Desember itu Bulan Goblok

in Esai by
Ilustrasi desember bulan goblok
Sumber gambar vectroave.netdna-cdn.com

Desember selalu menjadi bulan yang menyebalkan bagi saya. Pertama, di bulan ini adik saya (tentu bukan adik kandung) ulang tahun. Tentu saya harus merogoh saku untuk memberi dia kado. Sementara saya hanya mahasiswa kere yang untuk makan saja harus menunggu honor tulisan yang sering terlambat dibayar.

Kedua, ini yang paling menyebalkan, bulan Desember adalah saat orang-orang setengah terdidik setengah barbar menggelar rutinitas tahunan di media sosial. Mereka berdebat saling menonjolkan kegoblokan otak masing-masing soal Tahun Baru dan Natal. Yang sebelah kanan mengafirkan yang sebelah kiri; dan juga sebaliknya, yang sebelah kiri menggoblok-goblokkan yang sebelah kanan.

Daripada pusing mikiran mau ngasi kado ultah apa untuk adik, mending saya ikutan goblok di awal bulan Desember ini. Karena menjadi goblok tak perlu punya banyak modal, cukup merasa tahu tentang banyak hal. Lagi pula, menjadi goblok juga tidak melangar undang-undang, sebab soal “mencerdaskan anak bangsa” memang hanya sebatas jargon yang tak pernah kesampaian.

Oh ya, tunggu dulu! Saya ingatkan: Anda jangan berharap tulisan ini lucu. Saya mahasiswa filsafat. Hidup saya di kos, kampus, kafe, dan perpus yang selalu serius. Kelucuan, bagi saya, hanyalah pelarian manusia modern yang jiwanya telah aus oleh aktivitas keseharian yang seperti mesin.

Baik, tarik napas panjang-panjang. Tahan! Saya mulai….

Pertama, soal Natal. Saya ragu, Natal ini sebenarnya hari raya kristiani atau muslim, ya? Soalnya, hampir tiap tahun, bila menjelang Natal, yang heboh di mana-mana itu selalu orang Islam. Walaupun cuma segelintir. Namun, yang segelintir inilah yang selalu membikin saya tidak nyenyak tidur.

Mereka menyebut saudaranya yang seiman, yang sama-sama beragama Islam, bila mengucapkan “Happy Christmas” atau “Selamat Natal” sebagai orang yang telah rontok imannya dan karenanya bukan lagi Islam. Itu juga berarti, mereka mengklaim darah saudaranya telah halal (disertai cap halal MUI). Sungguh ngeri, bukan?!

Ada yang lebih softex. Mereka mengklaim bahwa mengucapkan “Selamat Natal” dan sejenisnya kepada kristiani merupakan dosa besar saja, tidak sampai menyebabkan kekafiran. Alasannya karena menyerupai (tasyabbuh) nonmuslim dan membuatnya senang.

Sekalipun berbeda, kedua klaim tersebut sebenarnya didasarkan pada asumsi yang sama. Dengan mengucapkan “Selamat Natal”, neraka mengancam kita. Ini sungguh horor, Bung!

Apakah pandangan mereka salah? Saya masih berpikir dua kali untuk menjadi goblok dalam soal ini. Apa yang mereka katakan memang ada landasan normatifnya. Teks fikih tradisional sudah cukup banyak memberikan penjelasannya.

Saya masih ingat dulu ketika ngaji kitab Sullâm al-Taufȋq ke Simbah (Kakek). Begitu mudahnya kemurtadan itu tiba. Cukup hanya dengan beberapa ucapan saja. Tidak seperti memikat hati wanita, sudah menggunakan beribu-ribu kata indah, tetap jomblo juga.

Dalam hal ini, saya tidak ingin menjadi ahli fikih. Ahli fikih (fuqahâ’), asumsi epistemologisnya jelas: materialis! Gak percaya? Nih pengakuan mereka: “Nahnu nahkumu bi al-dzawâhiri. Kami hanya memberi putusan berdasarkan data-data material (dzawâhiri)”.

Jadi, ahli fikih ini progresif sekali. Seperti Tan Malaka yang ingin menghilangkan logika mistika. Namun, karena saya dibesarkan dalam pendidikan Orde Bauk yang anti-kuminis, maka saya juga menolak (pandangan) ahli fikih sebagaimana yang mulia Pak Harto mengutuk Tan Malaka. Saya akan memandang soal Natal ini dengan “logika mistika” sufisme.

Ibn ‘Arabi, sufi paling penuh kontroversi; dipuja dan sekaligus dicaci-maki. Dialah sufi yang, menurut saya, berhasil membangun jembatan di antara agama-agama dengan logika mistika.

Masing-masing agama punya Tuhan atau sesembahan. Ada yang diberi nama Allah, Yesus, Yahweh, Sang Hyang Widhi, dan lain sebagainya. Nama-nama itulah yang membedakan masing-masing agama, dan sekaligus menciptakan jurang pemisah yang demikian lebar di antara tiap-tiap agama.

