Bidadari Keroko Puken

in Cerita Pendek by
cerpen bidadari keroko puken
Sumber gambar pinterest.com

Belum sempat berkata apa-apa, Ibu langsung menghambur ke arahku. Dengan sigap, ia memeluk tubuhku. Kemudian menangislah ia sambil menggerutu. Melafalkan kalimat-kalimat aneh yang hingga saat ini belum juga kupahami apa artinya. Dan dari bahu kirinya, kusaksikan beratus-ratus orang berjajar. Masing-masing dari mereka membawa obor, parang, dan pentungan kayu.

“Sudah dua hari kamu hilang,” ujar Ibu, terisak sambil menatapku dalam. Karena aku belum memberi reaksi apa-apa, ia lalu melanjutkan, “Kata molang[1] kampung, dirimu diculik oleh para penunggu hutan.”

“Tapi, syukurlah kamu telah ditemukan,” ujar Ibu sekali lagi. Kali ini, ia berujar seolah-olah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.

Menurut kesaksian para tetangga, setelah kematian Ayah, Ibu selalu merasa khawatir. Mulai dari hujan yang tidak kunjung turun hingga ladang jagung akan kekurangan air sampai kisruh politik di Senayan. Semuanya ia hadapi dengan rasa cemas yang luar biasa. Pernah suatu kali, sepulang dari sekolah. Karena hujan tumpah dengan begitu derasnya, kusempatkan diri berteduh di salah satu gubuk. Lamat-lamat dari kejauhan, mataku menangkap seseorang berlari kecil ke arahku. Tanpa mengenakan penutup kepala, Ibu kelihatan begitu basah kuyup. Sementara itu pada tangannya tergenggam sebuah payung untukku. Terlihat jelas guratan rasa cemas terpancar dari kedua matanya. Demikianlah perempuan, dilahirkan untuk mencemaskan segala sesuatu, pikirku.

Malam itu, setelah berita tentang ditemukannya diriku tersebar, aku dan Ibu tidak bisa tidur. Beralaskan sebuah tikar, Ibu duduk sambil menjulurkan sepasang kakinya ke depan. Kedua tangannya sibuk mengusap rambut pada kepalaku yang sejak tadi terpekur dalam pangkuannya.

Ama[2] itu ayah sekaligus suami yang baik.”

Ibu lalu berbicara entah kepadaku atau kepada siapa aku tak tahu. Perlahan aku bangkit dan duduk bersisian dengannya. Mataku mencari-cari kalau tidak ada siapa-siapa di ruangan ini selain kami berdua. Dan memang benar. Tidak ada orang lain. Hanya aku dan Ibu.

“Sayangnya, ia terlalu cepat dipanggil oleh nenek moyang,” lanjut Ibu sambil menatapku dalam-dalam. Mendadak kepedihan paling luar biasa tercurah dari kedua bola matanya. Bukan. Bukan kesedihan. Tetapi rasa cemburu.

“Ibu masih ingat. Sesaat sebelum ayahmu berangkat kerja. Katanya, ia akan memperluas lahan di ladang kita. Ia berpesan agar Ibu menyusul membawakan santap siang untuknya. Memang, hari itu Ibu memasak merungge[3] dan ikan panggang kesukaannya. Ayahmu tidak menyukai masakan berbumbu apalagi penyedap rasa instan. Apa pun menu makanannya, asalkan makan berdua dengan Ibu, kata Ayah, itu sudah lebih dari cukup. Sesudah menyiapkan segala sesuatu, berangkatlah Ibu menyusul ayahmu ke ladang. Walaupun sudah dinasihati oleh para tetangga agar tetap diam di rumah, karena waktu itu janin dalam perut Ibu telah berusia cukup tua, toh Ibu bersikeras untuk berangkat. Ayahmu pasti kelaparan dan kehausan di tengah hutan. Apalagi jarak antara ladang dan kampung cukup jauh. Tidak mungkin dalam kondisi demikian, Ayah kembali ke rumah hanya untuk santap siang dan selanjutnya kembali lagi ke ladang.”

Ibu terdiam sejenak. Lalu ia melanjutkan ceritanya, “Sesampai di pinggir ladang, suasana begitu sepi. Beberapa lahan baru saja dibuka. Sisa potongan kayu dan rumput berserakan di mana-mana. Namun betapa kagetnya Ibu ketika mengetahui bahwa pohon yang terletak di tengah-tengah kebun kini telah tumbang. Kata molang kampung, pohon itu sumber kebaikan sekaligus kejahatan. Siapa saja yang memakan salah satu buah dari pohon tersebut akan dikutuk oleh arwah para leluhur. Apalagi memotong dan merobohkannya. Sebuah malapetaka akan menghampiri keluarga dan keturunannya.

