Cerpen Eksperimental atau Sekadar Praktikum?

in Esai by
profesionalnaastrologija.com

Ada dua hal pokok dalam pembahasan kali ini. “Pertama”, eksperimen /ek·spe·ri·men/ /éksperimén/ (n) percobaan yang bersistem dan berencana (untuk membuktikan kebenaran suatu teori dan sebagainya). “Kedua”, praktikum /prak·ti·kum/ (n) bagian dari pengajaran yang bertujuan agar subjek pencoba mendapat kesempatan untuk menguji dan melaksanakan dalam keadaan nyata apa yang diperoleh dalam teori; atau pelajaran praktik.

Dalam teologi penciptaan berlaku creatio ex nihilo—penciptaan dari ketiadaan—tidaklah dimiliki oleh siapa pun, selain Tuhan.

Artinya, setiap selain Tuhan, berada dalam batas terampil no creatio ex nihilo—tidak bisa mencipta dari ketiadaan.

Dengan demikian, suatu ciptaan yang baru, atau dianggap baru oleh manusia, berasal dari sesuatu yang ada sebelumnya, baik berupa pengembangan maupun “pertentangan” atas penemuan yang sebelumnya di antara sesama manusia. Peranti-peranti untuk kebaruan pun disediakan oleh semesta; “tangible” maupun “intangible”.

Keadaan tersebut, kalau enggan menyebutnya keterbatasan, membuat daya cipta manusia dibatasi oleh “ruang” dan “waktu”.

Manusia menempati ruang geografis dan kebudayaan yang variatif, dan geraknya dibatasi oleh waktu; meliputi usianya sendiri dan waktu peradaban tempatnya hadir, sebab manusia tidak abadi.

Akibatnya, sesuatu bisa jadi baru bagi orang lain, tetapi tidak baru bagi orang, atau kelompok orang, yang lainnya. Misalnya, dunia ini terasa baru dan menakjubkan bagi anak yang berusia 1 tahun, namun terasa tua dan meletihkan bagi orang yang berusia 100 tahun.

Seluruh faktor yang terlibat dalam perkembangan manusia memengaruhi perspektif tentang karya dan kebaruan karya manusia.

Dari perspektif tersebut, kita mendapati bahwa ada percobaan untuk menjajal atau menemukan yang baru dan ada “kebaruan-temuan” itu sendiri. Ada eksperimen dan ada eksperimental: /ek·spe·ri·men·tal/ /éksperiméntal/ (a) bersangkutan dengan percobaan.

Si Tiwi cantik, akan berbeda dengan: si Tiwi adalah kecantikan, dan berbeda dengan: si Tiwi berusaha cantik.

“Si Tiwi cantik” hanya mengandung sedikit variabel dari sekian variabel yang ada tentang cantik. Sementara, “si Tiwi adalah kecantikan” memiliki keseluruhan aspek/hakikat cantik. Ini pun berbeda dengan “si Tiwi berusaha cantik”. Walaupun tidak mewakili konsep sepenuhnya, namun ilustrasi Tiwi ini dapat mempermudah mengidentifikasi irisan himpunan antara konsepsi dan indikator eksperimen, eksperimentasi, serta eksperimental menurut sementara pemahaman saya.

Dalam pandangan “personal-subjektif”, setiap cerpen adalah eksperimen dan prosesnya: “eksperimentasi”.

Itu menjadi eskperimen bagi orang yang pertama kali menulis cerpen di dalam hidupnya. Itu menjadi eskperimen agar penulis mampu menulis cerpen dan mengakhirinya.

Bagi yang pernah menulis “sebelumnya”, itu akan menjadi percobaan untuk menulis cerpen yang lain; genre yang lain, misalnya, yang berbeda dengan yang “sebelumnya”. Itu juga bisa menjadi eksperimen bagi penulis yang akan “meniru” gaya seorang pengarang yang baru saja dibacanya atau diketahuinya. Itu juga bisa menjadi eksperimen bagi penulis yang akan menerapkan sebuah teori, kaidah, trik, atau apa pun yang belum pernah ia gunakan sebelumnya di dalam cerpen. Juga menjadi eksperimen untuk meniru karakter/gaya di sebuah media tertentu agar dimuat, atau penerbit tertentu, atau untuk memenangkan lomba, atau untuk mendapatkan pujian dan seterusnya.

