Cerita yang Untukmu dan Hanya Untukmu

in Cerita Pendek by
Cerita yang Untukmu dan Hanya Untukmu, cerpen eko triono, cerpen terbaik
beautifulbizarre.net

Sepanjang hari-hari tanpamu, aku melihat: tiap delapan ribu enam ratus empat puluh detik, cerita-cerita terus berjatuhan.

Kadang mereka, alur yang basah itu, jatuh sebagaimana gerimis merahasiakan rintik rindunya. Kadang adalah hujan lebat: Yang runtuh disertai angin pematah ranting kuasa; meningkap jatuh daun kering picisan; menghempas singgah burung-burung ababil; dan mencelup basah jalan-jalan kesunyian.

Orang-orang pun sering dengan terpaksa, atau—sebenarnya biasa-biasa saja, bersiap menunggu reda.

Ada yang menunggu sambil bercakap sepintas lalu dan menghindar dari tempias di emperan. Ada yang duduk sendiri memandang ke luar jendela, memerhatikan bagaimana daun-daun tanpa hasrat dihempas, diguyur cerita sedemikian rupa, sampai-sampai licin tuntas tak kentara.

Dan ada di kejauhan, orang-orang yang berlarian dengan payung aneka warna; melindungi diri dari cerita-cerita yang bisa membasahi pakaian, rambut, atau merusak isi saku mereka. Juga menghindar dari cerita-cerita yang menyebabkan demam, flu, kembung, mual, muntah, angin duduk, atau terpeleset, atau terciprat kotor sebab banyak yang bercampur lumpur dan menggenang di sisi jalan.

Cerita-cerita yang dingin dan kadang berkabut itu suatu kali pernah menciptakan pelangi dan melarutkan senja, sehingga banyak orang terlambat kerja karena terlalu lama memandanginya.

Di kali lain, malah pernah menciptakan banjir, lantas pintu rumah mesti cepat-cepat ditutup, agar sampah-sampah tidak masuk membawa bau busuk dari tempat yang jauh atau dari waktu yang silam.

“Lalu kapan kamu akan menuliskan cerita yang untukku dan hanya untukku?” 18 Agustus.

Entahlah, sepanjang hari-hari tanpamu: antara q-a-z di kiri dan p-l-, di kanan; antara huruf-huruf dengan lidah dan rambutku, telah tumbuh cerita-cerita lain. Tentang orang-orang yang ditutup matanya misalnya.

Ketika itu, dini hari sedang lembap, kaki mereka menggurat lumut licin di lingir jembatan. Regu tembak bersiaga. Komandan regu mengambil hangat dari asap sebatang rokok, kemudian memberi aba-aba. Maut dikirimkan segera. Orang-orang itu menjeritkan kematian, terjerembap ke sungai bisu.

Tapi seseorang dari mereka terhindar dari peluru. Hanya ikut rubuh-rubuh kartu. Ia terhanyut bersama mayat teman-temannya yang dituduh memberontak. Dan jembatan itu adalah jembatan yang sama tempat kita bertemu mengerjakan soal tata negara, sembari sedikit membicarakan cinta.

Gerimis, yang seperti cerita, turun mempercepat dingin. Kamu tiba-tiba memelukku. Menutup mataku dan berkata: Tembak aku sekali lagi, di sini. Bibirmu gemetar. Tidak hanya menembak, aku juga meledakkanmu kemudian. Hingga jantungmu memburu denyut biru. Dan sayap malaikat mengepak dari rusukku yang hilang. Setelahnya kita mengira akan bersama lebih lama dari selamanya.

Dan di hadapan q-w-e-r-t-y, di muka papan ketik, aku ingin menyusun segalanya kembali. Untuk terjadi lagi dan lagi. Kapan pun kuinginkan.