Namun, bagi Ibn ‘Arabi, semua nama itu tidak merujuk kepada Tuhan yang mutlak dalam kemutlakan-Nya. Tuhan yang diberi sifat dan nama adalah manifestasi diri (tajalli) atau bentuk partikular dari Al-Haqq—yang sebenarnya tak dapat dijangkau oleh pengetahuan kognitif manusia. Maka, Tuhan dalam sebutan Allah, Yesus, Yahweh, dan sebagainya adalah bentuk tasybȋh (penyerupaan dengan nama dan sifat tertentu) dari Al-Haqq.

Lalu, apakah itu berarti semua agama sama? Sama-sama benar?

Tidak segoblok itu juga kali! Penyembahan Tuhan bagi Ibn ‘Arabi semestinya tidak terhenti pada tahapan tasybȋh, tapi juga harus mencapai puncak tanzȋh—Sang Mutlak/Al-Haqq yang tidak lagi diserupakan dengan apa pun; yang benar-benar Mutlak; yang secara ontologis menjadi struktur dasar seluruh realitas di semesta jagat.

Dari kacamata itu, kita tidak dapat memastikan apakah penyembahan (penganut) agama tertentu terhadap Tuhan itu salah atau benar. Sejauh tidak dapat dipastikan, kita tidak bisa ugal-ugalan memberikan penghakiman. Tugas kita hanya menghormati dan memberi kasih sayang kepada seluruh umat manusia, apa pun agamanya. Ucapan “Selamat Natal”, “Selamat Nyepi”, dan sebagainya di titik ini adalah sebentuk penghormatan kita pada mereka sebagai manusia. Jika dan hanya jika Anda bukan manusia, Anda jelas boleh saja mengutuk penghormatan manusia pada sesama manusia.

Kedua, soal Tahun Baru Masehi. Ini persoalan yang tak jauh beda dengan persoalan pertama. Isu yang diangkat juga soal agama. Tahun Baru Masehi dianggap sebagai bagian dari ajaran kristiani. Karenanya, orang Islam sangat tidak boleh ikut-ikutan merayakannya dalam bentuk apa pun.

Memang, bertubi-tubi menjadi goblok amatlah mudah. Tak perlu pusing membaca buku sejarah, cukup koar-koar di Twitter atau Facebook bahwa Tahun Masehi adalah bagian dari ajaran Kristen, percayalah Anda sudah menjadi orang goblok yang kaffah.

Benar bahwa penghitungan Tahun Masehi didasarkan pada kelahiran Yesus. Tetapi, para sejarawan masih berdebat soal kelahiran Yesus. Dan juga ingat, bahwa Kalender Julian—yang kemudian disempurnakan oleh Kalender Gregorian pada tahun 1582—yang menjadi sistem penghitungan Tahun Masehi justru sudah muncul pada tahun sebelum Masehi. Jadi menganggap perayaan Tahun Baru Masehi sebagai bagian dari ajaran Kristen adalah sesat opini yang nyata sekibat bebal sejarah.

Tahun Masehi tak ada kaitannya dengan agama. Sistem penanggalannya murni merupakan produk sains dan budaya. Ia dibuat semata-mata untuk menandai sebuah peristiwa. Karena manusia selalu punya hasrat untuk memberi tanda.

Walaupun saya sendiri tidak suka merayakan tahun baru, bukan karena alasan murtad-murtadan, melainkan sebab saya memang menolak waktu saintifik—waktu yang diukur dengan hitungan angka. Waktu, bagi saya, tak terstruktur, jauh berada di dalam arus besar subjektivitas manusia. Kita tak akan pernah sama memandang waktu. Bulan Desember bagi Anda mungkin sangat menyenangkan karena di bulan itu Anda pertama kali menemukan pacar. Tapi, bagi saya, bulan Desember ini sungguh menyakitkan, karena di bulan inilah saya pernah dikhianati seseorang.

Satu bukti lagi bahwa waktu itu ada dalam subjektivitas manusia: seharian bersama pacar terasa seperti hanya dua jam; dua jam bersama mantan terasa seperti jalan kaki sepanjang Anyer-Panarukan.

Oh ya, masih kuat Anda menahan napas?

Maaf tadi saya lupa memberi instruksi pada Anda untuk kembali bernapas. Di bulan Desember, saya memang selalu lebih goblok dari biasanya. Bahkan dari saking gobloknya, saya tidak tahu apakah Anda tahu maksud saya. []

Taufiqurrahman

Taufiqurrahman

Orang Madura yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah. Kini tinggal di Yogyakarta, sedang nyantri lagi di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Bersama teman-temannya bergiat di Lingkar Studi Filsafat (LSF) Cogito. Menulis di beberapa media cetak nasional, seperti Jawa Pos dan Koran Tempo. Menjadi salah satu penulis dalam dua bunga rampai esai: Harmoni di Mata Kaum Muda (Puslitbang Kemdikbud, 2013) dan Filsafat dan Demokrasi (Fakultas Filsafat UGM, 2014).
Taufiqurrahman

Latest posts by Taufiqurrahman (see all)