Death Wish dan Kealpaan Pengamat Film

in Hibernasi by

Tahun 2010 lalu konon tersiar kabar Sylvester Stallone (Sly) batal membuat film yang pernah dibintangi Charles Bronson era 1970–1980-an. Saya sebagai penyuka film laga jelas senang karena setelah sempat membaca novelnya, Death Wish (DW) benar jauh dari harapan, pun penulisnya, Brian Garfield. Saya malah menganggap ini sekadar ambisi Sly yang masih kepengin jadi ikon bintang laga di usia senja setelah Rambo dan Rocky! Oh, No, karya terakhir Sly, The Expendables yang sebenarnya terpuruk menjadi film laga komedi arbitrer apa nggak cukup?!

Pada film aslinya yang dirilis tahun 1974, penonton berharap ada sedikit pembaruan di sekuel berikutnya (1981–1995). Apa daya, DW yang terkenal dan menjadi salah satu franchise film laga populer 1980-an kontan hanya menjual Bronson, bukan pada esensi sebetulnya menyindir gagalnya pemerintah AS melindungi warganya dari kejahatan sehingga muncul kebijakan penjualan senjata api legal kepada publik.

DW 1974 pun sebenarnya sudah cukup baik, bahkan jika teliti ada satu nama besar terluputkan: Jeff Goldblum, aktor yang tenar lewat The Fly, Independence Day 1996, Jurassic Park, “numpang lewat” sebagai salah satu bandit perampok-pemerkosa keluarga Paul Kersey. Tema gelap seperti novelnya membuat DW 1974 juga dimasukkan sebagai salah satu tema film suspense thriller-bukan film laga seperti lanjutannya yang sempat diproduksi duet paman-keponakan Israel, Menahem Golan-Yoram Globus (Cannon Pictures) kerja sama MGM selaku pemegang hak cipta pertama pembeli novel DW dari Brian Garfield.

DW semula adalah kisah tunggal yang hanya ada satu sekuelnya, Death Sentence, dan bukan disiapkan menjadi film laga franchise ala Indiana Jones berjilid-jilid! DW terpuruk menjadi film laga macho, sengaja disiapkan untuk menjual Charles Bronson sebagai tokoh hero usia 50-an. Nyaris di sekuel berikutnya hanya berubah nama dan tokoh lainnya dengan plot “balas dendam sang tokoh karena pacarnya selalu mati”. Penulisnya Brian Garfield, jelas kecewa, meski ia juga menikmati royalti karyanya sampai sekuel kelima. Karena kecewa tiap produksi film DW sejak II-V akhirnya disepakati bukan berdasarkan novel melainkan adaptasi, agar penikmat bukunya mengerti film hanya mengambil kesamaan plot dan tokohnya.

Brian Garfield sang novelis (bukunya pernah diterjemahkan ke Indonesia 2014, yaitu The Child-kisah anak kecil yang menjadi mata-mata Inggris pada Perang Dunia II) sempat menerbitkan lanjutannya Death Sentence pernah difilmkan 2007 diperankan aktor Kevin Bacon.

Vigilante dan Kecemasan Pribadi Penulis

DW fenomenal karena meski kerap diresensi buruk, filmnya laku keras, bahkan punya penggemar fanatik sampai MGM merilis DVD khusus sebagai penghormatan serial lengkap DW dalam kemasan eksklusif boxset. Death Sentence sendiri dulu sukses sebagai film laga mumpuni meski sutradara James Wan mengganti nama tokohnya bukan Paul Kersey, juga semua nama lain dari buku sehingga untuk filmnya lagi-lagi disepakati menjadi adaptasi novel. Selain itu studio 20th Century Fox tatkala menggarap Death Sentence tampak ingin menghindari ingatan publik kepada DW Bronson produksi MGM-Cannon dengan tidak memberitahukan apa pun bahwa film ini aslinya adalah lanjutan dari novel DW.

Adapun Brian Garfield menulis DW lantaran ia sendiri sempat mengalami pengalaman pernah tak diurus dengan baik oleh polisi ketika mengalami perampokan. Belum kecemasannya sendiri membaca kasus kriminal begitu tinggi tapi tak terurus di sejumlah koran.

DW menjadi legendaris karena plotnya rada mirip film silat Mandarin-juga western-cowboy Amerika  yaitu tema “balas dendam”. Tema seperti ini nyaris menjadi banyak patron film laga era 1970–1980 an–pun karya lain misalnya komik The Punisher, The Spawn, sampai Batman, film Dirty Harry, Mad Max, Payback, serial TV Kanada Dark Justice, Street Justice, sampai Taxi Driver, pun game console Vigilante.

Istilah vigilante sendiri pun jadi populer dulu gara-gara DW, apalagi baik dalam buku dan filmnya istilah ini memang ada dan terlontar dari beberapa dialog karakternya. Meski bukan film pertama tema balas dendam, vigilante dalam pembahasan studi kebudayaan populer Amerika, novel maupun film DW pasti disebut pengamat budaya di mana pun, salah satunya sastrawan Umberto Eco yang terkenal dengan buku esainya yang menjadi semacam kanon studi budaya massa Travels in Hyperreality, juga Jean Baudrilliard. Vigilante yang arti harafiahnya “main hakim sendiri” berasal dari bahasa Latin “vigiles urbani” diberikan kepada penjaga malam masa Romawi kuno yang bertugas memadamkan kebakaran dan menjaga keamanan.

Selain aspek komersial yang masih relevan dan tema klasik bak kisah cinta, tema vigilante diangkat kembali pada 2018 oleh sutradara Eli Roth yang kondang dengan film horor Saw dan Hostel.

