Cinta itu Babi

in Cerita Pendek by

“Kau tidak bisa membedakan cinta dengan berahi,” kata penyidik itu.

*

Suatu malam, aku jatuh cinta kepada seekor babi. Kulitnya yang putih kemerah-merahan dengan bulu-bulu halus berkilau tertimpa cahaya lampu. Pinggulnya bergoyang ke kanan ke kiri sesuai langkah kakinya yang mantap, seperti tengah menari belaka. Pinggul itu pula yang membuatnya sedikit kesusahan sewaktu masuk kedai meski pintunya sudah terbuka sepenuhnya. Ia mendengus dan menguik seraya menarik dagingnya yang seolah-olah terjepit kusen pintu. Suaranya besar dan dalam dan sepertinya merayap keluar dari lubang hidungnya yang berkilat basah. Sebelumnya, ia melintasiku dengan pandangan lurus ke depan, seolah-olah tak menyadari bahwa aku tengah menatapnya dengan mata yang tak berkedip dan mulut menganga. Setelah ia berhasil membebaskan diri dari jeratan kayu kusen dan lenyap ke dalam kedai, barulah kesadaranku bangkit. Aku menyalakan sebatang rokok untuk melambatkan detak jantung sebelum menyusulnya dan mendapati betapa di dalam sana, orang-orang dalam kuasa alkohol tengah menepuk-nepuk punggung dan kepalanya.

Aku bukan orang yang gampang jatuh cinta. Namun jika aku jatuh cinta, itu selalu dengan sesuatu yang keliru. Aku jatuh cinta pertama kali pada usia sebelas tahun, tepat pada malam ketika aku mendapatkan mimpi basah pertamaku. Aku jatuh cinta kepada sesuatu yang kucumbu dalam mimpi itu. Sebatang pohon trembesi di ujung kampung. Aku terbangun dengan celana dan kening basah. Keesokan harinya, aku mendatangi dan menciumi pohon itu, lantas melakukan reka ulang adegan dalam mimpi. Aku memelorotkan celana dan menggosok-gosokkan isinya ke kulit kasar pohon trembesi. Semua berjalan lancar dan aku terkapar dalam rasa puas yang purba. Setelahnya, aku rutin mengunjungi pohon itu dan mulai menyebutnya “kekasihku”. Dua bulan kemudian, nasib sial menyentuhkan cakarnya yang jahat kepadaku. Seorang pencari rumput memergokiku, lantas melaporkannya pada orang tuaku yang segera menginterogasi dan menghajarku. Keesokan harinya, orang tuaku—atas izin kepala kampung—menebang pohon yang mereka sebut sebagai pohon iblis tersebut. Untuk pertama kalinya, aku merasa hidupku benar-benar hampa. Beberapa hari kemudian, aku memutuskan pergi. Aku menggelandang sampai Semarang, di mana aku mulai belajar menjadi bajingan.

