Belajar Makan dari Immanuel Kant

in Celoteh by
investingintheclassics.com

Untuk memahami filsafat Immanuel Kant, kita bisa menggunakan analogi orang yang sedang kelaparan (keluwen). Orang yang lapar akan langsung sadar dan paham bahwa ia harus makan (pure reason). Tidak perlu diingatkan oleh orang lain, bahkan oleh kekasihnya sekalipun. Namun, setelah itu yang harus ia lakukan ialah memahami tentang bagaimana cara mendapatkan makanan (practical reason). Lantas seperti apa status makanan yang dapat ia pilih: Apakah berstandar 4 sehat 5 sempurna? Ataukah harus ada logo halalnya? Pada titik ini, ia harus mampu menilai (judgment) pilihannya. Mungkin bisa menghubungi IDI atau MUI dalam konteks keindonesiaan saat ini.

Immanuel Kant dalam filsafat kritisismenya hadir dengan membawa loyang moderasi antara mereka yang memikirkan tentang hakikat makanan dan mereka yang telah merasakan nikmatnya suatu hidangan. Dari keduanya, Immanuel Kant tidak sedang memihak salah satunya. Sebab, rasa lapar yang merangsang untuk segera makan, pergerakan mencari makan(an), lantas penilaian terhadap pilihan makanan itu memiliki nalar kritisnya masing-masing.

 

Rasa Lapar dan Pemahaman Terberi untuk Makan

Wong luwe, kudu mangan.

Lapar itu suci. Ia tidak memilih kepada siapa ia akan datang (pure). Lapar merupakan titik apriori di mana semua orang hidup pasti mengalaminya. Keberadaan lapar yang tidak dapat diindera mengindahkan kehadiran reason agar dapat dimengerti. Tentu tidak jadi masalah jika “yang lapar” telah mumayyiz, baligh dan berakal. Namun apakah akan sama ceritanya jika “yang lapar” adalah seorang bayi, atau orang yang memiliki kecacatan indrawi, bahkan orang gila yang mondar-mandir ke sana kemari?

Konsep pemahaman terberi (pure concepts of the understanding) dalam setiap diri manusia adalah bukan tentang bagaimana cara mengindra. Sedari manusia nongol di dunia, saat itulah ia sudah memiliki pemahaman terberi dalam dirinya. Jika pengetahuan indrawi berelasi dengan dunia fisik (phenomena), maka pemahaman terberi tidak demikian. Ia adalah ke’ada’an noumena yang hanya dapat dikaji dengan transcendental logic.

Dalam kasus kelaparan, bayi dan orang gila sekalipun sama pengetahuannya dengan orang dewasa yang waras (faculty of knowledge). Yang membedakan adalah bagaimana mereka mengekspresikan pengetahuan tersebut (activity of knowledge). Bayi dengan tangisan, mungkin orang gila dengan amukan. Maka, untuk mengatasi keduanya, sederhana, segera beri mereka makan (a posteriori). Karena kita semua menyadari bahwa tidak ada yang bisa menolak rasa lapar itu sendiri (thing itself).

Pemahaman terberi untuk makan yang disadari oleh semua orang lapar adalah tentang betapa murni kerja akal budi itu. Ia ada bukan untuk membedakan manusia. Tetapi sebaliknya, dalam kasus kelaparan, kita belajar bagaimana melihat manusia dengan satu kacamata dalam posisi dan porsi yang sama. Pada titik ini, materi kuliah the equality of all human beings dapat kita selesaikan tanpa perlu menunggu kehadiran semester depan.

 

Pergerakan Mencari Makan(an)

Wong luwe, embuh piye carane, kudu nggolek panganan.

Mencari makan(an) merupakan praktik prinsipil dalam menindaklanjuti “keinginan” untuk bisa segera makan. Di sini, orang yang lapar, mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus tunduk dalam aturan praktisnya (practical rules).

Tangisan bayi dan amukan orang gila dapat diposisikan sebagai hukum alam (law of nature) yang dapat mereka lakukan untuk mewujudkan rasa lapar yang tidak bisa diindera. Berbeda dengan bayi dan orang gila, mereka yang dewasa dan waras tentu memiliki kebebasan dalam bergerak mencari makan(an). Dengan demikian, tangisan bayi, amukan orang gila, dan pergerakan orang waras merupakan geliat praktik ke dunia luar agar apa yang mereka rasakan dapat dientitaskan (practical reason).

Cukup untuk bayi dan orang gilanya. Kita tunggu mereka hingga sang bayi dewasa, dan sang gila waras. Karena mereka berdua masih berada pada posisi yang “dimaafkan” untuk tidak ambil pusing seperti apa praktik moral itu. Dalam bahasa islaminya, mereka itu ghairu mukallaf. Jadi, cara apa pun yang mereka gunakan untuk mendapatkan makanan sepenuhnya bebas dan tidak terikat dengan konsep moral.

