Beristighfar Bersama Filmografi Azzam Fi Rullah

in Hibernasi by

Setelah satu tahun belakangan mendengar namanya di kancah perfilman alternatif Jakarta, sebuah pencapaian untuk saya akhirnya dapat menonton karya-karya Azzam Fi Rullah—sampah-sampah yang agung. Filmografi Azzam Fi Rullah diputar di pembukaan Sewon Screening #4, total ada empat film yang diputar ditambah satu pemutaran khusus, premiere film terbaru debut duo sutradara film B terkini, Amer Bersaudara.

Sewon Screening dibuka oleh Dekan Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia dengan cara yang sangat antimainstream: menyalakan kipas angin berpita dengan sabda “Dengan Bismillahirahmanirahim, saya embuskan angin segar~”. Hal ini sukses membuat twit saya mengenai momen tersebut viral hingga lebih dari 2000 retweet dan di-notice Dennis Adhiswara. Bukan tanpa alasan, Sewon Screening kali ini bertema “Angin Segar” yang menampilkan film-film pendek bertema ide-ide tidak biasa anak muda yang diabadikan dalam film. Salah satu batu pijakannya tentu film-film karya Azzam Fi Rullah.

Ada kesegaran yang berbeda di tiap film karya Azzam—walau memiliki warna konten-konten “mudah dicerna” bagi kalangan sosial ekonomi bawah yang senada. Film pertama yang diputar adalah Pendakian Birahi, yang sangat multitafsir judulnya bagi saya. Saya sempat mengira ini tentang acara mesum di saat pendakian gunung. Ternyata menceritakan tentang perempuan muda yang terpaksa menjual diri malah menjadi korban kebrutalan kliennya saat nafsu sedang mendaki. Film ini diungkapkan oleh Azzam menang di beberapa festival luar negeri. Namun menurut saya, sesampah-sampahnya Pendakian Birahi ada pesan tersembunyi tentang pemberdayaan perempuan, bagaimana banyak pengorbanan yang mesti dilakukan perempuan yang sudah kepepet tapi semakin dipepet perempuan juga makhluk yang berbahaya dan tak tanggung-tanggung memperjuangkan hidupnya. Jika mulai mengerti jalan pikir dan tahan dengan gaya yang dibuat Azzam di Pendakian Birahi, kita pasti akan maklum dengan kehancuran film-film buatannya yang lain. Dengan kata lain, Pendakian Birahi menjadi pengantar yang sangat baik untuk berkenalan dengan Azzam—ya tak kenal maka tak sayang.

Pemutaran dilanjutkan dengan film yang menggemparkan jagat film independen Indonesia—yang membuat kita makin sayang sama Azzam dan mendoakan dia agar tidak insaf membuat film seperti ini. Pocong Hiu Unleashed memberi kontribusi atas segala cult hiu-hiu yang sempat ngetren di film-B Hollywood, seperti Sharknado dan sepupu-sepupunya yang lain. Tentu Pocong Hiu Unleashed adalah bentuk kearifan lokal horor hiu yang nyata, mungkin teror si Pocong Hiu hampir setara dengan ketegangan a la Jaws. Bagaimana tidak, dari asal-usulnya yang tidak jelas, kemunculannya sukses memberikan teror berdarah di rumah teman, disebabkan dari sebuah ritual yang UDAH TAHU JANGAN DIPANGGIL TETEP DIPANGGIL HEUUHHH (maaf, penulis emosi). Pocong Hiu Unleashed mungkin sudah menapaki awal sebagai kanon film pendek B yang bisa jadi acuan bagi seluruh sutradara muda yang tertarik untuk memundurkan kancah film Indonesia.

