Beras dari Langit

in Cerita Pendek by
staticflickr.com

Kecantikannya selalu membuatku memanjat pohon jambu.

Dengan hati berbunga-bunga, ketika menjelang senja, seusai pulang mengaji, aku selalu tidak sabar ingin melihat wajahnya. Biasanya ibuku akan berteriak dari dapur ketika mendengar aku berlari dari masjid tidak jauh dari rumah kami.

“Miko, makan dulu,” perintah ibuku. “Letakkan pecimu di meja.”

Tanpa menghiraukan perintahnya, aku langsung berlari menembus kebun bambu, menuju pohon jambu di belakang rumahnya. Dengan berpura-pura memetik jambu isi itu, aku akan melihatnya dari atas. Bagian belakang rumahnya tidak beratap. Jadi aku bisa melihat ke dalam rumahnya.

Benar. Ia di sana, di dalam rumah bersama ayahnya yang berambut gondrong, berkumis tebal, dagu dan pipinya juga ditumbuhi bulu lebat. Ia duduk di samping ayahnya yang menghadap komputer dan dikelilingi buku-buku. Jika belum mengenalnya, tampilan wajah seperti itu cukup membuat orang takut. Seperti pertama kali melihatnya beberapa tahun lalu, aku pikir ia seorang penculik anak-anak seperti dalam cerita yang sering aku dengar, memasukkan tangkapannya ke dalam karung, lantas anak yang diculiknya akan dikurung dalam gua yang gelap.

“Sasa,” teriakku memanggilnya. “Kenapa rumahmu tidak beratap?”

“Supaya ayahku bisa melihat langit,” jawabnya.

Ayahnya hanya melihatku sekejap dengan seulas senyum.

Seandainya ayahnya tidak meletakkan meja dan komputer itu di ruang belakang, aku pasti sulit melihatnya. Sasa jarang sekali keluar rumah. Sama seperti ayahnya. Belum tentu seminggu sekali kelihatan. Namun jika aku memanjat pohon jambu ini, Sasa pasti berada di antara kesibukan kedua orangtuanya. Ayahnya menghadap komputer dan ibunya di dapur, sesekali duduk membaca buku di depan kompornya. Ketika mengangkat kepalanya dari buku, ia melihatku lantas tersenyum.

Kedua senyum ramah itu mengingatkan cerita ibuku, bahwa laki-laki berewok itu asli penduduk desaku. Karena orangtuanya tokoh masyarakat, seorang kiai, sejak umur 17 tahun ia dikirim ke pesantren untuk belajar. Lebih dari lima belas tahun tidak ada kabarnya. Bahkan ketika kedua orangtuanya meninggal, ia tidak kelihatan. Dan kini, tiba-tiba pulang membawa istri dan anaknya.

Kata ibuku, ayah laki-laki berewok itu orang yang baik. Meski disegani, ia tidak berjarak dengan orang-orang di desaku. Pendek kata, ia tidak merasa mempunyai kelebihan hingga harus diperlakukan seperti adiknya, Pak Sodrun, yang sekarang begitu tenar di desaku. Setiap orang membungkuk dan mencium tangannya ketika berhadapan dan berpapasan dengannya.

Karena ketenarannya, banyak orang di desaku termasuk ibuku sering membicarakan Pak Sodrun ini. Sejak berhasil membangun pesantren dengan proposal yang diajukan kepada orang kaya keturunan Arab yang tinggal di Negeri Kanguru dan iuran wajib dari setiap warga, karier Pak Sodrun semakin melejit. Sekali dalam setahun mengadakan pengajian besar. Menyembelih tiga puluh sampai empat puluh ekor kambing untuk jamuan.

Ratusan nampan berisi nasi kebuli dan gulai kambing diedarkan dari tangan ke tangan sebelum diturunkan dan dikerumuni tiga atau empat orang. Pak Sodrun berdiri memandangi orang-orang yang bertebaran membentuk lingkaran-lingkaran kecil menikmati hidangan istimewa itu. Mereka memadati masjid, aula pesantren, bahkan sampai halaman rumah Sasa. Dengan penuh rasa syukur kepada Allah, dada Pak Sodrun mengembang seperti balon dipompa udara, merasa sudah bermurah hati, menjamu ratusan manusia dengan tulus dan tanpa pamrih.

