Cinta Alangkah Rumit

in Cerita Pendek by

huffpost.com-Optimized

Aku masih sangat mencintainya seperti lima tahun yang lalu, tapi dia bukan lagi suamiku dan dia sudah membenciku.

Pulanglah! Aku diam. Pulang, kataku! Aku masih diam. Sekali lagi, pulang! Aku tetap diam (sebenarnya, aku yang ingin memintanya pulang. Hari ini saja, seandainya bisa.)—dan sebagai lelaki yang kutahu mudah marah juga ringan tangan, kulihat matanya menatapku tajam. Sebentar lagi, jika saja kafe ini tidak terlalu ramai—atau jika saja dia merasa tidak malu menjadi pusat perhatian, aku menjamin wajahku sudah dimemarkannya. Dia sudah melakukannya berkali-kali. Berkali-kali pula, aku selalu punya cara memaafkannya meski dia tidak pernah meminta sama sekali.

Aku mencintainya. Dia tidak peduli.

***

Saya mengulangnya, pulanglah, bahkan sampai tiga kali. Dan dasar perempuan keras kepala, dia memilih diam dengan tatapan yang sialan sekali. Maksud saya, caranya menatap seperti meminta dicintai kembali. Namun, telah saya putuskan untuk tidak melakukannya sejak lima tahun yang lalu meski berkali-kali saya harus berbohong pada perasaan sendiri.

Piyama perempuan tercecer di lantai. Sepasang pakaian pria teronggok di tubir ranjang. Sebuah lampu tidur yang redup. Lagu An Affair to Remember. Sebuah meja dengan dua gelas tandas dan botol entah minuman apa. Sepasang tubuh telanjang. Pintu kamar yang lupa dikunci. Dan tatapan terkejut perempuan tirus dan lelaki gemuk sialan yang kompak ke arah saya. Itu lima tahun yang lalu, saya menemukan kenyataan bahwa sekeras apa pun saya memintanya untuk setia, tetap saja perempuan tetap perempuan. Selalu butuh alat kelamin lelaki. Dan duit.

Saya meninggalkan rumah malam itu juga. Membawa beberapa pasang pakaian. Juga membawa pemutar musik kesayangan yang Jil gunakan saat bercinta dengan lelaki itu. Itu kado pernikahan kami yang pertama, darinya.

“Sebentar lagi,” saya berusaha menenangkan diri sambil melonggarkan kerah kemeja dan dasi, menggulungnya sebatas siku. Saya mengalihkan perhatian dari air matanya yang mengalir dan sangat menjijikkan itu. “Sebentar lagi ada tamu yang datang, saya pikir kau tahu maksud saya.”

“Aku tidak akan pulang sebelum–”

“Sebelum saya katakan lagi,” suara saya meninggi, “sundal!”

“Rui?”

“Jangan memelas, Jil!”

“Dengarkan, please!

“Ya, halo?” Saya menempelkan ponsel ke kuping meskipun tidak ada telepon yang masuk.

“Rui, kumohon….”

“Ya, ya? Apa, Pak? Sinyalnya kacrut!”

Bram berjalan ke arah kami, dia tersenyum ke arah saya, dan Jil tampak tahu diri ketika dia meninggalkan saya sebelum Bram menarik kursi dan duduk.

***

Ruichard on time. Itu kebiasaannya yang gue suka. Gue sadar banget, gue hanya punya waktu buatnya saat akhir pekan, sepulang dari kantor. Sementara Rui, dia selalu sempat. Nyaris tidak pernah menolak bertemu. Seorang perempuan berambut bob dengan pakaian kantoran serbacokelat tua pamit kepada Rui sesaat sebelum mereka gue hampiri. Kayaknya wajah perempuan itu memorable banget. Tapi siapa, ya? Duh, lupa!

“Nggak minum dulu?” sambil gue lirik cangkir yang hanya menyisakan ampas di depan Rui.

“Sudah,” jawabnya.

Gue tahu, sebenarnya, tapi gue tidak punya basa-basa yang lain.

“Gue kangen!”

“Kita cari tempat lain.”

“Di mana?”

“Nanti kita pikirkan, Bram!”

Dia berdiri. Dia nyebut nama gue. Aneh banget, tidak biasanya.

“Kenapa?”

Tidak ada jawaban, gue mengikutinya yang kemudian berhenti di pintu kafe. Menunggu. Gue berjalan mendahuluinya, dan beberapa saat kemudian kami sudah berada di kamar hotel nomor 904.

“Ini yang terakhir kalinya, Bram.”

