Aromasha; Puisi-Puisi Kamil Dayasawa (Sumenep)

in Puisi by
Sumber gambar
Sumber gambar pinimg.com

Aromasha

kala bintang jatuh tengah malam
cericit kelelawar pada dahan
membangunkan bulu roma

bulan redup tertutup kabut
seperti mata ingin menangis
lantaran rindu temu ribuan waktu

ranting-ranting pohon
menunjukkan padaku arah berbeda-beda
hingga usia begini tua
tak ketemu juga rumahmu di mana

angin santer bertiup sepanjang waktu
tercium semerbak harummu
suara cecak bersahutan di dinding rumah
menyuruhku tabah dan menanti tak kenal lelah

aku musafir tanpa ibu dan ayah
dilahirkan dunia dari rahim tanah
diasuh berbagai macam binatang
menyusu pada kayu dan tidur di atas batu

sekali waktu aku bertanya pada belantara
dengan suara berat putus asa:
apakah kau masih setia membaca peta
melingkari pulau-pulau kecil
menuntun perjalananku yang sepi dari jauh
sedangkan kalender matahari sudah lusuh
waktu dekat subuh

setiap hari kusaksikan daunan kuning mengering
jatuh diterpa angin
kawanan burung bersiul pada maut
sambil melepaskan bulu-bulunya
hutan menjawab lewat gema
yang sumbernya entah di mana

kutahu ini orkestra cinta alam raya
seperti laut gaduh, debur syukur tak henti mengguntur
kepadamu aku bersandar
terimalah meski hanya sekadar kabar
sebab apa yang kudengar selalu

datangnya dari arah yang satu

 

/Batang-Batang, 2015

 

 

Kidung Sunyi

bunyi air menetes di kamar mandi
bagai musik dari lautan imaji
menggiring sukmaku ke benua tak bernama
tempat cinta lahir dari rahim domba

padang pasir memetik senar harpa
unta-unta mendaki gunung purba
pohonan moksa ke dalam hira
aku lari ke dalam gema

sendiri kudekati kau yang sepi
adakah di situ nyanyi bermakna puisi
beri aku lirik dari sabda dan firman
agar lagu tak sekadar igauan

seperti kutahu
ke arahmu angin menderu

harum kembang hutan-hutan
lampaui batas bumi dan bulan

seperti kutahu
kepadamu burung-burung berseru
tentang malam semu:
waktu yang ditinggalkan cahaya lampu

/Batang-Batang, 2015

 

 

Bunga-bunga Merah Musim Hujan

di tepi jalan sepi itu, terhampar ladang kosong
hanya pohonan kelapa satu dua,

tegak berdiri
menjadi saksi

sejarah kematian
orang-orang yang dibungkam
di depan senjata

mayang jatuh seakan peluru berlesatan
menembus waktu dan kehampaan

ribuan nyawa dipaksa keluar dari pertapaannya
melayang di atas batu-batu hitam
tak punya rumah dan nama

di mataku wajah-wajah kuyu itu tampak
menjelma bunga-bunga merah di musim hujan
memandang kepada orang yang lewat berjalan

berkata kepada bocah yang hendak memetik:

“kau piatu anak malang, kenalilah aku ayahmu
gugur di medan tanpa perlawanan
sebagai lelaki terusir

dituduh kafir

karena menolak sekutu dengan angin malam
diseret ke tengah ladang
maut membayang”

tapi bocah-bocah terus tertawa
kembang-kembang rekah terus dipetik
sedang senja akan datang, menyuruh mereka pulang
kembali ke pangkuan bunda
meringkuk takut,
malam akan merenggut

harapan
seperti tahun-tahun silam

banyak yang hilang ditelan sunyi
tak pernah kembali
/Batang-Batang, 2015

 

 

