Cinta dan Tiang Gantungan

in Esai by
nevrosi_fig_vol1_008290_001
images.treccani.it

Cinta adalah kesunyian. Jalan sunyi seorang pencinta adalah semerbak bunga mawar berduri, indah sekaligus ngeri. Keindahan cinta adalah kenikmatan yang tak bisa ditukar oleh apa pun; tapi kengerian cinta juga tak akan bisa ditanggung oleh siapa pun.

Seorang pencinta yang sudah dimabuk kepayang oleh keindahan Sang Kekasih tak akan pernah risau oleh kepedihan yang kelak akan ditimpakan oleh orang-orang yang menzaliminya. Fitnah, hujatan, dan bahkan hukuman mati tak akan sanggup meredakan api cinta yang berkobar. Cinta itu akan selalu abadi pada setiap jiwa yang suci, pada setiap hati yang terbebaskan dari debu iri dan dengki.

Syekh Husein Ibnu Mansur Al-Hallaj (858-922 M) adalah salah seorang pencinta yang hingga kini namanya dikenang. Mistikus yang senang mengembara itu sanggup merasakan kenikmatan sekaligus kengerian cinta itu sendiri. Jalan hidup yang mengerikan telah ditebusnya dengan darah. Saat Baghdad menjadi kota yang sedemikian gaduhnya, yang berkabar tentang fitnah dan kedengkian, Al-Hallaj seolah datang membawa kendi yang berisi minuman cinta. Saat Baghdad sesak oleh asap-asap politisasi agama dan terkebirinya kebenaran, Al-Hallaj menjadi satu-satunya martir di jalan cinta.

Cinta yang sedemikian menggelegaknya telah melahirkan kebencian di antara mereka yang memiliki pandangan sempit. Konspirasi dan kedengkian sengaja mereka rekayasa untuk menghakimi Al-Hallaj. Sa’id Abdul Fattah dalam Qishat Al-Hallaj Wama Jara Maa Ahli Baghdad (2000) menyebutkan bahwa saat itu, Khalifah menerima 80 fatwa yang semuanya menetapkan kekafiran, pengingkaran, dan ateisme kepada Al-Hallaj. Fatwa-fatwa yang tidak saja berasal dari ulama-ulama Baghdad, tapi juga dari pemuka-pemuka agama dari Syam dan Mesir.

Tapi Al-Hallaj tak pernah berkecil hati di hadapan mereka. Tak ada dendam sedikit pun yang bersarang di dalam hatinya. Itulah sebabnya, ketika penduduk dan para ulama di Baghdad mengajaknya berdebat tentang laku hidup yang dijalaninya, Al-Hallaj dengan tandas mengatakan: “Atas nama cinta dan kemuliaan hadirkan mereka”.

Tak ada satu pun yang mampu mematahkan argumentasi teologis yang ditempuh Al-Hallaj kecuali mereka menebarkan fitnah dan menjebaknya ke dalam sebuah situasi politik yang menyudutkannya. Anehnya, Al-Hallaj sama sekali tak memiliki dendam pada mereka, pada siapa saja yang tega menghakimi jalan cintanya.

Cinta yang sedemikian sublimnya telah mengalahkan segala-galanya: algojo-algojo Khalifah yang dipersiapkan itu hanya ditatapnya dengan penuh kasih sayang, dengan senyum ketulusan. Bahkan Ibnu Dawud, salah satu tokoh yang mati-matian ingin melenyapkan Al-Hallaj, ditatapnya dengan senyum, tanpa menyelipkan dendam sedikit pun. Betapa mistikus besar Islam ini memahami bahwa andai mereka merasakan apa yang dirasakannya, sungguh mereka tak akan sanggup melakukannya. “Aku fana dalam kenikmatan cinta yang meluap, tapi di sini pula aku didera derita yang sungguh hebat,” katanya.

  Tapi Al-Hallaj sepertinya sudah meramalkan kematiannya. Ala ‘ddini ‘l salib yakumu maut. Di tiang gantung yang mengerikan itulah dia merasakan pesona perjumpaan agung akan segera digelar. Kematian yang sudah lama dinanti dengan perasaan yang berdebar-debar. Kendati sahabat-sahabatnya yang setia menemaninya melihatnya dengan penuh kengerian di ujung kematian Al-Hallaj yang mereka hormati itu. Sebuah akhir dari kehidupan yang sungguh menegangkan!