Dua tahun yang lalu, aku kembali jatuh cinta. Kali ini kepada seorang istri guru mengaji bernama Siti. Rumahnya berjarak hanya sekitar seratus meter dari rumah kontrakanku. Pagi itu, aku bertemu dengannya di pasar. Ia sedang berbelanja dan aku berkeliling memungut uang keamanan. Aku menggodanya secara verbal dan ia mengabaikanku. Aku menjawil tangannya dan ia menamparku. Orang-orang memperhatikan kami dan aku tahu beberapa dari mereka tertawa. Aku pergi dengan rasa malu yang luar biasa. Malam harinya, aku mendatangi rumahnya. Aku menyelinap dalam gelap, lantas mencongkel jendela dan melompat ke dalam kamar. Mencongkel jendela tanpa menimbulkan suara bukanlah hal sulit bagiku. Aku telah melakukannya untuk jangka waktu yang lama, tepatnya sejak aku berusia sebelas tahun, sewaktu aku merintis karier sebagai seorang bajingan kecil begitu aku minggat dari rumah orang tuaku. Siti tengah tertidur dalam pelukan suaminya. Mereka telanjang dengan selimut tersingkap sehingga bulu kemaluan mereka yang rimbun terlihat jelas. Pada waktu itulah, untuk pertama kalinya, aku merasakan kecemburuan. Aku melangkah dengan tubuh bergetar ke tepi ranjang. Dengan satu sentakan keras, aku menyeret tubuh suami Siti. Lelaki itu terbangun, namun ia belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi. Aku membantingnya ke lantai. Siti terbangun dan berteriak secara refleks. Dan secara refleks pula, aku menghambur ke arah Siti yang tengah berupaya menutupi tubuhnya dengan selimut dan menghantamkan kepalan tangan kananku yang besar ke arahnya. Cukup satu pukulan untuk membungkam perempuan yang telah berlalu-lalang dalam pikiranku sejak empat hari sebelumnya itu. Ia terdorong ke belakang dan kepalanya membentur tembok sebelum lunglai dan pingsan di atas kasur. Suaminya bangkit dengan terengah. Aku segera beralih kepadanya, menerjangnya. Ia terkapar. Tanpa membuang waktu, aku berdiri di atasnya, lantas kedua tanganku mencekik lehernya yang lemah dan kurus. Lidahnya menjulur-julur dan matanya mendelik. Setengah menit kemudian, aku merasakan ada yang patah dalam cengkeramanku.

Setelah guru mengaji itu mati tanpa sekali pun menyebut nama tuhan dalam sekaratnya, aku—terdorong mimpi yang mendatangiku selama empat hari terakhir, yang membuatku meyakini bahwa aku telah jatuh cinta kepada perempuan itu—memperkosa Siti, tiga kali. Setelahnya, aku memutuskan meninggalkan Semarang dan tak pernah kembali. Rasanya, tak sulit bagi polisi untuk menjatuhkan kecurigaan kepadaku. Mereka pasti akan memburuku.

Aku pergi tanpa tujuan dan tahu-tahu aku telah berada di Surabaya. Di kota ini, aku memulai karier dari nol lagi. Aku mulai berkeliaran di terminal-terminal. Mengadu bogem dengan preman setempat. Mengancam para pedagang dan sopir bus. Dan sesekali melakukan tindak pencurian kecil-kecilan. Bukan perkara yang mudah. Berkali-kali aku meninggalkan gelanggang dengan tubuh remuk redam. Para preman di kota ini memiliki kecenderungan untuk main keroyokan. Namun itu bukan berarti usahaku sepenuhnya sia-sia. Melihat nyali dan kemampuanku, mereka pada akhirnya mengakui bahwa aku adalah seseorang yang berbahaya dan layak dihormati.

Suatu kali, Supri mendatangiku. Ia salah satu preman tua yang menguasai kawasan Bungurasih dan aku telah empat kali baku hantam dengannya. Aku menghormatinya karena ia merupakan satu dari sedikit preman yang berani bertindak kesatria dengan berduel satu lawan satu denganku. Dalam setiap pertarungan, kami sama-sama babak belur dan sepakat bahwa tidak ada yang layak disebut pemenang. Katanya, ia memiliki kenalan seorang janda tua yang hendak membuka kedai arak di kawasan Wonokromo dan membutuhkan seseorang yang bisa menjadi penjaga keamanan.

“Tidak sulit. Kau cukup menghantam siapa saja yang berbuat rusuh atau tidak mau membayar,” katanya.

Aku menyanggupinya. Keesokan harinya, ia membawaku ke rumah Bikung, sebuah rumah besar bergaya kolonial yang konon didapatkan Bikung sebagai warisan almarhum suaminya. Janda itu tersenyum ramah. Ia mengamatiku dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah blantik yang tengah memeriksa sapi yang akan ia beli. “Kau lebih cocok jadi bintang sinetron ketimbang tukang pukul,” katanya. Aku mendelik. Supri tertawa. Bikung juga tertawa.

