“Delapan Percobaan” Point Break

in Celoteh by
jose-mourinho-chelsea
Sumber gambar latinpost.com

I was the big prophet,” pekik Kurt Cobain di ujung lagu “Lake of Fire” pada sebuah konser unplugged. Memanglah Cobain ini kurang ajar, ya; jika Anda memandang pekikan itu dari sudut moralitas dan agama. Manusia biasa kok mengaku-aku nabi, nabi besar lagi, huh!

Sudahlah, santai saja, tak usah marah, biarkan Cobain menempuh jalan hidupnya yang terputus di sebutir peluru justru saat berada di puncak popularitasnya. Ini tentang sepak bola kok, olahraga terpopuler sejagat yang pada sebagian penggilanya ditabalkan sebagai “agama”.

Tapi sebelum itu, saya rekomendasikan Anda menonton film recycle yang telah rilis di bioskop-bioskop kita, “Point Break”. Film yang dinakhodai Bodhi (Edgar Ramirez) ini, meski ia jadi antagonis, saya pikir justru pada dirinyalah pesan moralnya dititipkan: “Bumi ini sedang sekarat akibat kita mengambil banyak hal darinya. Ozaki berkeyakinan bisa mengubah dunia dengan ide yang disebutnya Delapan Percobaan. Sebuah usaha moral untuk mengembalikan apa yang telah diambil manusia dari bumi.”

Delapan Percobaan diejawantahkan dalam 8 jenis aksi super ekstrem manusia di hadapan kekuatan alam. Dari terjun lurus dari langit ke lubang sebuah gua, surfing di antara ombak super gede di Prancis yang bertandang hanya delapan tahun sekali, berski dari ketinggian Alpen, hingga panjat tebing tanpa pengaman sedikit pun di sebuah tebing air terjun yang mengerikan lalu terjun dari puncak tebing itu. Dan dipungkasi dengan berselancar di lautan lepas sejauh 240 km dari daratan di sebuah badai yang amat dahsyat. Menari bersama badai. Bodhi pun ditelan laut, yang ia sebut “kembali ke alam”. Serupa nasib pencetus Delapan Percobaan itu, Ozaki, yang tenggelam ke laut usai ditabrak kapal besar pemburu ikan paus di Norwegia sebagai aksi moralnya untuk mencegah kekejaman manusia.

Saya membayangkan bahwa ajaran Delapan Percobaan Ozaki yang sangat menguasai alam pikiran Bodhi dan Samsara, yang tanpa sengaja ditembak oleh Utah yang mencintainya, dalam cara yang berbeda tengah diarungi oleh para pelatih top macam Luis van Gaal, Jose Mourinho, Jurgen Klopp, dan Rafael Benitez. Bahwa sepak bola adalah sebuah pertandingan menghasratkan kemenangan, itu bekaplah perdebatannya. Kata Jose Mourinho, “Sepak bola bukan sekadar permainan menguasai bola di atas rumput halus dan rata tanpa gawang.” Lantas karenanya para pemilik klub merelakan mengumbar pundi-pundi kekayaannya untuk mengontrak pelatih top dan pemain-pemain bintang super mahal, itu lumrah belaka sebagai “bekal berperang”. Kemudian para pelatih mahal itu meracik ragam taktik, rotasi pemain, dan sebagainya, hal demikian pun alamiah belaka.

Tetapi, sepak bola adalah memainkan bola yang bulat, yang diplokoto oleh Barack Obama sebagai “permainan yang aneh dengan 22 pemain yang memperebutkan satu bola untuk dimasukkan ke dua gawang”. Bulatnya bola setamsil “roda yang terus berputar”, kadang di atas kadang lain di bawah dan kadang lainnya lagi di tengah. Berlaku dalam bidang apa pun, pula lapangan hijau itu.

Apa yang perlu kita ragukan pada kapasitas Mourinho yang telah memenangkan banyak trofi bergengsi di berbagai negara bersama banyak klub? Dari Inter Milan hingga Real Madrid dan tentu Chelsea setelah cerai lalu rujuk lalu cerai lagi. Ah, siapalah di Stamford Bridge yang bisa melawan titah sang Roman Emperor, Roman Abramovich.

