Dansa: Tercatat dan Teringat

in Memorabilia by

“Kita meninggalkan kepandaian gending dan mengalihkan perhatian kepada jazz dan dansa (tajoeb) Eropah jang dilakoekan dengan berpeloek-peloekan oleh laki-laki dengan perempoean,” tulis Ki Hadjar Dewantara (1929).   Keinginan membentuk kekhasan Jawa dan Indonesia mudah saja disaingi godaan menjadi modern alias berlagak Eropa. Dansa itu momok bagi kepribadian Indonesia. Ki Hadjar Dewantara tentu tak berpatokan pada masa 1920-an saja. Kita menduga ia sudah mengerti dampak dansa sejak awal abad XX.

Pada masa remaja, ia sudah sering menari dan bergaul dengan kalangan Eropa yang membawa dansa ke tanah jajahan. Tarian Jawa dan dansa ada di persaingan sengit beririsan pamrih seni, hiburan, kesusilaan, dan kekuasaan. Penulisan geram pada dansa oleh Ki Hadjar Dewantara pada masa 1920-an mungkin dampak perdebatan puluhan tahun. Kalimat itu bersesuaian dengan sebaran ide-ide para pemimpin kebangsaan ingin bercerita Indonesia tanpa bergantung pengaruh-pengaruh Eropa.

Tahun demi tahun berlalu. Pada masa 1950-an, orang-orang sibuk memikirkan dan membentuk kepribadian Indonesia. Pidato-pidato Soekarno biasa berlanjut ke perintah dan peraturan demi capaian kepribadian Indonesia. Soekarno ingin kepribadian diusahakan oleh jutaan orang Indonesia dengan ejawantah busana, musik, bahasa, tata krama, dan makanan. Hari demi hari, slogan kepribadian Indonesia jadi dalih untuk melarang dan menganjurkan pelbagai hal. Tafsir atas kepribadian gampang rancu. Perdebatan biasa terjadi sampai ke urusan ideologis.

Kita ingin mengenang masa 1950-an melalui dansa berkaitan hari bersejarah. Kebiasaan mengadakan upacara dan hiburan mengacu ke tanggal pembacaan proklamasi pernah kebablasan. Di majalah Pesat edisi 11 September 1955, memuat foto-berita mengenai protes: “Organisasi-organisasi pemuda, mahasiswa dan peladjar di Bandung telah memprotes adanja dansa-dansa dalam perajaan Hari Nasional 17 Agustus 1955.” Mereka mendatangi markas CPM agar melakukan tindakan atas acara dansa berdalih mengartikan kemerdekaan. Publik biasa mengenang hari bersejarah dengan upacara dan pidato Soekarno. Peristiwa dansa dalam peringatan Hari Kemerdekaan dianggap kaum muda “melecehkan”, tak etis mengisahkan kepribadian Indonesia. Mereka marah dan protes. Mereka tak terima orang-orang berdansa diiringi lagu sambil saling berbisik, bertukar tatapan mata, dan berpelukan. Iringan dansa mungkin lagu-lagu bercap Amerika atau Eropa.

* * *

Sejak masa kolonial, kaum muda hasil didikan kolonial atau pernah melawat ke Eropa mengenali dansa. Pejabat-pejabat pribumi dan saudagar biasa berdansa demi meniru adab kaum kulit putih, “toean kolonial.” Di tanah jajahan, gedung-gedung indah dan megah digunakan orang-orang berpesta-berdansa. Mereka berpakaian elok, makan dan minum sesuai adab Eropa, dan pamer kesantunan semu. Di kota-kota, berdansa menandai hiburan dan sensasi identitas. Kaum bumiputra berdansa agar mengerti zaman kemajuan, tak terlalu minder di hadapan kaum Eropa. Dansa pun menular dan digandrungi bumiputra meski mendapat kecaman dan ejekan.

Dansa dan kemerdekaan dituduh tak sesuai kepribadian Indonesia. Tuduhan itu berlaku di masa lalu, belum tentu bakal tetap dianut sampai sekarang. Indonesia abad XXI memiliki cara-cara baru dan kebablasan saat jutaan orang mengadakan peringatan Hari Kemerdekaan. Perkara dansa mungkin tak teringat tapi jenis-jenis hiburan baru cenderung turut “melecehkan” sejarah Indonesia.

