Cerita Ringan Seorang Pekerja Kantoran yang Biasa-Biasa Saja

in Hibernasi by
Cerita Ringan Seorang Pekerja Kantoran - Hibernasi BASABASI.CO
Sumber gambar: dok. Pribadi

Saya termasuk satu dari sekian banyak sarjana lulusan dari sebuah universitas impian banyak calon mahasiswa baru, yang tidak punya gambaran akan bekerja sebagai apa setelah menerima ijazah nanti. Saya tidak tahu apa yang salah dengan negara ini sehingga seorang calon penerus bangsa bertahan empat sampai lima tahun di sebuah institusi pendidikan tanpa menemukan satu minat untuk ditekuni. Bukan cuma saya kok yang setelah bangga berfoto mengenakan toga di Graha Sabha Pramana lalu masuk kamar dan merenung tentang nasib di masa depan. Itu adalah masa-masa awal menjadi pengangguran. Kehidupan menjadi begitu membosankan, mencemaskan lama-lama. Saya sempat bekerja dengan sistem freelance. Rupanya untuk tipikal orang yang memiliki kelemahan dalam memanajemen diri, menjalani hubungan tanpa ikatan masih lebih bisa dinikmati ketimbang pekerjaan tanpa ikatan waktu. Tidak kerja, tidak dapat uang sama sekali.

Ada banyak sarjana baru lulus yang kemudian menjatuhkan pilihannya menjadi pekerja kantoran. Belum memikirkan soal gaji cukup atau tidak. Toh orang tua biasanya masih sudi memberikan suntikan dana hingga pada akhirnya memberikan batas waktu dan berbalik minta bagian dari gaji bulanan kita. Belum pula memikirkan apakah pekerjaan yang akan dijalani cocok atau tidak. Pepatah Jawa mengatakan, witing tresno jalaran soko kulino. Cinta tumbuh karena terbiasa. Kalau nyatanya diterima, buat apa mikir lama-lama? Keburu disambar orang kesempatan itu. Menyerah adalah pilihan paling terakhir.

Konon, satu tawaran pekerjaan dari sebuah perusahaan besar bisa menjadi rebutan ratusan sarjana usia awal dua puluhan apalagi yang memberikan syarat longgar: untuk semua jurusan. Ratusan surat lamaran pekerjaan beserta ijazah legalisasi sampai ke meja HRD. Diseleksi untuk mengisi satu kursi kosong. Satu orang hepi, sisanya masih harus menyiapkan amplop-amplop cokelat untuk dikirimkan ke alamat lainnya. Kirim dan kirim lagi. Saya pernah skeptis dan membatin, sebenarnya surat lamaran yang berjibun itu sempat dibaca semua oleh HRD atau langsung dikarungin dan dikiloin? Atau saat lowongan dibuka, sebenarnya sudah ada calon kuat yang diproyeksi untuk mengisi jabatan tersebut?

Alumni jurusan sastra pada dasarnya punya peluang kerja yang beragam, mulai dari penerjemah, editor, sastrawan (termasuk profesi bukan ya?), dan penulis. Atau memilih kembali ke kampus menjadi dosen. Hanya saja seberapa populer profesi itu semua di mata orang? Tidak populer menjadikan tidak banyak orang ingin menjalaninya.

Saya akhirnya mencoba peruntungan di penerbitan. Pemandangan jamak yang terlihat dari sebuah kantor penerbitan adalah deretan komputer, tumpukan naskah-naskah print out di meja sampai ke lantai. Orang-orang yang berjam-jam duduk di depan komputer yang disebut sebagai editor. Ditemani camilan maupun musik favorit.

Di mata orang kebanyakan, penerbitan adalah sebuah bisnis yang sama saja dengan percetakan. Saya pun lama-kelamaan mafhum dengan salah kaprah itu meskipun jelas-jelas di kantor saya tidak mengurusi cetak-mencetak undangan pernikahan. Hanya mencetak buku. Bukunya pun tidak termasuk buku tulis bergaris yang ada di pasaran. Tidak mencetak buku nikah, buku, rapor, atau buku paspor juga. Jika ditanya orang, saya bilang saya bekerja percetakan. Dengan begitu orang akan mengangguk-angguk paham. Menurut saya paham, karena tidak ada pertanyaan lainnya di belakang.

Saya pun enggan menyebut diri sebagai editor saat memperkenalkan diri pada orang baru. Pekerjaan yang tidak bisa dirangkum menjadi satu frasa mudah. Tidak seperti dokter yang bertugas mengobati orang sakit, guru yang mengajar di sekolah, atau aktor yang berakting di depan kamera.

Menjelaskan pekerjaan editor butuh waktu. Dikiranya, kami dibayar hanya untuk memperbaiki kesalahan ketik. Tidak untuk membuat sebuah naskah menjadi baik ketika dibaca, tidak untuk mengurangi salah tafsir dalam teks, tidak untuk mengurangi teks-teks yang melanggar norma-norma kesusilaan, tidak berperan dalam menyempurnakan buku sebagai jendela dunia. Jika saya boleh saran, program inovatif semacam Kelas Inspirasi perlulah diperluas jenjang usia pesertanya, agar tidak hanya anak SD yang luas pengetahuannya kelak.

Saya tahu, sedikit banyak ada peran editor berjulukan “grammar NAZI” yang hanya karena melihat salah ketik huruf papan iklan rokok perempatan jalan, dibahasnya panjang lebar di twitter, disertai foto sebagai bukti agar setiap follower-nya sepakat. Atau setiap kali dia membuat kicauan baru, mulai dari huruf kapital hingga tanda baca diperiksa secara saksama dan sebenar-sebenarnya sebelum dibaca orang. Padahal hanya untuk menulis: Saya lagi lapar. Ya, salah menulis satu huruf seolah sama halnya dengan membuat satu dosa besar selevel perzinaan. Dan makin runyam lagi, bermunculan pula editor gadungan yang kejamnya melebihi editor-editor muka bumi. Semuanya harus sepakat dengan KBBI, padahal penulis sekondang Seno Gumira Ajidarma pun ada kalanya tidak sudi jika karyanya selalu harus membuntuti aturan sebuah kitab tebal seharga empat ratus ribu. Saya sepakat, karya sastra bukanlah budak dari teori yang mana teori itu sendiri bisa berubah-ubah di edisi berikutnya, ya kan?

Hadirnya sosok-sosok editor yang siap berkomentar pada tataran teks bukan pada konten yang disampaikan, membuat kekuatan dunia jejaring sosial menjadi area panas untuk berdebat tentang perkara level ecek-ecek. Bukan lagi menganalisis maksud, tapi memperlihatkan keinginan diakui “ke…an”-nya.

Saya menaruh hormat pada para editor yang telah mencapai level “makrifat”, di mana dia akan menjauhkan diri dari kefanaan dunia jejaring sosial karena jam terbang mengajarinya untuk merunduk seperti prinsip padi. Baginya, teks adalah ibarat kayu yang bisa diukir menjadi bentuk yang berbeda-beda. Dari tangannya lahir karya-karya berkualitas baik. Jika ingin tahu salah satu jalan menjadi penulis, jadilah editor buku terlebih dahulu. Penulis boleh jadi tidak tahu caranya menyunting naskah. Tapi seorang editor buku pasti tahu caranya menulis dengan rasa yang berlogika.

Dan kepada para editor gadungan di jejaring sosial, pertanyaan saya hanya satu: kapan kalian mau tobat?

Jogja, 20 September 2016

  • Retno Nurul

    Keren!