Kendati orang waras memiliki kebebasan dalam bergerak mencari makan(an), mereka justru terikat dengan hukum moral (moral law). Ketika orang gila mencuri makanan, ia dibebaskan. Namun jika orang waras yang mencuri, tentu harus dipertanggungjawabkan. Pilihannya hanya dua: bebas hukuman tapi gila atau waras tapi harus siap masuk penjara? Pilihan sepenuhnya ada pada Anda.

Gerak-gerik kebebasan berkehendak (free will) yang ada dalam diri setiap manusia, bagi yang beriman, telah dilengkapi rambu-rambu batasannya oleh Tuhan. Sebab sejatinya, larangan pergerakan mencari makan(an), misalnya dengan mencuri, adalah sebentuk kesadaran yang dapat ia temukan dalam dirinya (self legislation). Pada titik ini, maka menjadi benar, jika manusia ingin mengenal Tuhannya, ia terlebih dahulu harus benar-benar memahami dirinya.

Dengan demikian, manusia yang merasa paling bebas sekalipun akan tetap menyadari bahwa sebenarnya ada batas-batas tertentu tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya (practical legislation). Jadi, si kaya yang mencuri sama sekali tidak lebih bermoral daripada si miskin yang mengemis. Oleh karena itu, jangan pernah hardik si pengemis miskin. Sebab ia sedang bergerak mencari, bukan mencuri.

 

Penilaian terhadap Pilihan Makanan

Wong luwe kudu iso weruh opo seng arep dipangan.

Setelah manusia mampu memahami pergerakannya dalam mencari makan(an) berdasarkan self dan practical legislation, maka langkah selanjutnya adalah melakukan riset penilaian terhadap apa yang akan ia makan. Tentu ini berguna untuknya. Agar ia tidak asal makan. Agar ia bisa tetap menjaga kesehatan.

Penilaian manusia terhadap makanan adalah tentang bagaimana ia pertama kali mengamati menu makanan. Ia harus mampu menganalisis berdasarkan gambar dan nama yang tersurat dalam buku menu tersebut (analytic of aesthetic judgment). Dari analisisnya itu, ia akan dapat memilih makanan yang sesuai dengan seleranya (the agreeable), indah tampilannya (the beautiful), paling beda di antara yang lainnya (the sublime), dan yang pasti itu adalah yang enak (the good) untuk dimakan.

Memang benar bahwa setiap orang memiliki pilihan/cita rasanya sendiri-sendiri (everyone has his own taste). Namun kemampuan mengindra berdasarkan menu makanan di atas hanya baru sebatas penilaian kuantitas. Agar pilihan si dewasa yang waras memiliki nilai yang berkualitas, ia harus mendialektikakan makanan yang akan ia pilih dengan ketebalan dompetnya dan kesehatan tubuhnya (dialectic of aesthetic judgment). Keduanya harus seimbang. Mungkin ia sanggup membayarnya, tapi jangan sampai justru mencederai kesehatannya. Mungkin ia sehat, bisa makan apa saja, tapi jangan sampai bunuh diri karena malu tak sanggup melunasi.

 Apakah hanya berhenti sampai di sini? Tidak. Sedikit lagi.

Si dewasa yang waras harus kembali melakukan analisis terhadap bahan dasar makanan yang akan ia pilih. Analisisnya harus sampai pada sebuah penilaian bahwa makanan yang ia pilih tidak terbuat dari hal-hal yang bisa merusak tatanan alam (analytic of teleological judgment). Misalnya, sirip ikan hiu, karena menyebabkan kepunahan hiu, merusak ekosistem kelautan dalam dunia ikan, atau hewan-hewan lain yang dilindungi. Secara moral, sebaiknya ia tidak memilihnya. Karena jika tetap memakannya, itu sama saja ia telah menyetujui dan ikut andil dalam melakukan perusakan alam.

Menilai dan memilih makanan adalah proses dialektis antara manusia dengan alam (dialectic of teleological judgment). Itu sebabnya manusia tidak diperkenankan saling memangsa satu dengan yang lainnya. Bahasa gaulnya, tidak boleh teman makan teman. Meskipun alam boleh dijadikan santapan, itu tidak berarti manusia dengan seenak perutnya melakukan perusakan alam di mana-mana. Karena kebebasan (free: dom/will) adalah kesadaran tentang keterbatasan (limits).

Nah, setelah semua proses dituntaskan, barulah diperkenankan untuk menyantap hidangan yang telah disediakan. Selamat makan bersama Immanuel Kant!

Hijrian A. Prihantoro

Hijrian A. Prihantoro

Santri yang insya Allah senang ngaji, tapi pasti suka ngopi. Dari Papua, terus ke Jawa, terus ke negeri 1000 menara, terus ke Yordania. Sekarang muqîm di Yogyakarta.
Hijrian A. Prihantoro

Latest posts by Hijrian A. Prihantoro (see all)

  • Rain Lufkin

    ane gagal paham…