Bren

in Cerita Pendek by
bren
i.imgur.com

Karlina—si perempuan tua—menjadi akrab dengan loteng setelah ditinggal suaminya. Jendela itu selalu terbuka. Lehernya terjulur melewati kosen. Setiap pagi, burung-burung berdatangan. Bertengger di balik rimbun daun pohon mahoni. Acap bersiul sahut-sahutan. Merdu. Dan ia terpejam mendengarnya. Akan tetapi, kemudian matanya membelalak lebar-lebar ketika suara burung belatuk singgah. Burung-burung lain terbang menyingkir. Suara patukan pada batang kayu mengingatkannya pada serentetan peluru di masa lalu.

Karlina berteriak pada burung belatuk dan menyuruh berhenti mematuk pohon. Suara teriakannya sering disalahartikan orang-orang yang kebetulan lewat sebagai teriakan orang gila.

Rupanya burung itu tuli, batin Karlina. Burung belatuk baru terbang menjauhi pohon setelah berhasil mencaplok beberapa ulat kayu. Setiap hari Karlina mengalami hal itu. Setiap kali pula setelah burung belatuk pergi, ia membentur-benturkan kepalanya pada kosen kayu jati. Berharap suara ledakan bren yang pernah melubangi dada suaminya menyingkir dari kepala. Belum berhenti jika darah belum mengalir. Ia harus menunggu pagi selanjutnya agar bisa mendengar siulan burung-burung merdu itu lagi.

Pukul tujuh tepat, Sabrina mengetuk pintu. Setelah diberi izin masuk, baru tampak sekujur tubuh dengan paras ayu. Ia membawa nampan berisi menu sarapan kesukaan Karlina: sekerat roti tanpa selai, segelas susu, dan semangkuk bubur kacang hijau. Ia selalu masuk loteng pada pagi hari, siang hari, dan sore hari di jam-jam tertentu untuk menyuapi majikannya. Dan setiap kali masuk di pagi hari, ia terkejut mendapati dahi Karlina mengalir darah.

Suami Karlina bernama Ukaba. Sabrina sengaja dipilih sebagai asisten rumah tangga oleh Ukaba, karena memiliki ciri-ciri Karlina muda. Rambut tergerai melewati bahu, mata belok, lesung pipit, dan sepasang bibir tipis. Ketika Ukaba tengah melewati masa-masa kritis, ia menjawab pertanyaan Karlina, mengapa harus Sabrina?

“Agar kau tidak pernah kehilangan masa mudamu,” jawab Ukaba.

Karlina diam. Dia selalu diam pada siapa pun setelah ditinggal suaminya. Hanya mau bicara pada burung-burung atau benda mati. Dia selalu berkomunikasi dengan Sabrina menggunakan bahasa isyarat. Ketika Sabrina mengusulkan apakah sebaiknya dahi itu dirawat ke rumah sakit saja? Karlina menggeleng. Kemudian, Sabrina menarik napas, dan menyeka luka dengan selembar kapas yang terlebih dahulu diolesi dengan betadine. Karlina mengisyaratkan dengan tangan bahwa luka-lukanya tidak sakit sama sekali.

Akan tetapi, Sabrina bersikukuh menyeka luka-luka majikannya, seraya berkata, “Maaf, Nyonya. Jika darah sampai tercampur ke bubur kacang hijau, nanti tidak enak.”

Dan Karlina menurut seperti anak kecil. Dia membuka mulut lebar-lebar mencaplok sendok penuh bubur yang terjulur. Mengunyah dengan gusi-gusinya. Tampak kesulitan saat menelannya. Otot-otot leher sampai tertarik ke atas, dan mendongak-dongak, baru bisa turun ke lambung.

Pernah suatu kali dia memaksa Sabrina agar makan sendiri, tak usah dibantu. Ia yakin tubuhnya masih kuat. Akan tetapi, tangannya selalu bergetar tiap kali coba memegang sendok atau segelas susu. Sesendok bubur kacang hijau tumpah ke lantai sebelum masuk mulut akibat getaran itu. Susu dalam gelas juga tumpah. Yang ia bisa cuma menggigit sekerat roti tanpa selai. Itu pun tak pernah habis.

