Cerpen yang Panjang dan Ketahanan Membaca Masyarakat yang Mengenaskan

in Esai by
newlifestyle.gr

Dari sekian banyak rumusan cerita pendek (cerpen) yang berserakan di jagat raya, apa yang dicetuskan sastrawan legendaris asal Amerika Serikat Edgar Allan Poe dapatlah dikatakan sebagai (salah satu) pengertian yang menarik. Tidak seperti kebanyakan ahli (?) yang mendefinisikan cerpen dengan membawa unsur-unsur literer yang dikandungnya, Poe dengan gamblang menyebut cerpen sebagai materi cerita yang lunas dibaca dalam sekali duduk. Meskipun begitu, entah malas membaca atau memang terlalu ribet “menghafal” pengertian cerpen “yang nyastra” dari perumus yang lain, versi Poe justru yang paling banyak diikuti, meskipun, ya meskipun, tak banyak pula yang sadar melakukannya, atau bahkan malu/tidak-mau mengakuinya.

Di Indonesia, pengertian versi Poe ini “memaksa” cerpen melahirkan sifat yang bersesuaian dengan ketahanan membaca masyarakatnya, sehingga cerpen pun secara alami dan jamak memiliki panjang antara 5000-12.000 karakter atau menghabiskan 4-8 halaman bila ditik di kertas kuarto. Karakter demikian tentu saja diaminkan/bersesuaian-dengan-selera media massa populer seperti koran dan majalah yang mensyaratkan keringkasan—bahkan jurnal sastra dan antologi cerpen yang seharusnya memiliki prerogativitas dalam menentukan tebal-tipisnya halaman tiap edisi pun “tak terlalu dapat berbuat banyak” sehingga cerpen-cerpen yang mereka sajikan pun, paling tidak dalam hal panjang-pendeknya, tidak jauh berbeda (untuk tidak mengatakannya “sama persis”) dengan apa yang dimuat koran dan majalah. Lambat laun, hal itu pun menjadi kebiasaan. Menjadi kultur, menular dan mapan. Menjadi standar, panduan, pegangan, tolok ukur, dan kriteria sehingga mau-tidak-mau wajib diimani siapa pun yang ingin mengarungi dunia cerpen.

Pengarang-pengarang yang ingin menekuni cerpen, harus mematuhi dan membiasakan diri dengan sifat “fisik” karya sastra yang satu itu. Yang menulis terlampau panjang, harus rela menyimpannya di dalam folder pribadi sembari menunggu waktu yang mustajab dan mood yang bersahabat untuk memangkasnya dengan ekstrem sehingga bersesuaian dengan proporsi tubuh cerpen yang diterima redaktur. Tanpa menafikan peran jurnal dan majalah sastra yang memberi ruang yang “agak sedikit lebih luas” daripada koran dan majalah populer, akhirnya kenyataan memang berpihak pada karya yang ditulis dengan pendek, sepanjang 5000-12.000 karakter itu. Yang masih keukeuh menulis cerpen yang panjang-panjang—atas alasan estetika atau muatan moral mahaagung seperti apa pun—adalah “kaum pengarang-kiri” atau para pemberontak yang sudah sampai tingkat wali keberserahannya. Mereka seolah benar-benar mengimani benar hadis Rasulullah yang berbunyi bahwa umat pilihannya adalah mereka yang asing di tengah kebisingan akhir zaman (Dan bagi pengarang yang istiqomah seperti ini, kata “asing” itu juga berlaku untuk mereka yang siap dan bahagia-raya berkarya dalam ketulusan paling bisu sekali pun: memproduksi kegembiraan literer dengan menghindari kamera dan puja-puji media yang fana).

Namun, rupanya Tuhan tidak selamanya berpihak pada redaktur—setidaknya prasangka-buruk itu kerap menghinggap “pengarang asing” itu. Untuk menunjukkan betapa Ia adalah pencipta mahaadil, yang memerhatikan segenap hamba-Nya, “diturunkanlah” Facebook pada tahun 2004 lewat kecerdasan seorang Marck Zuckerberg. Meskipun website dan blog—yang lebih dulu dihadirkan internet—juga bisa memberi ruang-pemuatan karya tanpa-batas-halaman dan meniadakan seleksi redaktur/editor atas nama estetika yang mulia, namun popularitas Facebook lebih menanjak karena ia lebih mudah digunakan sehingga lebih dekat dengan masyarakat. Tentu tak banyak yang tahu—atau hanya mereka yang melihat dunia cerpen ini dari pelbagai sudut pandang dan berjuta kemungkinan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi semesta—bahwa Facebook dan teman-temannya yang bernama Media Sosial adalah fasilitas yang Tuhan hadiahkan bagi dunia yang selalu berubah, tak terkecuali bagi jagat cerpen yang meniscayakan kreativitas dalam proses produksinya. Dan kreativitas, meskipun kerap lahir di bawah tekanan, tak ada salahnya diberi kemudahan-kemudahan untuk memberikan alternatif yang lebih terbuka. Salah satunya adalah ruang yang luas dan luang untuk menuliskan “apa saja” yang berkemungkinan memberikan kedalaman dalam sekali duduk.

