Barkhuséa Nôma Medalež dan Kitab Kelambatan

in Cerita Pendek by
3
pinterest.com

Žijekifo muda sedang menganalisis bagaimana tangan waktu bekerja secara menakjubkan di dalam kelambatan.

Tangan gaib itu yang mempertemukannya dengan Vika di toko alat-alat listrik, di sudut kota Bara Kuda. Kota ini sudah sangat terkenal dengan sebutan: “kota yang terbuat dari ketergesa-gesaan”.

Di Bara Kuda, orang-orang bangun tidur dengan tergesa. Ke kamar kecil dengan tergesa. Berdoa dalam tergesa.

Sarapan, berangkat kerja, menyapu, mencuci perkakas, bahkan tidur, bercinta, dan bermimpi juga dilakukan dalam keadaan tergesa-gesa.

Tapi jangan heran, karena penduduknya sudah terbiasa dengan ritme yang sedemikian.

Dan sejak kecil Žijekifo tinggal di ruang kota semacam ini; tempat di mana waktu adalah lintasan pacu.

“Siapa yang berhenti, pasti mati.

Meski hanya sekilas

dia akan tertindas!”

 

Himne-himne atas kecepatan, atas gerak dinamis, atas waktu dengan mudah ditemukan dalam grafiti di dinding-dinding kota, di buku-buku sekolah, di bait lagu-lagu musisi jalanannya, yang bernyanyi dengan terburu-buru.

Dilakukan dengan menukil sajak-sajak dari Muhammad Iqbal di atas itu.

Hingga dari Horatius, dari haiku-haiku Jepang, syair-syair Dinasti Qing, syair-syair Arab Klasik, hingga Eliot, Neruda, Paz, dan tentu: Bulfazo Darez, penyair kenamaan kota Bara Kuda.

Vika pasti pernah mendeklamasikan sajak-sajak Bulfazo Darez, pikir Žijekifo. Kewajiban belajar di Bara Kuda untuk mempelajari cara membaca sajak:

Kawanku Bernama Waktu atau dalam bahasa asli Bara Kuda Barkhuséa Nôma Medalež.

Medalež, Barkhuséa, éina hartaž virta passesha.

Öz virta heliumma chausziaz,

frag-frag, hehatôshas.

(Tequa himnatiaž vis Bulfazo Darez, 1989, ih. 60, Cop. I, Baracudaz Clip).

Waktu, kawanku, bukanlah air sungai yang menghanyutkan.

Ia adalah air terjun yang menatah,

memecah, bebatuan.

(Kumpulan Sajak Lengkap Bulfazo Darez, 1989, hal. 60, Cet. I, Penerbit Barakuda).[1]

*

Dan pada hari saat Žijekifo mulai memikirkan bagaimana sebenarnya kerja tangan waktu mempertemukannya dengan Vika, ia masih ingat ketika sang ibu guru yang tergesa-gesa mengajarkan membaca puisi itu, begini.

Beri jeda satu ketukan setelah kata “menatah” (chausziaz), kemudian satu ketukan, “memecah” (frag-frag), baru kemudian “bebatuan” (hehatôshas). Setelahnya cepat-cepat giliran siswa yang lain.

Yang disayangkan, Žijekifo tidak pernah melihat Vika membaca puisi.

Tentu karena Vika bersekolah di tempat lain. Iya benar, pada hari di toko listrik itu adalah pertemuan pertama mereka.

Pertemuan yang membawa penuh muatan dan perubahan. Bukan hanya terhadap diri Žijekifo. Sebagaimana rumus perubahan: diri yang berubah mengakibatkan lingkungan berubah.

Ketergesa-gesaan kota Bara Kuda sepenuhnya malih setelah pertemuan dengan Vika. Dan bagaimana semua itu berubah?

Padahal bukankah ketergesa-gesaan telah menjadi kepribadian Žijekifo, yang diwariskan turun-temurun oleh penduduk kota?

Žijekifo awalnya tidak menyadari bahwa saking tergesa-gesanya dalam semua hal mereka bahkan melihat cacing yang lambat seolah tidak bergerak. Siput seakan batu diam.

Informasi yang mereka butuhkan juga demikian. Segala beradu kecepatan. Klarifikasi berita adalah soal belakangan.

Yang paling detik itu, yang paling diburu. Pada tahap yang frustrasi, mereka bahkan mencari berita yang sudah disebarkan sebelum peristiwanya terjadi; semacam ramalan akurat.