Dengan bantuan angin yang berembus dari arah perbukitan, lamat-lamat telinga Ibu menangkap bunyi aneh. Gubuk di pinggir ladang, entah bagaimana mendadak menjadi pusat perhatian Ibu. Dan sambil mengendap, Ibu berjalan menuju gubuk tersebut. Bangunan itu dibuat sekadarnya saja. Atapnya menggunakan rumpun daun pohon kelapa. Juga tanpa dinding pada keempat sisinya. Membuat siapa saja yang melintasi tempat itu meski dari jarak yang cukup jauh, dapat menyaksikan apa saja yang dilakukan pemiliknya. Termasuk yang sedang Ibu amati saat itu. Di atas bale-bale bambu, ayahmu tidur tanpa mengenakan baju. Kelelahan yang begitu sangat terbaca melalui peluh yang mengalir di sekujur tubuhnya. Sesekali terdengar ia mengerang. Lebih tepatnya, melenguh. Walau demikian, Ibu belum juga mau menghampirinya. Janin yang mendekam dalam perut Ibu, yakni kamu, seakan menahan langkah Ibu. Tanpa terasa, sesuatu yang panas mengalir dari kedua mata Ibu. Sosok yang terlelap di atas dada ayahmu itu, kalau bukan perempuan, pastilah itu binatang, Nak.”

Ibu lalu memelukku sambil menangis sekali lagi dan lagi.

“Lalu siapa perempuan itu, Ibu?” Aku bertanya penuh rasa penasaran. Perasaan yang sebenarnya dibuat-buat karena memang aku tak tahu harus berkata apa lagi saat ini.

“Perempuan itu utusan kewokot[4]. Leluhurmu itu murka karena rumah mereka telah dihancurkan oleh ayahmu.”

“Rumah? Rumah yang mana, Ibu?” Aku semakin bingung.

“Pohon yang tumbuh di tengah ladang. Yang tak seorang pun berani menyentuh apalagi menebangnya.”

“Lalu bagaimana dengan Ayah? Apakah dia baik-baik saja setelah itu?”

“Beberapa hari menjelang, timbul bintik-bintik di tubuhnya. Awalnya berwarna merah keunguan, mirip warna buah pohon itu ketika sudah matang. Lama kelamaan, ia membengkak dan pecah menjadi luka. Nanah bercampur darah keluar dari bekas luka tersebut. Begitulah ayahmu mati karena kehabisan darah.”

Mendengar semuanya itu, ingin rasanya aku memberontak. Merusak sesajian dan selanjutnya merobohkan nuba nara[5]. Persetan dengan karma atau apa pun namanya itu. Demi keegoisan mereka, para leluhur lebih tergiur sikap tunduk dan hormat daripada seorang anak yang kelak hidup tanpa kasih sayang seorang ayah. Mereka benar-benar gila hormat. Tidak ada bedanya dengan para politisi busuk bangsa ini, yang satu per satu wajahnya ditayangkan televisi. Dipadukan dalam bentuk baliho nan akbar. Disiarkan melalui stasiun radio lokal keparat. Tanpa pernah peduli dengan sesuatu yang sejatinya menjadi kebutuhan mendasar setiap manusia: kasih sayang.

***

“Sudah siap semuanya, Pak.” Terdengar suara seseorang berbicara dari kejauhan.

“Baiklah. Lanjutkan saja apa yang telah kita mulai. Hari telah senja. Nanti akan kususul kalian,” jawab pemuda itu sigap.

Setelah telepon dimatikan, bergegaslah ia ke dapur. Seperti biasa, ketika hari menjelang sore, bersama secangkir kopi ia menikmati kesendiriannya paling agung. Dari lantai ke-13 perusahaannya, ia saksikan hilir mudik kehidupan kota. Setiap orang terlihat tergesa-gesa dalam melakukan segala sesuatu. Mereka seperti mencemaskan betapa keterlambatan adalah kesalahan yang tidak bisa ditoleransi. Mereka seperti dipacu untuk tepat waktu, tidak peduli betapa sulitnya menerobos jalanan yang macet. Tidak peduli, apakah perut mereka sudah cukup terisi makanan atau belum. Tidak peduli otakmu berkomposisi tinggi atau sekadarnya. Yang paling penting adalah kau patuhi aturan dan berlaku disiplin maka eksistensi kariermu tidak terancam kemungkinan untuk dipecat. Membayangkan semuanya itu, tiba-tiba ia teringat akan kampung halamannya. Sebuah daerah di ujung pulau bekas jajahan Portugis. Terletak bersebelahan dengan pulau Flores yang mirip alat musik tradisional, sasando, Solor melengkung bagai celurit. Dahulu, ketika duduk di bangku kelas tiga SD, ia banyak mendengar tentang Solor dari gurunya. Bekas tentara Portugis yang adalah juga seorang imam SVD (Societas Verbi Divini) itu bercerita bahwa di negaranya, Solor dikenal dengan sebutan Sol Orienz atau negeri matahari terbit. Walaupun belum yakin, toh ternyata bukan hanya Jepang saja yang memiliki julukan serupa. Diam-diam ia merasa bangga karena meskipun kurang dikenal dunia, akhir-akhir ini pulau tersebut menjadi poros utama produsen imam Katolik terbanyak di dunia, khususnya di provinsi NTT.

