Api Bahasa yang Menyulut Sumbu Anti Kolonial (Membaca Ben Anderson)

in Esai by
franziskafennert.com

Dari buku Imagined Communities, sedikitnya, kita mendapatkan penjelasan ihwal kemunculan negara kebangsaan (nation-state) di dunia ketiga. Di buku tersebut, mula-mula Ben menggunakan contoh “komunitas religius”, lalu “ranah dinastik”: dua sub-bab yang digunakan untuk menjelaskan dengan penuh analogi yang kelewat sulit ditangkap. Sebelum kemudian, ia beralih ke persoalan kapitalisme cetak, yang merupakan faktor awal terwujudnya komunitas-komunitas terbayang yang bernama negara-bangsa (nation-state), sesudah negara-kerajaan (monarchy) yang—lebih-lebih bila dipraktikkan secara absolut—telah kedaluwarsa. Melalui cetakan-cetakan surat kabar dan karya-karya novel, gagasan negara-bangsa itu lahir. Di situ, Ben, antara lain menggunakan contoh novel Eropa lalu novel produk pribumi, seperti Semarang Hitam-nya Mas Marco Kartodikromo dan Noli Me Tangere-nya Jose Rijal (bapak bangsa Filipina). Surat kabar, yang disebut Ben sebagai bentuk ekstrem dari buku ini, turut memelopori bayangan akan bangsa, khususnya di negara-negara seperti Indonesia dan Filipina, karena menjembatani akumulasi bayangan kebangsaan: mula-mula melalui upacara massa yang bernama “konsumsi membaca”; lebih tepatnya, akumulasi pembayangan melalui “membaca serentak dan simultan”. Karena koran yang dicetak pada suatu hari, memungkinkan dikonsumsi oleh banyak orang secara serempak.

Surat Kabar

Surat kabar, meminjam istilah Ben—yang juga dipinjam Ben dari Hegel—“bisa melayani manusia modern sebagai pengganti sembahyang pagi”. Membaca koran bisa dilakukan secara berbarengan dengan ribuan (atau jutaan) orang lain yang satu-sama lain tidak saling kenal, lagi tak saling menahu jati diri. Dan “surat kabar” serta “novel” diproduksi oleh “kapitalisme cetak”, hanya untuk mengikat simultanitas—terlepas kelak terdapat keburukan dari penemuan benda-benda modern hasil perkembangan teknologi tersebut. Tanpa “kapitalisme cetak”; tanpa dicetak dan diterbitkan, tak akan berlangsung aktivitas membaca yang simultan. Teringat ungkapan novelis Argentina, Jorge Luis Borges, melalui parabel cermin (dalam cerpen Tlon, Uqbar, Orbis Tertius). Kata Borges, “cermin dan sanggama (hubungan suami-istri) sama buruknya karena keduanya melipatgandakan dan menyebarluaskan alam semesta”. That mirrors and copulation are abominable, because they increase the number or men. Tepatnya, mirrors and fatherhood are abominable because they multiply and disseminate that universe.

“Kapitalisme cetak” yang memproduksi surat kabar dan novel di awal-awal, yang memelopori munculnya “kesadaran nasional” itu, dalam konteks Indonesia—dengan mengutip Ben di akhir bab ke-2 buku Imagined Communities—memungkinkan jumlah orang yang makin lama makin banyak untuk berpikir tentang diri mereka sendiri, dan mengaitkan diri dengan sesamanya, dalam “cara-cara yang luar biasa baru”. Jadi, andai ungkapan Borges dipinjam di sini, terutama ihwal aksi produksinya, dengan takaran yang berbeda dan agak sedikit dipiuhkan, maka nyatalah bahwa “novel dan koran yang dicetak itu sama baik-nya, karena dulu bisa menciptakan nasionalisme (memelopori kelahiran embrio negara-bangsa) dan melipatgandakan sekaligus menyebarluaskan kesadaran nasional”. Apa itu cara-cara yang luar biasa baru? Tentu saja mengaitkan bayangan bangsa dan keindonesian melalui imajinasi dari membaca dirinya sendiri secara serentak dengan peranti bahasa. Guna mengkonsolindasikan pembayangan akan (kemunculan) bangsa tersebut. Sebuah pengalaman yang belum pernah lahir di tahun-tahun sebelum akhir abad ke-19, sekalipun di era Majapahit, untuk konteks Indonesia.

Baik di buku Imagined Communities maupun di buku Di Bawah Tiga Bendera, Ben juga mengulas bagaimana para bapak-bangsa belajar di negeri inangnya: sebagaimana kalau di Indonesia sedikitnya Bung Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, Ki Hajar Dewantara ke negeri Belanda, dan Jose Rijal ke negeri Spanyol. Kelak setamat belajar dari negeri penjajah, mereka kembali ke negerinya untuk melawan kolonialisme dengan tujuan dan cara yang, meski tidak sama persis tapi, kira-kira punya kemiripan. Para bapak-bangsa itu tentu di negara rantau banyak bersentuhan dengan berbagai pengalaman dan teori-teori anti-kolonial yang lantas digunakan untuk melawan negeri-negeri penjajah.

