Dongeng Anwar

in Cerita Pendek by
rachaelkoscicaphotography.com

Anwar terkenal karena banyak hal. Ketika usianya sebelas tahun, ia masuk ke dalam hutan seorang diri. Tiga hari tiga malam ia tak keluar. Banyak orang yang yakin bahwa Anwar tak akan pernah kembali. Seekor macan raksasa pasti telah memangsanya. Namun pada fajar hari keempat, Anwar, yang lusuh dan capek, berjalan mantap memanggul bangkai si macan raksasa sepanjang jalan kampung. Itulah awal mula bagaimana ia mendapat gelar Anwar sang Penakluk. Anwar, dalam salah satu episode hidupnya, juga seorang penyair cemerlang. Itu ia mulai sewaktu ia pindah ke Surabaya. Umurnya dua puluh tujuh. Dalam rentang tiga tahun, ia menulis tiga puluh lima puisi yang berisi omong kosong belaka, bunyi-bunyian merdu yang tidak mengandung makna apa-apa. Ketika pada akhirnya, seorang kritikus memuji-muji puisi-puisi tersebut, dan menempatkan Anwar pada deretan pembaharu sastra Indonesia, Anwar menghabiskan waktunya dengan menenggak arak silet di pinggir Kali Mas, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Konon, ia menggumam, “bahkan aku sendiri tak mengerti apa yang aku tulis.”

Setelah fase kepenyairan yang segera ia tinggalkan, Anwar merintis karier petarung jalanannya. Ia pernah membunuh tiga tentara NICA dalam sebuah pertarungan tidak seimbang dan ia berhasil lolos dari para pemburunya. Ia menghilang selama beberapa waktu, sesekali muncul sekadar untuk menumpahkan hasrat bertarungnya, lalu segera menghilang dalam kegelapan. Orang-orang menyebutnya titisan kegelapan. Dan Anwar sama sekali tidak peduli.

Pada tahun 1965 hingga 1970, Anwar menghabiskan waktunya dengan berkeliling Jawa Timur. Bersama dia, tersengkelit di pinggang kanannya, sebilah parang yang telah berwarna merah. Orang-orang menggambarkan bagaimana parang itu bisa berwarna merah, “sebab ratusan, kalau tidak ribuan, orang telah meregang nyawa di mata parang itu. Darah mereka menempel di sana, dan terus-menerus menguarkan bau busuk. Mereka orang-orang tak bertuhan. Karenanya, mereka tak tahu ke mana mesti pergi setelah mati. Jadinya, roh mereka gentayangan. Dan darah yang menempel itu hanya akan lenyap bila roh mereka telah berhenti gentayangan.”

Anwar juga mendapat julukan si kucing. Banyak orang yang percaya bahwa ia memiliki sembilan nyawa. Pada dekade 80-an, ia tiga kali ditemukan tergeletak di pinggir jalan, dengan dada berlubang. Ada peluru berdiam dalam liang itu. Orang-orang yang kebetulan lewat di jalan itu dan melihatnya, segera berlalu sambil bergumam, “satu lagi preman yang mampus.” Dan persis setelah empat orang menggumam semacam itu, Anwar akan menggeliat. Mengucek-ngucek mata seolah baru bangun dari tidur. Ia lalu bangkit, meraba lubang di dada, mengorek lubang tersebut seperti seorang anak mengorek lubang hidung, meraih butiran peluru di dalamnya, lalu membuangnya begitu saja sebelum pergi ke warung terdekat dan minta segelas kopi. Ia bahkan tak peduli betapa beberapa orang yang menyaksikan adegan itu bergidik ngeri. Seorang ibu bahkan pernah muntah karenanya. Dan di kemudian hari, mengingat alangkah panjang umur si Anwar, sejumlah orang mulai mengira-ngira kalau Anwar abadi, atau paling tidak, memiliki karomah untuk menentukan umur sendiri.