Dansa bermula dari kebiasaan orang-orang Eropa saat berdinas, berbisnis, dan tinggal di tanah jajahan. Kita mengenang masa lalu mereka saat pamer mahir berdansa di Solo. Di Babad Krama Dalem (1865-1866) dimuat bait mengisahkan pengaruh Eropa di keraton-keraton Jawa. Peristiwa di keraton setelah pentas tari serimpi terasa Eropa: Tamu-tamu senang. Lalu/ semua nyonya Belanda/ dansa dengan suami mereka./ Ramai, lagunya berganti-ganti./ Kalau lelah segera berhenti,/ diselingi minum. Penghadiran musik dan dansa dari Eropa itu sudah lazim pada abad XIX. Dansa berlaku di pelbagai acara resmi dan pesta dihadiri pejabat, pengusaha, dan bangsawan (Sumarsam, Gamelan: Interaksi Budaya dan Perkembangan Musikal di Jawa, 2003). Berdansalah tanah jajahan!

Dansa cepat menularkan imajinasi Eropa melalui musik, gerak raga, busana, ruang, dan waktu. Kaum bumiputra meniru, berharap menjadi modern asal luwes berdansa. Kita mengandaikan melihat mereka berdansa dengan pilihan busana ingin berselera Eropa. Orang berbusana tradisional Jawa memaksa berdansa bakal terlihat kocak dan aneh. Dansa itu mengubah Jawa, mengubah selera untuk tak melulu memuji tari-tari Jawa. Dansa mewabah tak mendapat demonstrasi atau seribu pembantah berdalil adat, nasionalisme, atau agama.

Perkara dansa semakin membentuk “zaman bergerak” di Hindia Belanda. Ingatan pada dansa tercatat di buku berjudul Sair Rempah-Rempah (1918) gubahan Marco Kartodikromo. Bait mengingatkan ulah kaum muda di Jawa. Marco Kartodikromo mengisahkan: Kami misih soeka lihat toneel/ Opera, dansah dan bangsa gedril,/ Hati kami misih koewal-koewil/ Djikaloek tidak menandak bribil. Dansa berpengertian modern, memberi ketetapan bagi kaum muda masuk ke zaman bergelimang tiruan menjadi Eropa. Kaum bangsawan dan elite terpelajar memang menganggap berdansa adalah ikhtiar memenuhi etika pergaulan dengan para pejabat kolonial dan pengusaha Eropa. Dansa pun diajarkan bermaksud membantah sangkaan selalu berperadaban kuno. Dansa di sejarah Indonesia itu terceritakan pula di kalangan pemimpin dan tokoh-tokoh tenar. Dansa belum bisa “diharamkan” meski pendebat bermunculan dengan sekian argumentasi.

* * *

Pada masa 1950-an, dansa jadi perkara berat. Usaha memberi arti proklamasi dengan dansa diprotes berdalih tak etis dan beraroma “kolonial.” Peristiwa di Bandung bertaut pelbagai berita dan cerita tentang dansa. Kita mengingat dansa itu “menodai” ingatan peristiwa bersejarah. Di pelbagai peristiwa, dansa pun memiliki tokoh dan cerita berbeda tapi tetap menentukan corak kemodernan dan misi pembentukan kepribadian Indonesia. Di surat kabar, majalah, dan buku, dansa termasuk urusan penting. Dansa sering jadi polemik!

Majalah Panjebar Semangat, 17 Maret 1956, memuat geliat polemik dansa. Pelbagai argumentasi diarahkan untuk “mengharamkan” dansa. Di kubu seberang, dansa tak perlu dimusuhi atau dicaci melulu asmara, berahi, dan kapitalis. Redaksi Panjebar Semangat cenderung memberi kritik ketimbang membiarkan dansa digandrungi kaum muda: “Nembe iki penduduk Ngajogja umjeg ngrembug bab kagunan dansah. Ing sawatara panggonan ing sadjroning kutha madeg kumpulan dansah kanthi dedemitan, ora blakblakan.” Kaum muda di Jogjakarta sedang kesengsem dansa. Mereka membuat perkumpulan agar gampang menuruti hasrat berdansa setiap hari.

Cerita pendek berjudul Dansawan Baru gubahan Suparto Brata (1958) mengandung obsesi kaum muda tampil sebagai manusia “beradab”. Mereka bekerja dengan penghasilan besar. Di kantor dan tempat hiburan, diri ingin tampil sesuai jiwa zaman. Dansa itu patokan dalam menjalin hubungan sosial bagi para pemuja modernitas. Dansa bercerita asmara. Identitas, harga diri, dan perasaan terejawantah. Cerpen itu terasa menjelaskan kegandrungan orang-orang di Indonesia berdansa. Seribu pamrih diajukan untuk berdansa tapi memicu polemik demi polemik.

