Cinta Seumpama Matahari

in Cerita Pendek by
bluegeckodotcodotuk.files.wordpress.com

MINGGU itu kami berada di rumah. Seperti biasa, aku sibuk mengurus bunga-bunga. Meskipun halamannya kecil, bunga-bunga itu sudah berkembang, aku rajin memindahkan ke jambangan baru. Bibit-bibit yang kupindah itu lebih cepat berkembang setelah lepas dari induknya. Aku juga membuat stek pada mawar dan ephorbia.

Seharusnya aku kerja hari ini, tapi Putri memintaku tetap tinggal di rumah. Aku setuju. Ada baiknya aku menghabiskan hari Minggu di rumah bersama mereka. Membuat pekerjaan kecil-kecilan. Ada bahagia juga hal-hal kecil itu menyibukkanku.

“Rasi betul bunga ini sama Bang Thaib,” sapa Ana.

“Tidak seperti kau, Ana. Bunga yang subur bisa mati,” ucap Putri yang baru muncul.

“Dari tadi kalian memperhatikanku, ya?”

“Sok ganteng, Abang!”

Kutanggapi dengan senyuman.

“Eh, yuk sarapan dulu!”

Setelah membereskan beberapa pekerjaan, kubasuh tangan dan kakiku yang terkena kotoran. Aku menuju meja makan. Mereka sudah menyiapkan sarapan pagi. Di meja makan aku tidak banyak bicara. Aku memang tidak banyak bicara selama bertemu mereka di sini.

“Bang Thaib lain, ya?”

“Lain bagaimana?”

“Tidak seperti yang kami kenal dulu saat di Krueng Geukueh.”

Aku tersenyum, “Iya, ya? Barangkali karena kondisinya berbeda. Saat itu kita bertemu, aku sebagai pejuang. Ketika bertemu di sini, aku sebagai gelandangan.”

“Tapi kan tetap pejuang?”

“Ya, berjuang untuk hidup.”

Putri menatapku. Matanya yang indah, bahkan ketika dia bangun tidur. Seandainya aku suka main api, akan kubakar jiwa ini. Jangan larang aku untuk mencintai. Jangan halangi aku untuk meraih cintanya.

Aku tersenyum. Dia tersenyum. Tapi adiknya cemberut. Bibir bawahnya bulat tergulung seperti cabai masak.

“Bang Thaib punya pacar?” tanya Ana perlahan.

Aku mendonggakkan kepala, “Yang kupikirkan selama ini mencegat tentara lewat. Memikirkan bagaimana aku bisa membuat mereka terkapar tanpa bisa membalas tembakan.”

“Jadi Bang Thaib betul-betul pembunuh?” tanya Ana.

“Untuk apa juga pegang senjata kalau tidak menembak. Itu sama artinya bunuh diri. Karena tentara pasti menembak orang yang memegang senjata. Yang tidak pegang senjata juga ditembak!”

“Bang Thaib betul-betul terlibat dalam perang?” pastinya.

“Ya. Namanya saja tentara pejuang!”

Selesai makan, kedua perawan itu sibuk membereskan piring dan sisa-sisa makanan. Aku kembali ke teras. Menyulut sebatang rokok. Padahal aku bukan perokok. Tidak candu. Sesekali saja aku merokok. Kali ini aku betul-betul kepingin.

Beberapa lama aku duduk sendirian. Kedua gadis itu tak muncul. Tidak seperti biasanya, mereka selalu berkumpul di mana saja aku berada. Agaknya mereka punya kesibukan. Mencuci piring, atau mencuci pakaian, barangkali.

Aku juga tidak ingin larut sendiri. Mengerjakan hal-hal kecil lebih baik. Membetulkan rak sepatu kayu yang beberapa bagiannya terlepas. Bekerja bisa membuat asyik, menghilangkan kesuntukan, dan menghindari khayalan tak tentu arah.

“Abang rajin sekali, ya?” ucap Ana, tiba-tiba muncul.

“Kau menggodaku?”

“Tapi tidak akan tergoda, bukan?” pancingnya.

“Bisa saja.”

