Cerita dari Balik Jendela

in Hibernasi by
jendela
dari instagram @avifahve

Jendela Pesawat

Dia menarik napas dalam, sesaat setelah menjatuhkan tubuhnya di kursi dekat jendela. Sebelah tangannya terangkat menyangga dagu. Pandangannya menembus jendela pesawat, menyapu langit biru berlapis awan putih yang memayungi bandara. Cuaca yang cerah di luar sangat berkebalikan dengan raut wajahnya yang menyiratkan rasa lelah. Gumpalan mendung tampak menggelayut dalam sorot matanya yang keruh. Gadis itu bernama Aluna Dirinjani. Bulu matanya yang panjang berselimut maskara, naik-turun dengan gerakan lemah. Kali ini dia menguap, lalu menyandarkan kepalanya ke belakang. Perlahan matanya tertutup sempurna. Dia tak berdaya oleh rasa kantuk dan terlelap begitu cepatnya, bahkan sebelum pesawat lepas landas.

Gadis berambut panjang itu terusik oleh gerakan pelan sesuatu yang menyangga kepalanya. Setelah berusaha membuka mata, mencoba menyadari keadaan, gadis itu terkejut mendapati dirinya tertidur di bahu seorang pria asing yang duduk di sampingnya.

“Ah, maaf!” Spontan perempuan itu menarik diri.

Pria itu tersenyum. “Tak masalah. Saya mengerti.”

Bibir merah muda sang gadis bergumam lirih, “Ya Tuhan. Pasti dari tadi mengganggu sekali.”

“Sudahlah. Lupakan,” ujar pria itu ramah. “Ngomong-ngomong, nama saya Faris.” Tangan kanannya terulur.

Sedikit salah tingkah, gadis beraroma cokelat itu menyambut tangan Faris, “Aluna. Panggil saja Luna.”

Bukankah perkenalan dua orang yang terjadi karena kursi yang berdekatan dalam perjalanan seperti ini adalah hal biasa? Ada yang sekadar berkenalan, ada pula yang berujung pada obrolan panjang seperti yang terjadi pada Faris dan Luna kali ini.

“Saya pertama kali datang ke Jogja tiga tahun yang lalu,” ucap Faris setelah tahu bahwa Luna sudah hampir tujuh belas tahun tinggal di kota itu. “Setelah itu… entah, rasanya selalu ingin datang lagi meski hanya sebentar.”

“Jogja memang ngangenin,” ujar Luna seraya tersenyum di sela wajah lelahnya.

“Sangat, Al.”

Luna terperanjat. Raut wajahnya seketika berubah. Seolah baru saja ada pemberitahuan cuaca buruk.

“Al, kenapa?”

“Belum ada lagi yang memanggil nama saya seperti itu selain… ayah saya,” jawab Luna pelan nyaris tenggelam di antara deru mesin pesawat.

Jendela Mobil

“Cowok yang tadi itu siapa?” tanya Reva, sahabat terbaik Luna yang selalu ada untuknya, terlebih setelah ayah Luna meninggal karena serangan jantung satu tahun yang lalu.

“Tadi kami berkenalan gara-gara kejadian konyol di pesawat. Dia teman ngobrol yang asyik, dan satu-satunya orang selain Ayah yang memanggilku ‘Al’. Katanya masih sendiri, heran, padahal menurutku dia terlalu menarik untuk tidak disukai.”

“Kalian saling bertukar nomor atau akun apa gitu?”

“Nggak. Tapi aku tahu hotel tempat dia menginap selama di Jogja.”

“Berminat untuk menemuinya, Nona?”

Tawa Luna pecah seketika, “Itu sudah ada dalam pikiranku.”

“Lun, aku sudah jarang melihatmu seceria ini. Aku tidak tahu apa yang kamu rasakan sekarang, tapi jika itu bisa membuatmu bahagia, tak ada salahnya mencoba untuk mengenal cowok itu lebih jauh. Siapa tahu, kan?”

 

Jendela Kamar

Luna sering menghabiskan sore dari balik jendela kamarnya. Setidaknya selama setahun terakhir ini. Kadang berbicara sendiri dengan secangkir cokelat hangat di tangannya. Sesekali kepalanya mengintip ke langit yang kosong. Seperti mencari sesuatu yang sekian lama dirindukannya. Ayahnya.

