Anggur Cinta Maulana Rumi

in Esai by

“Cinta lebih tinggi dari sedih dan riang, ia tak kenal musim semi dan musim gugur, selamanya hijau dan segar.”

(Jalaluddin Rumi)

Suatu ketika, saat masih kecil, Rumi dibawa ayahnya, Bahauddin Walad, menemui Fariduddin Attar—sufi penyair yang bergelar Si Penebar Wangi. Saat itu, Attar sudah berusia 110 tahun. Sambil mengusap-usap kepala Rumi, Attar berkata kepada Bahauddin Walad, “Kelak putramu ini akan menebarkan wangi-wangian cinta, baik di Timur maupun di Barat.”

Rumi tumbuh besar menjadi sesosok pencinta di jalan keilahian. Sebagaimana Attar, Rumi juga mengembara dari kota ke kota, ke berbagai penjuru negeri, mengajarkan rahasia cinta Ilahi. Ketika banyak orang bertanya-tanya, siapa yang lebih hebat antara Attar dan Rumi, seorang sufi berkata, “Rumi membumbung ke puncak kesempurnaan bagai rajawali dengan sekejap mata; Attar mencapai tempat itu juga dengan merayap seperti semut.” Namun, Rumi sendiri justru mengatakan, “Attar ialah jiwa itu sendiri.”

Jiwa Rumi adalah cinta. Napas Rumi adalah cinta. Lebih dari 34.662 bait syair yang telah ditulis Rumi untuk mengabarkan rahasia cinta, untuk menjelaskan bahwa aspek terpenting dari ajaran agama adalah cinta. Itulah sebabnya, puisi-puisi yang ditulis Rumi ibarat taman-taman berbunga yang tidak saja indah dipandang, tapi juga mendamaikan hati siapa saja yang datang memetiknya.

***

Bagi Rumi, beragama berarti menyalakan api cinta ke segenap penjuru alam raya. Ketika mutiara-mutiara cinta ditebarkan, maka angin perdamaian akan senantiasa bertiup kencang melampaui segala perbedaan. “Cinta lebih tinggi dari sedih dan riang, ia tak kenal musim semi dan musim gugur, selamanya hijau dan segar,” tulis Rumi dalam Masnawi.

Di tengah kehidupan yang semakin gaduh, di mana perbedaan masih dibenturkan untuk mengukuhkan eksistensi kebenarannya masing-masing, kita benar-benar merindukan keberagamaan yang melampaui sekat-sekat perbedaan itu sendiri.

Dalam konteks inilah ajaran-ajaran cinta Rumi, sebagaimana terekam dalam Masnawi, sangat menarik diselami. Ketika orang-orang beragama begitu mudahnya diimpit oleh cara pandang yang sempit, Rumi hadir menawarkan hidangan berupa anggur cinta. Siapa saja yang menenggak anggur cinta Rumi, ia akan menari girang, terbang melampaui sedih dan riang. “Dalam kehijauan taman Cinta, yang tak pernah layu, banyak buah-buahan lebat selain riang dan sedih,” kata Rumi.

Hidangan cinta Rumi tidak hanya dirasakan di Balkh, Nisyapur, Konya, atau di tempat-tempat yang pernah disinggahinya selama hidup. Anggur cinta Rumi mengalir ke seluruh penjuru negeri, ke tempat-tempat yang senantiasa mengeja ajaran-ajaran cintanya hingga kini.

Rumi tidak hanya sekadar simbol cinta. Tapi Rumi adalah cinta itu sendiri. Bait-bait puisi yang digubahnya, yang memiliki energi bagi kehidupan dan kemanusiaan, menjadikannya sebagai sosok sufi-penyair terbesar sepanjang sejarah yang jasa-jasanya melebihi segala pujian.

Ajaran-ajaran cinta Rumi hingga kini dikaji di berbagai belahan penjuru dunia. Bait-bait cinta dan mutiara-mutiara kearifan yang tertuang dalam Masnawi, seperti sebuah lautan yang tidak berpantai. Lewat karya agung yang ditulisnya itu, Rumi seolah ingin mengabarkan sekaligus menebarkan mutiara-mutiara hidup yang kilaunya mengalahkan pesona dunia.