Perang Batin dan Ide Kekinian

Penggubah skenarionya, Joe Carnahan (pernah menggarap skenario film laga The A-Team) bekerja keras mengembalikan nyawa film ini untuk lebih setia kepada novelnya. Konon sudah tiga orang penulis skenario terpaksa didepak sebelum studio MGM akhirnya memilih Joe Carnahan sebagai penulis. Ide mengganti profesi Paul Kersey yang dalam novel akuntan sedangkan versi Bronson adalah arsitek, DW 2018 menjadi dokter bedah membuat plotnya lebih logis. Menariknya, untuk penonton yang buta sama sekali tentang DW Bronson, film DW 2018 masih bisa ditonton sebagai kisah yang berdiri sendiri.

Roth-Carnahan tampak ingin membuat lebih detail alasan kenapa Paul Kersey dari seorang dokter bedah menjadi vigilante-terutama adegan Kersey takjub melihat mertuanya begitu akrab dengan senjata api untuk melindungi hewan ternaknya dari maling di desa. Kersey sosok dokter baik-baik memang tidak akrab dengan senjata api meski di masa belianya diberitahukan pernah jadi pemuda berandalan gemar berantem, pun kepada ayahnya sendiri yang galak.

Film dibuka setting Chicago 2016, malam hari. Setelah pertempuran berdarah, seorang reserse tergopoh membawa rekannya luka parah ke rumah sakit. Nyawanya tak tertolong ketika Paul Kersey bertugas menjadi dokter jaga. Setelah menolong si reserse masuk ke ruang UGD, masuk seorang bandit terluka dan kebetulan juga dialah yang menghabisi rekan reserse yang barusan tewas kehabisan darah itu. Reserse yang melihat kejadian tersebut lantas berkomentar sinis kepada Kersey: O, jadi kamu mau menolong bandit yang baru membunuh temanku?

Tentu saja pertanyaan tersebut tak dijawab Kersey. Namun pembuka film ini sungguh dramatis karena tugas dokter memang tak bisa memilih siapa yang harus diselamatkan, membuat Kersey Bruce Willis lebih manusiawi ketimbang Bronson. Adegan berlanjut kepada kisah sang dokter bedah Kersey hidup bahagia dengan istri anaknya. Perlahan tapi pasti, baru dibawa ke pokok persoalan istri anak Kersey dirampok dan dibantai kawanan bandit.

Adegan menarik lainnya ketika Kersey putus asa—sebagai orang baik patuh hukum—dan saking depresinya konsultasi dengan psikiater karena tak bisa menerima kenyataan anak istrinya terbunuh di rumahnya. Belum lagi ia menyaksikan sendiri betapa sulit juga lambatnya kerja polisi untuk setidaknya mengurangi kasus kriminal yang tinggi di Chicago. Kersey mencari sendiri info siapa saja pelakunya dengan blusukan ke gang-gang kumuh penuh gangster, sampai bagaimana ia mendapatkan senjata secara legal setelah menonton iklan jor-joran toko senjata api di televisi.

Momen seperti ini yang hampir tak ada dalam versi film DW 1974;  perang batin Kersey. Uniknya adalah aksi pertama Kersey menjajal senjata api pertamanya menghabisi kawanan bandit yang sedang merampok seorang perempuan. Tak sengaja aksinya terekam seseorang lewat ponsel seluler, dan meski sudah diperingatkan polisi agar jangan disebarkan, video aksinya kadung tersebar di YouTube. Sosial media sampai media arus utama kontan heboh memberitahukan ada orang misterius beraksi sendirian menghabisi kawanan bandit dini hari. Sempat saya mengira remake DW ini karena ingin setia dengan novel pasti akan dibuat setting 1970-an. Nyatanya tidak, terlebih ide fenomena merekam dengan video ponsel yang marak belakangan ini membuat cerita lebih memukau.

Lucunya saya malah tak menemui kritik positif pengamat film masa kini di media massa, pun dari AS. Rata-rata kecewa kepada Eli Roth yang mau bikin film laga. Selain itu—barangkali untuk saat ini—karena baru tayang 8 Maret 2018 di seluruh dunia termasuk Indonesia, rata-rata masih “mendewakan” versi Bronson!

Apa karena belum bisa menerima sentuhan kekinian yang dengan sangat terpaksa menutup kemungkinan dibuat sekuelnya? Kecewa kepada Bruce Willis yang pamornya  tengah memudar sebagai bintang laga pun dalam film franchise-nya sendiri Die Hard 4 dan 5? Atau karena belum menangkap relevansi film ini yaitu menyindir kebijakan pemerintah AS yang terlalu bebas menjual senjata api legal, di mana anak usia di bawah 18 tahun dilarang membeli materi pornografi atau rokok tapi beli senjata boleh?

Kalau benar begitu justru sangat disayangkan, walau saya sendiri semula juga sempat meragukan Willis menggantikan Bronson. Saya dulu berharap Liam Neeson, Jason Statham, Daniel Craig, Michael Keaton, atau Christian Bale yang lebih pantas menggantikan Bronson. Nyatanya Bruce Willis berhasil membuat saya tidak terkantuk sampai film usai!

Donny Anggoro

Donny Anggoro

CEO Bakoel Didiet & Roundabout Music Blok M Square, toko buku dan musik online sejak 2011. Pemalas, pembosan, pernah malang melintang sebagai wartawan, editor, dan penerjemah lepas di beberapa penerbitan buku dan media cetak sejak 1999-2010.
Donny Anggoro

Latest posts by Donny Anggoro (see all)