Selain menjabat sebagai panutan warga, belakangan Pak Sodrun dijuluki oleh warga sebagai pelaku bisnis yang sangat berbakat. Dalam pikiranku yang belum tamat Sekolah Dasar, kata bisnis, menghadirkan gambaran tentang seorang yang memakai jas juga dasi, menenteng tas mengkilap, dan mengendarai mobil. Jauh beda dengan Pak Sodrun yang ke mana pun pergi selalu mengendarai sepeda motor matic, mengenakan sarung, dan di kepalanya melingkar serban putih. Karena saking kagumnya, aku pikir, warga desa terlalu melebih-lebihkan Pak Sodrun. Satu-satunya bisnis Pak Sodrun adalah warung bumbu masakan. Itu pun istrinya yang mengurusnya. Namun sejak pesantrennya berdiri dua lantai, aku tidak pernah melihat warungnya.

Istri Pak Sodrun sekarang sibuk mengurusi pengajian untuk ibu-ibu di desa kami. Alih-alih kelihatan berdiri di pinggir jalan menunggu andong lewat demi pergi ke pasar untuk keperluan warungnya seperti sebelum pesantrennya berdiri, istri Pak Sodrun sibuk ke sana kemari, menyetrika jalan-jalan desa, mengenakan gamis dengan warna-warna terang dan selalu berganti, mengendarai sepeda motor matic barunya yang kembar dengan milik Pak Sodrun, mengisi pengajian di rumah warga yang mendapatkan giliran tempat.

Memang hampir setiap hari aku mendengar suara istri Pak Sodrun mengaji. Suaranya begitu merdu terdengar ke seluruh rumah warga. Desaku seakan terberkati, menjadi teduh dan tenteram berkat suara merdu istri Pak Sodrun.

Rumah Pak Sodrun persis di samping rumah Sasa. Keduanya sama-sama memiliki pohon jambu. Dari pohon jambu milik Sasa ini, aku bisa melihat pesantrennya yang bercat hijau. “Tidak salah jika keluarga Sasa membuka sedikit atapnya dan memilih ruang belakang untuk aktivitas sehari-hari,” komentar ibuku kala aku menceritakan jika ayah Sasa suka melihat langit. “Depan rumah Sasa terhalangi bangunan masjid. Jalan yang dulu milik kakek Sasa sekarang dibangun pesantren. Halaman rumahnya menjadi lahan parkir untuk tamu-tamu Pak Sodrun. Selain menjadi tempat parkir, halaman rumah Sasa juga menjadi tempat pembuangan sampah bagi murid-murid Pak Sodrun. Jadi tidak ada pemandangan jika harus duduk di ruang depan.”

Untuk mencuri perhatiannya aku membuat suara berisik. Menggoyang-goyangkan dahan sambil bernyanyi-nyanyi, kadang berbicara sendiri. “Aduh sialan, kenapa jauh sekali,” kataku mengangkat suara pada jambu isi yang sudah matang di ujung dahan. “Bagaimana aku harus mengambilmu?”

Maka Sasa akan memandangku. Matanya begitu bening, rambutnya hitam menuruni bahu, pipinya elok bagai bulan di langit gelap. Meski belum masuk Sekolah Dasar, kecantikannya sudah sedemikian rupa membuatku berkhayal duduk bersamanya di sebuah taman bunga, saling memandang dan berpegangan tangan.

Namun suara azan membuyarkan lamunan. Senja telah menghilang. Aku harus pulang. Tidak lupa aku membawa jambu di tangan. Biasanya aku akan sulit tidur. Ingatanku dipenuhi bayangan gadis cilik itu. Untuk membantuku memejamkan mata, aku menghirupi buah jambu itu. Bau harumnya tidak membawa Sasa hadir dalam mimpiku.

Ketika bangun, pohon jambulah yang pertama kuingat, kemudian tentang PR sekolah. Pagi yang tidak membuatku bahagia. Lebih lagi, jika aku mengingat ada hafalan mengaji, wajah Pak Sodrun hadir dalam bayanganku dengan sorot mata seperti kucing siap menerkam. Keningnya sering kali mengerut seperti sedang berpikir keras. Ciri khas Pak Sodrun yang tidak dimiliki ayah Sasa yang adalah keponakannya sendiri. Meski aku kira ayah Sasa lebih sering menggunakan pikirannya. Buktinya ia selalu duduk dengan buku dan komputer. Beda dengan Pak Sodrun yang lebih sering duduk dan berbicara di hadapan warga desa juga murid-muridnya.

