Berjumpa Ilahi dalam Kemesraan Hakiki

in Rehal by

Judul               : Tarian Mabuk Allah

Penulis             : Kuswaidi Syafi’ie

Cetakan           : 1, Desember 2016

Penerbit           : DIVA Press, Yogyakarta

Tebal               : 136 Halaman

ISBN               : 978-602-391-311-4

Dalam kitab Manthiq at-Thair (Musyawarah Burung), Syekh Fariduddin Attar menulis bahwa ketika Sokrates hampir meninggal, salah seorang muridnya berkata kepadanya, “Guru, setelah Guru kami mandikan dan kami selubungi kain kafan, di manakah Guru ingin kami kuburkan?” Sokrates menjawab, “Jika kau temukan diriku, muridku tercinta, kuburkan di mana kau suka! Mengingat bahwa dalam hidupku selama ini aku tak menemukan diriku sendiri, bagaimana kau akan menemukan diriku waktu aku mati? Aku telah hidup dengan laku sedemikian rupa sehingga pada saat ini aku hanya tahu bahwa sejumput pengetahuan tentang diriku tidaklah jelas.”

Menemukan “diri” berarti mengenal yang sejati. Pada setiap diri manusia terdapat lautan pengetahuan yang menghubungkan antara yang fana dengan yang abadi; antara keterbatasan dengan ketakterhinggaan. “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka sungguh dia telah mengenal Tuhannya,” demikian Nabi Muhammad Saw. menjelaskan dalam salah satu hadits Qudsi.

Buku antologi puisi Tarian Mabuk Allah yang ditulis Kuswaidi Syafi’ie ini mendedahkan tentang menyatunya “diri” yang fana dengan “diri” yang abadi, yang digambarkan dengan sangat romantis, estetis, dan bahkan erotis. Allah sebagai Maha Kekasih, yang menjadi objek sekaligus subjek bagi tergelarnya sebuah percintaan sejati, hanya mungkin bisa digapai ketika manusia sanggup menemukan “hakikat diri dalam diri-Nya” yang sejati. /Demi ketakzimanku kepadaMu/ Aku hanya ingin mengaji kitabku sendiri/ sebatas kemampuan yang Kau pancarkan/ Meski pada akhirnya/ Tak mungkin juga bisa kukhatamkan/ Karena pada mulanya/ Aku janin qadim dalam rahimMu. (hlm. 27).

Menjadi seorang salik (pejalan di rimba keilahian) berarti mencoba memasuki sebuah dunia yang begitu sunyi, di mana Sang Kekasih hanyalah satu-satunya sekaligus segala-galanya. Bahasa dan metafor apa pun tentang-Nya tak akan pernah sanggup melukiskan getar-getar cinta yang sebenarnya.

Dengan demikian, ketika manusia semakin intens memahami dirinya, menziarahi kesunyian batinnya, maka semakin utuhlah ia memahami Tuhan Sang Kekasih pujaan hati. Sebab pada setiap diri manusia terdapat berlembar-lembar buku yang tak akan pernah habis dibaca. Itulah buku bernama “diri”. Setiap kali kita baca, terbentanglah berjuta-juta pengetahuan, terhamparlah permadani kebahagiaan yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan.

***

Membaca buku Tarian Mabuk Allah ini seperti memasuki lorong-lorong panjang pengembaraan. Sebuah medan yang mengasyikkan sekaligus mengerikan. Ketika manusia dicekam oleh sejumlah kebingungan yang diciptakannya sendiri, yaitu ketidaksanggupannya memahami “kampung asal-usul” dan “tujuan hidup”-nya di dunia yang sementara ini, buku ini seperti membangunkan kembali gairah kita dalam menyongsong fase-fase kehidupan yang akan dilalui: //Wahai Engkau segala pujianku!/ Loloskan aku dalam pertarungan nanti/ menghadapi musuh yang kuciptakan sendiri. (hlm. 55).