Secuil kritik diucapkan tokoh buatan Suparto Brata: “Aku beladjar dansa dengan bersungguh-sungguh dan beladjar berpakaian jang baik. Aku mau pergi kepesta dansa dengan penghargaan jang pantas. Aku tanggalkan badju-badju senimanku.” Kritik mengarah ke estetika, biografi seniman, kesusilaan, dan situasi zaman diajukan untuk pembaca jangan gampang tergoda turut menjadi umat berdansa. Tokoh itu melanjutkan ocehan pengakuan: “Aku dulu penjair, Jus. Pada perasaanku dulu, perasaan penjair, didunia ini tidak ada jang lebih berharga daripada pemikiran soal kehidupan susila manusia dan seluruh hubungannja dengan itu. Badjupun bukan benda penting. Aku menganggap remeh orang-orang jang tak tahu tjara pikir seniman. Orang-orang itu setingkat dibawah penjair-penjair. Aku pertjaja penggemar-penggemar dansapun tak tahu setjuwil tentang manusia susila.” Cerpen Suparto Brata itu dokumentasi dansa masa lalu meski jarang disusul oleh teks-teks sastra gubahan para pengarang kondang di Indonesia.

Dansa tetap berlangsung di kota-kota. Kita membaca kliping dari majalah Minggu Pagi edisi 3 Juni 1951. Pergi ke tempat hiburan dan berdansa adalah pengungkapan gengsi. Orang mau mengeluarkan ongkos mahal dan membuang waktu asal berdansa. Konon, bisnis dansa mengikutkan penjualan minuman keras, perjudian, dan prostitusi. Dansa dituduh merusak adab Timur. Suradji menginformasikan: “Di Djakarta sadja sudah ada 10 dancing hall jang sopan, setengah sopan, dan terang-terangan tak sopan.” Tulisan itu bersanding dengan iklan jamu dengan gambar lelaki-perempuan sedang berdansa. Perempuan dianjurkan minum jamu agar tubuh menjadi “langsing singset”. Perempuan tentu jadi pusat perhatian saat berdansa. Jamu mendukung dansa. Pada masa 1950-an, dansa memang urusan tak sepele.

Polemik tentang dansa dimuat di buku berjudul Tari dan Dansa (1958) garapan J Verkuyl. Dansa telah “menaklukkan masjarakat modern di Utara dan Timur dan Selatan dan Barat.” Simpulan pasti atas situasi dunia pada masa 1950-an. Dansa pun semakin digemari kaum muda di Indonesia. Dansa telah “sangat meresap.” Sejak mula, masalah pelik dansa di Indonesia adalah kesusilaan. Keterangan di buku: “Hampir segala dansa-dansa modern dimaksudkan sebagai suatu hubungan antara kedua djenis kelamin, jang dituang dalam bentuk jang sangat halus tipu-muslihatnja. Maksud mereka ialah merangsang keberahian erotis hingga kepada taraf jang tertentu.”

Dansa tak selalu bergelimang tuduhan buruk dan mesum. Di kalangan  elite politik dan terpelajar, dansa pernah berarti kesadaran meniti zaman modern. Mereka berilmu tinggi dan nasionalis tapi gandrung berdansa. Peristiwa dansa tak dimaksudkan melampiaskan nafsu atau pamer status sosial. Mereka memiliki dalih dan sadar batasan. Generasi masa lalu biasa mengenang dansa saat usia menua. Dansa itu referensi mengenang masa muda, situasi zaman, dan mengartikan alur Indonesia. Di majalah Tempo edisi 29 Agustus 1981, memberitakan peringatan ulang tahun Maria Ulfah Soebadio. Pada usia 70 tahun, tokoh nasional dan pernah menjabat menteri  di masa pemerintahan Soekarno, masih gemar berdansa. Di Gedung Kebangkitan Nasional, Maria Ulfah berdansa mesra bersama suami tercinta, Soebadio Sastrosatomo. Kita pun mengerti bahwa sejarah Indonesia memuat dansa.

Apakah dansa telah nostalgia? Dansa tetap ada saat kita mendengar lagu berjudul “Dansa” oleh Dewi-Dewi. Lirik lagu tetap berperistiwa dansa: Goyangkan tubuhmu ikuti tubuhku/ Genggam erat tanganku ini/ Biarkan jantungmu berdetak meledak tumpahkan segala-galanya/ Malam ini kuingin berdansa denganmu sampai pagi…. Dansa di lagu mungkin lepas dari nostalgia saat dansa pernah berurusan dengan kekuasaan dan kesusilaan. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)