Barzakh

in Tajalli by
ukdlrqco1d-flywheel.netdna-ssl.com

Ada dimensi lahiriah. Ada dimensi batiniah. Keduanya menunjuk kepada Allah Ta’ala sebagaimana yang secara tegas diungkapkan oleh al-Qur’an surat al-Hadid ayat tiga. Menurut Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi (1165-1240 M), memahami adanya dua dimensi yang disandang oleh hadiratNya itu tidak boleh tidak mesti lewat pintu makhluk-makhluk. Dengan pendapatnya ini, sebenarnya beliau sedang menyanggah pernyataan Imam al-Ghazali (wafat pada 1111 M) yang menegaskan bahwa memahami kedua dimensi yang sakral itu bisa langsung kepada Allah Ta’ala.

Alasan Ibn ‘Arabi jelas bahwa bagaimana mungkin hadiratNya itu bisa dibaca dan dipahami tanpa perantara makhluk-makhluk sebagai pintu masuk? Bukankah makrifat itu merupakan karunia rohani dan gelar bagi manusia tertentu yang jelas-jelas sebagai suatu entitas dari makhluk itu?

Secara substansial memang diungkapkan dalam khazanah sufisme bahwa hanya dengan penglihatan Allah Ta’ala seseorang yang makrifat itu bisa “menjangkau” dan memandang hadiratNya. Tanpa keterlibatan Allah Ta’ala itu sendiri, tidak mungkin ada siapa pun yang akan sanggup mengenalNya. Juga tidak mungkin ada siapa pun yang akan sepenuh hati bersembah sujud kepadaNya. Akan tetapi, bukankah secara realitas hal itu juga melibatkan makhluk?

Walau hakikat wujud secara hakiki sesungguhnya memang satu, yaitu wujud Allah Ta’ala itu sendiri, tapi berkaitan dengan dimensi lahiriah dan dimensi batiniah keilahian itu, apa boleh buat, kita mesti menempatkan dua dimensi yang sangat sakral itu pada pos masing-masing. Tujuannya jelas. Tak lain adalah agar kita menjadi semakin makrifat, makin mengetahui “program” kehendak dan kuasaNya, makin merasakan kemahaanNya yang tidak bertepi yang berpendar lewat segala sesuatu.

Dimensi lahiriah dan dimensi batiniah keilahian: keduanya saling bercermin, keduanya saling memandang, keduanya saling membutuhkan, keduanya merupakan dua entitas yang terlampau sublim, keduanya merupakan dua kutub yang padu sekaligus merupakan “satu kesatuan”. Dengan keduanya, tergelarlah alam semesta dan Allah Ta’ala tampil sebagai Rabbul’alamin, Tuhan bagi seluruh jagat raya.

Dan di antara dua dimensi keilahian itu ada sebuah posisi agung yang selain berfungsi sebagai “pemisah”, juga merupakan penghubung yang teguh dan kredibel di antara keduanya. Itulah posisi barzakh alias penengah yang diduduki oleh Nabi Muhammad Saw. Dan tentu saja beliau merupakan satu-satunya yang termulia di antara seluruh makhlukNya.

Posisi barzakh itu merupakan kedudukan rohani paling bergengsi yang tidak dimiliki oleh siapa pun selain nabi yang merupakan rahmat bagi segenap alam raya itu. Karena itu dapat dipastikan bahwa beliau merupakan naskah atau salinan langsung dari hadiratNya. Seluruh anasir alam raya “menyimpan alamat” Allah Ta’ala. Akan tetapi, sungguh, alamat hadiratNya yang paling sempurna dan paling gamblang itu berada pada diri uswah hasanah, ketauladanan paling luhur, Nabi Muhammad Saw.

Ada korelasi antara Allah Ta’ala dengan seluruh komponen alam semesta. Tidak ada satu pun yang terlepas dari jangkauan dan cengkeraman kemahaanNya. Dan korelasi yang terkuat itu terjalin dengan Sayyid al-Anbiya wa al-Mursalin Saw. Karena itu, garansi berikut ini jangan pernah terlalaikan oleh diri kita: siapa pun yang telah memiliki hubungan spesial secara spiritual dengan beliau, dapat dipastikan bahwa dia akan mendapatkan kedudukan rohani yang sempurna di hadapan hadiratNya.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)