Karena hidup di dunia sesungguhnya adalah fase yang teramat singkat, maka memaknainya dengan membaca buku bernama “diri” akan mengantarkan manusia pada keluasan cakrawala Ilahi. Ketika manusia sanggup memasuki cakrawala tak bertepi itu, maka yang tampak di hadapannya tak lain adalah keindahan Sang Kekasih: tak ada hidangan apa pun baik dunia maupun di akhirat yang lebih menggairahkan dibanding nikmatnya bersanding dengan Allah.

Seluruh teori dan konsep yang dibangun oleh rasionalitas tentu saja akan meraba-raba di mana gerangan Sang Kekasih yang merupakan sumber segala kebahagiaan itu. Manusia-manusia modern yang menghamba pada rasionalitas tidak akan sampai pada nikmatnya bercumbu rayu dengan Allah Sang Kekasih.

Dalam kehidupan ini, sering kali kita saksikan bagaimana manusia menggantungkan harapnya pada angan dan rasio. Padahal semua itu tak lebih dari kalkulasi semu yang justru membuat kita semakin terasing, terlempar dalam kepengapan dan kegelapan: Kekasih Duhai Kekasih/ Dalam pengembaraan yang panjang ini/ Kadang aku terlalu yakin/ Pada perhitungan dan kalkulasi semu/ Dengan berkiblat pada Deacartes dan Comte//. (hlm. 77).

Kalkulasi-kalkulasi rasionalitas yang begitu kuat menghimpit manusia tentu saja pada gilirannya akan menjauhkan manusia dari kesejatian hidupnya, dari kesunyian batinnya. Keterasingan manusia dengan dirinya sendiri, dengan apa yang berjejal-jejal antara yang silam dan yang akan datang, menunjukkan tentang gagalnya ia memaknai diri, menemukan yang sejati.

Pada titik inilah manusia-manusia yang hanya mengandalkan rasionalitas akan dicekam oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa dijawabnya sendiri; kebingungan oleh jutaan konsep yang dirumuskannya sendiri. Sehingga Allah yang dekat dirasa jauh; Allah yang begitu derma dalam menopang hidup kita seolah berada di negeri entah berantah.

***

Buku Tarian Mabuk Allah ini merupakan puisi sufistik yang terdiri dari tiga bagian (sub judul): Dermaga, Samudera, dan Pulau Impian. Dengan idiom dan metafor khas ala kaum sufi, buku ini seolah memproklamasikan getar-getar cinta yang sedemikian tulus dan sublim.

Ketika seorang pencinta telah dipersilakan memasuki istana-Nya, maka di kesunyian jiwanya Ada getar rindu yang tak mungkin berakhir/ Ada mekar senyum yang tak mungkin beku/ Ada gerlap cahaya yang tak mungkin redup/ Ada taman kenanga yang tak mungkin sirna/ Ada hutan cemara yang tak mungkin ranggas/ Ada danau kelezatan yang tak mungkin susut. (hlm. 104).

Ketika cinta yang dihaturkan manusia disambut oleh cinta-Nya, maka seorang pencinta dengan tandas akan mengatakan sebagaimana Al-Hallaj pernah mengatakan: “Aku menjadi Dia yang aku cinta, Dia yang mencintaiku menjadi Aku, Kami dua ruh yang melebur dalam satu jasad! Penglihatanku adalah penglihatan-Nya, penglihatan-Nya adalah penglihatan Kami”. (Diwan al-Hallaj, 2001:125).

Menyusuri bait-bait puisi yang dihidangkan dalam buku ini, pembaca tidak saja akan menemukan ungkapan-ungkapan cinta yang memabukkan. Namun lebih dari itu, pembaca juga diajak menikmati taman-taman cinta ilahiah, diajak berteduh di kebun-kebun keagungan-Nya yang memesona dan bahkan diajak pula untuk merasakan hangatnya bercinta dengan Sang Kekasih di ranjang keabadian.

Aduhai, betapa nikmatnya!

A. Yusrianto Elga

A. Yusrianto Elga

Tinggal di kedai-kedai kopi di Jogjakarta. Twitter @yusrielga
A. Yusrianto Elga

Latest posts by A. Yusrianto Elga (see all)