Di tahap itulah, mereka sebenarnya sedang praktikum. Hasilnya kemudian yang akan berbicara.

Di paragraf ini, saya ingin mengingat beda antara Tiwi cantik, Tiwi adalah kecantikan, dan Tiwi berusaha cantik.

Tiwi cantik tentu memiliki bagian dari “kecantikan”. Tiwi berusaha untuk cantik, maka di sana ada usaha untuk mencoba membuat yang “dianggap” baru.

Cerpen eksperimen, tentu memiliki bagian, meski sedikit apa pun, dari proses menuju “eksperimental”. Namun, untuk menentukan “eskperimental”, menurut sementara pengetahuan saya yang terbatas, diperlukan perangkat yang komprehensif, sebagaimana menentukan “kecantikan” itu sendiri. Tidak boleh, dan tidak seharusnya, “personal-subjektif”.

Ada alat ukur. Ada alat nilai yang bisa jadi di luar pendapat penulisnya sendiri.

Secara sederhana dapat soalan eksperimental ini, menurut hemat saya, diringkas menjadi dua aspek yang membawa dua aspek lain.

Dua aspek pembawa adalah “kebahasaan” dan “non-kebahasaan”. Ia membawa di dalamnya aspek “ruang” dan aspek “waktu”.

Aspek kebahasaan, sering kali dipahami sebagai aspek alat bercerita. Kemampuan eksperimentasi atasnya meliputi pendaya-baruan efek di berbagai struktur pembangun linguistisnya; mulai dari fonem, hingga hantaran bentuk-pewacanaan, sampai dalam formalitas panjang-pendek. Di sini, ada yang berpendapat inilah eksperimen atas “bentuk”. Di dalam prosa, bahasa secara khusus menduduki fungsi yang berbeda dengan di dalam puisi, esai, atau teks drama dan film, meski, irisan fungsional-tafsirannya atas objek mendekati sama; dalam arti, karya, secara kasar dan sederhana, adalah penafsiran subjek atas objek menggunakan perangkat tertentu, jika ilmiah menggunakan alat “objektivitas” dan jika sastra menggunakan “subjektivitas”—meski di beberapa tempat saling menggugurkan.

Dari aspek ini, kita kerap menemukan bahwa eskperimental sering kali merupakan hasil dari selang-seling antara ragam pemanfaatan aspek kebahasaan dan ragam kesusastraan itu sendiri: puisi, prosa, esai, drama.

Sementara aspek non-kebahasaan, melibatkan seluruh unsur yang sering disebut “ekstrinsik” di bangku sekolah.

Berbeda dengan aspek kebahasaan, aspek non-kebahasaan ini lebih “luas”, sekaligus “terbatas”.  Ia luas jangkauannya, tetapi terbatas oleh “ruang” dan “waktu” yang dibawanya. Kebahasaan itu “sempit”, tetapi pembatasnya tidak seketat aspek non-kebahasaan. Ringkasnya, eskperimen atas bahasa dapat berterima dalam jangka yang panjang, sebagai pendobrak daya ungkap baru, cara berkisah baru, misalnya. Meski, ia terbatas dalam kerangka “sebelum yang baru lain muncul”, kemudian berkembangannya bahasa, dan alih-bahasa ke bahasa yang lain, maka aspek eksperimen ini mengalami degradasi karena faktor lain.

Di aspek non-kebahasaan, eksperimentasi sering dilakukan, dan sering kali dijadikan penanda oleh kritikus terhadap tonggak-tonggak sastra, atau periodisasi.

Namun, aspek ini, lebih terbatas lagi pergerakannya.