“Bukankah sudah ada yang menggoda hati Abang?”

“Siapa?”

“Nanti pasti tahu sendiri.”

Aku pura-pura tidak mengerti.

Namun malamnya aku mendengar mereka berbisik-bisik. Samar-samar aku bisa menangkap suara mereka. Meskipun dinding beton, tetapi di bagian atas ada ventilasi yang tertutup kawat halus. Barangkali mereka mengira, aku berada di luar rumah.

“Kak, apa Kakak yakin?”

Tak terdengar jawaban.

Aku menebak-nebak, apakah Putri mengucapkan kata cinta. Kalau betul, berarti masalahnya padaku. Pilihan berat jika dia mencintaiku. Putri tidak mungkin membuat keputusan yang begitu gila.

Mencintaiku adalah konyol. Tak mungkin dia bersuamikan orang yang numpang hidup padanya. Apalagi aku pengangguran. Punya kehidupan yang tak jelas. Aku juga masih berambisi dengan perjuangannya. Nantinya semua itu akan mengarahkan pada kehidupan rumah tangga yang rumit.

“Ana, aku telah jatuh cinta padanya,” kudengar ucapan yang menggetarkan dadaku itu.

“Apa Kakak tahu perasaan Bang Thaib sama Kakak? Apa dia mencintai Kakak?”

“Kak Putri tidak tahu.”

“Apa Bang Thaib pernah bilang suka pada Kakak?”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Waktu pertama jumpa dulu?”

“Waktu jumpa di terminal Riau?”

“Bukan.”

“Di mana juga?”

“Waktu di jamban musalla.”

“Jamban musalla mana?”

“Di Krueng Geukuh.”

“Krueng Geukuh dulu?!”

“Ya.”

“Waktu pertama kali kita jumpa dia?” Kutangkap nada tak percaya suara Ana.

“Bukankah Kakak sudah bilang, waktu pertama jumpa?”

“Rasanya Ana tidak percaya.”

“Tapi begitulah kenyataannya.”

“Bagaimana ceritanya dia bilang suka.”

“Waktu itu kan dia melihat terus Kakak yang lagi berkaca. Kakak bilang; Apa lihat-lihat, suka ya?”

“Terus jawabnya?”

“Ya, dia bilang.”

“Oh, Kak Putri ini bagaimana? Itu kan tidak serius!”

“Serius, kok!”

“Lalu selama di sini, apa Bang Thaib pernah bilang begitu?”

“Kakak tidak pernah tanya.”

“Kak Putri gila!”

“Kenapa?”

“Merasa dicintai, padahal belum tentu.”

“Menurutmu apa dia suka pada Kakak?”

“Biar Ana tanya saja, ya?”

“Jangan!”

“Kenapa?”

“Pokoknya jangan!”

MALAM itu kami bertiga jalan-jalan. Putri lebih banyak diam. Ana sering memancing-mancing perasaan kami. Dia menginginkan aku membongkar perasaanku sendiri. Tetapi aku tetap menjaga untuk tidak mengucapkan kata-kata itu. Kata cinta bisa membuat perubahan besar dalam hubungan kami nantinya, dan aku tidak menginginkan itu.

Sepanjang jalan pulang, kami menikmati cahaya bulan sabit. Langit sungguh indah. Menggelantung awan tipis. Tidak begitu menghalangi hawa dingin langin yang menembus ke bumi. Hawa itu membawa hawa syahdu pada diriku dan Putri.

Tiba di halaman, asoka, mawar dan kamboja mengirimkan harumnya. Bercampur parfum dua orang gadis yang berjalan di hadapanku. Tubuh mereka kuning disinari cahaya semesta malam. Tiba-tiba handphone-ku di saku celana bergetar.

“Kau masih di Riau?”

“Siapa ini?”

“Zen. Lupa suaraku, ya?”

“Oh, Zen. Bagaimana kabarmu? Aku masih di Riau.”

“Kabarku baik. Apakah kau bisa pulang sekarang? Kita bisa bergabung dengan pasukan Ayah Chik.”

“Ya, kalau keadaan memungkinkan.”