Aneh banget. Rui berjalan ke kamar mandi setelah membalut tubuh telanjangnya dan mengatakan kalimat yang membuat gue bertanya-tanya hingga dia selesai mandi dan bilang bakalan pulang lebih cepat.

“Maaf, saya tidak bisa lagi.”

Gue mulai paham maksudnya. Hubungan kami berakhir? Ah, Rui, jangan!

“Tapi–”

“Tapi kita sudah hampir lima tahun bersama?” sambungnya, memotong kalimat gue, “Saya pernah menikah dan bersama selama sepuluh tahun, tapi pisah juga. Realistislah!”

Nyeri. Gue meremas pinggiran selimut. Berdiri. Berusaha memeluk Rui. Dan gue ditolakya. Dada gue nyeri banget, demi apa pun. Sekali lagi, gue coba, dan lagi-lagi ditolak. Rui mendorong tubuh gue ke ranjang, emosi yang begitu hebat terasa dan kami hilang kendali. Sekali, dua kali, pukulan mendarat di tubuh gue. Rui kalap. Gue membalas. Keributan tidak bisa dihindarkan hingga beberapa menit kemudian pintu digedor keras sebelum seorang petugas hotel muncul, mengecek apa semuanya baik-baik saja.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanyanya.

***

“Lu nggak usah ikut campur, deh!” bentaknya.

Asu! Begitu pintu kamar 904 terbuka, dalam keadaan telanjang, mereka tidak bisa menyembunyikan sisa-sisa pertengkaran. Aku ingin mengumpati mereka, tapi tugasku harus tersenyum. Kalau saja aku tidak takut kehilangan pekerjaan, sudah tentu kutendang penis mereka yang menggelayut menjijikkan itu. Asu! Lupa dibungkus kali, ya? Aku ingin meludahi keduanya. Mereka tidak merasa bersalah.

“Tidak ada masalah.”

Kata salah satunya. Aku tersenyum, menutup pintu, dan kembali terdengar suara ribut. Tapi aku sudah tidak peduli. Sebagai formalitas, aku sudah menegur dan hal-hal menjengkelkan hari ini sudah cukup untuk membuatku tidak ingin turut campur dalam urusan sepasang lelaki sialan itu.

Aku berjalan buru-buru. Menggerutu. Masih jengkel. Aku ingin sekali marah kepada mereka itu. Pagi tadi, di metromini, aku ditampar karena dituduh mencolek pantat perempuan yang bahkan tidak pernah kuperhatikan sebelum aku diumpatinya kurang ajar. Kurang ajar, katanya, dan hanya beberapa saat setelahnya aku kena tamparan. Perih dan memalukan. Sekaligus membuatku jengkel sampai saat ini.

Asu!

Langkahku terhenti ketika menabrak setumpuk daging gembrot. Sialan benar. Aku ingin marah, tapi aku harus tersenyum, aku harus minta maaf.

“Maaf, Pak!”

“Tolol! Matamu pake! Tolol!”

***

Tolol betul. Orang lagi buru-buru, eh malah ditabrak.

“Lu digaji buat ngelamun?”

Dia tidak menjawab dan buru-buru pergi. Saya tidak mau buang-buang waktu sama pegawai hotel rendahan macam dia. Saya harus ke MDA—sekolah balet tempat Lupi belajar dari sore hingga pukul sepuluh malam, beberapa menit lagi. Saya tidak boleh telat atau Lupi bakalan ngambek, dan ibunya bisa pula ikut-ikutan ngambek. Lupi mengambil nama Marlupi Sijangga, tokoh balet yang ibunya kagumi setengah mati—bahkan puluhan posternya terpajang di kamar ibu Lupi. Begitu saya tanyai, dia bilang mantan suaminya yang awalnya mengenalkan—lalu mereka berdua mengoleksi fotonya, menamai anak mereka dengan nama yang sama. Lalu mengharapkan Lupi menjadi balerina pula.

Di dalam mobil, Lupi tidak banyak bicara. Tidak seperti biasanya. Lupi tidak cerewet lagi tentang gerakan-gerakan dasar seperti glissade, pirouette, atau port de bras yang mulai dikuasainya. Saya bertanya-tanya apa yang membuatnya jadi pendiam. Kemarin dia bilang kalau mulai berani belajar gerakan serumit 32 fouettes en tournant, saya memujinya. Beberapa hari sebelumnya Lupi meminta sepatu balet yang baru dan terus cerewet. Kami tiba di rumah dan tidak banyak kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya.

“Tumben,” kata ibunya.