“Ia sangat andal. Kau bisa percaya padaku,” kata Supri.

“Tentu saja,” jawab Bikung. “Kedainya akan buka empat hari lagi. Kau bisa langsung mulai kerja.”

Sebelum kami pergi, Bikung menyalamiku, lama dan hangat.

Dan seperti yang dikatakan Supri, ini memang bukanlah pekerjaan yang sulit. Kedai itu berdiri di bantaran Kali Jagir dan kebanyakan pelanggannya adalah orang dari kelas bawah. Mereka keras dan ugal-ugalan dan kumuh. Namun, orang yang sudah mabuk hanya besar nyali, sedangkan kekuatannya nol belaka. Aku bahkan tidak perlu mengeluarkan setengah tenagaku untuk menangani mereka. Hanya saja, intensitas perkelahian memang tinggi. Hampir setiap hari selalu saja ada orang mabuk yang bikin onar.

Bikung tampaknya puas dengan hasil kerjaku. Ia kerap memberiku hadiah; baju, arloji, makanan, dan sebagainya. Sesungguhnya, aku tak begitu nyaman dengan hadiah-hadiah itu. Lebih-lebih, caranya berdandan yang menor dan pilihan pakaiannya yang terlalu minim membuatku mual bila berada di dekatnya. Beberapa pekerja di kedai itu kerap menyuiti kami sewaktu Bikung berbicara kepadaku. Dan hal itu membuatku semakin risih.

*

Aku mendekati babi itu. Puting susunya berjumlah empat belas dan semuanya berwarna merah muda. Ada tiga bercak hitam di balik kuping kirinya. Gila. Itu adalah tiga bintik yang sejak enam hari sebelumnya selalu aku cumbu dalam mimpi basahku. Kata orang, mimpi basah normalnya datang sebulan sekali bila dalam kurun waktu tersebut seseorang tidak mengeluarkan cairan semennya, baik dengan bantuan orang lain atau tangannya sendiri. Namun aku, entah mengapa, bisa terus-terusan mengalami hal itu selama enam hari berturut-turut. Kurasa itu adalah sebuah berkah yang menunjukkan bahwa aku memang seorang lelaki perkasa. Melihat bintik tersebut, sesuatu di balik celanaku sontak mengeras. Babi itu datang diseret Nul, salah satu pelanggan tetap kedai ini. Ini bukan pertama kalinya Nul membawa binatang ketika berkunjung. Ia pernah membawa anjing. Lantas biawak. Ia juga pernah membawa seekor anak kambing.

“Kau menjualnya, Nul?” tanyaku.

“Apa?”

“Babi itu.”

“Oh, Betty maksudmu. Kau mau beli? Emangnya kau punya uang?”

“Berapa?”

“Ehm… untukmu aku jual dua puluh tiga juta.”

“Gila!”

“Itu harga teman, Bung. Aku gak ambil untung. Dia babi bule, bukan babi hutan!”

Aku keluar dengan bersungut-sungut. Dua puluh tiga juta. Benar-benar kapitalis sejati. Aku kembali ke tempat dudukku, tepat di sebelah pintu masuk. Di depan sana, empat orang pemulung tampak berjalan gontai. Betty masih menguik dalam pikiranku. Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan merokok dan menenggak arak banyak-banyak. Namun sia-sia. Yang kemudian terlintas di pikiranku justru adegan bagaimana aku menumpahkan cairan semen di atas bintik Betty seperti yang terjadi dalam mimpiku. Aku menggoyang-goyangkan kepalaku, berupaya mengusir bayangan mesum itu dari pikiranku. Namun, sebagai gantinya, terbitlah ide untuk membegal dan menghabisi Nul di jalan sepi sewaktu ia pulang dari kedai ini, lantas membawa pergi Betty dan hidup bahagia bersamanya untuk selama-lamanya.

