Berkunjung ke Rumah Freud

in Esai by
slate.com

Angin berembus-embus kencang menyapu dedaunan di sekitaran halte pemberhentian terakhir. Suasana kompleks deretan perumahan yang begitu kontras dengan kawasan pusat kota London, mengantarkanku pada ingatan tentang setting film “Home Alone” yang selalu diputar di segala perayaan hari libur nasional.

Sederetan anak kecil yang berbaris tiga-tiga dengan seragam warna biru tua dan topi pita membangunkan lamunanku, mereka berkelok di pertigaan, tampaknya menuju sebuah gedung sekolah yang menjadi satu kompleks dengan sebuah bangunan gereja. Aku kemudian bergegas menyeberang, mengingat waktu yang terus melaju menghimpit segala sesuatu.

Langkahku kemudian bergegas menerabas jalanan kompleks yang begitu lengang. Hanya terparkir beberapa mobil di antara serak-serak ranting dan timbunan helai daun maple kecokelatan. Sembari mencari-cari sebuah alamat, aku menelusuri satu per satu rumah yang bentuknya mirip satu sama lain. Hingga sampailah aku di depan sebuah alamat tentang kediaman seseorang yang selama ini hanya berada di tapal batas angan-angan.

Tak sabar aku terburu riang melewati pekarangan dan memasuki pintu utama, seorang pria muda tampan menyambut dengan senyum ramah, mempersilakan untuk membeli tiket di bagian penjualan merchandise. Kuhirup dalam-dalam aroma wewangian ruangan yang identik dengan teh chamomile, berbaur dengan instrumen musik meditatif Timur Tengah, seolah menandakan batas suasana dua alam yang tak pernah saling jumpa.

Sepasang pengunjung yang berusia senja melemparkan sebuah senyum padaku, tepat di bawah redup cahaya lampu etnik yang barangkali berusia puluhan tahun. Teramati sebuah ruang kerja tertata begitu rapi yang tersegel oleh tali merah sebagai batas pengunjung dan display museum. Tetapi ada sebuah kursi kerja yang letaknya seperti tidak simetris dengan meja tempat segala berkas berserak, seolah seseorang baru saja menduduki kursi tersebut.

Segala bisik-bisik dan telisik langkah pengunjung mendadak menghilang. Ternyata benar, seorang paruh baya berjas abu-abu sedang serius membaca buku sembari duduk di kursi kerja. Perasaan tercengang datang tatkala sepasang mata sayu mempersilakanku untuk duduk di sofa sebelahnya.

Aku pun terdiam mematung, kikuk dan tidak tahu harus mengutarakan apa.

“Sudahlah, jangan terlalu insecure begitu. Ternyata memang benar kamu mengidap Obsessive-Compulsive Disorder. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk memendam perasaan suka sendirian.”

“Bagaimana dia tahu kalau aku punya luka yang terukir sedemikian lama?” gumamku di dalam hati, semakin mengundang tanya tentang kehadiran pak tua ini.

“Shakespeare selalu memukau! Aku jadi teringat pekerjaan di awal karierku yang begitu berat, aku harus membuktikan pada para ilmuwan bahwa segala usahaku adalah sesuatu yang ilmiah. Hemm, mengenang Project for a Scientific Psychology.”

“Ah ya, maaf, Pak, tapi mata Anda begitu pengertian, tampaknya Anda adalah orang yang sangat mengunggulkan subjektivitas,” timpalku asal.

“Semoga. Kau tahu, justru itulah aku sangat bertekad untuk menyelesaikan Studies of Hysteria,” sahutnya sambil menggigit ujung cerutu, kemudian berusaha dikebul-kebulkannya asap itu.

“Anda membuat sebuah masterpiece yang berjudul The Interpretation of Dreams,” sahutku sedikit keras.

“Kamu teman ngobrol yang baik. Duduklah.” Ia mempersilakan aku duduk di sebuah sofa panjangnya yang berbalut kain motif peradaban Babilonia. “Ada apa di balik keringkihanmu?”

Aku bingung dengan pertanyaan barusan.

“Maafkan caraku yang penuh judgement dan terdengar sangat tidak terapeutik.” Ia mengembuskan asap panjang dari cerutunya, disusul dengan batuk kecil.

“Haha, saya tahu, Anda pasti hanya bercanda.” Aku sedikit menyeringai. “Jika ada suatu masa yang begitu membuncah, ia adalah ketika pertemuan dengan cinta pertama….”

“Ah, sudah kuduga! Kamu sangat lugu, Nak.”

“Saya butuh waktu tiga tahun untuk memberi tahu pada diri saya sendiri bahwa saya sedang jatuh cinta….”

“Tidak! Itu begitu naif, My dear.”

“Dan saya butuh waktu empat tahun berikutnya untuk berusaha mengungkapkannya, bahkan hingga empat tahun berselang saya masih tidak mampu menyampaikannya. Hingga dia telah berubah menjadi pribadi yang lain.”