Tentang pipi dan rambutmu yang dibasahi gerimis. Senyummu yang tebu. Lehermu yang indah. Rambutmu yang dikepang dua. Tahi lalat yang rahasia. Telapak tanganmu yang berurat biru. Atau tentang ricik sungai yang mengalir di bawah kaki kita. Mengalir membawa cerita-cerita ke ujung dunia. Mengalir membawa arus ke celah bebatuan yang puncaknya retak tiga bagian. Mengalir menyusup ke dalam semak lebat beraroma lumpur basah di tepian, hingga matamu basah, dan bunga-bunga di halaman rumah kau petik dengan rasa bersalah yang indah.

Tapi, aku takut dan masih juga takut: jika kuceritakan tentang dirimu, maka semua ingatan ini bukan lagi milikku sendiri. Seperti ada yang lepas.

Padahal jika sudah tentangmu, dengan kata pun sebenarnya aku enggan berbagi.

“Tapi kapan kamu akan menuliskan cerita yang untukku dan hanya untukku?” 4 Juli.

Aku pernah mencobanya. Bahwa di dunia yang berisik ini, di mana tiap molekul udara mengandung kata-kata yang terus-menerus dihirup dan diembuskan kembali, hingga kita terperangkap, bahkan sesak, aku pernah mencoba menulis tentang pertemuan kita. Di perpustakaan daerah.

Kakiku belum sampai untuk berjinjit dan tangan menggapai rak tertinggi. Buku terlarang. Ditulis oleh orang yang teman-temannya ditembak rubuh di lingir jembatan. Tapi sejujurnya aku lebih suka bertemu denganmu. Mencintaimu. Meski semua itu hanya sebuah cerita.

Kita pun menikah setelah perpisahan yang rumit dan permainan yang membosankan. Kita menikah seperti di dalam cerita.

Kita memiliki anak manis. Anak manis yang juga ada di dalam cerita. Anak itu tumbuh besar: berlarian ke sana kemari, mengucapkan kata-kata pertama, berbicara dan bertanya, mencorat-coret tembok, bernyanyi, kemudian menjalani hari pertama sekolah. Hari pertama yang ada di dalam cerita.

Di hari itu, kamu tersenyum, kemudian menangis. Kamu berkata bahwa sebenarnya anak itu bukanlah anakku. Kamu sudah pernah dibuahi oleh lelaki lain. Ketika lelaki itu pergi, kamu mencoba mencari jalan keluar. Kamu menarik perhatianku. Akhirnya kita pun menikah dalam kisah yang singkat.

Kamu merasa bersalah. Kamu sering menangis sendirian. Tidak masalah bagiku. Itu tidak mengejutkan, kubilang. Aku sudah tahu. Lagi pula, kalau manusia bisa menyayangi kucing yang tidak mereka lahirkan, mengapa harus mempermasalahkan seorang anak yang justru lahir dari rahim sesama manusia?

Kamu memelukku sama seperti pelukan di jembatan saat orang-orang dibariskan, ditembak pada suatu malam, ditembak, rubuh ke sungai. Dan kamu kemudian rubuh hilang entah ke sungai kisah yang mana. Aku mencarimu. Tapi, tetap tidak ketemu.

Tiap delapan ribu enam ratus empat puluh detik, cerita-cerita terus berjatuhan. Dan aku menunggu. Ketika cerita-cerita menjelma hujan, akulah yang berlarian mencarimu di dalam alur yang kadang basah itu. Akulah pohon yang licin dan tak kentara. Akulah arus yang dahaga.

Akulah jalan basah yang merahasiakan lumpurnya. Aku terus mencarimu. Dari satu buku ke buku yang lain. Dari satu halaman ke halaman yang lain. Dari satu lembar koran ke lembar koran yang lain. Dari satu laman ke laman yang lain.

Dari satu cerita ke cerita yang lain. Dari cerita yang penuh pesan moral, sampai yang penuh kutipan. Dari yang bajakan sampai yang cengengesan. Dari yang dilarang, sampai yang disayang. Dari yang mendapatkan penghargaan, sampai yang dicampakkan. Dari yang diterjemahkan ke berbagai bahasa, sampai yang tidak perlu dibaca sampai selesai untuk tahu apa isi ceritanya. Dari yang penuh dusta, sampai yang hanya hebat dalam imajinasi pengarangnya.

