Chairil dan Seorang Kawan; Puisi-Puisi Mahwi Air Tawar (Tangerang)

in Puisi by
seorang kawan mahwi air tawa
Sumber gambar e-entertainment.co

Chairil dan Seorang Kawan

Dulu aku tahan orangnya
Ditampar dan jantung disayat parang
Tersuruk dan bangkit menantang
Ikuti gerak dan titahmu sampai hilang bayang

Tapi kini aku orangnya remuk terkoyak
Belaian dan perih tak bisa kubawa sembunyi
Dari puat hati tempat segala dukana berdetak
Sampai hari memperkelam nyeri

Dulu aku sanggup hisap anyir
Dari sayatan bahasa dan belaian penyair
Darah dari jantung binatang sijalang
Berkelitdanlantangtantangkutukan

Tapi kini aku orangnya dimabuk sepoi sepi
Sendiri dan tak bisa berlari
Tak bisa sembunyi dari anak istri
Tak tahan tanggung beban kawan sendiri

Akulah binatang jalang terbuang dari kumpulannya
Terkutuk dari damai kehidupan
Terasing dari bening kelahiran
Damai dan murka berkelindan diudara hampa

 

Suar Sajak Penyair Belukar

Parang berdentang ranting bertalu
Tanah pilu badai menderu
Erat berpeluk akar dan belukar
Di ranjang Desember pahatan petir

Semak sajak-sajak semak
Kuyup tergenang limbah bahasa
Kuyu dan beku penyair nelangsa
Mencari suku kata di tanah retak

Daun beserpih melati aksara
Menanti desau angin pancaroba
Akar menjalar di gembur tanah kuyu
Penyair bernyanyi di sebatang kayu

 

Labirin

Akulah labirin mendamba denyut
Nadimu dalam kelam lorongku
Memar jantungmu terbakar rindu
Cintaku tinggal arang di tungku kalbu

Dedah dan susurlah labirin hidupku
Ke ujung menara kupancang-rentangkan
helai umur. Ke tujuh pintumu
Segala udzur ‘kan kubakar!

Akulah labirin
Mendamba kedipan
Purnama matamu
Di sudut rengsa kalbu

 

Khidmat

Aku akasia dalam gembur angkara
Tak bisa mengelak rengkuhan badai
Retak bibirku mencecap khuldi
Dalam ayunan jubah cinta

Di rimbun pohon keramat
Aku bergelayut membujuk
Hasratku mesra berkobar, agar kelak
Risau dan dusta tak jadi laknat

Aku tumbuh meski tak berpinak
Sesekali aku terbang, terbaring
Dan bersanding di ranjang Agung
Ahai, betapa, serasa surga di pelupuk

Sekujur tubuhku berlumur peluh
Dengus nafasku menjelma doa
Pohon surga yang kupuja
Adakah yang lebih nikmat dari lelehan peluh?

 

Otzu

seribu malam seribu petang
seribu bayangan pedang nan ruyung
mengoyak sepoi sepi kotamu
mememah merah denyut rindumu

datanglah, datang dengan rekah sakura
dan tiuplah seruling hingga membubung kimono kuyu
cecap-sesaplah ini anggur kesunyian
di perbatasan riang-derita setia menunggu

seribu malam seribu pedang nan ruyung
menderas arus sungai dukana
seribu bayang samurai nan ronim
menetak arakan awan hidupmu

samurai mendera hampa jiwa pendekar
di baris hening ronim mendendam
seruling dan nyanyian lengkingkan kelam
seribu tahun kesunyian jantung berdebar

datanglah, Otzu, kotaku biru negeriku pilu
ke tanah sulaman surga
tempat dukana berjalin rupa
tempat koruptor aman sentosa

 

Hari Jahanam

Hari menjelang kematian
kukirimkan sebilah pisau
sedebam desau mata angin
kurangkum dari ranum jantungku,

tebaslah tunas kesakitan
hingga lunas hutang;
judis, kurap, masalalu
terus memagut hasrat.

Kunyahlah sebelum tatap mataku
padam dihalau galau
nafasku tersuruk pada jenjang jurang
pada peta kusam menjelang siang
matahari sejarak inci
antara telapak dan mata kaki

Langit menganga
semburatkan warna merah saga
liang mataku lengang
dan mulutku terkatup
tak kuasa desiskan kalimat pamungkas
perjalanan yang tak akan berakhir
dengan kepingan keperihan
selilit urat menjelma rotan berapi
terus menyala

Mahwi Air Tawar

Mahwi Air Tawar

Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit antara lain; Mata Blater (Cerpen, 2015), Karapan Laut (Cerpen, 2014),Tanean (puisi, 2015). Saat ini masih setia bermukim di Tepi Kali Bedog. Karangnongko. Kini tinggal di Tangerang.
Mahwi Air Tawar

Latest posts by Mahwi Air Tawar (see all)