Bedak dalam Pasir dan Persoalan-Persoalan Esensial

in Rehal by

Judul               : Bedak dalam Pasir

Penulis                        : Sule Subaweh

Penerbit          : Pustaka Pelajar

Cetakan           : I, November 2017

Tebal               : xii + 106 halaman

ISBN               : 978-602-229-813-7

 Lha, enggak mudeng e, Pak. Bahasanya mbikin mumet yang kayak-kayak gitu.”

Demikian kesan dan keluh seorang siswi ketika saya tanyakan padanya ihwal puisi dan prosa, perkenalan dasar sastra di salah satu sekolah menengah. Waktu itu, saya tengah menjalankan kegiatan Magang Terapan di daerah Bantul. Ya, kenyataan sebagaimana dituliskan banyak peneliti atau aktivis literasi tentang keberjarakan antara sebagian besar siswa dengan dunia sastra, akhirnya saya temui secara langsung.

Topik-topik perbincangan mengenai keberjarakan para siswa dengan bacaan sastra memang bukan konsumsi segar lagi, bahkan hampir kelewat matang, atau mungkin busuk bagi sebagian orang—bacalah tulisan-tulisan Ajip Rosidi (Bahasa Indonesia Bahasa Kita, Bus Bis Bas, Korupsi dan Kebudayaan, Pembinaan Minat Baca), Boen S. Oemarjati (Mengakrabkan Sastra), juga beberapa referensi lain. Kurang berminatnya para siswa, penyebab itu perlu kita garis bawahi lantaran beberapa hal yang menjadi pemicunya. Sebutlah—sebagaimana respons siswi tadi dan kutipan pengantar dari Joni Ariadinata dalam kumpulan cerpen Bedak dalam Pasir karangan Sule Subaweh—bahasa sebagai salah satunya, bahwa perkembangan sastra yang sedemikian pesat dengan beragam eksperimen telah mengesampingkan esensi “menulis cerita”: ada yang mementingkan gaya atau teknik penceritaan saja, bahkan “mengultuskan” bahasa sebagai segala-galanya. Alhasil, cerita mandek di kerongkongan dan tidak pernah mengenyangkan.

Gaya realis barangkali menjadi alternatif solusi bagi permasalahan demikian, dan inilah yang dilakukan Sule Subaweh dengan kumpulan cerpennya yang bertajuk Bedak dalam Pasir. Jika dicari korelasi, maka tepat, Sule adalah penulis dengan basic Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia—di sini, perlu dicatat kata “pendidikan”—yang mungkin lewat cerita-ceritanya berniat kembali membumikan sastra kepada anak-anak dan remaja: menghindari keberjarakan yang berbuntut keasingan.

Cerita jelas, ringan dicerna, dipadu kepiawaian sebagai mantan pegiat teater, sisi penokohan dan setting diolah sedemikian hidup, baik jalan penjiwaan terhadap konflik yang disematkan kepada tokoh-tokohnya maupun pendetailan setting yang mudah diimajinasikan. Jelas dan ringan bukan berarti tong kosong nyaring bunyinya, melainkan tetap menyimpan kedalaman pesan. Yang diangkat adalah nilai-nilai esensial dalam sosial masyarakat, semisal kejujuran, keikhlasan, hakikat keluarga, dan sikap husnuzan.

Cerpen pertama, “Ramuan Mimpi”, akan menohok hati ibu mana pun yang terlampau mementingkan pekerjaan dan mengesampingkan tumbuh kembang putra-putrinya. Esensi keluarga bergeser, dari yang tanpa jarak menjadi disekati dinding-dinding bernama pekerjaan dan materi. Nada hampir serupa pun disuarakan oleh cerpen “Pelukan Hujan”, mempersoalkan para penyembah pekerjaan (si suami) yang mengabaikan orang-orang terdekat (si istri yang tengah hamil), lantas terlalu menyesal ketika segala telanjur terjadi. Masih dengan musabab sama, “Ayat-ayat Rotan” menghadirkan konflik batin cukup pelik dalam diri tokoh laki-laki yang memohon bimbingan mengaji kepada Ustad Alung. Si laki-laki dulunya fasih mengaji, namun kembali terbata-bata setelah lepas dari bimbingan Keh Suqi. Permasalahan utamanya bertumpu pada keikhlasan belajar dalam perkara-perkara yang kita rindukan setelah larut dalam hidup memburu materi, sementara jiwa dibiarkan lamat-lamat mengering dan akhirnya retak-kerontang, atau dalam bahasa Huston Smith adalah kondisi Kebenaran yang Terlupakan. Coba tanya anak-anak—kata Edi AH Iyubenu—apakah masih ada yang bercita-cita jadi semacam kiai, atau kerja yang berorientasi renggang dengan perkara materi dan duniawi?