Kedalaman dalam sekali duduk. Mungkin itu yang lupa ditangkap para penulis cerpen, redaktur media massa, kurator jurnal sastra, juri sayembara mengarang, atau editor yang meluluskan antologi cerpen untuk diterbitkan. Maka, tradisi menulis-publikasikan cerpen-cerpen di Facebook dan blog pun makin subur dan merimbun. Jagat cerpen pun menunjukkan pergerakan yang dinamis dan relatif progresif. Bahwa ditemukan cerpen-cerpen bermutu (lebih) baik di jagat maya daripada yang tercetak di media massa, bukan lagi berita baru. Namun, kenyataan itu tak lekas membuat media publikasi (cetak) arus utama—koran, majalah, dan antologi cerpen—mengubah kecenderungannya. Bahkan dalam beberapa urusan, pencinta cerpen justru secara tidak sadar melemahkan (baca: mempersempit) ruang luas dan luang yang dimiliki media digital itu sendiri dengan menjadikan website, blog, atau bahkan Facebook sebagai pengarsip cerpen-cerpen yang dimuat media cetak. Meskipun hal itu dapat saja dianggap sebagai fungsi atau keuntungan lebih yang harus dimanfaatkan, sejauh ini tidak banyak (pengarang) yang memanfaatkan media digital sebagai ruang pemuatan karya yang menabrak pakem, paling tidak dalam urusan panjang-pendeknya sebuah karya (cerpen). Secara tidak langsung, disadari atau tidak, media digital pun menjadi penguat hegemoni karya-karya yang dimuat media cetak. Ini belum termasuk pandangan kritikus yang menganggap sastra-cetak “lebih bermutu” daripada sastra di ruang digital.

Lantas, bagaimana “kedalaman sekali duduk” yang diharapkan tersaji dalam sebuah cerpen dengan keterbatasan ruang yang kadung menjadi kanon. Ya, pada akhirnya, keberadaan internet tidak bisa berbuat banyak untuk menghadirkan cerpen yang lain, yang bebas bereksplorasi, yang disilakan menggali sampai sedalam-dalamnya, yang diwadahi kemungkinan berpraktikum sesuai kecenderungan penulisnya. Ternyata tradisi pencerpenan 5000-12.000 karakter itu sudah mapan, mudah sekali menular, dan menjadi acuan tak terbantahkan. Sebagian lupa, atau memang sengaja tak ingin membuka-buka pengertian versi Poe secara lengkap, bahwa sekali duduk menurut pengarang Amerika Serikat itu adalah materi cerita yang tuntas dibaca dalam tiga puluh menit hingga dua jam. Ya, dalam rentang durasi selama itu, sejatinya bisa saja cerita pendek memiliki panjang hingga (lebih) 30.000 karakter atau menghabiskan hingga lima puluh halaman kuarto, sebagaimana kerap kita temukan pada karya-karya cerpen pengarang dunia. Ketika definisi cerpen versi Poe pun dipiuhkan demi menyesuaikan—untuk tidak mengatakannya “dipenggal” oleh—selera media yang mencintai keringkasan atau oleh penulis yang memang malas melatih diri untuk menulis panjang, pembaca pun menjadi korban tanpa mereka sadari. Mereka pun terbiasa untuk menggali-gali kedalaman yang disajikan cerpen dengan segala kependekannya. Diakui atau tidak, kenyataan di atas turut memupuk ketahanan membaca masyarakat yang memang mengenaskan. Mereka akan terus menuntut cerpen sebagaimana tersaji selama ini—yang pendek, yang ringkas, namun tetap “dalam”.

Di tengah kemanjaan yang merajalela seperti ini, salah satu (tawaran) solusi yang tampaknya mesti dicoba adalah dengan memaksa—ya, memaksa—penulis cerpen untuk menghasilkan karya yang panjang hingga berpuluh-puluh halaman. Sejauh ini, tidak ada pemaksaan-masif yang lebih baik selain dengan mendorong para cerpenis untuk berkarya dalam sayembara yang memberikan keluasan kreatif. Lomba Cerpen Eksperimental yang ditaja oleh Penerbit Basabasi (yang mensyaratkan panjang cerpen antara 20-30 halaman) adalah terobosan yang patut diapresiasi di tengah geliat dunia cerpen yang “begitu-begitu” saja. Ya, atas alasan bahwa media digital tidak cukup mampu memaksa cerpenis untuk bereksperimen sebebas-bebasnya tanpa harus dibatasi halaman, kedalaman materi cerpen selayaknya difasilitasi oleh ruang yang luas dan luang, menyediakan alternatif agar masyarakat (pembaca) perlahan-lahan meng-upgrade ketahanannya dalam menekuni bahan bacaan, lomba cerpen ini patut diapresiasi. Ya, bila lomba (semacam) ini lebih sering diadakan atau bahkan menjadi rutinitas, urusannya bukan sekadar mencari (cerpen) siapa yang paling (berani) beda atau bahkan sensasional, namun akan menjadi tawaran menarik untuk mendorong sastra Indonesia menunjukkan kekayaannya, menunjukkan kedalamannya. Menunjukkan kebebasannya. Menunjukkan jati dirinya.(*)

Lubuklinggau, 29 April 2017

Benny Arnas
Follow Me

Benny Arnas

lahir, besar, dan berdikari di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Dua buku mutakhirnya; Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya Melahirkan Seorang Ibu (Diva, 2017) dan Curriculum Vitae (GPU, 2017).
Benny Arnas
Follow Me