Dekorasi Angkot dan Bus Minangkabau: Perlawanan dari Dalam

in Rehal by

Judul               : Angkot & Bus Minangkabau

 Budaya Pop & Nilai-Nilai Budaya Pop

 Popular Culture & Popular Values

Penulis                        : David Reeve

Penerjemah     : Iskandar P. Nugraha

Penerbit          : Komunitas Bambu

Cetakan           : Pertama, Maret 2017

Tebal               : 343 halaman

ISBN               : 978-602-9402-73-5

Dalam kajian antropologi-linguistik di Indonesia yang minim menggunakan dekorasi transportasi umum sebagai objek kajian, barangkali buku karya David Reeve, indonesianis asal Australia, ini bisa menjadi primadona. Itulah sebabnya penerbit tak ragu-ragu menerbitkan buku ini dalam edisi full color yang memanjakan mata dan dalam dua bahasa sekaligus.

Dalam penelitian yang dimulai sejak 2006 ini, Reeve memaparkan tema-tema budaya populer dan nilai-nilai budaya yang diperlihatkan oleh angkot dan bus di Padang, Minangkabau. Mengapa angkot dan bus? Menurut Reeve, angkot dan bus adalah “hal pertama yang menarik perhatian” orang asing sebab efek visualnya yang mengagumkan.

Dipilihnya Padang sebagai ladang penelitian pun bukan tanpa alasan. Padang dinilai sebagai kota yang angkot dan busnya paling banyak didekorasi dibanding kota-kota lain di Indonesia, seperti Medan, Malang, Kupang, Bogor, Surabaya, dan Makassar. Jika di kota-kota itu angkot dan bus yang didekorasi berjumlah sedikit dan termasuk pengecualian, sebaliknya dengan Padang. Di Padang, angkot yang tak didekorasi adalah pengecualian.

Reeve memberikan alasan mengapa angkot dan bus di Padang didekorasi begitu nyentrik. Pertama, Reeve mengaitkannya dengan tradisi menghias transportasi yang telah lama dijalankan di Padang. Sebelum munculnya angkot dan bus, bendi adalah transportasi yang juga dihias. Kedua, Reeve lalu menyinggung para leluhur yang terkenal mahir mengolah kata seperti pantun dan peribahasa. Namun, bukan berarti bahwa ada hubungan langsung dan sebab akibat antara tradisi tersebut dan hiasan angkot. Reeve menggarisbawahi bahwa persaingan pasar yang ketatlah yang membuat sopir/pemilik angkot dan bus secara kreatif mendesain kendaraannya.

Sebelum Reeve, sebenarnya Tod Jones (2008) sudah pernah meneliti fenomena dekorasi angkot di Sumatra Barat. Sayangnya, menurut Reeve, penelitian itu hanya berhenti pada dekorasi gambar, tidak menjangkau wilayah dekorasi bahasa. Padahal, penelitian terhadap dekorasi bahasa ini penting karena mengubah bagian keseluruhan dari dampak visual angkot dan bus tersebut.

Dalam rangka melihat jalinan antara dekorasi gambar dan bahasa itulah Reeve meneliti dekorasi angkot dan bus secara terpisah. Ada alasan lain yang menguatkan cara kerja tersebut. Studi sebelumnya—yang diambil dari sejumlah skripsi yang ada di universitas di Padang—menyebutkan bahwa angkot dan bus, meskipun sama-sama mengemban tugas sebagai transportasi umum, keduanya mewakili budaya yang berbeda. Angkot mewakili budaya generasi muda (baik sopir maupun penumpangnya) yang menunjukkan modernitas dan kemajuan, sedangkan bus mewakili budaya generasi yang lebih tua yang menekankan pada tradisi dan alam.

Reeve membantah hal tersebut dengan, pertama-tama, memberikan bukti berupa seabrek foto angkot dan bus yang didekorasi, baik eksterior maupun interiornya. Bukti foto-foto itu membuat saya berdecak kagum. Bagaimana tidak, seolah tak cukup dengan warna dan gambar-gambar di badan angkot, bagian dalam angkot didesain dengan meriah layaknya ruang karaoke, lengkap dengan berbagai perangkat musiknya.

Selanjutnya, dengan ketekunan dan kecermatan seorang linguis-antropolog, seolah tak ingin ada satu pun yang terlewat, Reeve mencatat satu pervsatu kata, frasa, dan ungkapan-ungkapan yang tertera di badan angkot dan bus di Padang. Sebelumnya, Reeve juga mendaftar sejumlah kata dan frasa yang ada di badan angkot di luar kota Padang guna menunjukkan bahwa itu “belum ada apa-apanya” jika dibandingkan dengan kata/frasa yang ada di angkot Padang.

Baik kata maupun frasa yang tertera di angkot dan bus Padang itu, bagi saya, memang ekspresif dan menarik. Menurut Reeve, kata dan frasa itu bersumber dari majalah, komik, seri televisi, lagu pop, film, dan lain-lain (hlm. 81). Reeve membuat klasifikasi yang cukup detail terhadap data-data tersebut, baik itu gambar maupun bahasa. Dalam proses pencatatan itu ternyata ada tema yang berulang. Penggunaan kata dan frasa itu memiliki pola yang jelas.

