Dengan Tuhan Aku Tak Bertuhan

in Celoteh by
quotess.net

“Bagi yang tidak percaya Tuhan itu ada dan menganggap keabadian jiwa tidak ada, maka segalanya diizinkan.” Begitulah kira-kira teorema yang dikemukan oleh Ivan Fyodorovich Karamazov ketika sebuah perdebatan panas terjadi di biara Gereja Ortodoks Rusia di abad ke-19. Meskipun ungkapan itu bukan sebuah ucapan nyata yang diungkapkan oleh tokoh nyata, karena Ivan Karamazov hanya akan kita temukan di dalam novel Brothers Karamazov karya Dostoevsky, pikiran semacam itu bukan pikiran fiktif belaka. Pikiran semacam itu pernah dan masih berkembang hingga saat ini.

Nietzsche, dengan sinis mengatakan “Tuhan telah mati”. Mungkin si filsuf yang hidupnya berujung dengan penyakit mental yang parah ini tidak memaksudkannya secara literal begitu. Bisa jadi ia hanya menyindir jiwa-jiwa manusia abad ke-19 yang sudah begitu korup, dan membunuh Tuhan dalam diri mereka. Atau memang bisa jadi, bisa jadi, dalam kontemplasinya, atau dalam renungan dalamnya Nietzsche melihat Tuhan yang sedang dikubur karena gugur dalam pertarungannya melawan keganasan manusia.

Tuhan dalam angan kita, atau Tuhan yang sesungguhnya, memang tak mampu kita lihat dan saksikan. Tidak nyata kekuatannya, tampak bagai gelombang laut yang menghempas di pantai atau sebuah tamparan pada pipi atau seperti listrik yang menyalakan lampu atau uang yang bisa membeli segenggam permen manis. Kegaiban itu membuat banyak kita menjadi ragu atau bahkan sudah memiliki ketetapan hati, bahwa Tuhan hanyalah semata angan dan kebodohan orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya secara baik dan enggan melihat dunia dengan kacamata empirik dan logis.

Mungkin saja begitu, siapa yang tahu, karena memang tak seorang pun yang hidup saat ini pernah bertemu Tuhan atau didatangi Tuhan. Siapa yang mau repot-repot mencari Tuhan ketika Tuhan sendiri mengatakan, “bahwa Aku dekat”, tetapi kita celingukan mencari Tuhan sejak ratusan ribu tahun lalu, kita hanya dikirimi nabi-nabi, rasul, dan penyampai pesan belaka. Mengapa Tuhan tidak datang sendiri kepada kita dan mengisi keberadaan peradaban kita dengan eksistensinya yang nyata?

Banyak pikiran, banyak keluhan, banyak kegaduhan akibat pikiran-pikiran di atas. Tetapi bagi kita yang percaya, tentu kita tidak butuh segala bukti untuk menyatakan iman. Karena iman memang tak butuh bukti kehadiran Tuhan di hadapan hidung kita, sebagaimana para penentang keberadaan Tuhan juga tidak butuh bukti bahwa “Ia” tidak ada. Padahal sesuatu yang belum terbukti tidak ada belum tentu tidak ada. Siapa pun yang berakal akan berkata begitu. Karena apakah segala sesuatunya harus ditemukan di masa hidup kita? Bukankah masa pembuktian masih panjang?

Argumen-argumen itu, nyatanya sama sekali tidak penting. Apa pun argumennya, apa pun filsafatnya, semata hanya perbincangan. Sebatas itu saja. Tetapi bagaimana dengan konsekuensi argumen-argumen itu?

Bagaimana akibat jika orang tak percaya Tuhan? Bagaimana akibat bagi orang yang selalu mencari Tuhan? Bagaimana akibat kepercayaan akan Tuhan? Bagaimana jika semua itu memang hanya perdebatan, dan pada akhirnya setelah kita mati kita memang tidak menemukan apa-apa lagi atau setelah mati kita memang berhadapan dengan surga dan neraka?

