Bocah di Sumur

in Memorabilia by

Orhan Pamuk datang lagi ke Indonesia. Peraih Nobel Sastra 2006 itu datang dengan novel berjudul The Red-Haired Woman (2018). Penerjemahan ke bahasa Indonesia dikerjakan oleh Rahmani Astuti. Pembaca masih terkesima cerita gubahan Orhan Pamuk. Novel agak tebal itu bercerita mengenai penggali sumur. Pekerjaan menggali sumur ibarat menggali masa lalu, identitas, keluarga, dan kekuasaan. Ilmu sumur tak sembarang dimiliki orang.

Orhan Pamuk sengaja menokohkan penggali sumur untuk pancaran cerita seperti bermula dari sumber air di kedalaman tanah. Penggali sumur itu bernama Tuan Mahmut. Ia paling mengerti pilihan tempat menggali sumur dan tata cara menemukan air. Si penggali sumur terlarang capek melakukan penggalian di garis waktu tercatat puluhan tahun. Penggalian sumur telah melampaui pekerjaan. Novel pun menjadi “sumur cerita” untuk ditimba mata.

* * *

Tataran I

Orang membaca novel itu merasa kejauhan. Sumur berada di negeri asing. Di Indonesia, sumur memiliki tokoh dan cerita? Tokoh tak seampuh buatan Orhan Pamuk. Para pembaca masa lalu memiliki tokoh lugu dan menggemaskan. Pada 1952, terbit buku berjudul Tataran I anggitan R Wignjadisastra. Buku terbitan JB Wolters, Groningen-Jakarta, cetakan kedelapan. Buku bertokoh bocah lelaki memiliki nama Kuntjung. Nama teringat oleh orang-orang Indonesia masa 1940-an dan 1950-an.

Kuntjung hidup di desa. Di desa bersahaja, molek, dan puitis, Kuntjung berperistiwa keluguan dan kewajaran. Kebiasaan di pagi hari, Kuntjung dimandikan simbok. Kuntjung mandi di sumur. Mandi itu peristiwa segar. Di halaman 8, pembaca melihat gambar Kuntjung dan Bawuk dimandikan Mbok Wangsa. Air ditimba dari sumur. Air dikucurkan ke tubuh. Segar! Gambar dan cerita di buku belum memastikan Kuntjung dan Bawuk mandi menggunakan sabun. Mereka mungkin cuma dimandikan dengan menggosok tubuh pakai tangan saja agar bolot dan kotoran hilang.

Tokoh di sumur bertambah dengan penampilan bocah lelaki dinamakan Giman. Bocah berada di iklan mentega bermerek terkenal, Blue Band. Iklan tersaji di majalah Minggu Pagi, 7 April 1957. Giman tampak berperawakan besar ketimbang Kuntjung. Iklan bercerita dan bergambar di empat kotak. Giman berdiri memegang ceret memandangi tanaman. Peristiwa di siang hari. Giman berpikiran tanaman itu memerlukan air. Bocah itu memutuskan pergi ke sumur mengambil air. Tanaman perlu disirami air. Di iklan, adegan Giman menimba air dengan segala kekuatan. Adegan serius: “Timba berat, kerdja tak giat. Giman lekas patah semangat.” Kasihan. Bocah bertubuh kecil memaksa menimba air demi nasib tanaman. Ia telah berikhtiar meski capek dan patah semangat.

Sang ibu melihat Giman rela capek asal mendapatkan air. Sang ibu tak tega. Pada cerita lanjutan, ibu masuk ke rumah ingin memberi kejutan pada Giman. Di kotak ketiga, adegan terpenting: “Ibu memberi kepada Giman roti njaman berlapis Blue Band. Keajaiban terjadi dalam hitungan detik. Siang masih mungkin memiliki keajaiban, tak melulu panas dari matahari. Pembaca diharapkan kaget. Roti bermentega itu memiliki khasiat tiada terkira. Bukti kemanjuran ada di kotak keempat: “Ha! Kembali Giman penuh semangat. Badannja sehat, kerdjanja giat.” Keinginan menimba air di sumur harus ditunjang santapan roti. Iklan mengabarkan roti bermentega bakal membuat bocah perkasa. Semula, menimba itu berat.  Ibu memberikan “keajaiban” demi Giman terbukti mengasihi tanaman.