Sebagai contoh di Indonesia, di antara yang menarik dari fenomena (perlawanan melalui koran) ini, sebagaimana dicontohkan Ben Anderson (2008: hlm. 177), adalah tulisan Ki Hajar Dewantara yang menulis artikel berbahasa Belanda untuk sebuah koran De Expres (13 Juli 1913) yang berjudul ”Als Ik eens Nederlender was (Seandainya saya seorang Belanda)”. Artikel tersebut digunakan untuk menyindir perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penjajahan Prancis. Ini artikel protes Ki Hajar ihwal perayaan kemerdekaan bangsa lain (Belanda) di negeri yang, ironisnya, juga sedang dijajah oleh bangsa Belanda sendiri. Pada kalimat terakhir dari artikel tersebut tertulis  “… andaikan saya seorang Belanda, saya tidak akan mengatur perayaan kemerdekaan di sebuah negeri di mana kemerdekaan orang-orangnya telah dirampas.”

Novel

Dan sebetulnya, salah satu kajian brilian mengenai peranti kedua (novel), setelah koran, untuk membayangkan kebangsaan dan nasionalisme, yang lebih terfokus dan mendalam lagi, diulas Ben dalam buku “Di Bawah Tega Bendera” (Under Three Flags: Anarchism and The Anti-Colonial Imagination). Buku ini sedikit-banyak diolah Ben dari kajian mendalam terhadap dua novel karya Jose Rijal, bapak bangsa Filipina, yang meninggal di tiang gantungan rezim Spanyol, berjudul Noli Me Tangere dan El-Filibusterismo. Dari dua novel tersebut, Ben mengulas ihwal bagaimana nasionalisme (proto-nasionalis) mula-mula timbul. Bagaimana kedua novel tersebut turut ambil bagian dalam membidani kelahiran nasionalisme Filipina, sekurangnya melalui ungkapannya (narasi), karakter, dialog-dialognya, juga epigram-epigramnya.

Di dalam halaman-halaman buku Ben tersebut, kita bisa memperoleh gambaran itu: bagaimana mula-mula nasionalisme mendapatkan maknanya dengan diinspirasi (atau dicangkokkan) oleh gerakan-gerakan anarkisme di tingkat global di Eropa, yang kelak akan mewarnai dunia pada pertengahan abad 19, juga sastra (novel) di sisi lain. Ini agaknya juga disinggung lagi oleh Ben dalam buku Hidup di Luar Tempurung (hlm. 125-126): bahwa politik berkait erat dengan sastra melalui praktik anarkisme dan tulisan-tulisan avant-garde. Hal ini sebagaimana juga pernah dilakukan oleh beberapa tokoh pergerakan Indonesia, sedikitnya Tirtho Adhi Soerjo dengan menulis prosa di antaranya Cerita Nyai Ratna (1909), Boesono (1910), Nyai Permana (1912) yang lebih lanjut bisa dibaca pada buku Sang Pemoela yang dihimpun Pramoedya Ananta Toer, juga oleh Mas Marco Kartodikromo lewat Studen Hidjo (1918), Mata Gelap (1919), dan Rasa Merdika (1924). Di samping keduanya, Tirto dan Marco, juga merupakan aktivis politik.

Folklore

Bagaimana bahasa dapat memengaruhi cita-cita menuju kemunculan bangsa modern, selain melalui apa yang tersembunyi dan tersirat dalam novel, dalam terawang Ben dalam konteks Filipina, juga didapat melalui ilmu folklore. Sebuah ilmu yang saat itu baru (scienza nuova), dipioneri oleh lelaki eksentrik pribumi, Isabelo de los Reyes (1880). Ilmu ini (folklore) oleh Isabelo diuraikan secara cerdas sebagai ilmu el saber populer (kearifan rakyat), yang ternyata baru dicetuskan di Eropa tahun 1846 oleh di antaranya William Thomas, seorang kolektor barang antik dari Inggris (Ben Anderson, 2015: hlm. 17).

Di tengah kemunculan pakar-pakar folklore Spanyol yang semata-mata hanya menjadi kolektor sentimentil atas adat-istiadat dan konsepsi-konsepsi yang hampir punah, yang dikumpulkan untuk museum sejarah. Lalu, muncullah Isabelo, anak muda Filipina, yang usianya lebih tua beberapa tahun dari usia Joze Rizal (bapak negara Filipina). Isabelo menegaskan pandangannya ihwal folklore dan nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Bagi Isabelo—mengingat tiadanya berbagai monumen atau prasasti pra-Spanyol, juga tiadanya catatan tertulis—folklore dapat digunakan untuk merekonstruksi masa lampau pribumi (Filipina), yang tidak mustahil dikerjakan oleh bangsa Filipina sendiri (Ben Anderson, 2015: hlm. 21).