Bayangkan jika Ivan Karamazov benar. Jika Tuhan tidak ada, artinya  semuanya diizinkan. Apa pun perilaku dan tindakan, itu hanyalah semata dorongan diri, semata kemauan tanpa dorongan dari sebuah kekuatan Mahakuasa. Dan konsekuensi, tidak ada konsekuensi setelah kita mati, karena keabadian jiwa itu memang tidak ada. Pembunuhan, pemerkosaan, perang, penistaan, korupsi, kanibalisme, segala macam kekejian bukan saja menjadi diizinkan, tetapi perlu.

Dan sebagaimana Nietzsche katakan, jika tuhan telah mati, buat apa lagi takut akan konsekuensi. Segalanya sudah hilang di dalam absurditas ajaran agama. Segalanya menjadi beku di dalam jiwa. Karena jiwa memang tidak ada, hanya aliran darah, mekanisme biologis dan kerja sel-sel yang membentuk fisik secara kebetulan dalam proses panjang evolusi. Semuanya hanya materil belaka, karena setelah Tuhan mati, segala sesuatu yang berhubungan dengan kegaiban jiwa hapus sudah.

Dan bayangkan pula ketika orang-orang yang percaya dikutuk membunuh karena mempertahankan keyakinan agama dan membela Tuhannya. Sudah ribuan tahun manusia melepaskan kebiadaban di dalam dirinya ke dalam medan perang atas nama jihad, crusade, holy war, pembantaian, genosida, pemerkosaan, dan perampasan harkat kemanusiaan.

Lantas di mana posisi kita saat ini? Di satu sisi segalanya diizinkan, di sisi yang lain mengizinkan untuk dilakukan “segala sesuatu yang diizinkan” tadi, atas nama Tuhan dan keyakinan.

Jika kita berhenti di sini, jika argumen-argumen di atas kita kembalikan ke dalam posisi lahiriahnya, ke dalam alam nyata tempat kita bernapas ini, kita akan menemukan ketidakbedaan di antara argumen-argumen itu.

Di negeri ini, yang bertuhan dan tak bertuhan telah menjadi seragam, yang percaya Tuhan dan tak mempercayainya sudah berada di dalam klub yang sama. Membayar iuran yang sama untuk bisa berkumpul dan membaca di dalam ruangan yang sama. Tuhan telah dimatikan. Seperti lampu yang tergantung di tengah ruangan, jika ingin, tekan tombolnya, hidup atau mati di dalam kuasa pilihan kita.

Bantahlah! Lalu, mengapa korupsi menjadi begitu masif? Karena Tuhan dimatikan oleh para koruptor itu. Akan hidup lagi ketika mereka membangun masjid, gereja, dan kuil-kuil kesombongan.

Tuhan dengan seenaknya dipinggirkan, ketika membunuh anak sendiri, Tuhan dianggurkan ketika lobi-lobi demi kepentingan golongan menjadi begitu penting. Tuhan ditaruh di dalam ruang gelap ketika siang kita menjalar mencari setiap pembenaran dan hukum yang berpihak kepada kita demi sesuap nasi, kursi jabatan, kekuasaan, dan kemaruk yang tak kunjung sirna.

Perdebatan Tuhan ada dan tidak ada Tuhan di negeri ini sebenarnya sudah mati. Karena Tuhan bukan lagi sesuatu yang agung bagi kita, tetapi sebuah komoditas. Sehingga Tuhan, dengan keagungan kata itu sendiri sudah tidak ada lagi, Tuhan telah menjadi sebuah abstrak, menjadi sebuah keinginan, hasrat, gairah, nafsu, dan pemenuhan egoisme serta kedangkalan iman.

Bertuhan ketika perlu, tak bertuhan pun ketika perlu. Di sini Ivan Karamazov tak berguna, Nietzsche pun mubazir. Karena bahkan yang percaya agama pun sudah mirip dan serupa dengan para pembenci Tuhan. Laku dan sikapnya tak jauh beda.

Kemudian kita duduk sejenak merenungkan Tuhan. Benarkah Tuhan apa yang kita bayangkan selama ini menurut nafsu kita, akal kita, gairah kita, serta pesimisme dan optimisme kita belaka? Tuhan, diakui atau tidak, memang lebih kepada imajinasi kita membayangkan dan merenunginya. Ke mana pun kita berangkat dan pulang, Tuhan adalah imajinasi.

