Banda Neira dan Momen-Momen Manis-Pahit Tak Terlupakan

in Hibernasi by
Banda Neira dan Momen-Momen Manis-Pahit Tak Terlupakan
stereosnapid.com

Banda Neira memutuskan berpisah dari belantika musik Indonesia Desember 2016 silam. Duo ini mengakhiri petualangan bermusiknya ketika mereka masih hangat dibicarakan oleh para pemuda yang tiap kali mengirimkan lirik lagu mereka ke gebetan hanya mendapatkan dua centang biru dan undangan pernikahan sebulan kemudian.

Penulis sendiri baru mengakrabkan diri dengan musik Banda Neira ketika dengan pongah mengatakan bahwa Silampukau adalah grup musik yang bagus saat itu di samping Morfem dan Kelompok Penerbang Roket sementara lain-lainnya adalah medioker. Namun ketika muncul nama-nama seperti Barasuara, Banda Neira; rasa penasaran penulis berhenti dan kagum bahwa musisi Indonesia tak melulu menyuarakan lirik mereka dengan bahasa Inggris lagi. Maklum, penulis sempat bersinggungan dengan musik-musik skena indie lokal.

Apakah setelah ini penulis terlihat seperti anak hipster daster, yang notabene lirik-lirik yang mereka gunakan hampir seluruhnya memakai bahasa Inggris tanpa perlu menunggu Agnez Mo potong rambut di saat kontrak iklan samponya belum habis?

Memang sebelumnya sudah banyak band menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar liriknya, tapi yang puitis nan sastrawi bisa dihitung jari. Lantas tidak berarti lirik yang tidak sastra adalah jelek, hanya saja Banda Neira lebih menyajikan lirik-lirik indah tersebut dibalut suara vokal cewek yang merdu. Suara cowoknya standar abis, mungkin kalau dia ikut ajang pencarian bakat dapat juara tiga lalu lebih terkenal ketimbang juara satunya.

Perlu momen-momen khusus menikmati musik Banda Neira. Momen tersebut harus dibentuk sedemikian rupa sehingga ketika kita memencet tombol putar, momen, dan musik bisa bercampur membentuk reaksi kimia seperti melihat kekasih hati dipeluk orang lain. Penulis menuliskan momen ini berdasarkan pengalaman pribadi serta pengamatan dari lapangan sepak bola ketika Liverpool berhasil menghajar Manchester City.

  1. Sebelum Tidur Malam Hari

Kesulitan tidur adalah gambaran mutlak bagaimana generasi saat ini sepertinya kesulitan menjalani hidup. Padahal esok pagi sudah siap menerkam dan energi belum juga terisi. Sebagai lagu pengantar tidur, Banda Neira mampu menghadirkan frekuensi ramah kuping untuk membantu menenangkan otak. Sembari mengatur napas, membaca setiap lirik di kepala, telengkan kepala ke kiri niscaya headset kiri Anda akan rusak keesokan harinya karena ketindihan. Moral: jangan tidur sambil memakai headset. Moral 2: jangan dengarkan lagu bersama kekasih di atas tempat tidur apalagi kekasih orang lain agar bisa berjaga-jaga kalau tiba-tiba ada gerebekan polisi.

  1. Sewaktu Hujan Sore

Hujan sore hari adalah waktu semua manusia di bumi ini otaknya hanya berisi syair-syair mutakhir lantas menghiraukan jemuran belum kering. Tapi hujan di sore hari bisa menyebalkan jika kamu berada di perempatan lampu merah yang angkanya masih 90 detik lagi. Cobalah putar satu nomor Banda Neira, “Hujan di Mimpi” saat hujan sore hari sembari menikmati kepala kekasih di pundak sebelah kiri. Kamu kemudian akan menyesal kenapa duo semacam ini memutuskan bubar tanpa membuat lagu semacam ini lagi.

  1. Sedang Belajar Memainkan Gitar

Bermain gitar untuk mendapatkan perhatian kekasih hati selayaknya dinobatkan oleh UNESCO sebagai cagar budaya yang patut dilestarikan. Sudah berapa kali dalam hidup kamu—terutama para wanita, pemain gitar adalah sosok keren yang selayaknya harus dipacari tanpa dinikahi? Penulis meyakini kalau ada wanita yang menjawab tidak pernah, dirinya pasti lebih mengagumi ninja. Bagi para lelaki, bisa bermain gitar adalah skill dasar untuk menjadi seorang pemuda selain disunat. Mungkin kelak jika kamu bingung ditanyai apa kelebihanmu saat wawancara kerja, katakan saja bisa bermain lagu Banda Neira sambil menutup mata. Kelak saat kerjaan sudah menjadi milikmu, saat ulang tahun kantor, kamu akan menjadi gitaris band dadakan. Atau kalau kamu ditolak kerja, setidaknya jutaan perempatan di seluruh penjuru Indonesia masih bisa menjadi lahan kerjamu. Memainkan lagu Banda Neira untuk kekasih memang romantis, tapi jika Anda ingin menjadi seorang gitaris andal, matikan dan lupakan lagu Banda Neira dan mulai dengarkan Paul Gilbert, Joe Satriani, Yngwie Malmsteen, dan Jimi Hendrix.

  1. Sewaktu Jatuh Cinta

Tema besar album Banda Neira memanglah cinta. Bagi kamu yang sedang berjuang demi mempertahankan ideologi class struggle, kesejahteraan hidup dan ketimpangan status sosial, mendengarkan lagu mereka memang sangatlah tidak cocok.

Empat momen di atas adalah ilustrasi sederhana apa yang setidaknya pantas dilakukan sebelum memutar lagu-lagu Banda Neira dari album mana pun. Berikut penulis berikan momen yang sepantasnya tidak kamu lakukan dengan mendengarkan Banda Neira, seperti misalnya: dimarahi orang tua karena tidak kunjung menikah. Semarah apa pun orang tua kita, dengarkan saja, jangan malah mendengarkan lagu! Kamu tidak mau menjadi seorang anak yang durhaka, bukan?

Atau momen ketika kamu hendak beribadah. Ibadah hanyalah untuk Sang Pencipta, sayangnya lagu Banda Neira hanya untuk para pencinta jadi mending beribadahlah dengan khusyuk minta agar tahun ini didekatkan dengan jodoh, dijauhkan dari mantan.

Terlalu banyak momen yang tidak tepat seperti kebelet boker di saat macet atau saat mengupas bawang merah. Namun, momen-momen ini adalah sebuah pengingat bahwa Indonesia pernah punya band sebagus ini mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan menulis musik indah lagi. Penulis mengira kemungkinan mereka bubar adalah si cowok naksir si cewek lantas si cewek lebih memilih vokalis band punk karena lebih bad boy. Atau mereka bubar karena alasan lain? Entahlah… mari kita doakan saja kelak mereka segera bersatu lagi walau bukan di pelaminan namun di studio agar Banda Neira bisa memunculkan lagu-lagu sendu untuk dinikmati dalam momen mana pun walau masih lebih bagus lagu-lagu dari Silampukau, Morfem, dan Kelompok Penerbang Roket.

Jacob Julian

Jacob Julian

Penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.
Jacob Julian