Materialisme dan modernisme yang ditandai dengan perkembangan teknologi sedemikian pesat hari ini, di samping memiliki sejuta manfaat, di satu sisi pun tak kepalang menyimpan sekian mudarat. Inilah yang mengimbasi Supriana dalam “Wajah Lain Supriana”, ia menjadi kehilangan kepercayaan diri dikarenakan telanjur menunjukkan “wajah lainnya” kepada sang suami di perantauan dengan bantuan semisal aplikasi-aplikasi editing foto, tepat sebagaimana dikatakan Kasiyarno dalam pengantar kumpulan cerpen ini. Esensi dari cerita ini sudah jelas, perkara kejujuran dan keterbukaan dengan kondisi diri yang apa adanya. Masalah percaya diri juga akan kita temukan dalam “Dongeng Kematian” dan “Perempuan Kaca”, tetapi dalam keduanya lebih menonjolkan pesan-pesan keikhlasan. Sementara itu, dalam cerpen-cerpen lain semisal “Kereta Padang Arafah”, “Dendam Pulang”, dan “Perempuan yang Diburu Cemas” tidak luput mempersoalkan masalah kepercayaan antarsesama—pun dipantik perkara-perkara materi dan modernisme–dengan penyebab konflik ialah sikap husnuzan.

Imbas lain dari perkembangan teknologi tersebut berupa imitasi perilaku masyarakat terhadap apa-apa yang disaksikan lewat televisi, YouTube, atau media-media daring lainnya. Sifat penyebarannya yang tidak mengenal batas-batas lingkup masyarakat berdampak sedemikian kentara kasat mata. Saya melihat, Sule berusaha mempersoalkannya dalam “Rumah yang Dirindukan”. Ia membahas persoalan pergeseran posisi pendidik menjadi kurang dipercayai, apalagi sampai diberi keleluasaan dalam mengatur jalannya “transfer ilmu”. Jangankan memukul, membentak murid saja akan berbuah kasak-kusuk. Keh Suki yang seharusnya mendapat dukungan penuh para wali murid, malah menjadi objek gunjingan dan kritikan masyarakat, pola interaksi yang kian cacat.

Dari sebelas cerpen yang termuat dalam kumpulan cerpen ini, bagi saya yang paling menarik untuk dibicarakan adalah “Saf yang Hilang”. Di dalamnya kita akan menemukan pandangan Sule sebagai seserpih bagian dari masyarakat dalam memandang realitas peribadatan masa kini. Dangkalnya penghayatan seseorang terhadap ritual ibadahnya, berimbas pada terputusnya interaksi spiritual antara anak-anak dengan pusat peribadatan, yakni masjid. Ibadah dalam cerpen ini, jika dibahasakan dalam bahasa puisi Kedung Darma Romansha, ialah upacara (yang) tak lebih dari kewajiban beribadah dalam agama. Lebih ke depan, cerpen ini mengusung wacana paling serius: bagaimana kemudian anak-anak merasa asing, malas, atau enggan ke masjid juga disebabkan oleh hal-hal sepele sebagaimana dalam cerpen—keengganan anak-anak “meramaikan” musala atau masjid di sisi yang lain lagi juga dipupuk oleh faktor-faktor sebagaimana disampaikan Kuntowijoyo dalam esainya, “Muslim Tanpa Masjid”. Dampak ke depannya, dapatlah kita terka, semacam bahasa lain dari musabab Robohnya Surau Kami ala A.A. Navis.

Hampir, permasalahan-permasalahan yang diangkat dalam kumpulan cerpen ini banyak dibahas pada bagian kedua Cerita Pilu Manusia Kekinian karangan Edi AH Iyubenu: berkubangnya kita pada persoalan terlampau rasional, serta terjebak dalam modernisme dan materialisme, sehingga kesunyian laut di dalam batin kian terkesampingkan. Bedak dalam Pasir sebagai judul kumpulan cerpen, mengarahkan penafsiran kita kepada hal remeh-temeh yang hampir tidak dilirik dan dipedulikan lagi (apalagi disikapi kritis) karena telanjur berbaur-campur dengan kebiasaan nyeleneh yang dianggap lumrah (bohong, suuzan, dan sejenisnya), bahkan sama sekali tidak dianggap dapat menimbulkan suatu masalah berarti. Saya melihat, hampir, konflik-konflik dalam tiap cerpen ini dipantik tabiat “sepele” tersebut.

 

***

Dari tiga kunci (keunikan tokoh, teka-teki, dan surprise) yang membuat sukses cerita-cerita realis dalam kumpulan cerpen ini menurut Joni Ariadinata, saya rasa sisi surprise-lah yang paling menonjol, kendati tidak seluruh surprise memberikan efek menggigit atau kejut. Barangkali, yang cukup menggigit adalah “Kereta Padang Arafah”, “Dendam Pulang”, “Perempuan yang Diburu Cemas”, dan sudah pasti “Saf yang Hilang”.

Saya melihat, tantangan bagi cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini—sebagai wakil cerita-cerita realis yang lain—selanjutnya adalah bagaimana ia mesti bertahan di tengah terjangan gaya bercerita makin “njelimet” yang lebih dilirik para peminat sastra? Mungkinkah akan ada “faktor alami” semacam kondisi kekangenan peminat sastra yang telah diseret gaya kontemporer tersebut kepada yang “sederhana” tetapi menyimpan pukulan angin terpendam, semacam buku kumpulan cerpen ini?

IR Rabbani

IR Rabbani

Aktif menulis di kelompok belajar sastra Jejak Imaji, juga sebagai ketua Forum Apresiasi Sastra (FAS) UAD dan “mahasantri” Ngaji Filsafat di Masjid Jendral Sudirman (MJS) Yogyakarta.
IR Rabbani