Tetapi, bayangkanlah, sebuah imajinasi….

Imajinasi, bukankah imajinasi, bukankah harapan itu dibangun atas imajinasi yang tak pernah mati, atas kegalauan, keputusaasaan, keinginan dan hasrat yang dipendam atau dendam yang ingin dilampiaskan. Kita tak berhenti berimajinasi dan menguraikan segalanya dalam bentuk khayali di dalam pikiran kita yang gaib itu. Pada sebuah komputer yang kita tidak tahu terletak di mana di dalam tubuh kita yang fana ini. Ketika para nabi dikirim, orang suci ditelantarkan ke negeri-negeri yang membunuh mereka, imajinasi manusia tak pernah berhenti.

Di saat harapan itu kandas ditiup angin, kita berharap sesuatu yang bisa memberikan harapan itu untuk menjadi nyata, ada di samping kita. Karena ketika kita hampir terguling ke dalam kegelapan keputusaasaan kita akan berpegang pada apa pun yang mungkin, seperti akar di pinggir tebing, uluran pedang bermata dua sekalipun akan kita genggam dengan erat, bahkan dalam imajinasi paling liar kita ketika angin mulai menarik-narik kaki kita ke dalam jurang yang dalam itu, kita berharap sepasang sayap diletakkan di punggung kita dan kita bisa terbang ke mana pun kita ingin.

Kadang bagi kita, hanya sebatas itulah Tuhan itu diperlukan. Ketika harapan itu ingin dipenuhi dan kepada imajinasilah kita bergantung.

Tetapi, bagi siapa pun yang percaya keberadaan-Nya, kita hanya membutuhkan “sedikit iman” saja untuk mengakui bahwa Tuhan itu ada. Ketika kekayaan datang bersimbah ruah, kita mengatakan ini adalah anugerah Tuhan. Kemudian setelah itu Tuhan kembali terlupakan di dalam deal-deal bisnis yang curang dan suap-suap yang  berlimpah.

Dalam ibadah-ibadah, Tuhan itu dibayangkan dengan pemberian mobil mewah, istri yang cantik, dan kekasih lama yang dipulangkan kembali. Ibarat pesugihan kepada jin-jin yang cantik yang mampu memberi emas.

Jangan katakan bahwa Tuhan begitu ikhlas kita sembah: ketika ziarah hanya ajang untuk mempertontonkan bahwa kita pernah hadir di negeri yang jauh di ujung sana.

Ivan Karamazov mungkin sudah berkontemplasi tentang kepalsuan Tuhan yang kita percayai dalam imajinasi Dostoevsky satu setengah abad yang lampau. Tentang bagaimana manusia menjadikan Tuhan sebagai stempel agung untuk membenarkan setiap tindakannya. Tetapi benarkah argumen-argumen di atas, yang meski diperpanjang berhalaman-halaman sekalipun, memberikan kepada kita tentang keberadaan Tuhan?

Atau bacalah bagaimana Ivan bercerita, ketika sang Grand Inquisitor didatangi oleh Sang Jesus itu sendiri, pada akhirnya ia meminta Jesus untuk pergi dan tak pernah kembali? Bukankah begitu lebih sering Tuhan bagi kita? Dia, Sang Tuhan, lebih sering hanya sebagai liyan. Yang kemudian kita usir jauh-jauh agar kita bebas berbuat sekena hati. Karena Tuhan bagi manusia adalah kegaiban yang lebih baik memang hanya tinggal di negeri yang gaib.

Dan kemudian ketika hari akhir itu memang kosong atau memang ada surga dan neraka, di sanalah kita baru menetapkan hati, bahwa Tuhan itu ada atau tidak ada.

Dan di sini, di bumi, biarlah Tuhan diagungkan atau dicerca semau manusia yang mengimani atau mencercanya. Tetapi bagi yang memang ingin percaya, biarlah Tuhan diagungkan dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya.

Itulah argumen kita. Percaya atau tidak. Tuhan akan selalu ada dalam imajinasi atau iman kita, tertolak atau berada, biarlah akhirat yang membuktikannya.

D. Febrian

D. Febrian

Bisa ditemui di Bogor.
D. Febrian

Latest posts by D. Febrian (see all)