Lewat mahakarya itu pula Rumi seolah ingin mengajak siapa pun saja untuk berpesta pora keabadian: mereka yang dahaga akan cinta diajak bergabung, menari bersama, menenggak minuman cinta yang dituangkan Sang Maulana.

***

Ajaran-ajaran cinta Rumi akan selalu dikenang oleh mereka yang mengerti hakikat cinta. Rumi lahir di Balkh (kini Afghanistan), pada tanggal 6 Rabiul Awal H, bertepatan dengan 30 September 1207 M. Kemuliaan dan tanda-tanda kebesaran Rumi sudah terlihat sejak masih kecil.

Ketika Rumi mengembara untuk mengajarkan rahasia cinta, tak ada ketakutan sedikit pun yang membayang-bayanginya sebagaimana yang dialami kebanyakan orang saat itu. Sebab Rumi telah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk Sang Kekasih. “Baik raga maupun jiwaku,” kata Rumi, “semuanya adalah kehidupan Kekasihku.”

Saat itu, peperangan memang terjadi di mana-mana. Kekacauan melanda negeri-negeri Islam pada abad ke-13 M. Para pembesar, penguasa, atau orang-orang berpengaruh seolah tak memiliki kekuatan untuk menebarkan mutiara-mutiara kebajikan di tengah pertumpahan darah yang mengerikan.

Annemarie Schimmel dalam The Triumphal Sun: A Study of The Works of Jalaluddin Rumi (1980) menggambarkan bagaimana gelapnya kehidupan politik dan ekonomi saat itu. Tapi di tengah bencana itu, masih banyak di antara para pemuka tasawuf dan guru-guru kerohanian, termasuk Rumi, yang dengan tulus membimbing siapa saja yang merasa terasing dengan dirinya, dengan ajaran-ajaran agamanya. “Mereka menyampaikan rahasia cinta yang harus dicapai melalui penderitaan, dan mengajarkan bahwa kehendak Tuhan dan cinta-Nya dapat tersingkap melalui bencana dan kemalangan,” tulis Schimmel.

Sebagaimana yang pernah diramalkan Fariduddin Attar, hingga kini wangi-wangian cinta yang ditebarkan Rumi masih terasa, tidak saja di Timur, tapi juga di Barat. Rumi adalah pesona yang mengagumkan. Ajaran-ajarannya mengabadi di hati umat manusia, melintasi masa demi masa, menembus batas-batas negara, bahkan melampaui perbedaan suku, ras, dan agama. Jalan cinta yang dilaluinya adalah taman bunga yang sangat indah: siapa saja yang pernah memasukinya, ia akan menari di sana, hidup untuk selama-lamanya. “Bila umurku yang fana ini habis, aku sudah ditunggu umur yang tak akan pernah habis di alam keabadian,” kata Rumi.

***

Di tengah keringnya nilai-nilai keagamaan yang kita rasakan saat ini, membaca Rumi seperti memasuki cakrawala tak bertepi di mana cinta dan nilai-nilai kemanusiaan universal dihidangkan. Apalagi kini kita melihat agama sering kali ditampilkan dengan wajah yang menyeramkan. Karena itu, membaca Rumi seperti menemukan kembali wajah agama yang indah, santun dan menyejukkan sebagaimana telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Saw.

Mengeja ajaran-ajaran Rumi berarti mengarungi samudera yang tak memiliki dasar dan pantai, membaca Rumi berarti menyusuri cakrawala kesunyian. Itu sebabnya, senandung cinta Masnawi akan senantiasa dikenang dari zaman ke zaman, akan abadi di hati siapa saja yang mempersembahkan seluruh hidupnya untuk cinta dan kemanusiaan.

A. Yusrianto Elga

A. Yusrianto Elga

Tinggal di kedai-kedai kopi di Jogjakarta. Twitter @yusrielga
A. Yusrianto Elga

Latest posts by A. Yusrianto Elga (see all)