Dari yang realis, magis, sampai yang narsis dan berlagak puitis seperti ini. Dari yang salah ketik, sampai yang salah tangan sebab betapa tega cerita macam demikian dituliskan. Ketahuilah, wahai kamu, ketahuilah dengan pengetahuan yang sebenarnya bahwa aku telah sungguh-sungguh mencarimu.

Aku berharap dan terus berharap kamu akan muncul di sana. Sebagai tokoh utama atau hanya orang yang lewat begitu saja.

Sebagai tokoh yang sedang berperan atau sebagai kamu yang sebenarnya. Kamu yang kukenal betul. Dengan senyummu yang beraroma tebu. Lehermu yang indah. Dan bicaramu yang sedikit, tapi diulang-ulang.

“Hei, kapan kamu akan menuliskan cerita yang untukku dan hanya untukku?” 18 Oktober.

Bukan hanya cerita tentangmu. Sebenarnya aku bisa saja menulis yang terbaik tentangmu. Aku bisa mengubah pagi itu berakhir baik.

Ketika hari pertama sekolah anak kita, di mana kamu mestinya tetap tersenyum. Tidak menangis setelahnya. Tidak mengatakan bahwa itu bukan anakku. Aku bisa membuatmu yakin kejujuran itu tidak sama dengan menceritakan semua rahasia. Aku bisa berbisik: Di dalam cerita atau di dunia nyata, kamu berhak menyimpan sebuah rahasia atau lebih. Aku juga bisa membuatmu berhenti menangis sendirian di sudut malam.

Tapi, kalau di dalam tangis pun aturan diterapkan, lalu di mana letak kebebasan hidup. Kamu milikku. Milik bukanlah rampasan.

Bukankah di dalam tidur yang berdekapan sekalipun, saat terpejam, seseorang hanya lelap kembali ke dalam diri masing-masing? Ya, aku bisa saja membuatmu hadir setiap hari. Mengulang kata-kata terbaik. Menyajikan masakan-masakan terbaik. Melakukan hal-hal terbaik.

Namun, apa yang lebih baik dari membiarkan seseorang menjadi dirinya sendiri? Membiarkanmu utuh sebagai dirimu. Tanpa aku harus mengepang rambutmu. Tanpa aku harus membuat matamu ceria atau sedikit bicara.

Maka kubiarkan kamu pergi seperti arus yang menempuh alurnya sendiri. Kalau aku mencarimu dari satu tempat ke tempat lain, dari satu cerita ke cerita yang lain, itu lebih demi anak kita.

Dia bertanya tentangmu. Dia ikut menunggu bersamaku saat cerita jatuh seperti hujan yang picisan. Kami menunggu bersama beberapa orang yang bercakap-cakap dan tertimpa tempiasnya. Lalu pindah menunggu dari balik jendela. Menunggu sembari duduk memandang jajaran huruf dan tanda baca.

Di sana, di antara spasi dan kemungkinan kata-kata, aku bisa saja membuatmu tiba-tiba muncul. Dari situ, dari pintu kafe. Dengan rambutmu yang dibuliri hujan, pipi basah, bibir gemetar. Dan siap meledak dalam pelukan kangen yang sama kuatnya dengan di atas jembatan. Tapi aku ingin mengajarkan tentang menunggu pada anak kita.

Tentang tidak tergesa-gesa. Tentang kelambatan. Tentang kesunyian yang semakin mahal. Tentang merenungi diri dan peristiwa. Tentang sesuatu yang jarang dilakukan oleh banyak orang yang semakin terburu-buru. Tergesa-gesa. Yang kian mudah dipicu ledaknya. Yang mudah diperalat isu pada akhirnya.

“Jadi, kapan kamu akan menuliskan cerita yang untukku dan hanya untukku?” Pesanmu, hari ini.

“Bukan aku, tapi anak kita. Dia yang akan melakukannya. Di masa depan.”

“Omong kosong! Anak kita hanya ada di dalam cerita.”

(2016)

Eko Triono

Eko Triono

Menulis kumpulan cerita Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (DIVA press, 2016).
Eko Triono