Pun apa lagi yang perlu kita risaukan pada portofolio Jurgen Klopp yang sukses mengentaskan Dortmund dari level telapak kaki menjadi penantang serius Bayern Munchen dan menjuarai Liga Jerman dua musim berseturut? Seorang Alex Ferguson sampai merasa perlu untuk berkata resah bahwa kedatangan Klopp ke Liverpool merupakan ancaman serius yang bisa mengoyak prestasi unggul Manchester United selama diasuhnya.

Van Gaal pun berada di deretan pelatih kaliber hebat yang pernah melatih Barcelona dan timnas Belanda. Di Piala Dunia Brasil lalu, sentuhan tangan dingin Van Gaal, lah, yang menghantarkan Belanda melaju ke pertandingan level atas maha bergensi itu.

Soal Rafa Benitez? Ya, ya, Anda dan Perez saya pikir bisa menjelaskannya sendiri. Sang medioker yang mujur, jauh lebih mujur dari Carlo Ancelotti. Wew! Namun tetaplah kita bisa berpikir waras bahwa di bawah asuhan Benitez, Real Mardrid masihlah klub terkaya seplanet ini yang berkali-kali memecahkan rekor transfer pemain macam Christiano Ronaldo dan Gareth Bale. Tentu, di luar urusan rekor, Real Madrid kokoh berkat gotong royong Karim Benzema, Keylor Navas, Sergio Ramos, Marcelo, Tony Kross, James Rodriguez, dan Pepe sang buldoser.

Halal bagi Madrid untuk sejenak berbesar hati sembari bergaya lupa pada kekalahan akutnya di El Classico lalu berkat kemenangan telaknya dengan skor 8 melawan tim semenjana. Persis Mourinho yang dengan “rendah hati” meminta maaf pada para fans Chelsea usai memastikan timnya lolos babak 16 Liga Champion 2015 ini, meski kemudian ditendang dari tahta Birunya. Ya, minta maaf usai menang, lolos fase berikutnya, bukankah itu narasi satire “rendah hati” yang amat dalam menusuk jantung sendiri, apalagi keluar dari mulut seorang Mourinho, lantas disamploki keluar stadion?

Nasib MU dengan skuat 240 juta poundsterling yang tumbang di penyisihan Liga Champion di hadapan skuat ecek-ecek macam Wolfsburg yang ditaksir bernilai kurang dari 50 juta poundsterling, pula merupakan satire yang amat pedas kepada wacana yang rajin ditahbiskan sebagai “filosofi sepak bola” oleh Van Gaal sendiri. Wacana, bagaimanapun, adalah wacana, tetaplah wacana, sekadar omongan, konsep, belum teruji action-nya. Sayangnya, kebanyakan kita gagap benar mendudukkan sebuah wacana dalam hidup ini sebagai sekadar sebuah wacana, utamanya dalam urusan agama. Jawaban ini pulalah yang diberikan Samsara kepada Utah di Point Break saat ditanya, “Apa lagi yang bisa kita percaya mampu mengubah dunia selain ide?”

Action!” tegas Samsara.

Semua orang boleh saja berduka hati kok saat ekspektasinya tak tercapai. Tak peduli filsuf sepak bola ala Van Gaal yang lagi diragukan metodologi filsafatnya oleh fans Setan Merah sendiri, Benitez yang di-out-out-in oleh para Madridistas sendiri, dan Mourinho yang kian tua akibat menyesali kepedeannya yang sungguh terlalu pada skuat lamanya yang memberikan trofi juara Premier League. Harapan bagaimanapun mari selalu tempatkan di kursi asalinya sebagai “harapan”, “impian”, “cita-cita”, yang menuntut proses panjang, sehingga urusan hasilnya akan dijawab oleh waktu di kemudian masa. Berduka karena kecewa dalam durasi proses, pada dasarnya manusiawilah, alamiahlah. Tetapi hasil tetaplah hasil yang, maaf-maaf kata, semenyesal apa pun Anda takkan pernah sanggup mengubahnya. Lalu, pada garis ini, usai menginsafi titik-titik kegagalan yang telah membebek, lazimnya kita semua berjanji dalam hati untuk memperbaikinya di esok hari, agar menghasilkan buah yang sesuai harapan. Maklum, yuk, impian adalah masa depan, hasil adalah masa kini, dan pengalaman adalah masa lalu; laksana mata rantai yang bertalian benar di lisan para motivator padahal tak pernah sekalipun bergandengan. Bila benar ketiganya mata rantai, bumi takkan pernah menyeduh air mata, penyesalan, pula kematian dalam kekalahan.