Misalnya, di saat masyarakat menganggap yang tabu tak boleh dituliskan, maka sastrawan yang menuliskan hal tabu dianggap melakukan eksperimen; “percobaan-melawan-yang-mapan”, dan contoh-contoh lainnya yang akan terlalu panjang jika diuraikan. Apabila yang melawan mapan telah menjadi kemapanan itu sendiri di suatu periode, maka “yang baru” itu berakhir, dan dibutuhkan perlawanan lain. Di saat itulah, cerpen, sebut saja demikian, yang eskperimental pada suatu masa, hanya menjadi “tanda-masa”. Ia tidak lagi eksperimental pada masa berikutnya.

Hal tersebut juga berlaku atas ruang, yang sering kali bersekutu dengan waktu, bahwa yang baru di satu tempat, atau negara, bisa jadi hanya hal usang di negara lain.

Dari dua aspek terakhir, ada simpulan sederhana soal eksperimental, menurut sementara pendapat saya.

Yang dianggap-baru, tidaklah betul-betul baru. Kebaruan harus menyadari kedudukan dirinya atas diri yang lain, kemudian mengambil langkah. Jika prosa, cerpen, ia bisa melihat posisi dirinya untuk melakukan tukar-tangkap-dengan jenis lain dan disiplin lain, baik di dalam sastra itu sendiri, maupun di luar sastra. Ini yang dengan mudah dapat diamati.

Sastra, sejak semula, hadir sebagai alternatif berpikir bagi masyarakatnya.

Sastra, senaif apa pun menghindari pengakuan ini, menawarkan apa yang “lain” dan meneriaki apa yang “mapan”, dalam konsepsi maupun dunia rekaan.

Perbedaan ruang dan waktu antar-teks sastra, antar-benua dan abad misalnya, maka membuat yang baru bisa dengan mudah diciptakan; misalnya dengan akulturasi, penggantian komponen instrinsiknya, dan seterusnya, yang ini dengan cepat kita temukan contohnya di khazanah kesusastraan kita; “mengekor” ini, mengekor itu, atau bahkan menjadi ganjil di luar ini dan itu, menjadi “utin”, misalnya.

Dengan demikian, jelaslah hakikat berkarya bagi manusia memang no creatio ex nihilo, tidak bisa berkarya dari nol.

Pengarang membutuhkan referensi yang komprehensif tentang bidangnya, lintas waktu, lintas ruang, antar-bahasa, antar-negara-benua, dan seterusnya. Dengan cara seperti inilah, bidang tersebut, terutama cerpen, dapat berkembang, tidak hanya “inses” atau parahnya lagi “salinan”.

Cerpen sebagai bagian dari ilmu-pengetahuan, maka penulisnya harus siap dengan adagium ilmu: “penemuan-penemuan” dan “bantahan-bantahan”.

Peristiwa semacam ini akan menjadi langka di dalam masyarakat yang mudah tersinggung, anti-kritik, mudah melapor-laporkan, dan tidak siap untuk menuju sesuatu yang baru, dan hanya siap memuja penemuan baru masyarakat lain—sementara tidak siap menerima penemuan baru dari “lawannya” sendiri. Ia menganggap diri dan masanyalah yang terbaik dan patut jadi panutan. Ia menganggap dirinya mesin fotokopi-akademik, mengulang hal yang sama pada orang dan masa yang berbeda supaya kelihatan hebat, padahal menjadi ketahuan pengetahuannya hanya itu-itu saja.

Dengan adanya lomba cerpen eksperimental dari Penerbit Basabasi, saya berharap, akan ada pencarian, penemuan, dan hasil temuan, yang bukan hanya memberi dunia baru teks cerpen, tetapi juga gairah mencari, gairah menemukan, dan, ini yang paling penting: “gairah membantah karya yang ada sebelumnya”, sehingga ada dialektika, ada perayaan atas sastra, baik sastra sebagai sarana bersenang-senang, maupun ruang untuk bersungguh-sungguh.

2017

Eko Triono

Eko Triono

Menulis kumpulan cerita Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (DIVA press, 2016).
Eko Triono

Latest posts by Eko Triono (see all)

  • WN Rahman

    Ini keren