Buku ini menunaikan tugasnya dengan baik ketika akhirnya Reeve memaparkan tema gambar dan bahasa dengan rinci. Tema gambar yang menonjol, baik di angkot maupun bus, adalah kecepatan dan teknologi tinggi. Adapun dari segi bahasa, angkot dan bus sama-sama menggunakan bahasa asing, bahasa Indonesia, dan bahasa Minangkabau. Tema yang sering muncul adalah bahasa “kekuatan” yang berhubungan dengan status tinggi. Akan tetapi, terdapat perbedaan tekanan pada masing-masing penggunaan bahasa tersebut.

Angkot lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dan sedikit bahasa Jepang jika dibandingkan bus. Banyaknya penggunaan bahasa asing ini, menurut Reeve, adalah bentuk kegandrungan terhadap modernitas luar negeri. Sebaliknya, bus lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia meskipun terletak pada bahasa non baku/bahasa gaul.

Namun, baik angkot maupun bus sama-sama minim menggunakan bahasa Minangkabau. Bahasa Minangkabau yang digunakan pun adalah bahasa versi “anak muda” karena penggunaannya kerap diselewengkan. Dalam hal minimnya penggunaan bahasa Minang ini, alih-alih memandangnya sebagai sikap inferior, Reeve lebih memandang sebagai sintesa yang menunjukkan esensi Minang. Dengan demikian, Reeve menganggap bahwa Minang yang esensial adalah Minang yang menyerap banyak budaya asing. Reeve menilai bahwa percampuran ketiga elemen bahasa itu berguna dalam penciptaan efek gaul yang juga selaras dengan hiasan gambar yang banyak terinspirasi dari teknologi dan budaya pop luar negeri.

Pada titik ini, selain berhasil mengorelasikan dekorasi gambar dan bahasa, dengan penemuan ini Reeve juga berhasil membuktikan bahwa angkot dan bus tidak mewakili dua budaya yang berbeda. Dekorasi angkot dan bus di Padang adalah bentuk kesinambungan, meski keduanya memiliki penekanan yang berbeda dalam penggunaan bahasa.

Namun, apa yang oleh Reeve dianggap sebagai kerja kreatif itu ternyata tidak mendapatkan tanggapan serupa dari sebagian besar masyarakat Padang. Mereka cenderung memandang sinis karena angkot dan bus yang didekorasi nyentrik itu identik dengan sikap para sopir angkot yang cenderung ugal-ugalan dan musiknya yang ingar bingar. Sebaliknya, perilaku dan dekorasi angkot dan bus itu oleh Reeve justru dianggap sebagai perlawanan.

Perlawanan itu ditujukan pada pemerintah yang kerap menyuarakan nilai-nilai resmi seperti penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta promosi budaya Minang dengan nilai-nilai keislamannya. Perlawanan yang juga ditujukan pada bus Trans Padang—yang minim dekorasi—yang keberadaannya pelan-pelan menggerus bus kota. Di Padang, dekorasi angkot dan bus yang semarak itu telah menjadi identitas sopir dan penumpangnya, menjadi suara dari orang-orang pinggiran. Angkot dan bus menjadi media yang representatif karena serupa dengan lukisan atau reklame bergerak serta memiliki kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan khalayak ramai.

Meskipun demikian, Reeve tak ingin pembaca terburu-buru mengambil simpulan bahwa perlawanan itu jenis perlawanan yang membabi buta. Perlawanan yang dimaksud Reeve lebih kepada budaya tandingan, budaya populer, yang membawa pesan untuk lebih membuka diri terhadap budaya asing agar tak terjebak pada sikap menutup diri dan terlalu mengagungkan kebudayaan sendiri. Suatu sikap yang selaras dengan tradisi merantau. Di sini, secara implisit Reeve mengkritik sikap menutup diri terhadap budaya luar yang mulai menjangkiti masyarakat Minang (Padang), suatu kemunduran yang patut disayangkan.

Hanya, pembahasan mengenai budaya dan tradisi Minang dalam buku ini disinggung sekilas saja. Reeve tidak memberikan uraian yang meyakinkan tentang tradisi Minang mana yang dilawan. Dan, sebagaimana perlawanan-perlawanan ini disampaikan melalui wujud visual angkot dan bus, selayaknya Reeve juga menyertakan wujud visual tradisi Minang yang dilawan tersebut. Tapi, itu tidak dilakukannya.

Lepas dari lubang-lubang itu, buku ini memberikan alternatif yang bagus dalam merekam sejarah kota. Lebih dari itu, jika penghitungan saya tak teledor, di buku ini Reeve memberikan 320 foto dekorasi angkot dan bus. Dengan data yang melimpah ruah itu, rasanya amat sayang jika penelitian ini hanya berhenti di sini. Dengan data-data itu Reeve telah membuka pintu lebar-lebar untuk penelitian-penelitian lanjutan. Apalagi buku ini disajikan dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia, yang memungkinkan peneliti lain untuk bisa menggali lebih dalam gejala-gejala yang masih tersembunyi. []

Anis Mashlihatin

Anis Mashlihatin

Lahir dan tumbuh besar di Tuban, Jawa Timur. Sempat kuliah di Yogyakarta. Kini sehari-hari menjadi pengajar bahasa Indonesia di Surabaya.
Anis Mashlihatin

Latest posts by Anis Mashlihatin (see all)