Tidak ada toleransi bagi keterlambatan apalagi kelambatan di kota Bara Kuda.

Sehingga pada detik Žijekifo bertemu Vika, dan dunia menampilkan kelambatannya, ia tahu sesuatu yang buruk bisa menantinya.

“Ia bisa tergilas, kemudian mati sebagai kere di dalam peradaban kota Bara Kuda yang serba lekas dan bergegas,” kata Žijekifo.

*

Žijekifo sedang memahami, mengapa setelah pertemuan dengan Vika, kota Bara Kuda bergerak lambat seolah bagian dari aliran chi.

Seakan bola-bola energi kota dibentuk tidak dalam ritme industri, bisnis, dan tawar-menawar yang lekas, tetapi dalam percakapan para tani, gerak cangkul, dan siangan rumput liar di kebun-kebun jauh di desa-desa tersembunyi, begitu pelan, begitu kentara seakan di bawah matahari yang subtil geraknya.

Seakan bagian dari sungai yang tak terlihat mengirimkan gerak pasir-pasir berbisik di bawahnya.

Tidak, tidak lagi seperti riak gelisah air terjun yang memburu dan terburu-buru.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Žijekifo beberapa kali bertanya pada diri sendiri.

Ia memasang kuda-kuda ingatannya. Tangannya mengambang mengambil energi dari peristiwa pertemuannya dengan Vika; membentuk bola-bola ingatan yang kian jelas lingkarannya.

“Permisi?” ketika itu mata Vika menatap Žijekifo pada pukul sepuluh pagi di toko alat-alat listrik.

*

“Ah, ya.”

Žijekifo coba bersuara memberi tempat bagi Vika yang datang belanja dengan tergesa.

Žijekifo menduga suaranya terucap jelas, meski sebenarnya itu tertahan di dada.

Itu tepat bersama jatuhnya waktu asing yang mula-mula melambatkan gerak baling-baling kipas angin di langit-langit toko.

Kemudian resap ke dalam daun rambutan yang kering melayang lambat di udara.

Menyebar ke gerak dalam acara di layar televisi, ke penjaga toko, ke dalam udara, sampai akhirnya menahan semesta jadi diam, beku, kehilangan waktu. Yang apabila dilihat dari kejauhan seakan pertemuan itu hanya sebuah diorama.

Jika pembaca pernah membuka halaman atau mendengar isi Kitab Kelambatan atau Cliptaž Vi Rénashiass karya Habre Redanah, penulis terlarang di Bara Kuda, maka akan cepat memahami apa yang sedang dialami oleh Žijekifo.

Karena, sebagaimana pengakuannya, ia seakan menjadi murid dari Habre.

Habre beserta karya-karyanya dihabisi oleh pemerintah. Alasannya, tidak sesuai dengan arah pembangunan Bara Kuda yang berhaluan kecepatan, yang kini menjadi ketergesa-gesaan.

“Di semua tempat, di semua negeri, di kota-kota lain, ada buku-buku, ada kitab-kitab yang dilarang,” kata Habre saat di hadapan tiang gantungan yang dipasang dengan tergesa-gesa.

“Mati sekarang atau besok, sama saja kematian namanya. Namun, mati sendiri lebih berharga daripada mati bersama-sama di jalan yang salah memahami jiwa sejati manusia, jiwa yang bukan mesin kerja.”

Habre lalu meninggal dalam posisi Bangau Terbang atau Alapate Inhuasa. Sebuah posisi yang kontroversi sampai saat ini dalam mitologi Bara Kuda.

Hal yang disayangkan di sini adalah bahwa Žijekifo belum membaca seluruh karya-karya Habre.

Žijekifo tahu nama Habre ada dalam buku: Seribu Satu Pengkhianat Bara Kuda. Habre Redanah berada dalam bab Pengkhianat atas Konsepsi-Konsepsi, nomor urut 137.

Kisahnya yang menyebalkan dan tak patut ditiru dijelaskan dalam 9 paragraf pendek model ensiklopedia.

*

Bola-bola di tangan Žijekifo memanas, menampilkan kelambatan gerak cahaya, dan pertemuannya dengan Vika.

Ia dapat melihat, mula-mula, matahari di ketinggian.

