Aroma Pesantren dalam Puisi Kedung Darma Romansha

in Hibernasi by

Kita tak perlu menyangsikan kesungguhan Yogyakarta dalam hal-ihwal seni budaya, juga sastra. Perjalanan waktu merekam dengan baik bagaimana kota itu mengandung, melahirkan, membentuk diri para pelaku seni, budaya, dan sastra. Minggu malam beberapa waktu lalu (25/02), saya dan beberapa kawan dari Solo hadir untuk turut menyimak acara peluncuran sepilihan puisi karya Kedung Darma Romansha, Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu. Kami tiba ketika Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY) masih dalam keadaan lengang. Tampak beberapa orang sedang menyiapkan pernak-pernik acara: membenahi letak mikrofon, menyiapkan presensi, dan menata buku puisi.

Kira-kira ketika yang hadir baru sekitar belasan orang, pembawa acara memutuskan hendak segera memulai acara. Saya jadi ingat, setiap kali ada acara sastra di Balai Soedjatmoko Solo, publik yang hadir tak beda jauh dengan jumlah publik yang saya lihat ketika acara bedah puisi Kedung dimulai. Belasan orang. Kecuali apabila acara sastra menghadirkan penulis ngetop atau artis yang merangkap jadi penulis sekaligus. Di Solo misalnya, publik yang hadir akan terasa begitu riuh ketika acara berkehendak membedah buku Ayu Utami, Leila S. Chudori, Sapardi Djoko Damono, atau Ayudia Bing Slamet dan Dito Percussion.

Publik yang hadir menikmati suguhan kacang rebus dan kopi atawa teh sambil hanyut dalam musik pembuka yang dimainkan oleh kelompok musik Jarawaga. Di lagu ketiga, musik dari kelompok yang sama mengiringi pembacaan salah satu judul puisi Kedung. Puisi dan musik mengantarkan publik pada pembahasan mendalam sepilahan puisi dalam buku Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu yang disampaikan Joko Pinurbo (Jokpin). Di tengah-tengah musik, saya sempat menengok ke arah belakang. Barisan belakang kian riuh, publik yang hadir berkali lipat jumlahnya dibanding permulaan acara. Sebagian besar merupakan para mahasiswa dari beragam perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta.

Sedari awal, Jokpin sudah memberi catatan baik pada gaya berpuisi Kedung. Ketika gaya puisi lirik mendominasi jagat perpuisian Indonesia, yang terjadi ialah kelahiran diksi yang nyaris generik. Kedung menulis dengan gaya puisi yang sama, tapi dengan pendekatan berbeda. Ia jadi unik. Diksi-diksinya cenderung lebih segar dan kaya akan citraan. Tentang rindu misalnya, berapa banyak penyair yang telah menulis tentang rindu. Rindu selama ini digambarkan suci, agung, dan citraan-citraan baik lainnya. Tapi Kedung memilih menggambarkan rindu seperti “karcis kereta yang dilubangi”. Betapa rindu itu ternyata cuma sekali pakai. Rindu tak lain merupakan proses mental yang musti terus diperbarui. Sebab tidak ada rindu yang kekal.

Jokpin menuntun publik untuk mengurai buku puisi Kedung dengan terlebih dahulu menemukan pintu masuk atas dunia puisi yang terhampar. Bagi Jokpin, tantangan pembaca dalam membaca buku puisi ialah menemukan pintu atau kerangka dasar. Membaca buku puisi jelas berbeda dengan membaca puisi secara terpisah. Perlu kesabaran dan kreativitas tertentu dalam membaca buku kumpulan puisi. Buku puisi terdiri dari puisi-puisi yang saling berkelindan apabila pembaca berhasil menemukan pintu masuk untuk menguliti satu per satu puisi yang ada.

Kereta Terakhir dan Hujan Oktober merupakan pintu bagi puisi-puisi Kedung lainnya. Kereta Terakhir menggambarkan seorang yang awalnya bermukim di desa hendak menuju kota. Ada pergeseran budaya agraris menuju budaya urban-kosmopolitan. Ini digambarkan sangat indah oleh Kedung, demikian ungkap Jokpin. Hujan Oktober, menerakan sebaliknya. Bagaimana budaya urban-kosmopolitan, kendatipun masyarakat desa tak pergi ke kota, budaya kota sudah jauh masuk ke desa-desa. Peradaban kosmopolitan yang digambarkan dengan teknologi informasi, atau merek-merek kosmetik telah masuk ke kampung halaman kita sendiri. “Zaman menggelinding ke desa-desa”.

Kedua puisi tersebut sarat akan pengembaraan seseorang, pencarian identitas atau jati diri. Ciri puisi lirik, menurut Jokpin ialah kental dengan konflik antara aku dan kau. Kau bisa merujuk pada beragam subjek. Kau berarti kenangan, kau berarti trauma hidup, kau berarti Tuhan, kau berarti sepi, kau berarti rindu, atau kau berarti alter ego. Ada puluhan kau yang mungkin. Kau menjadi ambiguitas dalam puisi. Ambiguitas itulah yang membuat puisi menjadi menarik.