Namun aku buru-buru meralat ide itu. Hidupku sudah agak tenang sekarang, setidaknya bila dibandingkan sewaktu aku masih berkeliaran di pasar atau terminal. Bila aku membunuh lagi, maka polisi akan kembali memburuku. Aku mesti melarikan diri lagi. Merintis karier dari nol lagi. Menghilangkan identitas dan menciptakan yang baru lagi. Mengarang-ngarang cerita lagi. Tidak. Aku mesti memikirkan sebuah cara lain.

Bau parfum Bikung membuyarkan lamunanku. Aku tak tahu sejak kapan ia berdiri di depanku, sama halnya aku tak tahu parfum apa yang ia semprotkan ke tubuhnya dan berapa banyaknya. Yang jelas, bau parfumnya begitu menusuk hidung dan seakan-akan mampu membangkitkan orang mati. Seperti biasanya, ia tampil dengan segala kebesarannya: bibir merah menyala, bedak setebal dua milimeter, celak sekelam malam, rambut pirang sebahu terurai, tanktop merah muda, rok sepaha, dan senyum yang menjijikkan.

“Aku membutuhkan bantuanmu,” kataku.

“Apa pun untukmu, sayangku,” jawabnya, genit.

“Aku perlu uang, dua puluh dua tiga juta.”

“Kau bisa ke rumahku setelah kedai tutup.”

Kedai tutup pukul empat pagi. Nul pergi satu jam sebelumnya. Ia menyeret Betty yang tampak kepayahan dan oleng. Tampaknya, Nul telah mencekokinya dengan beberapa gelas arak, sama seperti yang ia lakukan pada binatang-binatang lain yang pernah ia bawa. Aku melihat langkah Betty yang semakin menjauh seraya memikirkan apakah benar yang kurasakan itu cinta. Bila benar itu cinta, barangkali di kehidupan sebelumnya, kami adalah sepasang kekasih. Entah sebagai manusia, entah sebagai babi, atau mungkin saja sebagai sepasang buaya.

*

Bikung hanya mengenakan lingerie ungu ketika membuka pintu rumahnya untukku. Bau parfum yang lebih menyengat ketimbang sebelumnya segera menyergap hidungku, membuatku sesak. Dandanannya juga jauh lebih menor.

“Sudah kusiapkan uang yang kau butuhkan,” katanya. “Itu bukan utang. Tapi kau tahu apa yang harus kau lakukan,” tambahnya.

Badanku gemetar. Namun Betty menggoyangkan pinggulnya yang megah dalam pikiranku. Apa pun akan kulakukan untuk babi seksi itu.

*

Aku tiba di rumah Nul menjelang sore, dua jam sebelum kedai buka. Di sana, ia menjamuku dengan krengsengan daging yang enak. “Aku membawa uang untuk membeli Betty, seperti yang kau minta semalam,” kataku.

Nul ngakak. “Maaf, Bung. Kau tidak bisa membeli Betty.”

“Kenapa?”

“Sebab kau baru saja memakannya.”

Perutku mendadak mual. Semua yang barusan aku telah berebutan keluar dari mulutku. Nul tertawa keras. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya tersengal. Aku mengangkat wajah yang merah membara. Lantas dengan satu gerakan yang tidak ia duga-duga, aku menerkamnya. Ia terjengkang dan aku menindihnya. Ia berupaya melepaskan diri. Namun terlambat. Sepasang tanganku telah sampai ke lehernya. Persis sewaktu kehidupan meninggalkan Nul melalui sebuah erang tertahan, sebuah pukulan menghantam kepalaku dari belakang, pukulan kayu yang dilesatkan oleh adik Nul.

*

Lalu di sinilah aku sekarang, di ruang sempit dengan deru kipas angin yang menyiksa. Seorang penyidik di depanku. “Kau tidak bisa membedakan cinta dengan berahi,” katanya.

Dadang Ari Murtono

Dadang Ari Murtono

lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.
Dadang Ari Murtono

Latest posts by Dadang Ari Murtono (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.