 Pada masa 1950-an, bocah-bocah memiliki gairah menimba air di sumur. Di rumah-rumah, sumur lazim berada di belakang rumah. Sumur menjadi tempat memuat peristiwa mandi dan mencuci. Di sumur, bocah menguji kekuatan raga. Bocah pun mungkin berusaha mengerti sumur itu terlalu penting bagi pengisahan keluarga, tanaman, dan binatang. Kuntjung dan Giman sudah tampil di cerita berlatar sumur.

* * *

Kaum masa lalu masih mengingat tokoh bocah bernama Ali. Tokoh buatan Mohammad Sjafei dan Mara Soetan dalam buku berjudul Dikampoeng I, terbitan JB Wolters, 1939, cetakan ketiga. Ali, tokoh hidup di desa. Di cerita dijuduli “Goendoel”, pembaca mengikuti peristiwa Ali dicukur di sumur: “Si Alipoen pergi kesoemoer. Kepalanja disiram bapaknja dengan air, soedah itoe disapoenja dengan saboen sehingga poetih berboeih-boeih.” Peristiwa cukur rambut biasa dikerjakan di sumur, tempat dekat sumber air. Bercukur tak lama. Ali duduk tenang menunggu kehilangan rambut. Pada detik-detik berlalu, pembaca tiba di kalimat-kalimat: “Tiada berapa lamanja kemoedian, habislah ramboet si Ali ditjoekoer. Kepalanja soedah goendoel. Ia dimandikan disoemoer, soedah itoe diganti badjoenja.” Di sumur, bocah mengingat (pencukuran) rambut.

Penerbitan buku Dikampoeng II memuat sebutan dan cerita berbeda. Tokoh Amat dimunculkan oleh Mohammad Sjafei dan Mara Soetan. Cerita berjudul “Menggali Perigi”, mengenalkan sebutan perigi berarti sumur. Musim kemarau tiba. Perigi sangat menentukan nasib, orang-orang ingin segar dan memenuhi pelbagai kebutuhan. “Tiap-tiap si Amat poelang dari sekolah, diambilnja air dengan ember diperigi, lalu disiramnja halaman. Tetapi pajah benar ia menimba, karena air perigi telah hampir kering. Sebab itu ajahnja bermaksoed akan memperdalam perigi itoe soepaja bertambah airnja,” tulis Mohammad Sjafei dan Mara Soetan. Sumur sangat penting di hari-hari tanpa hujan.

Rencana itu dibuktikan di hari Ahad. Perigi diperdalam agar mendapatkan air berlimpahan. Amat turut membantu. Pekerjaan berat tapi dijalani dengan kebersamaan. Hasil dari kerja bareng: “Hampir tengah hari selesailah pekerdjaan itu: perigi itu sudah bertambah  dalam setengah depa.” Air sudah bertambah. Amat tentu bakal rajin menimba air untuk disiramkan di halaman. Kemarau memberi debu agak bisa diladeni dengan menimba air di perigi. Air disiram ke halaman mengurangi dampak panas.

Cerita-cerita sumur di buku-buku untuk bacaan bocah masih mengingatkan bentuk sumur dan peristiwa wajar. Kunjungan ke buku-buku lawas itu berganti ke teknologi baru. Orang menimba air di sumur cepat menimbulkan capek. Penimba harus kuat dan sabar. Putaran roda dan panjang tali mengesahkan adegan menimba air. Suara air berjatuhan dari ember ditarik ke atas itu irama kesegaran. Konon, bocah rajin menimba air (pagi dan sore) menandakan rajin dan bermaksud memiliki raga perkasa.

* * *

Adegan menimba air di sumur pernah diusulkan diganti dengan cara baru. Cara mendapatkan air dari tanah tanpa menimba disampaikan melalui iklan di majalah Kadjawen, 21 April 1939. Iklan diajukan perusahaan impor bernama Nippon Shokai. Nama itu mengesankan perusahaan milik pengusaha Jepang sedang berbisnis di Indonesia saat berstatus tanah jajahan. Iklan itu teknologi berasal dari negeri jauh.