 

Menolak Beku

Puisi Kedung tak hendak pamrih dengan menghadirkan akrobatik bahasa. Kata-katanya sangat sederhana, sekaligus memiliki kompleksitas makna dan kaya akan interpretasi. Penggunaan imaji “basah” yang cukup kerap seperti hujan, membasahi, menetes, meleleh bisa dimaknai dengan sesuatu yang tidak tetap, tidak pasti atau sangat sulit bagi kita untuk memastikan akan ke mana. Sekali lagi, ini menunjukkan pencarian diri seseorang yang sifatnya memang dinamis. Puisi Kedung juga kaya akan imaji proletar. Betapa Sapardi menulis hujan dengan santun, Kedung menulis hujan sebagai “kenangan yang bocor”. Sungguh proletar dan mewakili kelas menengah ke bawah.

Puisi “Cinta yang Lupa Ingatan” begitu hidup dengan sebaris kalimat: “ketika Tuhan cemburu pada wajahnya sendiri”. Kita jadi ingat bagaimana kehidupan manusia modern kian pikuk antara mengimani Tuhan atau agama, bagaimana hidup beriman di zaman digital ber-orde media sosial. Sumber dosa menjadi bermacam-macam dan melekat erat dengan diri kita. Cinta pada Tuhan jadi alpa di ingatan. Puisi ini mengukuhkan pendekatan puisi Kedung yang cenderung adem, tenang, dan kontemplatif. Hal ini barangkali dipengaruhi oleh budaya pesantren yang melingkupinya. Budaya pesantren selama ini memberi warna kesusasteraan Indonesia melalui penghayatan atas fenomena alam yang mendalam dan sungguh-sungguh.

Kelebihan Kedung, menyitir Jokpin, ialah penghadiran suasana dan diksi proletar. Menurut Jokpin, hal ini menjadi jalan pembuka bagi Kedung untuk melanjutkan proses kreatifnya dalam berpuisi. Kedung cukup piawai memainkan detail-detail kecil. Memberi sentuhan kecil yang membuat akal pembaca terhenyak. Jokpin dan Asef Saeful Anwar yang berlaku sebagai moderator malam itu sempat berkelakar menyemat harap, Kedung akan menulis puisi yang cukup serius ihwal dangdut. Ini tentu bentuk respons atas terbitnya novel Telembuk (Indie Book Corner: 2017). Alasannya cukup kuat, dangdut jelas merupakan lokal genius. Dangdut memberi manusia cara memelihara kebahagiaan hidup, sekaligus ialah yang mampu menembus segala lapisan masyarakat.

Jarang Menulis

Puisi-puisi Kedung dalam buku Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu ditulis antara rentang 2004–2017. Puisi ditulis sejak Kedung berstatus sebagai mahasiswa semester tiga di program studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Puisi-puisi diakui sebagai pergolakan-perjalanan hidup spiritual dan sosial penyairnya. Kendatipun begitu, Kedung tak hendak ambisius dalam menulis puisi. Ia mengaku hanya menulis puisi apabila ada momen puitik yang menonjok batinnya.

39 puisi yang terhimpun dalam buku diakuinya sebagai respons atas beragam hal yang ada di sekitar. Ia mengaku tidak bisa menulis apa yang tidak dekat dengan dirinya. Keyakinannya bulat, tidak mungkin penulis menulis sesuatu yang tidak dihidupi sehari-hari. Pergulatan mengolah kata sungguh suatu hal yang demikian menguras energi. Lahir maupun batin. Proses menulis puisi jelas berbeda dengan momen pembacaan puisi. Malam itu, hadir sebagai pembaca puisi ialah aktor film Teuku Rifku Wikana dan aktor cum penyair Gunawan Maryanto. Publik yang hadir terhirup ke dalam dunia pembacaan puisi yang sungguh teatrikal.

Sebelum diskusi puisi berakhir, Jokpin sempat memberi kawruh pada publik yang hadir. Menjadi penyair berarti siap dengan ritual yang panjang. Sebelum siap menulis puisi, ia sendiri perlu menenangkan diri, berkelakar dengan bercawan-cawan kopi, berbatang-batang rokok. Satu hari bisa jadi hanya menghasilkan satu baris puisi. Kalau hendak hitung-hitungan, menulis puisi jelas tak akan balik modal. Jadi kalau tidak terpaksa jangan jadi penyair, begitu kalimatnya yang pungkasan. Tsah! []

Rizka Nur Laily Muallifa

Rizka Nur Laily Muallifa

Tertarik dengan isu seputar perempuan, lingkungan, dan seni-budaya. Tulisannya pernah dimuat di detik.com, Solopos, Kabar Madura, dan Radar Bojonegoro. Instagram: @lailymuallifa
Rizka Nur Laily Muallifa

Latest posts by Rizka Nur Laily Muallifa (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.