“Tadi kagak macet.”

Lupi langsung menggelayuti tangan ibunya. Gadis mungil itu menangis meskipun kamarnya sudah dihiasi pernak-pernik ulang tahun.

“Lho, kok Lupi nangis, sih?” tanya ibunya, “Nanti rezekinya nggak datang, kan ini hari ulang tahun Lupi. Jangan nangis, ya, Sayang.”

Ponsel saya berdering. Orang rumah. Ada apa? Tidak biasanya. Saya beranjak ke ruang tengah untuk menghindarkan isi percakapan telepon dari telinga Lupi dan ibunya.

“Ya?”

“Rinto sakit, Pi. Sekarang kami di rumah sakit. Buruan ya! Nanti kamarnya lewat SMS saja.”

Saya panik. Saya harus pergi, dan sebelum meninggalkan rumahnya, saya ingin mencium kening Lupi, ia menolak dan berontak. Ibunya menenangkan, saya bergegas pamit. Istri saya menelepon, anak saya sakit.

***

Om jahat, makanya aku tidak mau lagi ajak bicara, aku juga tidak mau lagi dicium. Aku dibilangi tidak punya papa. Papaku alien, kata teman-teman, dan Om Jahat sudah bunuh Papa dan menguburnya di planet lain. Aku tidak mau lagi pergi latihan, aku juga tidak mau dijemput Om Jahat. Kata teman-teman, Om Jahat itu suka culik anak kecil. Aku jadi sangat takut, tapi kata Mama, Om Jahat itu teman Mama. Mama sering bilang ke aku, aku percaya, apalagi Om Jahat sering mencium Mama. Jika sudah larut malam, Om Jahat tidur di kamar Mama, katanya rumahnya jauh. Takut pulang. Jadi aku percaya Om Jahat temannya Mama, karena Mama tidak mau temannya diganggu orang jahat di jalan. Itu sebelum teman-teman bilang ke aku kalau Om Jahat yang bunuh Papa, setelah kukatakan, Mama bilang teman-teman hanya bercanda. Mama juga bilang Papa akan datang di ulang tahunku.

“Tiup lilinnya, Sayang.”

“Tunggu Papa dulu, ya, Ma!”

“Tidak usah, Sayang. Papa nanti bawa kue yang lebih gede, nanti lilinnya Lupi tiup lagi.”

“Benar, Ma?”

Mama cuma diam, mengangguk, kemudian Mama menangis. Aku ingat, kata Mama, kalau Mama nangis artinya Mama lagi senang dan terharu. Mama senang aku ulang tahun.

“Terima kasih, Ma.”

Mama memeluk dan menciumku. Mama masih menangis, aku senang.

***

Aku tidak bisa menahan air mata ketika Lupi menanyakan tentang papanya. Aku pernah berjanji bahwa papanya akan datang saat ulang tahunnya yang ketujuh. Aku sudah berusaha, tapi aku gagal, karena itu aku menangis—dan Lupi tidak pernah tahu. Aku hanya bisa berjanji. Aku hanya bisa kecewa—dan tentu saja hanya bisa menyesal.

Lupi ulang tahun, pulanglah sebentar saja. Demi Lupi!

Kutekan send.

 

***

Sebuah SMS masuk. Lupi ulang tahun, dan tentu saja saya tidak akan melupakannya. Saya mengingat rak sepatu di kontrakan saya. Lima sepatu balet berwarna pink salem dengan ukuran yang berbeda. Sepatu terakhir saya beli seminggu yang lalu untuk Lupi. Empat sepatu lainnya saya beli setiap hari ulang tahun calon balerina cantikku itu.

Saya bangkit dari kasur. Keluar dari kamar 904 menuju kafe hotel sebelum membalas SMS yang membuat air mata saya menetes tanpa saya duga:

Saya sibuk.

 

Makassar, 2015

 

Sumber gambar: huffpost.com

Faisal Oddang

Faisal Oddang

Lahir pada 18 September 1994, sedang menempuh Pendidikan Sastra Indonesia di Universitas Hasanuddin dan bergiat di Komunitas Penulis Lego-Lego. Terpilih sebagai penulis cerpen terbaik Kompas 2014. Faisal menerima ASEAN Young Writers Award 2014 dan novelnya Puya ke Puya menjadi salah satu pemenang Sayembara Novel DKJ 2014, diundang ke Ubud Writers and Readers Festival 2014 dan Makassar International Writers Festival 2015.
Faisal Oddang

Latest posts by Faisal Oddang (see all)

Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co