Tukang Kayu

kenno

ia tak pernah cerita padaku

berapa beratnya palu

setiap waktu

aku hanya tahu

tak henti ia ketuk paku pada kayu

seolah memaksa waktu

menjadi bagian dari pintu

kadang aku mendengar

dari dalam kamar

suara kaca diiris dengan pisau
berderit dibawa angin kemarau

berpuluh tahun sudah lewat
kusaksikan wajahnya yang tua

keriput

bagai daun kering ladang kerontang
batu-batu hitam

tak memberinya pijakan

pohon jati atau beringin
tak ada beda baginya
ia lelaki yang sederhana
kepadaku ajarkan setia

jangan tanya kenapa

ia tak membangun istana
dengan jendela kaca motif bunga
lantainya lembut hamparan sutra

ia mungkin akan berkata:
“lebih baik jadi pelukis
daripada sekadar kambing di atas kanvas.”

walau kutahu

pelukis hanya hamba dari warna
gambar-gambar yang tak selalu setia

bila malam tiba ia duduk di selasar

secangkir kopi di atas tikar
kerlip bintang-gemintang di langit jauh
dan bulan tanggal tujuh

kepadanya ajarkan satu
yang tampak hanya semu

ia tak pernah cerita padaku

berapa harga waktu

setiap kayu

aku hanya tahu

tak henti ia pukul dengan palu

seolah memaksa pintu

menjadi bagian dari paku

Batang-Batang, 2015

 

Sebuah Nyanyian

kau tahu aku bukan anak sulung gelombang
perahuku karam jauh di laut kenangan
sauh dan jangkar terserak di dasar
rindu debar jadi mawar

setelah angin tenggara
membangun menara pasir
kau dan aku berdekapan
saling menghirup bau tubuh masing-masing
sebelum air yang asin menggarami
jejak kita yang terakhir

kita berpisah menuju ruang yang bukan kematian:
sebuah gurun tak berpasir
hutan tak berpohon
gunung tanpa api

tempat segala yang berarti tinggal ilusi:
padang tanpa musim semi
hujan dan kemarau tak dikenal lagi

 

/Yogyakarta, 2015

 

 

Petualang

dari seberang aku datang
mencari bahasa sunyi para nabi
bersampan daun lalang
membelah gunung gelombang

kutinggalkan pisau masalaluku jauh di hutan
antara taring harimau dan gading gajah

kurelakan bulu jantanku gugur
ditimbun ribuan daun

kutahu di sini ada banyak kata
meski bukan bahasa doa
setiap orang telah mencipta keasingan
rumah kehilangan ruang lengang

cinta, ibarat gelas pecah
berkeping runcing haus darah

kulintasi ambang petang
kawanan anjing mendengus tulang
gedung menjulang merentang tangan
seolah menanti hujan datang

namun taman-taman
menolak mendung lewat sepasang mata perempuan
yang duduk jauh di kegelapan

di langit mana aku hendak bernaung?
meletakkan tubuh telanjang
bernyanyi riang lagu kemenangan

bila setiap jarak selalu kusaksikan
kawanan lebah terbang ke arah pasar malam

samadi zikir pohon-pohon dilupakan waktu
kau menjelma desau, aku batu

warung-warung makan sepi gumam
tempias kuning lampion remang
seakan mata dari masa lalu
penuh candi-candi bisu

aku melangkah ke jalan simpang
sejarah dan ilham datang bersilang
kau dan aku bertemu
bagai dua sumbu

/Yogyakarta, 2015

 

Kepada Malam Jum’at

telanjangi aku dalam sunyimu
jiwa fana telah lama berontak
keluar dari keabadian sajak

tangan yang gagap telusuri senyap
mencari bintang padam
di atas ranjang

bagai bulan tanggal tua
mengintipmu dari jauh
aku bersandar pada jendela
langit dan bumi bertanya

/Sampang, 2015

Kamil Dayasawa

Kamil Dayasawa

lahir di Sumenep, 05 Juni 1991. Alumni PP. AL-AMIEN PRENDUAN, Sumenep. Puisinya termaktub dalam antologi: Estafet (2010), Akar Jejak (2010), Memburu Matahari (2011), Sauk Seloko (2012), Ayat-Ayat Selat Sakat (2013), Bersepeda ke Bulan (2014), Bendera Putih untuk Tuhan (2014) dan Pada Batas Tualang (2015).
Kamil Dayasawa

Latest posts by Kamil Dayasawa (see all)

Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co