Riset serius tentang adat-istiadat, kepercayaan, takhayul, pepatah, kalimat dolanan, jampi-jampi, dan sebagainya, pastilah akan menerangi apa yang disebut Isabelo sebagai: ”agama primitif” masa lalu Filipina pra-Spanyol. Namun, di sini, pemuda suku Ilokano tersebut, dengan tajam membedakan dirinya dari sekadar costumbrista—istilah bagi genre sastra abad ke-19 yang khusus merekam kebiasaan dan adat-istiadat—amatiran. Sebab, ia juga menggarisbawahi akan pentingnya komparasi: riset yang ketat, lagi tak begitu saja percaya pada hasil penelitian ilmuwan-ilmuwan Eropa yang bidang-garapnya Filipina (para historiografer Katolik di wilayah koloni mereka). Di situ, Isabelo dengan radikal kemudian sengaja menjarakkan dirinya dari banyak koleganya dari Spanyol Semenanjung. Ia tak ingin ilmu folklore dibatasi sebagai belaka perihal penggalian sentimentil atas ”barang antik”. El folk-lore filipino, bagi Isabelo, adalah kajian atas situasi kontemporer, khususnya apa yang ia istilahkan sendiri dengan el saber populer (kearifan lokal) untuk menumbuhkan semangat nasionalisme.

Pengetahuan ini (el saber populer) adalah pengetahuan riil, bukan ”adat” yang konotasinya kuno dan jamuran. Isabelo memberi hipotesa, di antaranya, mengenai seorang selvaje (penghuni hutan primitif) di hutan dekat kampung halamannya di Iloko Selatan pada suatu hari. Ia, secara tak sengaja menemukan bahwa buah-buahan lokal tertentu bisa menjadi penangkal basil kolera yang lebih mujarab ketimbang panangkal yang pada saat itu tengah diproduksi oleh ilmuwan medis Spanyol, Dr. Ferran. Pengetahuan masyarakat pribumi tentang tanaman-tanaman obat, flora dan fauna, serta tanah dan perubahan iklim di wilayah mereka, lebih mendalam ketimbang para kolonialis. Dan gudang pengetahuan maha luas yang tertimbun dalam el saber populer ini belum begitu dikenal dunia (Ben Anderson, 2015: hlm. 21-23).

Oleh karena itu, Filipina tampil bukan semata-mata sebagai kawasan penuh aneka eksotika yang tidak dikenal oleh orang Eropa (liyan) sebagaimana kecenderungan kajian orientalisme, melainkan juga wilayah yang nyata bisa memberi sumbangsih penting buat umat manusia di masa depan. Sumbangsih ini tentu saja berasal dari pengetahuan yang dihayati oleh rakyatnya sendiri dengan bahasa lokal mereka masing-masing, yang bahkan sama sekali tak terbayangkan oleh orang Spanyol. Justru, segi “yang belum diketahui” dari Filipina inilah yang memberi folklore (dengan peranti bahasa cetak sebagai medium pengungkap) ciri khas yang berorientasi ke masa depan, yang tidak didapatkan dalam folklore Spanyol Semenanjung (Ben Anderson, 2015: hlm. 23).

Dari sini kita bisa melihat mengapa Isabelo, membayangkan provinsinya sebagai sebuah “puak” yang besar serta “tanah air tercinta”, sebab dengan cara yang paling konkret “orang-orang buas” penyembah berhala dari pegunungan pun bisa terhubung sebagai saudara sebangsa se-tanah air dengan seseorang yang memenangi penghargaan di Madrid (Isabelo). Di sini, kita bisa menengarai alasan mendasar, sebagaimana ditulis Ben Anderson (2015: hlm. 27-28), mengapa dalam pergulatan proto-nasionalis, Isabelo bisa berpaling pada folklore dan bukan novel atau koran. Meski sama-sama butuh medium bahasa yang dicetak oleh produk modern teknologi dan buah dari kapitalisme yang disebarkan itu.

Akhirnya, dengan bahasa, antara lain, terwujud nasionalisme awal di Asia Tenggara. Nasionalisme itu mula-mula dipelopori oleh gerakan-gerakan skala kecil. Gerakan-gerakan kecil yang dikategorikan sebagai gerakan anarkisme: gerakan bawah tanah (klandestin), milisi-milisi, kelompok-kelompok gerilyawan dan seterusnya, yang diinspirasi oleh berbagai gerakan anarki di belahan dunia (anarkisme global), yang sebelumnya juga diilhami oleh surat kabar dan novel, yang mengakumulasikan simpul-simpul perlawanan menentang dominasi kekuatan-kekuatan imperial Barat dalam berbagai bentuknya.

Inilah api bahasa yang melatari lahirnya gerakan-gerakan nasionalisme awal di beberapa wilayah di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia dan Filipina, melawan kolonialisme negara-negara Barat.

Bahasa sungguhlah bukan sekadar suara-suara atau huruf-huruf yang sederhana.