Dogma Binatangisme

in Celoteh by

pop surrealist Michael Ramstead

Sepanjang tahun binatang-binatang itu bekerja seperti budak. Mereka bahagia melakukan semua pekerjaan itu; mereka tidak mengeluhkan setiap upaya atau pengorbanan, amat menyadari bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan adalah untuk diri mereka sendiri dan untuk yang akan lahir setelah mereka, bukan untuk sekelompok manusia pencuri yang bermalas-malasan.

Kebahagiaan para binatang dalam novel George Orwell itu, Animal Farm, segendang sepenarian benar dengan rutinitas kehidupan kita untuk banting-tulang, siang-malam, demi membanjarkan materi atas nama kecermerlangan masa depan anak-cucu. Semua manusia sadar betul bahwa mereka akan mati cepat—sebutlah dalam usia 65–70 tahun, dan apa artinya bentang masa itu di hadapan usia bumi yang berjuta tahun ini—dan sebabnya tak ada impian lain yang paling diberhalakan seumur hayat selain mewariskan kecemerlangan itu. “Ayahku adalah…”, “Kakekku adalah…”, “Leluhurku adalah…” merupakan bait-bait risalah tepuk dada yang senantiasa ingin disimak oleh para orang tua dari lisan anak-cucu. Pada derajat ini, impian manusia setamsil tokoh-tokoh binatang Orwell itu, yang mengarungi hidup berdasar dogma Binatangisme.

Ini bukan satire, tapi mutlak fakta. Makin ke sini makin jemawa kita mereduksi hidup hanya sekadar kecemerlangan materi—yang notabene bersumber pada dimensi “alam sadar”—hingga terpahat permanen pada dimensi “alam bawah sadar”. Bukankah dalam lelap pun kita acap menggunjingkan perkara uang?

Tak terhindarkan kemudian, reduksi hidup itu mendorong kita abai pada, kata Viktor E. Frankl, dimensi “supra sadar”: sebuah ruang psikologis yang given sejak pertama kali ruh ditiupkan di alam rahim, yang di dalamnya berdenyar nilai-nilai moral dan spiritual. Bilik ruhani yang tepat bersemayam di sebelah bilik-bilik psikologis lainnya.

Jika mengiblati Sigmund Freud, dimensi supra sadar ini hanya akan kita sebut ilusi, karenanya tak penting—atau tepatnya tidak kita pentingkan. Diakui atau tidak, faktanya, inilah posisi dasein yang kita pentaskan tahun demi tahun. Urgensi moral dan spiritual yang ditepikan oleh Freud menjadi sekadar “mekanisme alamiah untuk bertahan hidup”—seolah kita sebarisan binatang yang disandera the survival of the fittest—makin tekun kita usir dari derai waktu-waktu kita. Tahu-tahu pagi lagi, malam lagi, tahun baru lagi, sembari lagi-lagi alpa menepati janji kemarin untuk silaturahim dan shalat berjamaah. Maklum, ia bukan prioritas di hadapan prioritas kecemerlangan masa depan.

Apa risikonya?

Noogenik neurosis, kata Frankl: gangguan psikis tak tepermanai bertajuk kehampaan, keterasingan, kegelisahan, keresahan, dan ketakbermakaan. Jika Anda mengalami prahara batin setamsil, bagaimana mungkin Anda akan mampu merawat pijar lilin kebahagiaan, sekaya-secerdik-seterhormat apa pun?

Mustahil!

Menampik bilik supra sadar mutlak seihwal dengan menolak bagian mutlak dari maujud utuh diri sendiri. Muhallah kita sanggup hidup nyaman tanpa sumbangsih fungsi mata di hadapan sumbangsih fungsi leher dan perut, misal. Bukankah kita sama sekali tak perlu mencoba mengiris tenggorokan sendiri hanya untuk membuktikan bahwa kita tak bisa hidup tanpanya? Begitupun ihwal urgensi bilik supra sadar ini: kita sama sekali tak perlu menampiknya demi membuktikan apakah benar kita akan gagal bahagia tanpa menyemainya sekalipun bertimbun saldo dan aset.

