bang Zen tetap menyala. Lelaki yang mengandalkan tampang itu tak bisa terus-terusan merenggut biduannya.

Belum setahun setelah kematian istrinya, Bang Zen kembali ke perangai semula. Setelah menikah kelakuannya memang tak berubah. Bagi Imin, kematian istrinya yang baru terjadi mestinya membuat Bang Zen agak lebih menjaga sikap.

Tapi Ocha sepertinya sulit dilarang. Orang-orang banyak yang bilang, Ocha biduan gampangan dan bisa diajak tidur. Itu yang membuat Imin merasa lebih perih.

***

Tingkah Ocha seakan membenarkan semua omongan orang. Imin sendiri beberapa kali pernah mengalaminya. Dua minggu lalu misalnya, setelah pentas jauh di Pasar Kambang, Ocha pulang dibonceng Imin. Sepanjang jalan, gadis itu memeluknya dengan rapat. Susunya yang besar padat lekat di punggung Imin. Sampai di rumah Bang Leman, listrik padam. Truk yang membawa alat belum datang. Ocha minta ditemani ke kamar.

“Gelap…, Ocha takut, Bang,” desis gadis itu di telinganya.

Dengan dada berdegup, Imin menemaninya sampai di pintu kamar. Di rumah ini disediakan dua kamar untuk para kru dan artis menginap. Ruangan itu tidak berhubungan langsung dengan rumah utama sehingga kondisinya memang agak bebas. Imin tahu belaka perilaku kawan-kawannya.

Saat itulah, bibir Ocha yang sesekali ikut menikmati rasa vodka yang memang menjadi hidangan untuk anak panggung tetapi bukan biduan, merangkak di bibir Imin. Ia bukan tak menginginkan, tetapi ada yang ia jaga dan tak seorang pun boleh mengetahuinya. Ia, sejak mula-mula, begitu mencintai Ocha. Cinta yang sangat rahasia bagi seorang anak panggung. Tak akan mungkin seorang biduan akan memilih teman sepanggung, sementara para pemuda dengan latar belakang macam-macam, di setiap kesempatan dan ketika bergojet di panggung, dengan mulut bau alkohol memuntahkan janji-janji palsu dan bertukar nomor kontak.

Imin tahu, bagi Ocha ia hanyalah seorang tukang panggul speaker yang merangkap semuanya. Tapi cinta itu pula yang membuat dia bertahan ikut Duta Perdana meski telinganya sudah panas melihat kelakuan para biduan dan sikap Bang Leman.

Dan pagi itu, Ocha yang dicintainya sepenuh hati, dalam keadaan sadar, menyerangnya dengan ciuman. Ia mendorong Ocha dengan dada berdegup.

Bukan itu yang Imin inginkan.

***

“Sepertinya mereka tidak ingin berhenti sampai pagi,” kata Imin ketika melihat Teti dan Irma sudah mengantuk.

Musik terus dimainkan. Para pemuda sedang terbakar, para biduan sudah kelelahan. Tak ada cara lain, Imin mengirim pesan pendek pada Yudi yang mengurus diesel.

Panggung masih bergoyang. Sebentar lagi subuh akan datang. Di bawah, di sebuah sudut Bang Zen berbisik-bisik pada temannya sambil menunjuk Ocha yang sepertinya gadis itu menikmati diperlakukan demikian.

Tak lama, Ocha dipanggil turun. Entah kenapa Imin merasa kali ini dadanya berpacu lebih kencang. Di bawah, Ocha terus bergoyang menemani Bang Zen yang mulai merapat nakal.

“Tak ada aturan macam begitu…,” desis Imin kian meradang.

Tiba-tiba lampu mati, musik serta merta berhenti. Terdengar makian para pemuda yang telanjur asyik bergoyang. Ia mendengar Ocha terkikik di belakang speaker.

Imin meraba obeng, ada yang mesti segera ia selesaikan….

Indrian Koto

Indrian Koto

lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan sumatera Barat. Menyukai sastra dan terus belajar mendalaminya. Mengurus toko buku kecil jualbukusastra.com serta penerbitan kecil MK Books dan Penerbt JBS. Buku puisi pertamanya yang sudah terbit: Pleidoi Malin Kundang (Gambang, 2017).
Indrian Koto

Latest posts by Indrian Koto (see all)