“Al kangen Ayah…,” bisiknya lirih. Di hadapannya, beberapa helai daun kering berjatuhan tertiup angin. Satu tahun sudah ayahnya pergi. Luna bahkan tak berada di sisinya ketika ayahnya terkena serangan jantung dan mengembuskan napas terakhir.

“Bunda?” Luna menoleh ke arah pintu.

“Sayang, Bunda ingin bicara.” Seorang wanita yang dipanggil bunda itu melangkah masuk, duduk di samping Luna dan mengelus lembut rambut cokelat gadis itu.

Wajah Luna terangkat. Matanya seolah meraba ke dalam hangat tatap sang bunda.

“Sejak Ayah meninggal, rumah ini seperti kehilangan penghuninya. Kepergian Ayah seolah merenggut semuanya. Bunda merasa sangat kesepian. Apalagi kamu, Sayang, sering sekali bepergian.”

Luna bergeming. Namun desah napasnya tiba-tiba terdengar berat.

“Sekarang, Bunda pikir sudah saatnya untuk memilih seseorang sebagai… Sayang, Bunda akan menikah lagi.”

“Ayah tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Dan… Bunda, ini terlalu cepat.” Suara Luna bergetar. Lalu bibir tipisnya mengatup rapat. Menahan amarah yang siap dimuntahkan.

“Maafkan Bunda.” Sang bunda menunduk.

“Kukira Bunda sangat mencintai Ayah. Aku bahkan belum bisa percaya Ayah sudah tiada, tapi Bunda sudah ingin menggantinya dengan orang lain.”

Jendela Kafe

Gerimis di luar baru saja reda. Jalanan Jogja sore ini kembali ramai. Luna menyesap cokelat hangatnya ditemani oleh Reva.

“Bunda mau menikah lagi,” ucap Luna tanpa berbasa-basi.

Mata Reva melebar. Seolah Luna yang kini duduk di hadapannya, berubah wujud menjadi monster yang menyeramkan.

“Aku belum tahu dengan siapa. Bunda bilang akan mempertemukan kami dalam minggu ini. Entahlah… bagiku, Ayah tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Sulit rasanya jika harus menerima kenyataan Bunda sudah menjadi istri orang lain. Apalagi jika aku nanti melihat ada laki-laki lain di kamar Ayah.” Ombak kecil meluncur dari sudut mata Luna.

Kedua tangan Luna kini sepenuhnya berada dalam genggaman Reva. Begitulah Reva. Dia adalah pendengar yang baik. Seperti biasa, dia akan sabar menunggu sampai Luna selesai bercerita, mencurahkan segala yang mengganjal dalam hatinya. Reva yang tenang dan lembut selalu bisa mengimbangi Luna yang cenderung emosional.

 

Jendela Rumah

Luna kembali dengan tergesa memasuki rumah. Langkahnya terhenti saat melewati depan kamar bundanya yang pintunya tidak tertutup rapat, sehingga Luna bisa mendengar pembicaraan bundanya dengan seseorang di dalam.

“Putriku sudah kuberi tahu tentang rencana pernikahan kita.” Itu suara sang bunda. “Kamu akan tinggal di sini denganku, di rumah ini. Lagi pula, aku tidak mau kamu bolak-balik dari Jakarta ke Jogja lagi.”

“Apa anakmu tahu tentang hubungan kita selama ini? Maksudku… suamimu jatuh pingsan saat melihat kita di sini, di kamar ini. Jika dia tahu, aku tak yakin dia akan menerimaku.”

Udara di sekeliling Luna terasa habis tak tersisa. Dia kesulitan bernapas. Sementara air mata kian membanjir di kedua pipinya. Tangannya tak lagi dapat ditahan untuk tidak mendorong pintu kamar itu.

“Faris???”

Seorang pria yang ditemuinya di pesawat kemarin, yang mengingatkan Luna pada sosok ayahnya, ternyata memang benar-benar “menggantikan” ayahnya.

  • Ocyid Al Bahrawi

    Kalo yang ini sudah bisa ditebak endingnya.

    Madridista akhir zaman masih mencuri