“Kutunggu, ya? Merdeka!”

“Merdeka!”

Ketika handphone putus, kutemukan wajah dua perawan itu menatapku tegang. Mereka seperti mengharapkan sesuatu keluar dari mulutku tentang apa yang mereka dengar tadi. Aku sulit memulainya, dan memilih diam. Lagi pula mereka sudah mendengar.

 “Ada apa?” tanyanya Putri gelisah.

“Zen, teman sepasukan, memintaku pulang ke barak.”

“Kau mau?”

“Ya,” jawabku, “itu sudah tugasku, sekaligus hidupku.”

Ana mematung. Tak lama kemudian dia menjauh. Dia tidak membuka pintu rumah supaya kami bisa masuk, malah dia duduk di kursi rotan teras. Kulihat bibirnya bergetar. Ada yang ingin diucapkannya, tetapi selalu saja tertelan. Aku paham, dia menyimpan perasaan padaku. Demikian juga aku. Namun aku hanya ingin menyimpan perasaan itu.

Aku tidak ingin mengubah hidupnya dengan jalan hidupku. Tidak mungkin aku tetap tinggal bersamanya di sini. Aku harus pulang, berjuang bersama teman-temanku yang masih tersisa. Ini merupakan pilihan, juga sumpah janjiku sebagai prajurit Aceh.

Putri menengadah wajahnya, menatap bulan dan bintang-bintang. Wajahnya yang putih tampak keemasan. Tampak gelisah. Aku pun tidak bisa menenangkan perasaanku sendiri. Terasa beban ini begitu berat. Lebih berat ketika aku berhadapan dengan musuh-musuh yang siap membunuh. Ketika perang, kami masih bisa bercanda, tetapi saat ini aku tidak mampu bergurau.

“Kau sudah jadi gadis matang. Usiamu juga sudah dua lima, kalau tidak salah. Kenapa kau tidak kawin saja dengan laki-laki di sini yang mencintaimu?” tanyaku.

“Aku suka laki-laki yang mau mengerti aku,” ucapnya perlahan.

“Kenapa kau menolak ajakan menikah laki-laki yang serius padamu?”

“Maksud Abang?”

“Aku tahu banyak laki-laki di sini ataupun teman kerjamu yang suka padamu, Putri.”

“Karena aku tidak bisa memaksakan perasaanku.”

“Aku tidak mengerti…,” ucapku pura-pura.

“Cinta seumpama matahari. Ia tidak pernah mengharapkan cahaya dari bumi. Tapi ia selalu memberikan cahaya bagi bumi. Biarpun bumi tidak merasakan cahayanya.”

“Ya, barangkali betul juga….”

“Bukankah setiap orang ingin menunjukkan dirinya penting? Anehnya aku tidak bisa meyakinkan orang lain bahwa diriku penting baginya.”

“Kau penting bagiku, Putri.”

Putri tersenyum, mengangguk-angguk, “Aku memang bodoh. Bang Thaib cuma mau berpura-pura menyukaiku!”

Gadis itu menangis.

Ana menghampiri, “Ada apa ini?”

Putri tidak menjawab. Ana menatapku. Aku menundukkan kepala. Ana terus bertanya sambil memegang tangan kakaknya. Putri membalikkan tubuhnya, duduk di beton taman.

“Ini salahku sendiri. Aku terlalu terbawa perasaan…,” jawabnya.

“Aku tidak mengerti.”

“Bang Thaib, mau pergi….”

Aceh, Oktober 2016.

Arafat Nur

Arafat Nur

adalah penulis puisi dan prosa. Novelnya Lampuki (Serambi, 2011) memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 dan meraih Khatulistiwa Literary Award 2011, kini sedang dalam upaya penerbitan edisi Inggris di Amerika. Sedangkan novel Burung Terbang di Kelam Malam (Bentang, 2014) telah terbit dalam edisi Inggris dengan judul A Bird Flies in the Dark of Night. Novel terbarunya Tempat Paling Sunyi (Gramedia, 2015).
Arafat Nur

Latest posts by Arafat Nur (see all)