“Maaf, aku sedang tak ingin melakukan the talking cure, karena aku tahu bahwa kamu bisa mempelajari sendiri.”

“Ya, tak masalah. Mungkin saya yang lagi butuh teman curhat.”

“Tetapi psikoanalisis adalah tempatmu mengalami kegelapan masa itu. Kamu tahu ada jalan yang terang setelah bergelut dengan temuan-temuan yang kuperoleh dari berbagai macam pasienku, Anna O atau si manusia serigala Sergei Pankejeff….”

“Tak mengherankan Anda menggilai dunia arkeologi.”

“Kamu membacaku begitu dalam, Nak. Berada pada suatu ekskavasi bagaikan membuka penghalang demi penghalang untuk menemukan yang terdalam, tempat harta karun tersimpan.”

“Itu sebabnya saya juga tertarik psikoanalisis yang menawarkan petualangan menantang!” Aku menyahut dengan bersemangat.

“Tapi kau gadis, dan sepantasnya mendapatkan lelaki yang mampu mengertimu. Berpetualang pada banyak hati adalah bentuk pertahananmu pada suatu ketidakpastian. Aku tidak dapat menginstruksikanmu untuk berhenti melakukan defense mechanism. Kamu yang harus bangkit dari proyeksi anak muda di masa lalumu itu!”

“Sungguh, mungkin saya mengganggu waktumu dengan cerita saya yang tidak penting ini. Tolong jangan diteruskan, ini mungkin akan memengaruhi sejarah aliran psikoanalisis di masa depan.”

“Jangan risaukan konsensus para ilmuwan kurang kerjaan itu, kamu adalah tamuku dari jauh,” katanya sembari mengelus jenggot putihnya, lalu bangkit menuju rak buku di ujung ruangan. “Tapi cinta selalu membawa manusia pada dimensi pengertian yang berbeda. Kadang ia memproyeksikan ketakutan, kadang ia adalah bentuk gairah yang tidak disadari.”

“Satu hal: mungkin aku mencintainya seperti sekaligus ingin menjadi dirinya.”

“Itu yang disebut Ego Ideal. Ego Ideal adalah gambaran seseorang untuk menjadi seperti yang ia idolakan. Lebih lanjut soal cinta belajarlah pada seorang kolega yang bersekolah di Yale, Stenberg.” Hening sejenak. “Anak muda, kau tahu cinta bukan cuma soal nikmatnya berhubungan seksual, sebagaimana seksual juga tidak melulu soal cinta. Itu sebabnya manusia selalu menjadi misteri. Aku bersumpah bahkan sampai dunia ini kiamat.”

“Saya tahu, Pak.”

“Kamu belum tahu semuanya, Darling. Mungkin luka yang kamu ciptakan sendiri itu adalah caramu untuk beradaptasi dan jika obsesimu terhadap psikoanalisis tidak membuatmu mengerti tentang diri sendiri, buat apa? Aku merasa berdosa.”

“Anda tak perlu bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada diri saya, Sir.”

“Banyak orang mengira bahwa aku mengidap Oedipus Complex,” katanya sambil berjalan menghampiriku. “Tentu kita menghadapi realitas dunia kita masing-masing, Nak. Dan hidupmu masih panjang, kamu berhak atas kehidupan yang lebih baik.”

“Terima kasih, Pak, Anda membesarkan hati saya.” Aku membalas mata sayunya dengan sebuah senyuman. “Apakah saya dapat menjadi seorang psikoanalis?”

“Anakku, kamu adalah seorang penulis.” Matanya berbinar. “Penulis yang berselera pada keruwetan psikoanalisis, tentunya.”

Kemudian kami bersambut tawa yang naik ke atap udara.

“Tulislah percakapan ini dan kau akan tahu bagaimana memaknai perasaanmu sendiri. Aku percaya padamu,” ungkapnya singkat.

Tak lama berselang, telepon di pojok ruangan berdering. Aku melewati berbagai artefak kuno untuk meraih gagang telepon.

Suara Anna Freud bergema seperti dari ujung yang jauh. Sontak seorang wanita berkulit hitam dengan tas Prada mencetuskan penerawanganku.

Excuse me, bolehkah kita gantian? Saya membutuhkan rekaman suara Anna untuk tugas esai yang akan dikumpulkan pukul dua siang,” katanya sopan, meminta gagang telepon yang kupegang.

Sure.” Aku memberikan padanya. “I am sorry.”

No, I am sorry. Thank you very much.

Mutia Husna Avezahra

Mutia Husna Avezahra

Sekolah di Belanda, makan di Italia, mandi di Rusia, terlunta-lunta di Barcelona, menari di Irlandia, tapi hati tetap Indonesia Raya!
Mutia Husna Avezahra

Latest posts by Mutia Husna Avezahra (see all)