Untuk alasan yang tak pernah diketahui, Anwar pernah mendirikan pesantren. Murid-muridnya kebanyakan para preman yang mencoba insyaf. Tak ada yang mengerti bagaimana Anwar belajar sembahyang atau mendaras Quran, namun yang jelas, ia bisa menjadi imam yang baik dan suaranya merdu sewaktu membaca ayat suci. Pesantren itu bertahan selama dua tahun dan resmi berakhir seminggu setelah serangan besar-besaran kaum berjubah yang menyebut pesantren tersebut sesat. Pimpinan penyerbu itu, seseorang dengan mata merah dan jenggot tebal, yang wajahnya tampak pernah dilihat Anwar sebelumnya meski tidak sepersis itu, menyeru berkali-kali betapa darah Anwar halal ditumpahkan.

Jauh sebelum itu, orang-orang mendapati Anwar berteriak-teriak menuntut presiden mundur bersama ribuan mahasiswa. Kamera televisi pernah mengabadikan adegan bagaimana ia masuk ke sebuah toko dan menjarah isinya. Dan konon, berdasarkan desas-desus, ia memperkosa empat perempuan dalam tahun-tahun penuh demonstrasi tersebut. Salah satu di antara perempuan yang ia perkosa hamil dan pergi ke tempat yang jauh, yang nyaris tak ada dalam peta, lalu melahirkan seorang anak lelaki yang suka bermain di pinggir kali sembari menyeret-nyeret perahu kayu.

Namun dari semua hal-hal besar tersebut, ada satu peristiwa remeh temeh yang diingat banyak orang lebih dari hal lainnya. Suatu kali, Anwar berjalan menyusuri kali. Di salah satu kelokan, ia melihat seorang anak kecil menangis meraung-raung. Lambung si anak sobek, dan usus berburaian dari sobekan itu. Kali yang berada di kaki Gunung Welirang itu tidak terlalu lebar, arusnya juga tidak begitu deras. Namun di samping si anak, Anwar mendapati seonggok perahu yang telah rusak. Bukan rusak karena alam, melainkan tampak jelas bahwa perahu itu sengaja dirusak, belum lama ini.

Anwar tak mengerti bahasa si anak. Dan si anak tak mengerti bahasa si Anwar. Si anak terus meraung sembari memegangi perutnya, berupaya mencegah ususnya semakin memburai. Anwar mencium bau busuk. Berkali-kali ia bertanya siapa yang melakukan hal seburuk itu pada si anak. Namun sia-sia. Anwar menyadari hal itu. Ia kemudian membantu si anak. Ia melepas baju dan menggunakannya untuk membebat luka si anak.

“Kau akan sembuh,” Anwar berkata. “Semoga kau akan sembuh,” tambahnya. Kalimat itu bukan kalimat motivasi untuk menyemangati si anak, melainkan sebuah doa. Dan karena itu doa, maka Anwar terus mengulangnya. Ia percaya Tuhan tahu semua bahasa yang ada di muka bumi, tak peduli itu Tuhannya atau Tuhan si anak.

Kelak, seorang pengarang akan mengangkat kisah itu (itulah yang menyebabkan episode kecil ini menjadi begitu terkenal). Dan memberi kesan di sana-sini bahwa si anak adalah si anak yang sesungguhnya berdiam dalam cerita Khidir. Kita tidak tahu kebenarannya. Yang jelas, si anak memang sembuh. Sembuh dengan begitu cepat. Keesokan harinya, si anak menghilang. Anwar meneruskan pengembaraannya. Dan bertahun-tahun kemudian, Anwar melihat potret si anak dalam halaman muka surat kabar nasional. Mata si anak dalam gambar itu melotot, berwarna merah, dan jenggotnya tebal. Anwar seperti menyadari sesuatu, ia teringat apa yang telah begitu lama disamarkan waktu. “Ia menyebutku sesat, ia mengatakan darahku halal,” Anwar mendengus.

“Mau beli koran, Pak?” si penjaga lapak membuyarkan lamunan Anwar. “Kerusuhan lagi, Pak. Saya khawatir sebentar lagi akan terjadi perang.”

Dadang Ari Murtono

Dadang Ari Murtono

lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.
Dadang Ari Murtono

Latest posts by Dadang Ari Murtono (see all)

  • Fatah Anshori

    Awal saya kira ini cerpen tentang Chairil Anwar. Tapi keseluruhan saya menikmati cerita ini.