Entah satu, dua, atau tiga bulan sekali, ibu Sasa yang wajahnya hampir kembar dengan anaknya, akan mendatangi rumahku, membawa mi instan dan beras dalam kantong plastik. Ternyata bukan hanya rumahku yang didatanginya. Rumah-rumah yang tidak jauh dari rumahnya akan mendapatkan jatah sama. Jika Lebaran tiba, ibu Sasa akan membawa plastik lebih besar dan mendatangi lebih banyak rumah. Namun aku jarang melihat suaminya. Sampai orang-orang membikin desas-desus jika ayah Sasa seorang pertapa. Mendatangkan beras dan mi instan dari langit. Tapi aku tidak memercayai gosip itu. Aku tahu sendiri ia di depan komputer sambil sesekali melihat langit.

Jika memikirkan ayah Sasa, aku suka merasa kasihan. Ia kelihatan kesepian. Tidak banyak teman kecuali ayahku dan orang-orang tua di desaku. Aku pikir ia laki-laki pendiam. Jarang sekali aku mendengarnya bicara. Jika keluar, ia dan Sasa duduk bersama orang-orang desa. Kadang di teras rumahku. Kadang di rumah teman sekolahku. Tangannya memegang lintingan tembakau sama seperti ayahku. Itu berarti aku bisa memandang Sasa tanpa harus memanjat pohon jambu.

Seandainya saja ia memegang jabatan seperti pamannya, aku tidak akan pernah mendapat kebahagiaan melihat Sasa bermain di teras rumahku. Untuk bisa melihatnya, mungkin aku harus lebih rajin mengaji atau setahun sekali datang ke rumahnya, membawa sekantong beras seperti yang dilakukan warga desa setiap malam Lebaran. Dan jika aku memanjat pohon jambunya, ia akan memandangku dengan mata kucingnya.

Adalah kesedihanku ketika pohon jambu milik Sasa tidak berbuah. Aku tidak punya alasan untuk memanjatnya.

Sudah cukup lama Sasa dan ayahnya tidak main di rumahku. Rasa rindu begitu menggangguku. Aku harus melakukan apa selain berdoa seperti yang diajarkan Pak Sodrun? Katanya, jika kami menginginkan sesuatu, kami harus berdoa, lebih rajin beribadah juga bersedekah. Setiap warga harus bersedekah, dengan jumlah yang sudah ditentukan, untuk pengajian tahunan itu. Jika tidak membayar sedekah, kami akan jadi bahan pembicaraan dalam ceramah-ceramahnya.

Aku menjalankan nasihatnya. Ibuku selalu membayar sedekah tahunan itu. Jika panggilan sembahyang berkumandang, aku bergegas menuju masjid. Shalat bersama murid-murid Pak Sodrun yang berasal dari segala penjuru daerah. Aku berdoa sungguh-sungguh. Meminta kepada Allah agar pohon jambu milik Sasa segera berbuah dan Sasa kembali bermain di rumahku.

Benar kata Pak Sodrun. Allah mendengar doa orang yang menjalankan ibadah juga sedekah. Sepulang dari masjid, aku mendapati Sasa dan ayahnya duduk di depan rumahku. Ayahku menemaninya. Aku senang bukan main. Aku berhambur ke arahnya. Berpura-pura menggelayuti tubuh ayahku. Ia pasti akan membentakku.

“Miko, jangan seperti anak kecil. Sana main sama Sasa,” kata ayahku sambil menepisku dengan tangan. Lintingan tembakau di tangannya hampir mengenai dan membakar kulitku.

Ayah Sasa memandangku. Senyum ramahnya kelihatan aneh di wajahnya yang kusut dan pucat. Kudapati jarinya tidak menjepit lintingan tembakau ketika mengangkat Sasa dari pangkuannya lantas menyuruhnya main bersamaku.

Kali ini Sasa pendiam, tidak seperti biasanya ketika aku mengajaknya ke dalam rumah untuk melihat buku-buku gambarku.

“Kamu kelihatan tidak bersemangat, Sasa?”

“Aku tidak makan beberapa hari ini,” jawabnya.

Sebelum mengajaknya makan, di pikiranku ada beras dan langit.

Batang, 2017

Akasa Dwipa

Akasa Dwipa

lahir di Batang, Jawa Tengah, pada akhir Agustus 1983. Menulis sejumlah cerita pendek dan novel. Novel pertamanya yang berjudul Kota Anjing menjadi pemenang ketiga Lomba Novel yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) pada 2011. Novel kedua Rima-Rima Tiga Jiwa diterbitkan oleh LiterasiPress pada 2016. Sejumlah cerpennya diterbitkan di beberapa media sastra cetak, media online, dan koran.
Akasa Dwipa

Latest posts by Akasa Dwipa (see all)