Kemudian, awan-awan yang diarak angin perlahan. Membentuk mendung, membawa angin, menciptakan dingin, mengirim hujan yang mula-mula lambat dan menampilkan butiran-butirannya dengan teramat jelas seakan dilihat dari balik kaca pembesar.

Sebutir hujan yang jelas itu meliuk-meliuk di atas kota Bara Kuda.

Lalu menurun menuju bagian kota yang terisi oleh bangunan-bangunan, jalan-jalan, taman-taman, saluran air, yang semuanya dibangun dengan tergesa-gesa.

Jatuhnya tepat di sehelai daun belimbing wuluh dalam pot di balkon lantai dua rumah si tua Umbertones, si tua yang baru saja masuk rumah. Di atas daun, butir itu mulanya meluberkan, menyebarkan basah ke jari-jari daun, sebelum lambat mengumpul kembali di ujungnya, menjadi bulir yang siap menetes bersama gaya gravitasi semesta.

Tetes itu, bersama jalannya waktu yang sebenarnya tanpa kecepatan, akan mencapai puncaknya.

Manusialah, kata Habre, yang menafsirkan, menempatkan detik atas waktu lampau dan waktu depan, hingga mereka melihat ada waktu yang lambat dan waktu yang terlalu cepat.

Dan benar, tetes itu kini memuncak, lalu jatuh, menimpa seekor cecak di bawah bonsai pohon belimbing wuluh.

*

Sang cecak terkejut mengira ada serangan musuh.

Ia kamuflase dengan melepas ekornya dan sembunyi di dinding dengan waspada.

Ia melihat ekornya sendiri dari kejauhan; bergeletar, berguling-guling menipu ruang kosong dan menyentil sebutir kelereng milik cucu dari si tua Umbertones.

Kelereng dengan mata biru itu jadi bergerak setelah diberi energi dari geletar ekor cecak. Ruh gravitasi kini berpindah jadi miliknya, menggerakkan sepenuh jiwanya sebagai kelereng, mengikuti kontur lantai balkon, yang dibuat oleh arsiteknya dengan cenderung miring ke saluran air.

Kelereng itu bergerak dengan jiwa yang diberikan ekor cecak hingga ke celah tembok balkon, lubang sekepal yang entah sejak kapan ada untuk antisipasi air menggenang.

Gaya tarik bumi kini semakin meninggi. Kelereng bermata biru itu lantas jatuh dari lantai dua, menghantam sisi kaca akuarium luar ruangan yang diletakkan di beranda rumah si tua Umbertones.

Selesai menyalurkan energi semesta pada retak kaca akuarium, kelereng itu kini mental lemas, menggelundung, dan berhenti tepat saat mengenai sarang semut di sisi pot adenium merah muda.

Pot-pot itu tetap begitu, di bawah hujan yang masih ringan, tanpa terkejut sama sekali, tetap setia di bawah gugus tanaman hidroponik.

Mungkin mereka hanya melirik di akuarium enam ikan koi keberuntungan gelisah memandang kaca meretak cepat.

Gelisah atau senang?

*

Bukankah jika retak di kaca itu meletik cepat, kemudian akuarium akan pecah, dan mereka akan bebas dari batas-batas kaca?

Tapi, tunggu, pikir adenium warna saga, bukankah berarti mereka akan jatuh ke darat, bisa diluka pecahan kaca, atau mati kehabisan air sebelum si tua Umbertones mendapatinya dan memanggil Vika dengan histeris seperti yang pernah terjadi saat cucunya terkena ruji sepeda?

Retakan itu mula-mula terdengar seperti berbisik. Terlihat seakan sisik galaksi yang menyebarkan garis orbit.

Garis-garis itu kemudian tampak memperbanyak seolah jelmaan dari jejak bintang berekor. Memperjauh. Memperlebar bersama hujan yang mempercepat dingin.

Dan energi semesta itu kemudian bergerak membelah kaca sisi kiri dengan sempurna. Air tumpah. Karang imitasi berguncang.

Ikan-ikan panik, melompat, jatuh ke darat berpasir, menggelepak, memberikan energi, memanggil semesta yang lain.

Tak ada yang mengira, jika energi itu menyebar ke udara, menarik perhatian seekor kucing yang sedang tidur menghindari tempias di jendela kamar si tua Umbertones.