Begitulah khittah kita yang manusia, begitulah keyakinan Ozaki pada ide Delapan Percobaan untuk dipromokan ke seluruh penjuru dunia, demi enyahnya keburukan dan kekejian, sekalipun harus ditebus dengan nyawanya. Bodhi pun menjadi salik yang sama, memperjuangkan ide yang seluhurnya. Di kehidupan keseharian kita, segendang sepenarian pula di jagat sepak bola, perjuangan-perjuangan keras, gigih, dan tak kenal lelah dalam segala bidang (Anda sebutlah hal-hal itu Delapan Percobaan Ozaki), secara prinsipil mendorong kita mempersembahkan segala-gala yang kita bisa dan punya untuk tujuan yang sama: ide-ide meraih kebaikan dengan aksi-aksi point break. Titik batas (kemampuan).

Baiklah, Anda pasti mendengar berkali-kali tanpa perlu tahu siapa itu Mario Teguh (persis guyonan Zlatan Ibrahimovic saat mengaku tak tahu siapa itu David Beckham), kredo-kredo sukses beginian: “Kegagalan adalah awal kesuksesan”, “No gain without pain”, “Orang sukses adalah orang yang telah berkali-kali gagal dan berhasil bangkit bukan menyerah”, atau yang lebih teduh karena berbahasa Arab “Man jadda wajada”. Heu-heu, ternyata, pada sebagian manusia, bahasa Arab dirasa lebih dekat pada teduhnya surga, ya.

Apa pun itu, itulah aksi-aksi point break kita, dengan cara yang beragam, dalam level yang bertingkatan, yang kita hasratkan untuk “sukses memenangi pertandingan-pertandingan”.

Jose Mourinho tak salah, pula Van Gaal tak keliru, juga Benitez yang semenjana tak perlu disudutkan, sebagaimana kita memafhumi bahwa Klopp butuh waktu lebih banyak untuk memanggungkan aksi-aksi point break-nya; sekalipun semuanya sedang gagal. Bila di titik ini kita meminjam celoteh Fergie; “Kami tidak kalah, hanya kehabisan waktu….”, marilah kita semua memilih tertawa saja di hadapan buah-buah kegagalan yang pasti akan menyapa hidup kita, sehari-hari, sepanjang hayat.

Jika di sini Anda masih mulur terseret kesedihan dan tangisan akibat sebuah ketakberhasilan, atau biar Anda lebih optimis baiknya saya sebut “kesuksesan yang tertunda”, bagai “aku yang duduk di tepi Sungai Piedra” dalam novel fenomenal Paulo Coelho, mudah saja untuk mengobatinya. Cukup ingat taushiyah Fakhrur Rozi, komentator Dangdut Akademi Asia di Indosiar, yang acap bertampil motivator: “Obat ampuh bagi pikiran negatif adalah berpikir positif.” Sederhana sekali, kan?

Sayangnya, Ozaki dan Bodhi tak pernah menonton acara tanpa lelah itu, sehingga tak pernah mendengar nasihat Rozi. Umpama mereka mendengarnya, niscaya ajaran Delapan Percobaan di film Point Break takkan pernah dibuat.

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang gimana gitu. Pedagang sekaligus calon doktor yang resah terhadap minyak babi cap onta.
Edi AH Iyubenu

Latest posts by Edi AH Iyubenu (see all)