Sepi sudah jadi bagian sisa hidup Karlina. Pernah terlintas bunuh diri. Terjun dari loteng di lantai empat itu. Biar ringsek, dan segera bertemu suaminya. Tetapi ia ingat suaminya pernah berkata, “Orang yang mati bunuh diri, setelah mati dia terus melakukan bunuh diri. Andaikata dia bunuh diri dengan minum racun, setelah mati Tuhan memaksanya minum racun. Setelah mati dihidupkan. Dan setelah hidup kembali, dia disuruh minum racun lagi. Membosankan sekali apabila mati karena bunuh diri.”

Kalau sudah ingat pesan Ukaba, Karlina pun urung. Niat bunuh diri ditelan bulat-bulat. Berharap niat itu keluar bersama sampah-sampahnya di pagi yang dingin.

Karlina selalu melarang Sabrina andai kata beberapa anak-cucu dari seberang pulau singgah. Tidak ada yang boleh masuk, kecuali pembantunya itu. Jika ingin menghibur dengan uang dan omong kosong, suruh saja pulang. Karlina selalu meyakinkan Sabrina, bahwa ia masih bahagia hidup sendirian di loteng.

***

Sebelum menyandang status pejuang negara, Karlina dan Ukaba hidup serba melarat. Mereka tinggal di pinggir kali. Sewaktu-waktu banjir datang, pindah ke pinggir kali yang lain. Karena sudah pasti, gubuk kardus mereka terbawa arus.

Selain menggenggam karung sebagai wadah pulungan, Ukaba juga setia menggenggam falsafah negara. Pancasila. Bukan cuma hafal, tetapi meresap ke dalam jiwa. Jika ingin melihat Pancasila berjalan, lihatlah Ukaba.

Lelaki tua itu bagai peluru melesat ke jantung-jantung pertahanan pasukan loreng. Mengambil berbagai senjata tanpa diketahui gerak-geriknya. Dia di mata masyarakat setempat masuk golongan rendahan. Tetapi di mata para pejuang lain, dia kesatria pilihan.

Hingga suatu hari, ketika Ukaba tengah bercanda dengan Karlina, rumah kardusnya digerebek orang-orang berseragam. Mereka mengatasnamakan diri sebagai utusan pemerintah. Ukaba meletakkan pisau yang baru mengiris bawang putih separo. Sedang Karlina, karena terlalu terpaku dengan keadaan, tanpa sadar jari telunjuk kiri teriris pisaunya sendiri. Darah mengalir ke siung bawang.

Ukaba diseret paksa keluar rumah. Karlina berusaha menyusul suaminya. Mobil berwarna hijau itu membawa orang yang paling ia sayangi jauh-jauh. Menggerung dan melintas di jalanan sepi. Ingin perempuan tua itu menghubungi anak-anaknya di pulau seberang. Tetapi, dia sadar diri. Mana mau mereka peduli. Karena sudah sejak lama, mereka tak pernah kembali. Sibuk dengan urusan masing-masing.

Di tengah alun-alun kota terdengar serentetan tembakan peluru. Menggelegar dan menggunturkan telinga Karlina.

Pada tengah malam, gubuk kardus itu diketuk oleh ketukan yang sangat lemah. Karlina terpekik begitu melihat tubuh suaminya terkapar di tanah. Cahaya bulan purnama menggenang. Jatuh melewati dua orang kekasih dan masuk melewati sebuah pintu tripleks.

Baju dan celana Ukaba yang semula berwarna putih jadi berwarna merah pekat oleh darahnya sendiri. Tangan kanan menggenggam erat sebuah senapan bren yang juga berlumuran darah. Masih tampak lubang menganga di dua bahu, perut, dan pipi—tempat peluru bersarang. Serentetan giginya tanggal. Dadanya kembang-kempis.

