Bagaimana Cara Membuat Bubur Kacang untuk Tuhan?

in Cerita Pendek by

Tahun  2030. Suatu hari di masa depan saat lelaki itu resmi menjadi kekasihku.

Aku sedang menyiapkan bubur kacang hijau yang dipesannya di telepon.

“Mungil, jangan lupa buatkan bubur kacang untukku. Jangan terlalu manis, soalnya memandang kamu saja sudah bikin harga gula drop,” katanya di telepon.

“Tuhan bisa menggombal, ya?” gurauku.

Tuhan tertawa.

Sore itu mulailah aku memasak untuk lelaki kesayanganku. Untuk membuat bubur kacang hijau kesukaan Tuhan bahannya sedikit sulit untuk didapatkan. Tapi bukan berarti aku tak bisa. Aku kembali membuka buku resep masakan. Sebuah buku tua berwarna cokelat pemberian ibu Tuhan, Maria. Sebelum Tuhan disalib dia memberikan buku resep itu untukku. Persis di bawah Bukit Golgota. Waktu itu menjelang pukul tiga. Tangan Ibu Maria gemetar saat menyerahkan buku itu padaku. “Ambillah, dan tolong jaga Tuhan baik-baik kalau dia bangkit lagi,” katanya. Masih kuingat sorot matanya yang sedih.

Kubolak-balik buku resep tua dari zaman Nabi Musa itu. Nah, ini dia. Resep membuat bubur kacang kesukaan Tuhan.

Bahan-bahan:

  1. Sejumput senyum Ibu Maria saat pertama kali menerima kabar dari malaikat Gabriel.
  2. Iris halus tawa anak-anak yang dipangku Tuhan sebagai pemanisnya.
  3. Seperempat ons butiran bintang yang dilihat para gembala sesaat sebelum kelahiran Tuhan.
  4. Aduk semua bahan. Masak dengan api keraguan para murid dan umat manusia. Kecil saja. Biar buburnya tidak lengket dan gosong.
  5. Sajikan bubur hangat bersama roti yang tersaji di perjamuan terakhir.

Aku membuka lemari dan mengeluarkan semua bahan-bahan. Aku punya lemari khusus untuk menyiapkan bahan-bahan yang tak biasa itu. Semua bahan kusimpan rapi dalam botol-botol kaca. Saat botol-botol itu diangkat, bahan-bahan ajaib di dalamnya tampak hidup dan berebutan keluar. Aku senang memperhatikan tawa anak-anak yang berhamburan saat kutuang ke dalam panci. Senyum Ibu Maria kutambahkan sedikit saja, agar kepasrahannya jangan membuat bubur terlalu lengket hingga susah dimakan bersama roti. Kuhitung butiran bintangnya dengan hati-hati. Jangan sampai berlebih. Butiran bintang itu jumlahnya harus sama dengan jumlah murid Tuhan, kalau berlebih, hasilnya bubur akan keras seperti karet.

Semua bahan sudah masuk dalam panci. Kunyalakan api keraguan para murid dan umat manusia. Api ini harus dijaga biar tidak membesar atau jadi sangat kecil. Keraguan itu dibutuhkan agar masih ada pertanyaan, bukan?

Saat bubur sudah matang, kulihat jam dinding. Sudah pukul 8 malam. Belum ada tanda-tanda Tuhan akan pulang. Aku berharap rumah sakit tempatnya bekerja tidak membuatnya lembur lagi malam ini. Aku sangat merindukannya. Aku sangat ingin memeluknya. Duduk bersisian di sofa dan mendengarkan ceritanya tentang betapa lelahnya dia mengurus umat manusia. Aku rindu melepas sepatunya. Kira-kira kuku kakinya sudah panjang belum, ya? Sudah seminggu dia tak datang dan aku sangat tahu Tuhan tak pernah bisa menggunting kuku sendiri.

Aku beranjak mengambil telepon di atas meja.

“Kamu di mana?” kataku.

“Masih di rumah sakit, Mungil. Ada pasien yang baru datang,” kata Tuhan buru-buru.

 Aku menarik napas dan menutup telepon. Kalau sudah ada pasien baru dia pasti akan pulang malam.

Aku pandangi bubur dalam panci. Uap panasnya masih mengepul di udara. Aromanya memenuhi dapur. Aroma desah napas Tuhan. Aih, betapa aku merindukan lelaki itu.

Aku bergerak menutup panci bubur dan mematikan kompor. Lalu aku beranjak ke jendela. Memandang ke jalan kalau-kalau Tuhan tiba-tiba pulang. Hampir setengah jam aku duduk di sana, suara scooter-nya tidak terdengar. Hanya ada bulan yang bulat penuh di langit. Kalau Tuhan ada di sini, dia pasti sudah menggombal untukku.

