Berebut Gunungan, Berebut Jogja

in Esai by

“Kami datang tadi malam, sekitar pukul sembilan, Mas, lalu menginap di sini,” jawab Selly, di serambi Masjid Gedhe, Jogjakarta, saat saya bertanya sejak kapan ia dan keluarganya sampai di Jogja. “Tadi, Ibu dan orang-orang pada rebutan. Lumayan, meski akhirnya hanya dapat ini,” tambahnya, sambil tertawa kecil seraya menunjuk seruas bambu kira-kira berukuran satu meter dan tali rafia yang tampak kusut.

Ruas bambu dan tali rafia yang ditunjukkannya merupakan pengikat buah, sayuran, juga penganan pada gunungan Garebeg Mulud Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang digelar pada Jum’at Kliwon, 12 Mulud Tahun Dal 1951, atau bertepatan dengan tanggal 1 Desember 2017. Selly rela datang jauh-jauh dari Kroya, Cilacap, dalam satu rombongan mobil bersama keluarganya ke Jogja demi mengikuti ritual Garebeg Mulud pada perayaan Sekaten, yang diselenggarakan setiap tahun oleh Keraton Jogja.

Sekaten merupakan tradisi umat Islam di Jawa, khususnya Jogjakarta dan Surakarta, dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang turun-temurun digelar sejak zaman Kerajaan Demak. Di Keraton Jogja, ritual yang menjadi hajad dalem ini diawali dengan Miyos Gangsa, yaitu sebuah prosesi ketika gamelan sekati dikeluarkan dari keraton menuju Pagongan Masjid Gedhe. Gamelan sekati ditabuh setahun sekali selama satu minggu berturut-turut sejak tanggal 6 sampai 12 Mulud (tahun ini bertepatan dengan tanggal 24 November-1 Desember 2017), atau hingga malam hari sebelum pelaksanaan Garebeg Mulud berlangsung.

Setelah gamelan sekati ditabuh, selanjutnya digelar upacara Numplak Wajik, Mbusanani Pusaka, Bethak, Kundur Gangsa, Pesowanan Garebeg, lalu diakhiri dengan Bedhol Songsong di Bangsal Pagelaran Keraton pada malam hari setelah pelaksanaan garebeg. Numplak Wajik menandai mulai disusunnya gunungan-gunungan yang akan dibagikan pada puncak acara Garebeg Mulud.

Ada yang istimewa pada ritual Garebeg Mulud tahun ini. Dalam kalender Jawa, tahun 1951 dihitung sebagai Tahun Dal, yakni tahun yang jatuh setiap delapan tahun sekali. Oleh karena itu, jenis gunungan Garebeg Mulud pada tahun ini berbeda dengan tahun yang lain. Pada tahun ini, ditambah sebuah gunungan yang disebut Gunungan Bromo.

Tepat pukul 10.00 WIB, Jum’at, 1 Desember 2017, Gunungan Bromo diarak oleh barisan-barisan berigada prajurit keraton melalui Alun-Alun Utara bersama lima macam gunungan lain: Gunungan Lanang, Gunungan Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Darat, dan Gunungan Pawuhan. Gunungan Lanang ada tiga: satu diarak ke Masjid Gedhe, satunya ke Puro Pakualaman, dan satunya lagi ke Kepatihan di Jalan Malioboro. Gunungan yang terus mengepulkan asap dari bagian dalamnya merupakan Gunungan Bromo. Hanya saja, setelah didoakan di Masjid Gedhe, gunungan khas yang hanya ada pada Tahun Dal tersebut tidak ikut dibagikan sebagaimana gunungan-gunungan lain, tapi diarak kembali oleh berigada ke dalam keraton.

Seusai didoakan oleh kiai dan para abdi dalem keraton, gunungan-gunungan selain Gunungan Bromo kemudian dibagikan kepada rakyat. Sejak doa dilafalkan, ribuan orang yang telah menunggu sejak pagi bahkan sejak malam hari di masjid bersejarah itu pun sudah siaga. Ketika abdi dalem memberi tanda bahwa doa telah selesai, tanpa harus dikomando terlebih dahulu, ribuan orang maju berdesakan berebut gunungan.