Ukaba berkata lemah seraya tersenyum hangat, “Mereka meleset! Aku berhasil mencuri bren ini. Aku menembak satu. Mereka menembakku berkali-kali. Pakai bren-bren seperti ini. Yang penting teman-teman kita selamat.”

Karlina memeluk Ukaba erat-erat. Tangisnya sesenggukan. Terutama saat melihat kuku-kuku tangan dan kaki suaminya tidak berada lagi di tempatnya. Ia membayangkan, betapa mahalnya sebuah rahasia. “Kau seharusnya tak sejauh itu.”

Mata Ukaba nyalang menatap Karlina. Bikin dada perempuan tua itu berdesir.

“Aku masih bisa hidup beberapa tahun lagi.”

***

Pagi berikutnya, selebaran terpasang di tiang-tiang jalan. Karlina berloncatan riang. Dia memanggil-manggil Ukaba yang setelah insiden malam itu cuma bisa terkapar di pembaringan. Perempuan tua itu mencabut salah satu.

“Ini. Ini! Kau harus lihat ini! Tirani berhasil digulingkan. Sebagai ganti, para pejuang yang tertawan dibebaskan. Dan pejuang yang mendapat kerugian akan diberi rumah dan fasilitas layak seumur hidup.”

Ukaba tersenyum lebar, “Besok kita daftar!”

Mereka mendapat sebuah rumah berlantai empat di suatu blok. Mereka memboyong seluruh barang-barang dari gubuk kardus ke sana. Ketika Ukaba turut memboyong sebuah senapan bren, Karlina mengernyitkan dahi.

“Buat apa?”

“Kenangan itu mahal, Istriku. Mahal.”

***

Malam itu, Karlina mematut diri di depan cermin lemari. Bola matanya menatap bola  matanya sendiri. Masih belok. Namun, pupil itu tampak memudar. Tak sehitam waktu muda. Ukaba selalu memuji-muji pupilnya yang punya hitam di atas rata-rata.

“Lihatlah, Suamiku. Lihatlah.”

Ia menarik gagang lemari. Senapan mesin ringan itu tergeletak dingin di rak lemari paling atas. Kakinya mesti jinjit untuk menjangkaunya.

Kemudian, seperti malam-malam sebelumnya, Karlina memeluk senapan itu sebagaimana memeluk suaminya. Ia memagut moncong bren seperti memagut bibir Ukaba yang telah kehilangan gigi.

“Kau jauh lebih tampan tanpa gigi dan tanpa kuku di jari-jarimu, Suamiku,” kata Karlina malam-malam di loteng yang sama.

Ukaba meletakkan bren ke lantai. Ia dorong Karlina hingga terpental ke atas kasur.

Sementara Karlina tak kalah beringas. Ia berputar. Kemudian menindih perut Ukaba. Bagian yang paling mereka sukai adalah ketika masing-masing tangan saling memeluk pinggang. Dan bermain-main di sana. Dan meledaklah tawa bahagia mereka.

***

Malam itu, Sabrina mendengar suara letusan di lantai paling atas ketika tengah meluluri badan pakai ekstrak kulit manggis yang dicampur madu. Akan tetapi, dia tidak peduli. Setahunya, bren yang sekian lama dibangga-banggakan Ukaba karena telah berhasil membunuh seorang prajurit tirani itu hanya memiliki sebuah peluru. Dan peluru itu telah digunakan dalam penembakan di masa lalu!

 

Purworejo, 1 Oktober 2016

Seto Permada

Seto Permada

Seto Permada, lahir tanggal 12 Oktober 1994 di Purworejo. Sejumlah karyanya bergabung dalam antologi Ritual Lapaong Astral (TBJT, 2016), Cinta Laki-laki Biasa (ANPH, 2016), dan Akuarium Melankolia (Ganding Pustaka, 2016).
Seto Permada

Latest posts by Seto Permada (see all)

  • Bren - October 14, 2016