“Mungil, kamu tahu kenapa bulan ada kawahnya?” Mungkin begitu dia akan berkata.

“Kenapa?” kataku bingung.

“Soalnya, rinduku seperti meteor yang menghantam bumi jutaan tahun lalu, nah kawah itulah hasilnya.”

Dan aku akan menepuk pipinya hingga dia meringis.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ah, untuk apa sebenarnya dia menyuruhku membuatkan bubur kacang malam ini? Apa yang ingin dia rayakan? Dia jarang sekali meminta bubur itu kalau tidak ingin merayakan sesuatu. Kucoba mengingat sesuatu tapi tak ada yang muncul dalam kepalaku. Apakah ada yang terlewat? Rasanya tidak.

Aku bergerak ke dalam dan memakai jaket karena udara mulai terasa dingin.

Saat masuk ke kamar itulah aku melihat sesuatu di dinding. Sebuah tanggal yang kulingkari dengan garis merah. Darahku terkesiap. Aku bergegas mendekat dan membaca tulisan yang ada di sana. Astaga! Aku hampir saja melupakan perayaan besar ini. Ya, Tuhan. Deadline buku dan beberapa acara telah membuatku melupakan acara penting ini. Untung Tuhan sudah mengingatkan. Astaga! Aku menepuk kepalaku berkali-kali. Kecerobohanku hampir saja membuat semuanya kacau.

Aku bergegas ke dapur dan menata meja makan. Kukeluarkan taplak meja terbaik. Kuhias meja dengan bunga. Kupastikan pengharum ruangan bekerja dengan baik. Kukeluarkan mangkok dan gelas terbaik. Setelah itu aku berganti pakaian. Kukeluarkan sebuah dress putih yang hanya kukenakan kalau perempuan istimewa itu datang. Perempuan yang memberikanku resep untuk mengurus anaknya. Hampir saja. Hampir saja aku mengacaukan segalanya!

Setelah berganti baju aku segera keluar dari kamar. Jantungku hampir copot melihat perempuan itu duduk di meja makan. Ibu Maria duduk di sana. Dengan kerudungnya, penuh keanggunan yang membuatku merasa tak layak jadi kekasih Tuhan. Ya, malam ini kami akan merayakan kedatangan ibu Tuhan. Sebuah kedatangan yang istimewa dan hanya beberapa tahun sekali.

“Kau sudah membuat buburnya dengan buku resep yang kuberikan, Mungil?” Nada suaranya lembut, tapi mampu membuatku gemetar.

Aku mengangguk. “Buburnya sudah dimasak, Ibu.”

Dia tersenyum lembut, mempersilakanku duduk di dekatnya. Aku mengambil tempat duduk di sampingnya. Cahaya tubuhnya membuatku tak mampu berkata.

“Butiran bintangnya sudah kau hitung?” tanyanya sekali lagi. Ia pasti tak akan membiarkan anak kesayangannya makan bubur yang salah sampai sakit perut.

“Kamu masak dengan api keraguan yang pas?”

Aku mengangguk. “Bagus,” katanya sambil menyapu seluruh ruangan.

“Tuhan datang jam berapa?” Suaranya sekali lagi membuat jantungku berdebar.

“Dia masih ada pasien, Ibu. Sebentar lagi juga datang.”

Bersamaan dengan kalimat terakhirku, Tuhan datang menyelamatkan kami. Suara scooter-nya memasuki halaman. Aku segera berlari menyusulnya. Tak sabar menahan rasa rinduku. Sekalian ingin mencari perlindungan dari ibunya yang teramat bercahaya.

Aku memeluknya dari belakang saat dia memarkir motor.

“Tuhan, untung kamu datang cepat. Aku takut,” kataku.

Dia tertawa. “Kamu masih belum terbiasa dengan ibuku?” tanyanya.

Aku menggeleng. Dia meraih tanganku. “Kamu mirip ibuku saat menikah dengan Papa Yosef,” ujarnya.

Mataku mendelik.” Dia juga perempuan biasa, Sayang.” Tuhan mengelus kepalaku dan mengecupnya lembut.

“Eh, sebentar. Di pipi kamu ada bekas pakunya, ya?” tanyanya serius.

Aku meraba pipiku. Tak ada apa pun.

“Ah ternyata cuma lesung pipi,” godanya.

Sialan. Tuhan ini jago sekali menggombal.

Malam itu adalah malam terindah buatku. Sebuah perayaan dari masa depan berlangsung di dapurku. Sebuah perayaan penghuni surga*

Yessy Sinubulan

Yessy Sinubulan

Penulis, editor buku anak, dan founder Komunitas Dongeng Kokomang. Bermimpi merawat setiap jiwa kecil dengan dongeng.
Yessy Sinubulan

Latest posts by Yessy Sinubulan (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.