Si Tua itu sudah lama menduda, tinggal bersama cucunya di akhir pekan, sementara anaknya yang laki-laki bekerja dengan tergesa-gesa di perusahaan otomotif di pusat kota Bara Kuda.

Istri anaknya bekerja dengan tergesa-gesa di lembaga pengajaran bahasa Latin.

Si tua Umbertones terkejut dan mengalihkan perhatiannya dari menelaah naskah-naskah abad pertengahan yang kering dan beracun. Ia melihat kucing bernama Foucaultis itu berlari cepat di luar jendela.

*

Ia melihat lebih dekat ke jendela dari lantai dua kamarnya.

Enam detik dari gerak semesta, ia melihat Foucaultis berlari di bawah sana dengan seekor ikan koi motif merah.

“Vika! Apa yang terjadi di bawah?!” si tua Umbertones berteriak dan memencet tombol interkom yang terhubung ke dapur dan ruang cuci tempat Vika sedang bekerja dengan tergesa-gesa.

Energi semesta kini berpindah dari gerak ikan panik ke mata kucing, dari mata kucing ke instingnya, ke gerak kakinya, hingga ke dalam pandangan si tua Umbertones.

Energi itu berpusar di labirin dendrit Umbertones, menciptakan hasrat dan kecurigaan, lalu merambat dengan kecepatan listrik respons, ke segenap semesta diri hingga energi itu menjadi teriakan yang dirambatkan lewat interkom.

Sampai di telinga Vika, energi itu seakan sedang dibawa berlari untuk melihat kucing-kucing yang kabur dengan ikan koi, padahal tidak. Energi itu telah berpindah ke tempat yang tidak terduga.

Vika melihat akuarium pecah dan tidak pernah berpikir bahwa matahari yang mula menyebabkannya.

Dan tidak pernah tahu bahwa energi cinta itu, yang akan membuatnya bertemu dengan Žijekifo kini sebenarnya tidak berada di tempat itu. Energi itu telah berjalan tak terduga ke dalam filamen setrika di ruang yang tadi ditinggalkannya.

Di sana, ketika Vika membereskan sisa koki yang meminta air kedamaian, lalu diberikannya pada ember, energi itu memanas dan semakin memanas, hingga membakar kain linen yang sedang dirapikan. Vika dengan ketergesa-gesaan yang sempurna, lupa mengangkat wajah setrika yang menempel.

*

Energi yang semula berasal dari matahari, lalu menjadi hujan, menjadi gerak, kini menjadi panasnya kembali, menciptakan asap yang mengabarkannya pada si tua Umbertones, melalui alarm pendeteksi. Umbertones marah dan berteriak sekali lagi.

Keadaan darurat terjadi di ruang cuci dan setrika. Vika berlari balik. Mendapati keadaan itu. Dia cekatan mencomot dan melemparkan setrika. Linen yang terbakar ia siram.

Akibatnya, setrika itu rusak di pojokan.

Dan semesta tersenyum, karena rencananya kini telah sampai pada sadel sepeda.

Vika akan menggerakkan energinya di sana. Lalu mengalir ke segenap gerak roda di jalan-jalan Bara Kuda. Energi itu akan membawanya ke toko alat-alat listrik dan membuatnya bertemu dengan Žijekifo.

Pertemuan dua energi semesta dalam kelambatan yang seakan berbelit-belit, kata Žijekifo, hanya untuk membuat dua mata cinta bertemu dalam kelambatan yang sesaat tetapi abadi. Tetap mampu terus diulang. Meski kini, Vika sudah tidak ada lagi.

Žijekifo pun bersajak dalam bahasa Bara Kuda saat diwawancara di rumahnya. Ia saya wawancara karena berhasil menghidupkan kembali pemikiran dalam Kitab Kelambatan atau Cliptaž Vi Rénashiass karya Habre Redanah yang mati digantung.

Katanya:

Medalež, Barkhuséa, vivares éitaž

Ûnt efôta

Héra!

Waktu, Kawanku, adalah perayaan diri

Atas kemungkinan

Rayakanlah!

(2016)

[1] Terjemahan dilakukan oleh penulis cerita ini, yaitu saya, Eko Triono, dengan konsultasi kepada Žijekifo, di kediamannya, di kota Bara Kuda, 22 Januari 2016.

Eko Triono

Eko Triono

Menulis kumpulan cerita Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (DIVA press, 2016).
Eko Triono

Latest posts by Eko Triono (see all)