Category archive

Esai

Esai

Tentang Kita yang Gampang Terkesima

Gampang sekali kita terkagum-kagum dan terkesima. Bagaikan remaja yang sedang jatuh cinta, kita yang dulu garang dan ganas tiba-tiba bisa mendadak melo, romantis, teduh, dan sendu. Tak peduli apakah pacar pernah menyakiti, menyelingkuhi, bahkan meninggalkan kita. Ya, bersebab itu, kita memang akan geram, garang, lalu mendadak antisosial. Kita akan mengurung diri di kotak kecil. Tetapi,…

Esai

Tiga Komik, Tiga Koran, Satu Basuki

Dunia jurnalistik di Indonesia pernah memberi ruang mewah bagi komik strip. Dua koran bertiras besar di Jakarta, Kompas dan Pos Kota, bahkan membuka lembaran khusus dari mana lahir komik-komik strip legendaris semacam Doyok, Ali Oncom, dan Panji Koming. Di luar lembaran khusus, Kompas punya komik lain yang tak kalah dahsyat, Oom Pasikom. Komik strip juga…

Esai

Berkunjung ke Rumah Freud

Angin berembus-embus kencang menyapu dedaunan di sekitaran halte pemberhentian terakhir. Suasana kompleks deretan perumahan yang begitu kontras dengan kawasan pusat kota London, mengantarkanku pada ingatan tentang setting film “Home Alone” yang selalu diputar di segala perayaan hari libur nasional. Sederetan anak kecil yang berbaris tiga-tiga dengan seragam warna biru tua dan topi pita membangunkan lamunanku,…

Esai

Simbol Puitik “Istirahatlah Kata-kata”

Istirahatlah kata-kata Jangan menyembur-nyembur Orang-orang bisu Kembalilah ke dalam rahim Segala tangis dan kebusukan Dalam sunyi yang mengiris Tempat orang-orang mengingkari Menahan ucapannya sendiri Tidurlah kata-kata Kita bangkit nanti Menghimpun tuntutan-tuntutan Yang miskin papa dan dihancurkan Nanti kita akan mengucapkan Bersama tindakan Bikin perhitungan Tak bisa lagi ditahan-tahan (Istirahatlah Kata-kata, Wiji Thukul) Saya kali pertama…

Esai

Api Bahasa yang Menyulut Sumbu Anti Kolonial (Membaca Ben Anderson)

Dari buku Imagined Communities, sedikitnya, kita mendapatkan penjelasan ihwal kemunculan negara kebangsaan (nation-state) di dunia ketiga. Di buku tersebut, mula-mula Ben menggunakan contoh “komunitas religius”, lalu “ranah dinastik”: dua sub-bab yang digunakan untuk menjelaskan dengan penuh analogi yang kelewat sulit ditangkap. Sebelum kemudian, ia beralih ke persoalan kapitalisme cetak, yang merupakan faktor awal terwujudnya komunitas-komunitas…

Esai

Muhammad, Seni Beragama, dan Nalar Galilean

Islam lahir disambut dua kerajaan besar; Byzantine dan Persia. Islam tumbuh di tengah-tengah dua sistem dunia; monarki dan demokrasi. Yang terakhir berkembang di Athena empat abad sebelum Masehi. Namun, Muhammad bin Abdullah alaihis shalatu was salam seorang seniman, terlepas dari aspek risalah dan nubuwahnya. Membawakan Islam dalam rupa kombinatif, meramu Islam dengan cita rasa seni…

Esai

Indonesia yang Membelum

kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan, karena kami tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini maka rencana masa depan hanyalah spekulasi, keinginan, dan angan-angan Kutipan sajak bertajuk “Maskumambang” milik WS Rendra di atas yang menurut beberapa catatan digubah sepascareformasi tampaknya masih…

1 2 3 12
Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com