Di samping atau belakang rumah, tiga tokoh memiliki perisiwa berbeda: ibu dan dua bocah. Seorang bocah sedang memompa air. Ibu tampak sedang mencuci baju. Di jarak agak jauh, seorang bocah memegangi selang, mengalirkan air pada tanaman-tanaman. Dua bocah itu tandingan dari Ali, Kuntjung, Amat, dan Giman. Mereka tampak bergirang dengan kemudahan dan pesona. Gambar di iklan meniadakan adegan menimba air di sumur.

Iklan pompa air itu menggoda pembaca: “Dengan gampang bisa digoenakan boeat segala keperloean.” Tenaga mungkin irit. Air didapatkan dengan berlimpah. Tangan menimba berubah menjadi tangan memompa. Benda itu datang dari negeri asing. Orang-orang Indonesia yang ingin memiliki pompa air bisa menghubungi Nippon Shokai. Perubahan bentuk dan tata cara mendapatkan air mungkin pernah mengejutkan orang-orang di tanah jajahan. Benda itu menakjubkan. Kehadiran pompa air itu berlanjut sampai masa 1980-an. Orang-orang masih gampang melihat pompa air berada di sekitaran rumah, pasar, tengah kampung, atau tempat untuk orang-orang berdagang. Kini, benda itu dijuluki antik dan pembawa nostalgia.

* * *

Puluhan tahun bercerai dari cerita-cerita di buku lama. Rumah-rumah di kampung perlahan tanpa sumur. Lahan untuk mendirikan rumah semakin sempit. Pembuatan sumur berwajah lama sulit diwujudkan. Sumur dengan gerakan memompa telah dianggap melelahkan dan merepotkan. Orang-orang mulai ingin penggampangan. Air mengalir di rumah-rumah tanpa menimba dan memompa. Tindakan enteng adalah memutar keran atau memijat tombol mesin air. Rumah memang tak tampak memiliki sumur berbibir dan berhiaskan tali-roda-ember.

Para pengguna air mengalir di pipa-pipa diwajibkan memberi duit langganan. Di rumah bermesin air dengan pelbagai merek, duit tetap diperlukan untuk tagihan listrik. Kerja tangan atau raga meringan tapi duit disediakan demi air. Perubahan itu terasa wajar. Orang-orang mungkin beranggapan itu persoalan teknis. Orang terlalu bernostalgia sumur lekas saja memberi sangkalan-sangkalan. Sumur bukan cerita sederhana mengenai teknik tapi cerita-cerita mengalirkan sejarah, ideologi, religiositas, asmara, dan keluarga.

Orang mungkin ingin mencari perbandingan cerita sumur di novel Orhan Pamuk dengan teks-teks sastra di Indonesia. Sumur itu termaknai secara simbolik di Sumur Tanpa Dasar gubahan Arifin C Noer. Sumur pun menjadi cerita mengharukan dan menegangkan dalam naskah-naskah pertunjukan berbahasa Jawa garapan Bambang Kenthut, gembong Teater Gapit di Solo. Sumur itu sumber kerinduan, hasrat, kemarahan, dendam, dan keapesan. Sumur-sumur di deretan teks sastra masih menunggu para penimba makna.

Kangen sumur mungkin dialami para manusia lawas saat masih mengenang kebiasaan bersuci di sumur. Adegan masa lalu. Orang pergi ke sumur, menimba air di lima waktu peribadatan. Ia menimba air, dikucurkan ke genthong yang ditaruh di bibir sumur. Orang di desa memberi sebutan itu padasan. Lumut mengisahkan wadah air untuk bersuci itu subur dan menghijau. Air di genthong mengalir melalui lubang kecil. Lubang biasa ditutup menggunakan potongan sandal jepit. Di sumur, orang bersuci sebelum mendirikan shalat. Ia memiliki pemaknaan sumur dengan gerak raga dan tatapan mata estetis ketimbang tangan cuma memutar keran air.

Selingan mengingat sumur itu bersuci untuk ibadah terasa agak membelok jauh dari ingatan pada buku-buku masa lalu dan iklan. Sumur telanjur gampang menghilang di kampung-kampung. Sumur agak teringat jika perusahaan air sedang bermasalah dan pemadaman listrik berlangsung lama. Keinginan mendapatkan air sering mustahil. Sumur semakin “mengering” di ingatan, orang-orang sudah lupa gerakan menimba air. Sumur tersisa di cerita orang-orang sepuh, penimba masa lalu dan pencatat kejadian religius. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)