Itulah sebabnya, ketika kebencian semakin merasuki tokoh-tokoh agama dan para pejabat kekhalifahan hingga diketuklah palu hukuman, Al-Hallaj bersenandung dengan sangat jantannya: Bunuhlah aku, wahai orang-orang kepercayaanku. Sesungguhnya dalam pembunuhanku terdapat kehidupanku. Kehidupanku dalam kematianku dan kematianku dalam kehidupanku.

   Ekspresi cinta yang sangat liar mengalir begitu saja dari mulutnya. Detik-detik kematian yang sangat puitis. Begitu indah. Ada kenikmatan sekaligus kengerian. Tapi, benarkah itu mengerikan? Barangkali Al-Hallaj hanya merasakan kenikmatan, betapapun dia diarak ke tempat penyaliban dengan siksa yang sedemikian kejamnya. Setelah tangan dan kakinya dipotong, bait-bait cinta mengalir dari jiwanya yang agung: Bunuhlah aku dan bakarlah aku pada tulangku yang hancur lebur. Kalian akan  menemukan rahasia cintaku di antara lipatan-lipatan yang masih tersisa.

Cinta telah membuat jiwa Al-Hallaj terbang meninggalkan segala yang fana. Atas nama cinta ia maklumi perlakuan orang-orang yang sebenarnya tidak paham. Atas nama cinta pula segala tuduhan yang dialamatkan padanya dibalas dengan doa. Andaikan mereka mencecap sedikit saja arak cinta yang ditenggak Al-Hallaj, niscaya tak akan pernah ada fitnah yang berujung siksa. Andaikan mereka mencium sedikit saja wewangian cinta yang ditebarkan Al-Hallaj, niscaya tak akan pernah ada penghakiman dan pengkafiran.

 Karena kebencian sudah menjadi mindset mayoritas pemuka agama saat itu, jadilah Al-Hallaj sebagai korban. Betapapun tajamnya nalar dan argumentasi yang dihadirkan Al-Hallaj saat berdebat, tetap saja palu-palu hukum tak berpihak padanya. Al-Hallaj dianggap sesat dan menyesatkan. Itulah sebabnya, ia disepakati untuk dilenyapkan agar orang-orang tak mengikuti jalan yang ditempuhnya.

Atas nama bid’ah dan kesesatan, atas nama fitnah dan keculasan, bait-bait cinta yang meluap dari kedalaman jiwa Al-Hallaj seperti mengusik para penguasa sehingga tak ada ampunan bagi sufi martir itu selain dihadiahi tiang gantungan. Ditiuplah terompet sebagai simbol disahkannya hukuman mati. Pintu Khurazan—sebagaimana dilukiskan oleh Louis Massignon dalam pengantar Diwan Al-Hallaj—yang penuh dengan kerumunan orang-orang yang tak terhitung jumlahnya seperti menjadi saksi bagaimana Al-Hallaj dicambuk, disiksa, lalu dinaikkan ke atas Gibet (tiang pancung).

Tapi cinta itu akan selalu hidup, betapapun sejarah tak berpihak kepadanya. Cinta akan selalu menyala melintasi zaman, menerobos dinding-dinding waktu yang angkuh dan penuh kepalsuan. Cinta akan selalu menyapa jiwa-jiwa yang resah dan gerah oleh sejumlah praktik busuk penguasa, juga kekerdilan pemuka-pemuka agama yang melacurkan hidupnya demi nafsu semata. Cinta, sebagaimana yang dialami Al-Hallaj, akan selalu hadir pada hati siapa pun saja yang tak kuasa menanggung kerinduan pada Sang Kekasih di tengah kehidupan yang kian renta.

A. Yusrianto Elga

A. Yusrianto Elga

Tinggal di kedai-kedai kopi di Jogjakarta. Twitter @yusrielga
A. Yusrianto Elga

Latest posts by A. Yusrianto Elga (see all)