Seperti dikagetkan oleh sesuatu, ia bergegas meninggalkan ruangan, menyusul para karyawan yang sedari tadi mungkin telah lama menunggu kedatangannya. Beberapa menit berselang, ketika hari telah gelap, tibalah ia di pinggir hutan. Ribuan pohon telah dipotong. Beberapa orang tampak sibuk memindahkan gelondongan kayu dari hutan menuju kota menggunakan truk pengangkut.

“Sebentar lagi, daerah ini akan menjadi pusat perdagangan nasional. Swalayan, hotel, dan pabrik jagung akan berdiri megah di tempat ini,” batin pemuda itu dengan senyum mengembang.

Dari salah satu sudut hutan, agak menjorok ke kanan, matanya seperti tak percaya pada apa yang ia lihat. Seorang perempuan dengan warna kemilau pada pakaiannya perlahan berjalan menghampirinya. Seperti terhipnotis, kedua tangannya menjulur ke depan. Menggapai lengan perempuan itu dan berjalan ke tengah hutan. Bukan. Mereka seperti terbang karena tak sedikit pun kaki mereka menyentuh tanah. Rimbun dedaunan merunduk. Ranting-ranting bergeser. Seakan menyediakan lapangnya jalanan tempat mereka berlalu. Dan tibalah mereka di tengah hutan. Pemuda itu masih sanggup merasakan desah napas yang keluar dari mulut perempuan itu ketika keduanya, satu per satu saling mendekatkan wajah. Seakan mengingat seseorang, pemuda itu berteriak sekeras-kerasnya. Selanjutnya, kegelapan meliputi matanya. Pekat.

***

“Anda baik-baik saja, Pak?” tanya salah seorang karyawan yang tidak lain adalah sahabat karibku.

“Ya,” potongku singkat sambil menggaruk-garuk lengan, kaki, dan seluruh anggota tubuh yang mulai gatal.

“Wajahmu berbintik-bintik, Pak,” ujar yang lain menambahkan.

Aku mengucek-ngucek kedua kelopak mata. Sekedar memastikan kalau aku sedang tidak bermimpi. Kurasakan sebuah benda keras terletak tepat di bawah kepala. Dan memang betul. Sebuah pohon yang tumbang itu ternyata menjadi alas kepalaku. Di pangkalnya paling bawah, terdapat bekas potongan. Seseorang—entah kapan tetapi yang pasti sudah lama sekali—memotong ruas-ruasnya dengan sebilah kapak atau parang.

 

Maumere, 01 Februari 2015

 

[1] Sebutan bagi orang pintar atau dukun yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural. Dalam budaya Lamaholot, molang memiliki peranan penting karena sanggup menyembuhkan aneka penyakit dan meramalkan datangnya sebuah peristiwa di masa depan.

[2] Sapaan bagi ayah dalam budaya Lamaholot, Flores Timur, NTT.

[3] Sejenis sayuran, seperti daun kelor, yang dimasak dengan campuran sedikit garam dan air.

[4] Arwah orang yang sudah meninggal dunia. Diyakini oleh masyarakat bahwa kewokot biasanya menghuni pohon-pohon dan bebatuan yang besar.

[5] Nama tempat persembahan. Dalam budaya Lamaholot, nuba nara merupakan titik sentral berlangsungnya sebuah upacara adat karena di situlah tempat masyarakat meletakkan sesajian bagi leluhur.

Yohanes W. Hayon

Yohanes W. Hayon

Lahir di Hokeng, 26 Juni 1990. Kini sedang menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Ia menulis puisi, cerpen, esai, dan opini di beberapa koran lokal, seperti Pos Kupang dan Flores Pos. Ia juga pernah menulis naskah teater yang telah dipentaskan di Maumere. Sekarang, ia sedang menyiapkan buku kumpulan cerpennya yang berjudul Hujan di Biara, yang akan diterbitkan oleh Penerbit Ledalero.
Yohanes W. Hayon

Latest posts by Yohanes W. Hayon (see all)