Film pendek Azzam yang paling saya penasaran diputar setelahnya: Goyang Kubur Mandi Darah. Film yang bahkan lagu temanya sudah membuat gangguan walau hanya menonton trailer-nya saja. Sekelompok perempuan muda—sepertinya satu kos—melakukan perayaan goyang kubur untuk mengantar arwah teman yang terbunuh, sampai kemudian, pembunuh teman mereka tersebut bertandang ke kosan untuk menyikat habis nyawa mereka. Dari diskusi yang dilakukan setelah pemutaran, saya kemudian tahu mengapa saya paling mengantisipasi film ini—karena Goyang Kubur Mandi Darah terinspirasi dari film televisi tengah malam horor seksi di kanal Lativi. Ya, saya sendiri dulu waktu SD sering mencuri-curi waktu ketika orang tua saya tidur untuk menonton film televisi sejenis. Jika diingat-ingat lagi memang musik dan suasananya benar-benar mendepiksi film Lativi tengah malam, lengkap dengan perempuan seksi yang diteror layaknya Azhari Bersaudara dan Kiki Fatmala.

Azabku Azabmu menjadi penutup empat film Azzam dalam pemutaran pembuka Sewon Screening. Azzam hendak merespons tren film drama televisi religius yang biasa diputar siang hari. Lengkap dengan premis klise anak durhaka yang mata duitan, ibu yang tidak mampu bekerja tapi rajin shalat walau di waktu yang tidak wajib, hingga kemunculan ustadz yang nggak penting-penting banget tapi mesti ada demi menyelamatkan wanita pendosa. Film ini dengan ajaib mampu membuat saya cukup jera dalam memperlakukan orang semena-mena, karena kita tidak tahu kapan dan bagaimana azab akan datang menghampiri.

Hanya empat film? Oh tidak, ada persembahan khusus dari koalisi sutradara Amer Bersaudara (Azzam dan Deka) yaitu premiere film terbaru mereka yang belum pernah ditayangkan: Kuntilanak Pecah Ketuban. Digadang sebagai karya paling arthouse produksi Kolong Sinema, Kuntilanak Pecah Ketuban menawarkan drama bertema antardimensi dan skoring musik indie senja. Saya rasanya sedang menonton Black Swan dan Lovely Bones gitu. Walau judulnya masih bernuansa clickbait film B, saya rasa ini menjadi film garapan Azzam yang paling “keminter”. Berlatar di tiga alam sekaligus, balas dendam yang sangat memikirkan strategi, hingga penggambaran neraka ditambah musik penuh makna mencerdaskan. Mungkin, Amer Bersaudara sedang bereksperimentasi membuat film kelas B yang lebih artsy-artsy gimana gitu? Hanya mereka yang bisa menjawab.

Lebih dari itu, lima film yang dibesut Azzam Fi Rullah punya signature yang akan susah ditandingi oleh sutradara film pendek lain: selipan plot twist yang sama sekali tidak terduga, mengagetkan, tapi memang melengkapi garis cerita yang utuh. Kebanyakan film amatir yang mau memberi plot twist kadang sangat cringey dan terkesan dipaksakan agar filmnya unik. Putaran plot yang ada di dalam film-film Azzam terasa sangat effortless dan malah membuat cerita dalam film menarik. Indikasinya, penulisan skenario digarap dengan rapi dan matang, sebelum dieksekusi ke produksi. Sesuai dengan yang pernah diungkapkan beberapa kritikus di Twitter mengenai film-film Azzam, gaya boleh kelas B tapi dibuatnya dengan hati. Bukan tidak mungkin, akibat karya Azzam Fi Rullah, aliran Nayatoisme di kalangan sineas Indonesia akan benar berkembang tanpa bercanda. Sungguh kontribusi yang nyata pada pembodohan masyarakat dan kemunduran jagat film Indonesia. Astaghfirullah.

Gladhys Elliona

Gladhys Elliona

Penulis lepas dan penampil paruh waktu di Jakarta. Anggota Teater Koma dan pernah dinominasikan sebagai Pemeran Pembantu Wanita dalam Film Pendek terbaik di ajang Madrid International Film Festival 2017.
Gladhys Elliona