Cinta di Jalinan Jemari Kita; Puisi-Puisi Muhammad De Putra (Riau)

in Puisi by
angel-cute-heart-love-photography-Favim.com-412672
Sumber Gambar: s3.favim.com

Tangisan di Awal Perjalanan

 

Kaki melangkah pergi

Di sepanjang jalan berliku

Di dalam lubang bertalu.

 

Mata ini masih sembab

Melihat laut kabur lari

Gunung api telah mati

Badai-badai semakin tinggi.

 

Perjalanan ini memang

Mengajarku menangis.

Sebab, Alampun tak sudi

Untukku pijaki kaki.

 

Nyatanya,

Aku menangis di awal perjalan.

 

Gubuk Sastra | 2015

 


Malam yang Tercukur

Oleh aku yang Tersulur

 

Pagi menerkamku dengan tajam

Menikam.

 

Mungkinkah tadi malam

Aku gila merajam

Dan pagi merekam.

 

Pagi ini langit seperti mendung

Berdoa senja cepat tersanjung

Dan datang mengunjung.

 

Malam ini hitam Kelam.

Langit aku cukur saja

Agar sulur bercahaya.

 

Hingga, kini aku membenci senja

Sebab ia mengajarku gila

Bersama menikamnya

Malam.

 

Gubuk Sastra | 2015

 


Cinta di Jalinan Jemari Kita

Kita lahir dengan perbedaan setipis ari-ari bayi

Di matamu terkunci manis berjuta kesenanganku

Dan di mataku terbuang pahit seribu kesedihanmu.

 

Oh, sayangku

Senggang rusukmu

Berseru namaku.

 

Cinta kita akan bersatu

Meski itu,

Membutuhkan pergeseran waktu

dan hanya Tuhan yang tahu.

Namun aku tetap akan menunggu,

Masa itu.

 

Gubuk Sastra | 2015

 

 


Negeri Ibu Sayang

 

Kasih sayangku kian tandang

Saat, mataku menerawang

Sebuah kata berupa “sayang”.

 

Telah ibu kumandang

Dengan senyum mengembang

Membawaku melayang

Menuju Negeri “Ibu Sayang”

 

Gubuk Sastra | 2015

 


Tentang Karpet Basah Di Balai Bambu Ayah

 

Ayah Ubin kita mulai basah

Meski, ubunmu melelah

Bekas hujan kemarin masih merekas.

 

Ayah kapan kan kaubeli

karpet yang bermotif laut

yang menjelma hati kita yang kalut.

 

Ayah

Balai bambu kita hampir layu

Di telan waktu

Dan terendam tangis ibu.

 

Kapan ayah?

Ya, kapan?.

Sebab telapakku mulai merah

Darah.

 

Tertancap batu-batu yang berkeliaran

di ubin kita yang terkeluhkan.

 

Ayah, mungkinkah ada karpet basah

Di gubuk kita kita, ayah?

Sebab, hujan masih bergenangan

Tangis ibu berhamburan

Dan doa-doaku terharapkan.

 

Gubuk Sastra | 2015

Muhammad De Putra

Muhammad De Putra

lahir diSiak Hulu, Kabupaten Kampar, Propinsi Kepulauan Riau, 14 April 2001. Kini masih tercatat sebagai Siswa kelas VIII SMPN 6. Menulis puisi sejak di bangku kelas III Sekolah Dasar. Puisi-puisinya telah dimuat di laman: Medan Bisnis, Metro Riau, Buletin Jejak, Xpresi Riau Pos, Koran Riau, Posmetro Prabu, Tetas Kata, Detak Pekanbaru dan Sudut Aksara. Puisinya juga termaktub dalam beberapa antologi, salah satunya:
Puisi Kemerdekaan Waroeng Books (PKWB, 2015). Sejumlah prestasi telah diraih, di antaranya; Juara 1 Lomba Menulis Puisi Se-Indonesia Tingkat SMP di Bulan Bahasa UIR dan juara 1 Lomba Menulis Puisi oleh Sabana Pustaka Tingkat Nasional.
Muhammad De Putra

Latest posts by Muhammad De Putra (see all)