Orang-orang yang berebut gunungan tak hanya berasal dari dalam Kota Jogja sendiri maupun kabupaten-kabupaten di kawasan Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta seperti Bantul, Sleman, Kulon Progo, dan Gunung Kidul, tapi juga dari daerah lain seperti Purworejo, Kebumen, Cilacap, Magelang, Temanggung, Surabaya, Jakarta, bahkan dari luar Jawa dan mancanegara. Mereka, orang-orang yang berebut gunungan itu, meyakini bahwa gunungan Garebeg Mulud penuh keberkahan. Tak heran, bukan hanya isi gunungan yang berupa buah, sayuran, juga panganan saja yang mereka perebutkan, bagian lain dari gunungan seperti ruas-ruas bambu yang menjadi penyangga dan tali rafia yang menjadi pengikat gunungan pun tak luput dari serbuan, dan menjadi bahan rebutan.

Saya dan istri, yang juga ikut menunggu ritual ini sejak pukul delapan pagi pada hari itu, dapat melihat secara langsung bagaimana orang-orang memungut remah-remah gunungan yang berserakan di halaman Masjid Gedhe. Bahkan, tak sedikit pula dari mereka yang hampir saja bertengkar demi memperebutkan sisa-sisa gunungan, meski hanya berupa ruas-ruas bambu yang menjadi penyangga juga tali rafia yang menjadi pengikat gunungan.

Selly dan keluarganya hanya satu dari sekian ribu orang yang mencoba peruntungan untuk meraih berkah dalam tradisi tahunan Keraton Jogja ini. “Bambu ini biasanya dipakai untuk berdagang, sedangkan tali biasanya buat pengikat,” pungkas gadis berusia delapan belas tahun itu. Saat menyebut kata “pengikat”, Selly tersenyum. Dugaan saya, yang dimaksudnya sebagai pengikat adalah pengasihan. Mendengar itu, saya larut dalam nuansa mistis, sekaligus suasana romantis!

Namun, kekhusyukan sekaligus keasyikan saya saat menyaksikan ritual ini buyar seketika. Kekhusyukan menjelma kengerian. Keasyikan menjelma kecemasan. Bagaimana tidak, saat menyaksikan ribuan orang berdesakan dengan susah payah tapi tetap heroik memperebutkan gunungan, tiba-tiba saya teringat pada kondisi Jogja saat ini. Kota—sekaligus provinsi bergelar daerah istimewa—ini, kini telah disesaki oleh mal, hotel, juga perumahan-perumahan elite. Sawah-sawah yang terdapat di dalam dan di pinggiran kota, yang dahulu menambah dimensi eksotis kota yang penuh cagar budaya ini, perlahan-lahan tidak lagi ditanami padi, tapi ditanami beton. Tidak hanya di dalam kota Jogja, pembangunan gila-gilaan ini bahkan telah merangsek ke kabupaten-kabupaten di sekitarnya: Sleman dan Bantul.

Saat itu pula, melintas bayangan wajah pilu ratusan warga di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, yang hari-hari ini menjerit dan bahkan tak memiliki air mata lagi karena rumah-rumah dan lahan-lahan pertaniannya dirampas demi pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta Baru (New Yogyakarta International Airport). Eksekusi terhadap rumah dan lahan pertanian yang dimiliki warga Temon, Kulon Progo, bahkan bersamaan dengan pelaksanaan ritual Garebeg Mulud pada perayaan Sekaten yang digelar keraton. Sebuah ironi sekaligus paradoks yang benar-benar tak mampu dipahami oleh manusia yang masih berjiwa sehat. Orang-orang miskin dilemahkan, dirampas hak-miliknya, justru pada saat hari kelahiran Nabi yang begitu cinta pada orang-orang miskin itu dirayakan.

Kini, Jogja benar-benar menjelma belantara beton mal, hotel, dan perumahan-perumahan elite yang jumlahnya tak terbilang. Saat gunungan-gunungan Garebeg Mulud itu diperebutkan secara beringas oleh ribuan orang yang mengharap berkah, gunungan-gunungan itu justru saya bayangkan sebagai Jogja yang diperebutkan secara beringas oleh para pemodal, oleh para kapitalis, oleh para investor yang (ingin) menancapkan kaki-kaki raksasa kapitalismenya di kota yang dahulu berhati nyaman, tapi kini berhenti nyaman ini.

Oh, betapa alangkahnya!

Ahmadul Faqih Mahfudz

Pemandang budaya, tinggal di Yogyakarta.

Latest posts by Ahmadul Faqih Mahfudz (see all)