Agar adil, demi premis ilmiah kebenaran par excellence alam supra sadar ini, saya ajak Anda mendiskusikan ulang aporisma terkenal Kahlil Gibran tentang anak-cucu. Ia berkata, “Anakmu bukanlah anakmu. Mereka putra-putri Sang Hidup yang merindu pada dirinya sendiri.

Jika aporisma ini dibidik dengan teropong alam sadar belaka, Gibran sepenuh benar. Selangit apa pun fasilitas orang tua, anak tetaplah sebuah individu otonom yang menabung pikiran, perasaan, dan hasrat yang boleh jadi berbeda telak dengan pikiran, perasaan, dan hasrat orang tua. Sekeras apa pun narasi orang tua dipahatkan pada anak, pada saatnya anaklah sang pengambil keputusan.

Potret inilah yang dirayakan oleh setiap keluarga hari ini. Orang tua lalu sekadar terposisikan menyarankan sesuai visinya, sementara eksekusinya digenggam erat tangan anak. Bila keputusan anak ternyata kepalang berbeda, orang tua hanya kuasa merestui, sembari dilamati tangis tertahan. Orang tua tertabalkan tidak berhak mengatur-atur hidup anak demi bianglala kebahagiaan yang diterka indah oleh anak. Anak dalam perspektif anak benar-benar “putra-putri Sang Hidup yang merindu pada dirinya sendiri.

Akan lain benar alurnya bila aporisma Gibran ini diteropong melalui lensa supra sadar. Kasih sayang yang terawat antara orang tua dan anak sejak dari rahim, didikan sejak lahir hingga dewasa, asupan material dan spiritual, ucapan dan teladan, merupakan ikatan batin mahakokoh yang takkan pernah pupus oleh apa pun. Apa pun!

“Perahu yang didayung anak” pada suatu hari, pekerjaan atau pernikahan, akan tetap menjadi “perahu orang tua” pula. Bahagia anak juga sebarisan dengan bahagia orang tua; nestapa anak bahkan kiamat orang tua.

Dengan gerimis, Mohamad Sobary melukiskannya di buku Makamkan Dirimu di Tanah Tak dikenal: “Kau lupa, bahwa cinta ibu adalah samudra biru yang tak mungkin dibelah oleh tongkat Musa yang perkasa. Sebab, samudra cinta seorang ibu terbentang di dunia maya, di jagat kecil dan jagat besarnya. Kelembutan ombaknya sanggup mengubah duka cita menjadi harapan dan peneguh jiwa anak.”

Begitulah risalah batin orang tua dan anak berdenyut dalam dimensi supra sadar. Di hadapan kedalaman lautan batin ini, pasal materi bukanlah kartu AS sama sekali, tetapi “Cinta”. Ia yang tersemai dan terawat sepanjang hayat takkan pernah lega ditukar gunung-gunung “kecemerlangan masa depan” apa pun. Sebab ia mutlak ruang primordial manusia. Menegasi ruang primordial berarti mengusir fitrah dasein–“Merging with the Self is the supreme reality,” kata Deepak Chopra.

Sayangnya, kita kerap lebih tergoda kesementaraan daripada kesejatian, kenisbian daripada keabadian, material daripada spiritual. Lalu, kita berpura-pura menyebutnya kebahagiaan. Begitulah kita, begitulah Binatangisme.

Jogja, 6 Februari 2016

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang rada gimana gitu. Pedagang yang calon doktor Islamic Studies yang resah sama “Minyak Babi Cap Onta”.
Edi AH Iyubenu
  • Ana N. Istiqomah

    Salam. Saya terkesan dengan kemolekan cara anda menulis dan menuangkan sebuah karya dalam bentuk tulisan. Sekarang saya sedang belajar menulis, boleh dibagi dong kiat*nya agar tulisan itu mampu memberikan “pengaruh” bagi pembacanya, dan juga bagaimana cara mengumpulkan ribuan kosa kata artistik di dalam otak? Terimakasih.