Demi Label “Cantik”

in Hibernasi by
label kecantikan wanita cantik
Sumber gambar fashionmuscle.blogspot.com

Beberapa kata, meskipun pengertiannya sudah ada di KBBI, bisa jadi memiliki pengertian yang sama sekali berbeda dalam penggunaannya. Bukan seperti acuh atau geming yang sering salah kaprah digunakan, melainkan beberapa kata yang penilaiannya bersifat subjektif. Salah satunya, kata cantik.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai kata ini, mari samakan persepsi bahwa cantik yang akan dibahas di sini merupakan pengertian lema cantik pertama dalam KBBI, dan bukan yang kedua. Ya, lema cantik memiliki dua pengertian dalam KBBI.

can·tik [1] a 1 elok; molek (tt wajah, muka perempuan); 2 indah dl bentuk dan buatannya: meja ini — sekali;

can·tik [2] Mk a 1 suka bersikap menarik perhatian laki-laki; genit; centil: anak gadis itu — sekali; 2 amat suka bersetubuh; gasang

Huruf Mk memiliki arti bahwa lema ini berasal dari bahasa daerah Minangkabau. Rupanya, kata ini pernah memiliki arti negatif. Saya rasa, tidak ada wanita yang ingin ditempeli kata cantik dalam arti yang kedua, dan pengertian kedua itu tentu sudah lama tidak digunakan. Namun, karena masih termaktub dalam KBBI, tidak ada salahnya memastikan, agar tidak ada salah paham kemudian.

Bagi perempuan, kata cantik bisa jadi sensitif. Kalau pacar ngambek, misalnya, kalimat, “Kamu cantik kalau lagi cemberut gitu,” tentu dapat meluluhkan emosinya—meskipun kalimat itu sebenarnya dusta belaka. Tips: kata cantik sering diganti dengan diksi lain yang kurang lebih setara; lucu, ngegemesin, imut; agar tidak terkesan terlalu gombal.

Sebagian besar perempuan ingin dilabeli dengan kata cantik. Berbagai usaha yang tidak mudah dilakukan, tidak jarang yang menyakiti diri sendiri, seperti tanam benang atau sedot lemak. Padahal, cantik bukan jaminan kebahagiaan—kita semua tahu—tapi masih banyak yang berusaha keras mendapatkan label itu. Kalau cantik itu bisa mendatangkan kebahagiaan maka kenapa artis Korea memiliki kecenderungan bunuh diri yang tinggi? Atau, yang baru-baru ini terjadi di Indonesia, gadis SMA di Pontianak yang memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Kadang, label cantik hanya berlaku pada daerah tertentu, misalnya wanita berkaki kecil di Tiongkok pada zaman dulu, wanita di Thailand yang menggunakan cincin di leher, atau wanita gemuk di Nauru.

Di negara kita, definisi cantik memiliki pengertian umum yang kurang lebih sama: putih, berambut lurus sebahu, berbulu mata lentik, dan sebagainya yang sering kita jumpai penjabarannya di sinetron atau beberapa buku atau iklan hingga kemudian biasa terdengar dalam percakapan sehari-hari. Maka berlomba-lombalah para wanita menjadi deskripsi itu. Demi label cantik. Karena cewek cantik pasti dilirik. Karena kalau sudah dilirik pasti lawan jenis tertarik, dan mungkin salah satu di antara mereka jodoh yang sebelumnya terlunta entah di hati siapa.

Terserah saja jika tetap ingin melakukannya, jika kuat menanggung sakitnya. Namun, ada cara yang lebih sederhana sebenarnya. Dengan menyadari bahwa diri kita memang cantik. Sehingga akan muncul kesadaran lain yang otomatis menyusul yaitu menghargai diri sendiri dalam segala aspek, mulai dari tidak membiarkan tubuh kotor sehingga rajin mandi hingga tidak membiarkan anggota tubuh dicecap laki-laki yang nantinya belum tentu berjodoh dengan kita.

Kecantikan memang bisa mempermudah banyak urusan, kalau saya perhatikan. Seperti dalam parodi yang banyak bisa kita temukan, membantu gadis cantik tentu lebih memacu semangat. Kalau cewek cantik yang jatuh, banyak yang menolong, ketika cewek yang menurut banyak orang tidak cantik yang jatuh cuma dilihat dari kejauhan. Tapi, biasanya yang melakukan itu masih dalam usia remaja, atau orang yang pemikirannya tidak pernah berkembang meskipun masa remajanya telah lama berlalu. Untuk seleksi dalam menjalin hubungan yang serius, orang-orang demikian dieliminasi saja.

Selebihnya, kecantikan justru bisa mengundang petaka. Kalian bisa membaca Cantik Itu Luka Eka Kurniawan jika ingin mendapat salah satu gambaran kalimat tersebut. Atau, bisa dengan menyaksikan berita melalui televisi, koran, atau media online jika lebih suka mendapat bukti dari kehidupan nyata .

Contoh teranyar adalah yang menimpa Amaryllis, bunga yang hanya mekar pada awal musim penghujan di Yogyakarta. Ketika berita kecantikannya tersebar, berbondong-bondong orang datang agar bisa disebut kekinian. Jika hanya datang tentu tidak masalah. Tapi kedatangan disertai ketidakpedulian hanya mendatangkan kerusakan. Tidak peduli bahwa bunga itu butuh tetap hidup agar dapat terus mekar, yang penting bisa mengambil bukti pernah berada di sana.

Meskipun sering diibaratkan seperti bunga—dan menyukainya—kita, para wanita, bukan seperti bunga yang tidak dapat mengelak ketika diinjak-injak, ketika dipaksa menjadikan diri cantik sesuai keinginan mereka. Sangat menyedihkan ketika kita diam saja didatangi orang yang berniat menjelajahi tubuh kita hanya agar merasa akan mendapat label cantik darinya. Padahal, orang itu justru merupakan orang yang paling tidak menghargai kecantikan kita—seperti halnya pengunjung yang tidak peduli sudah menginjak berapa batang Amaryllis demi eksis.

Meskipun hitam, seperti saya misalnya, kita tetap bisa menjadi cantik. *Uhuk* Meskipun tidak selalu tersenyum dalam segala kondisi seperti para finalis Miss Universe ketika di depan kamera atau mbak-mbak SPG di hadapan calon konsumen, kita tetap dapat menarik.

Kalau diri kalian tidak percaya kalimat di atas, terutama bagian kecantikan saya, mungkin karena kalian belum percaya bahwa label cantik tidak melulu datang dari tampilan fisik saja. Kadang bahkan dari hal tak terduga seperti betapa keras kepalanya kalian menganggap seekor kucing dapat dikatakan cantik.